
Happy reading......
.
Berlian sampai di rumah sakit, dia melihat Max masih stand by berada di sana untuk menjaga sahabatnya. Bahkan pria itu menjaga Desi sambil mengerjakan tugas kantor.
Melihat Berlian masuk, Max seketika bangkit dari duduknya, kemudian dia menundukkan kepala. ''Bagaimana keadaannya?'' tanya Berlian kepada pria tampan itu.
''Keadaannya masih tetap sama, Nona. Dia belum melewati masa kritisnya,'' jawab Max dengan wajah tertunduk.
Gadis itu pun melangkah ke arah Desi, kemudian Berlian menggenggam tangannya. Dia melihat berbagai selang menempel di tubuh wanita itu. Tidak bisa Berlian bayangkan jika saat ini dialah yang berada di sana dengan dibantu alat pernapasan.
''Desi, aku mohon bangunlah! Jangan membuatku merasa bersalah. Aku sudah memaafkanmu, Desi, bahkan jauh sebelum kamu meminta maaf. Aku tidak menyimpan dendam kepadamu, karena aku tahu kamu juga korban.'' Berlian berkata dengan nada yang lirih, bahkan air matanya sudah mengalir di membasahi kedua pipi mulusnya.
Tidak dipungkiri, jika Berlian memang kecewa kepada Desi. Karena walau bagaimanapun, wanita itu ikut andil dalam terenggutnya mahkota yang selama ini dijaga oleh Berlian. Akan tetapi, walau bagaimanapun Berlian bukanlah orang yang pendendam, dan dia tahu mana orang yang salah dan tidak.
Setelah menjenguk keadaan Desi, Berlian pun diantar oleh Zay untuk ke kampus, karena sebentar lagi akan ada mata kuliah yang harus dia hadiri.
''Apakah mereka ada di kampus, ya?'' gumam Berlian sambil menatap ke arah jalanan, tapi mampu terdengar oleh Zay.
''Siapa yang kamu maksud, dengan kata 'mereka? Apakah kedua penghianat itu?'' tanya Zay sambil menyetir mobil dengan tatapan lurus ke arah depan tanpa menengok sedikitpun kepada Berlian.
Gadis itu melihat ke arah Zay sekilas, kemudian dia kembali menatap ke arah samping di mana jalanan lebih enak untuk dipandang ketimbang wajah datar pria yang ada di sampingnya.
''Jika mereka ada di sana, sungguh aku tidak akan mengampuni mereka,'' ujar Berlian dengan tangan terkepal sambil meremas tas yang saat ini berada di pangkuannya.
Zayden dapat melihat raut kemarahan pada wajah gadis itu. Dia tahu pasti Berlian sangat geram kepada Daffa dan juga Tanisha, sebab mereka berdua sangatlah biadab. Akan tetapi, Berlian tidak tahu jika kedua penghianat itu bahkan sudah diringkus oleh Zay, dan saat ini mungkin sedang mendapatkan pelajaran dari Papanya.
__ADS_1
''Tidak usah dipikirkan soal mereka berdua! Kau tenang saja, dua menghianati itu tentu tidak akan pernah bisa hidup bahagia, setelah apa yang mereka lakukan. Karena kejahatan itu harus diberi keadilan, bukan?'' jelas Zay dengan ambigu.
Berlian menatap ke arah Zay dengan tatapan menyipit, ''Maksud Anda, apa?'' tanya gadis itu. Akan tetapi, Zay malah tersenyum tipis. ''Tidak usah dipikirkan! Lebih baik kau fokus saja pada kuliahmu dan sahabatmu itu. Soal kedua penghianat itu, aku rasa mereka akan mendapatkan ganjaran yang setimpal. Jadi tidak usah kau turun tangan,'' jawab Zay.
Saat Berlian akan bertanya kembali, ternyata mobil sudah sampai di pelataran kampus . Akhirnya gadis itu pun turun dari mobil calon suaminya, walaupun sebenarnya dia masih ingin bertanya perihal ucapan Zay barusan. Karena jujur Berlian sangat penasaran.
**************
Sedangkan di tempat lain, Dev dan Al baru saja sampai di sebuah markas di mana Tanisha dan juga Daffa disekap oleh Zay. Pria itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam gudang yang sudah tidak terawat.
'Ternyata calon menantuku ini mempunyai markas yang cukup bagus untuk menyekap. Karena jauh dari jangkauan orang-orang,' batin Dev sambil melihat ke sekeliling yang ada hanya hutan belantara.
Suara pintu berderit yang sudah sedikit karatan terdengar nyaring di telinga 4 orang yang ada di dalam ruangan. Kemudian Dev melangkah bersama dengan Alvin, sahabatnya.
Lampu pun dinyalakan oleh anak buah Zay, kemudian mereka mundur beberapa langkah saat melihat Dev masuk. ''Jadi mereka kedua penghianat itu?'' tanya Dev, dan anak buah Zay pun menjawab, ''Iya Tuan, mereka yang sudah bermain-main.''
''Kenapa mereka masih tertidur?'' tanya Dev kepada anak buah Zay tanpa menjawab pertanyaan Alvin.
''Mereka kami bius, Tuan. Sebab semalam mereka mencoba untuk kabur dan juga berontak.'' Dev yang mendengar itu menganggukan kepalanya dengan paham, kemudian dia menatap ke arah Alvin sambil mengangkat satu alisnya.
Alvin yang melihat itu pun tentu saja sangat senang, kemudian dia berjalan ke arah pojok dan mengambil ember yang berisi dengan air, lalu menyiram kedua orang itu hingga membuat Tanisha dan Daffa tersentak kaget dan membuka matanya.
''Banjir ... banjir!'' teriak Tanisha saat merasakan tubuhnya tersiram oleh air.
''Bangunlah! Yang ada sebentar lagi darahmu yang akan membanjiri tempat ini!'' Alvin berucap dengan nada yang dingin.
Suara bariton seseorang membuat Tanisha dan Daffa pun membuka matanya, dan menatap ke arah Alvin yang sedang berdiri di hadapan mereka dengan tatapan yang datar. Dan tak jauh belakang pria itu ada Dev yang tengah duduk sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
''Om Dev, Om di sini?'' tanya Dafa dengan senang saat melihat Dev. Namun pria itu malah tersenyum sinis.
''Om Dev, tolong kami, Om. Kami diculik, lepaskan kami dari sini, Om!'' pinta Tanisha saat melihat Dev. Karena walau bagaimanapun, Tanisha mengenal Dev sebagai orang tuanya Berlian, karena Dev pemilik dari kampus di mana Berlian, Tanisha dan Daffa menempuh pendidikan.
Pria itu tersenyum menyeringai, kemudian dia bangkit dari duduknya lalu mengibaskan tangan ke arah Alvin. ''Biar aku saja yang menangani mereka,'' ujar Dev dengan nada yang dingin.
''Padahal aku ingin bermain-main,'' ucap Alvin dengan kesal, kemudian dia mundur ke belakang.
Daffa dan Tanisha saling melirik satu sama lain. Mereka meneguk ludahnya dengan kasar saat melihat wajah Dev yang begitu dingin dan datar, bahkan tidak sehangat biasanya saat mereka bertemu.
Pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah dua mangsa yang berada di hadapannya itu sambil tersenyum menyeringai. ''Kalian kalau ingin berbuat jahat, harusnya dipikir dulu apa sekuensinya. Kalian itu ingin bermain licik, tapi pada akhirnya kalian sendiri yang akan menjadi korban,'' ucap Dev dengan nada yang rendah, tapi terkesan begitu menyeramkan di telinga Tanisha dan Daffa.
''Om, ini semua salah paham Om. Tolong lepaskan kami! Kami tidak ingin di sini, Om.'' Tanisha mohon kepada Dev dengan air mata yang sudah mengalir, berharap Dev akan mengampuninya dan melepaskan dirinya. Akan tetapi pria itu segera menggeleng.
''Al ...'' panggil Dev sambil menengadahkan telapak tangannya ke udara, dan Alvin yang melihat itu tentu saja mengerti. Lalu dia mengeluarkan sebuah benda dari saku jasnya dan menyerahkan kepada sahabatnya itu.
Mata Daffa dan juga Tanisha membulat saat melihat benda yang berada di tangan Dev. ''Om, itu ben-da bu-at a-pa, Om?'' tanya Tanisha dengan ketakutan.
Dev memegang benda itu di hadapan Tanisha dan Daffa, kemudian dia menyalakan on off sehingga benda itu pun menyala. ''Kamu tentu tahu bukan, ini benda untuk apa? Untuk menyetrum tubuh seseorang yang sudah berani bermain-main dengan Devan Bachtiar. Jangan pernah berharap, hidup kalian akan bahagia, karena sudah berani mengusik keluargaku!'' Dev berkata dengan suara yang dingin, hingga membuat Tanisha dan Daffa menggeleng bersamaan.
''Tidak, Om! Tolong jangan lakukan itu. Saya mohon, maafkan saya, Om,'' ucap Tanisha dengan nada yang memohon, akan tetapi Dev tidak peduli.
Dia berjalan ke arah Tanisha, lalu menempelkan benda itu di pinggang gadis itu, dan seketika Tanisha menjerit saat tubuhnya tersetrum dengan kuat.
''Kemarin maafmu kemana, saat akan membuat putriku hancur, hah!?'' bentak Dev.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
*Te*nang guys, ini belum seberapa. Dev masih akan bermain-main dengan kedua penghianat itu. Jadi tetap stay ya! Karena akan ada kejutan, di mana Dev akan membuat kedua manusia itu malu😂😎kita lihat aja! Permainan apa yang akan Dev lakukan selanjutnya😎😏