
Happy Reading.......
Setelah pulang kuliah, Berlian termenung sambil memikirkan ucapan Tanisha. Dia benar-benar khawatir dengan keadaan Desi. Walaupun wanita itu pernah menghianati nya, dan menjadi penyebab kehilangan sesuatu yang berharga di dalam hidupnya, akan tetapi Berlian tidak sejahat itu.
Kemudian dia berjalan keluar dari kelas mencari Daffa dan Tanisha, tetapi mereka berdua sudah tidak ada di kampus. Berlian pun berjalan ke arah luar kampus untuk menyetop taksi. Sebab sopirnya sudah pulang, dan akan menjemput Berlian jika wanita itu menelepon nya.
Saat Berlian tengah menunggu taksi, tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti di hadapannya. Saat kaca mobil terbuka, ternyata itu adalah Max.
Pria itu pun keluar dari mobil dan menghampiri Berlian. ''Ayo Nona, biar saya antar!'' ucap Max sambil membukakan pintu mobil. Namun Berlian segera menggeleng. Dia ingat dengan kata-kata Tanisha, jika dia tidak boleh membawa siapapun ke sana.
''Tidak Tuan, terima kasih. Nanti saya naik taksi saja,'' tolak Berlian dengan halus.
''Saya tahu kok tujuan Nona ke mana?Nona mau ke jalan Nirwan 'kan, untuk menyelamatkan sahabatnya Nona?'' ujar Max sambil menatap kearah Berlian.
Gadis itu terpaku saat mendengar ucapan Max, wanita itu tidak menyangka, jika pria itu mengetahui semuanya. ''Dari mana Anda tahu?'' tanya Berlian dengan tatapan menyipit dan juga bingung.
''Masuklah dulu, Nona! Saya akan menjelaskannya.'' Kemudian Berlian pun masuk ke dalam mobil, karena dia juga sangat penasaran kenapa Max bisa mengetahui semuanya. Padahal tadi hanya ada dia, Daffa dan juga Tanisha saja, di sana tidak ada Max sama sekali.
Setelah Max masuk dia pun melajukan mobilnya untuk menuju ke jalan Nirwana. ''Anda belum menjawab pertanyaan saya, Tuan Max. Dari mana Anda tahu, jika saya mau ke sana? Dan dari mana juga Anda tahu tentang sahabat saya yang sedang dalam bahaya?'' Berlian masih menunggu jawaban dari Max. Karena gadis itu benar-benar sangat penasaran.
Bukannya menjawab, Max malah terkekeh. Kemudian dia tersenyum miring. ''Nona-nona, apa Anda lupa saya ini bekerja untuk siapa? Tuan Zayden Leonardo Osmond, Nona Berlian. Sangat mudah untuk mengetahui rencana busuk dari seorang kelinci kecil. Jadi, Nona tidak usah khawatir,'' ujar Max dengan sebuah teka-teki.
Berlian menghela nafas dengan kasar, kemudian dia memiringkan tubuhnya ke arah Max. ''Saya tahu, Anda bekerja dengan pria kaku itu. Memangnya saya bilang kalau Anda bekerja dengan patung? Yang saya tanyakan adalah, kenapa Anda bisa mengetahui? Itu saja.''
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Berlian kembali menatap kearah depan dengan wajah ditekuk. Dia benar-benar kesal dengan pria yang ada di sampingnya itu. Karena bagi Berlian, Max dan juga Zayden tidak ada bedanya. Keduanya sama-sama pria kaku dan menyebalkan.
''Anda tidak perlu tahu Nona, tapi satu hal yang perlu anda tahu. Jika Tuan Zay sudah menandai Anda sebagai miliknya, maka Anda dibawah pengawasan nya. Jadi jangankan Anda untuk selingkuh, bahaya yang mengincar Anda pun, Tuan Zayden akan tahu!'' jelas Max sambil menyetir mobil.
Berlian ternganga mendengar ucapan Max. Dia tidak habis pikir, jika Zay seperti seorang cenayang yang mengetahui banyak hal tentang dirinya. Kemudian Berlian berfikir, mungkin saja Max menaruh mata-mata untuk mengawasi dirinya.
Memang Zay sudah tahu tentang ancaman Tanisha dan Daffa, karena Zay sudah menyuruh beberapa anak buahnya untuk memata-matai Berlian. Sebab dia takut jika para penghianat itu akan mencelakai calon istrinya. Benar saja, mereka bahkan bersekongkol untuk mencelakai Berlian, dan tentu saja Zayden tidak tinggal diam.
Waktu Berlian mengobrol dengan Tanisha dan juga Daffa, sebenarnya semua ucapan Tanisha terekam. Karena Zay menaruh alat penyadap di tas milik Berlian, dan itu tidak luput dari bantuannya mama Linda.
Berlian tidak banyak bertanya lagi, karena percuma saja dia melakukan itu, jawabannya akan tetap sama, penuh teka-teki. Akhirnya gadis itu pun hanya diam sambil menatap kearah depan dengan pikiran yang bingung. Bagaimana Zay mengetahui semuanya? Kecuali memang pria itu memberikan mata-mata di sekelilingnya.
Setelah sampai di jalan Nirwana, mobil Max berhenti tak jauh dari rumah yang terlihat begitu sepi. Dan Berlian yang melihat itu tentu saja sangat heran. Dia dia menatap kearah Max dengan tatapan bingung.
''Anda tahu, Nona. Sahabat Anda dikurung di dalam sana, tapi Anda tidak perlu cemas. Saya akan membantu Anda untuk menyelamatkan sahabat Anda itu, sesuai permintaan Tuan Zay,'' jelas Max sambil membuka sabuk pengaman nya.
'Amazing,' batin Berlian sambil membuka pintu mobil.
Dia tidak menyangka jika Zayden dengan mudah mengetahui keberadaan di mana Desi saat ini tengah di sekap. Tidak Berlian pungkiri, gadis itu memuji Zay di dalam hatinya, karena kecerdasan pria itu. Kemudian mereka melangkah mengendap ke arah rumah kumuh yang sudah tidak terpakai.
Saat sudah di depan pintu, 2 orang mencegah mereka, dan orang itu adalah salah satu anak buah yang diperintahkan oleh Tanisha dan juga Daffa. Berlian terlihat menengok ke arah Max, dan pria itu hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya dengan kode semua akan baik-baik saja.
''Di mana teman saya? Sebaiknya kalian lepasan teman saya!'' tanya Berlian pada dua orang yang ada di hadapannya.
__ADS_1
''Melepaskan temanmu? Kami akan melepaskan temanmu, tapi sebelum itu kami menghabisi nyawamu dulu!'' ucap salah satu pria botak yang ada di hadapan Berlian.
''Berani kalian melukai nya, aku tidak akan segan-segan menghabisi kalian!'' geram Max dengan tangan terkepal.
''Hei, Tuan ... sebaiknya Anda pergi saja! Jangan ikut campur. Pergi saja dari sini, sebelum tulang-tulang Anda patah! Dan kami jadikan Anda sop iga!'' ancam seorang pria gondrong yang berada di sebelah pria botak.
Kemudian keluar lagi dua orang dari dalam, jadi total mereka berjumlah 4. Berlian yang melihat itu tentu saja sangat khawatir, ditambah mereka hanya berdua saja. Walaupun Berlian bisa beladiri, akan tetapi untuk melawan 4 orang dia masih belum sanggup.
''Ayo serang mereka! Dan tangkap gadis itu!'' ucap pria botak sambil menunjuk ke arah Berlian.
Melihat 4 orang maju, Berlian tentu saja bersama Max mundur dan mulai melawan mereka ber-empat. Bahkan gadis itu terlihat kewalahan saat melawan satu orang. ''Nona, sebaiknya Anda masuk dan selamatkan teman Anda! Biar mereka saya yang handle,'' ucap Max. Namun Berlian menggeleng.
''Tidak Tuan! Saya tidak mungkin meninggalkan Anda disini sambil melawan mereka?'' jawab Berlian sambil menendang pria yang ada di hadapannya hingga tersungkur ke tanah.
''Anak buah saya sudah datang, Nona. Anda masuklah ke dalam dan selamatkan teman Anda!'' Setelah mengatakan itu, benar saja tiga anak buah Max datang dan mereka langsung membantu Berlian untuk melawan keempat orang itu.
Berlian yang merasa terselamatkan pun segera masuk ke dalam rumah tersebut, mencari Desi. Dia terus aja memanggil nama sahabatnya itu. ''Desi ... kamu di mana? Des ... Desi ...!'' panggil Berlian sambil berteriak.
Dia mendengar sebuah gumaman dari dalam kamar, dan Berlian segera membuka kamar itu. Namun saat pintu terbuka, matanya membulat dengan tangan menutup mulut saat melihat keadaan Desi.
''DESI!'' jerit Berlian sambil berlari ke arah Desi.
BERSAMBUNG.......
__ADS_1