
Happy reading
Setelah mengantarkan Berlian pulang kembali ke rumah, Zayden pun meninggalkan kediaman Bachtiar. Dia pergi ke apartemennya, karena malam ini Zayden akan lembur. Sementara dia jarang sekali pulang ke rumah orang tuanya.
Dengan wajah yang lelah dan letih, Zayden menaiki lift menuju kamar. Setelah sampai dia langsung menekan PIN dan masuk ke dalam apartemennya. Akan tetapi, baru saja Zay membuka bajunya dan hendak menuju kamar mandi, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.
''Siapa malam-malam begini bertamu?'' gumam Zayden dengan bingung. Kemudian dia pun melangkah ke arah luar kamar dan menuju pintu utama.
Saat pintu dibuka, Zay tentu saja sangat terkejut melihat seorang wanita tengah berdiri dengan pakaian yang cukup seksi, menampilkan belahan dada serta paha mulusnya.
''Luna, ngapain kamu ke sini?'' tanya Zayden dengan nada tidak suka. Kemudian pria itu hendak menutup pintu, akan tetapi wanita yang ada di hadapannya segera mencegah Zay.
''Ya ampun, kamu ini dari dulu nggak pernah berubah ya, selalu saja dingin. Aku kesini karena aku kangen sama kamu. Aku merindukan kamu, sayang,'' ucap wanita itu sambil mendorong tubuh Zay masuk ke dalam apartemen. Kemudian dia mengunci apartemen itu dari dalam, lalu mulai menyentuh dada bidang Zay.
Melihat itu, Zayden segera menepis tangan wanita itu dengan kasar dari dadanya. Kemudian Zay berjalan ke arah ruang tv. ''Sebenarnya apa maumu ke sini? Aku lelah, aku sedang tidak ingin berdebat. Sebaiknya kamu pergi!'' usir Zay sambil menunjuk pintu.
Wanita itu tidak perduli dengan ucapan Zayden, dan tanpa rasa malu dia memeluk tubuh Zay dari belakang. ''Ayolah, sayang. Aku tahu kok, kalau aku itu masih ada di hati kamu? Kamu masih mencintai aku, 'kan? Aku sangat yakin, kalau aku ini tidak akan pernah bisa digantikan dalam hati dan juga pikiran kamu,'' ucap Luna dengan manja dan PD-nya.
Zayden terkekeh kecil mendengar ucapan Luna yang terlalu percaya diri, kemudian dia melepaskan tangan Luna yang berada di perutnya. Lalu menatap wajah wanita itu dengan tajam.
''Ckckck, Luna, Luna ... kamu itu dari dulu tidak pernah berubah ya? Bahkan sekarang kamu seperti wanita jalaang. Dengan PD-nya kamu bilang, aku masih mencintai kamu? Apakah otak-mu pendek itu? Dan apakah kamu pikir, aku sebodoh itu?'' ledek Zay sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Luna tidak terima dengan ucapan mantan suaminya. Dia sangat kesal, tetapi Luna harus bersikap kalem dan menjadi wanita manja. Karena dia tahu, Zay sangat menyukai wanita yang manja.
Dengan gerakan gamulai dan jari lentik-nya, Luna mulai mengusap dada bidang Zay. Dia sungguh terpesona dengan tubuh atletis milik mantan suaminya itu. Memang tidak Luna pungkiri, jika Zay sangat sempurna, dari segi apapun tidak ada yang kurang dari pria itu. Akan tetapi, Luna saja yang tidak bersyukur, sehingga dia menduakan Zayden.
__ADS_1
''Hentikan omong kosongmu wanita sialan! Sebaiknya kau pergi dari sini! Sebelum aku benar-benar marah. Lagi pula sebentar lagi aku akan menikah, dan stop untuk mengikutiku! Jika kau masih mengganggu hidupku, maka aku tidak akan pernah segan-segan memberimu pelajaran!'' ancam Zay sambil meremas rahang milik Luna.
Wanita itu meringis sakit, karena Zay memegang rahang nya dengan sangat kuat. Kemudian Zayden hempaskan wajah wanita itu dengan kasar, lalu dia membalik badannya dan berjalan ke arah pintu dan membukanya.
''Keluarlah, sebelum kau tahu amarah ku!'' Zay berucap dengan nada yang dingin dan datar, bahkan sorot matanya begitu tajam ke arah Luna.
Wanita itu tidak menyangka, jika Zsyden bisa sukasar itu. Padahal dulu Zay sangat lembutx bahkan pria itu sangat mencintainya dan tidak ingin kehilangan dirinya. Akan tetapi, kali ini Luna seperti melihat orang yang berbeda
Dia berjalan mendekat ke arah Zay. ''Aku akan pastikan, kamu akan kembali kepadaku dan kita akan bersama!'' tegas Luna sebelum dia meninggalkan apartemen Zay.
Pria itu membanting pintu apartemen dengan kasar, lalu dia mengusap wajahnya. Memang Luna adalah mantan istrinya, dan mereka sudah bercerai 3 tahun yang lalu. Sebab Luna berselingkuh dengan rekan bisnisnya, sekaligus sahabatnya sendiri.
Selama ini Luna selalu datang menghampirinya dan ingin kembali kepada Zay, dengan alasan dia masih mencintai pria itu. Akan tetapi, Zay tidak percaya. Dia yakin jika itu hanyalah alibi Luna. Dan sekalinya Zay dikhianati,nmaka dia tidak akan percaya lagi pada oran. Itulah prinsip hidup Zay.
Sementara itu, Luna di dalam lift menghentakan kakinya dengan kesal. Karena dia gagal untuk membujuk Zay beberapa kali. ''Apa yang harus aku lakukan, agar membuat pria itu luluh kembali kepadaku? Segala cara sudah aku coba, tapi kenapa sekarang dia seperti tidak tersentuh? Aagh ... benar-benar bikin kepala pusing!'' geram Luna dengan dada naik turun, karena menahan emosi.
'Cara apalagi yang harus aku pakai? Jika dia memang akan menikah, siapa wanita itu? Lihat saja! Aku tidak akan pernah membiarkan mereka bahagia!' batin Luna sambil tersenyum menyeringai dan melihat pantulan dirinya di cermin yang ada di dalam lift.
**********
Berlian selesai membersihkan diri, kemudian dia berjalan ke arah ranjang dan mengambil ponselnya. Seketika senyum wanita itu terbit, saat melihat kontak nama yang tertera dengan namaku My future husband.
Memang tadi sebelum mereka pulang dan sampai di kediaman blBachtiar, Zay mengambil ponsel Berlian. Kemudian dia mencantumkan nomor teleponnya di Hp wanita itu, dan memberikan nama dengan my future husband.
Suara pintu diketuk, dan Berlian pun berjalan ke arah pintu. Setelah dibuka ternyata seorang pelayan yang memanggil Berlian untuk makan.
__ADS_1
''Maaf, Nona muda. Tuan dan juga Nyonya sudah menunggu di bawah,'' ucap pelayan itu sambil menunduk-kan kepalanya
''Baik Bi, terima kasih. Aku akan turun sebentar lagi,'' jawab Berlian. Kemudian pelayan itu pun mengangguk lalu pergi dari kamar Berlian.
''Good night Mama, Papa, Oma,'' ucap Berlian saat berada di meja makan.
''Good night, sayang. Sini makan dulu!'' jawab Mama Linda sambil menepuk kursi yang ada di sebelahnya.
''Oh iya Berlian, besok ada acara makan-makan di daerah Bogor. Mama sama Papa tidak bisa datang. Sebab kami sudah ada jadwal untuk pergi ke Malaysia, kamu bisa mewakili 'kan, sayang? Mama juga sudah bicara kepada teman Mama kok,'' pinta Dea kepada Berlian.
Wanita itu pun mengangguk. ''Baiklah Ma, nanti Berlian akan datang,'' jawab Berlian sambil mengambil nasi dan memasukkan ke dalam piring beserta lauk pauk.
''Kamu juga akan ditemani oleh Zayden,'' timpal Dev sambil mengunyah makanan nya.
Berlian yang baru saja akan memasukkan nasi ke dalam mulutnyax seketika terdiam. Kemudian dia menatap ke arah sang Papa dengan alis terangkat satu. ''Zayden? Kenapa harus dia, Pah? Aku 'kan bisa diantar sama sopir?'' heran Berlian.
''Tidak papa, lagi pula Papah akan lebih tenang kalau kamu pergi bersamanya. Dan ini permintaan Papah, jadi kamu tidak bisa menolak! Lagipula Papah dan Mama akan pergi dua hari,'' tegas Dev dengan suara yang tidak bisa dibantah.
Berlian hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar, dan Mama Linda yang melihat itu pun segera memegang tangan cucunya. Dia tahu perasaan Berlian saat ini bagaimana.
''Tenang saja sayang, jika dia macam-macam sama kamu, akan Oma colok matanya sama garpu, terus aku ulek cabe lalu Oma cocokin ke mulutnya!'' ucap Mama Linda sambil menggerakan tangannya dengan gaya memeluk sambel.
Berlian terkekeh mendengar ucapan Oma-nya, kemudian dia pun menganggukkan kepala. Walaupun sebenarnya dalam hati Berlian sangat tidak ingin pergi dengan pria itu.
'Jika bukan karena Papa, malas sekali aku pergi dengannya!' batin Berlian sambil mengunyah makanan nya.
__ADS_1
BERSAMBUNG