Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
TAMAT


__ADS_3

Happy reading....


Selama Berlian hamil, dia tinggal di kediaman Bachtiar. Sebab Dea dan juga Dev tidak memberikan Berlian tinggal sendirian. Bahkan tak jarang Zay juga pergi ke luar negeri untuk mengurus perusahaan cabangnya jika sedang ada masalah.


Hingga tidak terasa kandungannya sudah semakin besar, dan selama itu pula Zay berusaha untuk membahagiakan Berlian. Dia selalu menuruti apa yang diinginkan oleh istrinya.


Bahkan pernah malam-malam Berlian meminta dibelikan asinan buah mangga, sedangkan tidak ada yang jualan sama sekali. Akhirnya Zay pun rela memanjat pohon mangga yang ada di rumah pembantunya, dan memetiknya lalu menjadikan asinan. Padahal saat itu hujan deras lagi mengguyur.


"Sayang, besok kita jadi kan untuk periksa kandungan?" tanya Zay pada Berlian saat mereka sedang berada di kamar.


"Jadi dong sayang, tapi semakin besar kandunganku, aku semakin tidak bisa tidur. Bahkan untuk terlentang pun rasanya sakit sekali," keluh Berlian sambil mengusap perutnya yang kian nari semakin terasa berat.


"Benar kata mama, kamu harus terbiasa jalan pagi."


"Bukannya nggak mau, Om suami. Cuma kalau terlalu lama berdiri, rasanya kakiku sakit. Lihat, bahkan semakin bengkak. Pasti aku sudah tidak cantik lagi ya?" ujar Berlian sambil menekuk wajahnya.


Zay yang melihat itu pun merasa gemas, kemudian dia menangkup kedua pipi istri tercintanya tersebut. "Bagiku kamu itu sangat cantik, bahkan mau bagaimana rupanya, kamu tetaplah ratu di dalam hatiku," ujar Zay dengan lembut. Memudian dia mengecup kedua mata Aurora kembali, ke hidung, pipi, jidat dan terakhir bibirnya.


"Iiih, jangan cium-cium bibirku don!" rengut Berlian.


"Looh, memangnya kenapa sayang? Kok aku nggak boleh cium-cium?" tanya Zay dengan heran.


"Bukannya nggak boleh, Om suami. Tapi ujung-ujungnya kalau Om suami nyium bibir aku, nanti malah minta jatah. Semalam kan udah. Ingat, jangan terlalu keseringan banget!" kesal Berlian.


"Lho, memangnya kenapa? 'Kan enak kalau keseringan juga? Kamu nggak ingat kata Dokter, kalau kita itu harus sering-sering melakukan hubungan suami istri, biar kamu itu cepat pembukaan. Jadi saat melahirkan nanti jalannya sudah kebuka," jelas Zay.


"Pokoknya libur dulu untuk malam ini!" pinta Berlian dan Zay pun hanya bisa pasrah. Padahal sesuatu dibalik celananya sudah mulai menegang saat tadi dia mencium bibir istrinya.


.


.


Pagi hari mereka sudah bangun, dan saat ini Berlian sedang memakan bubur ayam yang biasa mangkal di depan rumah dengan lahap. Semenjak kandungannya menginjak 7 bulan, Berlian senang sekali memakan bubur, bahkan bisa menghabiskan dua mangkok. Itu kenapa badannya sekarang terlihat lebih gemuk.


Tiba-tiba saja ada suara seseorang yang bertamu ke kediaman Bachtiar, dan ternyata itu adalah Desi dan Max.


"Wah, ada pengantin baru datang ke sini?" ledek Zay saat melihat Max datang bersama dengan Desi.


Memang Max dan juga Desi sudah menikah dua bulan yang lalu. Dan mereka sempat liburan di Kanada, di mana rumah neneknya Max berada. Karena kebetulan di sana keluarganya Max mempunyai Villa, dan selama itu pula mereka tinggal di sana, sebab ada kerjaan juga yang harus diselesaikan.


"Iya, gimana kabar kandungan kamu? Apakah sudah ada tanda-tanda untuk melahirkan?" tanya Desi sambil memegang perut milik sahabatnya.

__ADS_1


"Kata dokter sih 2 minggu lagi, doain ya semoga nanti lahirannya lancar," jawab Berlian sambil mengelus perutnya yang terasa begah.


"Aamiiin ... semoga ya! Doain juga supaya aku cepat nyusul," ujar Desi.


"Aamiin ... semoga kamu juga cepat nyusul ya!"


Mereka pun bercengkrama di ruang tamu, dan saat ini Zay tidak berangkat ke kantor dulu. Sebab dia meliburkan kantornya, karena kebetulan itu tanggal merah juga.


''Oh iya, bagaimana bulan madu kalian di Kanada? Lancar?" tanya Zay kepada Max dan juga Desi.


"Alhamdulillah lancar," jawab Max, "Oh ya, kasih tipsnya dong supaya kecebong ku bisa cepat jadi?" tanya Max pada Zay, dan Desi yang mendengar itu pun menjadi malu.


"Tipsnya mungkin kau harus melakukan olahraga itu setiap malam! Jangan kasih kendor," jawab Zay sambil melirik ke arah Berlian.


"Jangan!" ucap Berlian dan juga Desi serempak, membuat kedua pria itu menatap mereka dengan bingung.


"Loh, kok jangan? Emangnya kenapa kalau kita olahraga setiap malam?" heran Zay.


"Emangnya kami ini mesin, harus digempur setiap malam? Mending kalau digempurnya semalam itu satu ronde, ini sampai beberapa ronde. Memangnya tidak sakit!" ketus Berlian.


"Benar! Enak di kalian, gak enak di kami," timpal Desi.


"Kan memang kami hanya tugasnya masuk ke dalam lubang," jelas Zay dan langsung mendapat lemparan bantal dari Berlian.


"Aduh, Berlia kenapa kamu malah meremas paha aku? Sakit tahu!" ringis Desi sambil menatap ke arah sahabatnya.


"Aduh ... perutku sakit Desi! Om suami, perutku!" ringis Berlian sambil memejamkan matanya, menahan rasa sakit yang begitu hebat di perutnya.


"Tuan Zay, sepertinya Berlian akan melahirkan? Sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit sekarang!" ucap Desi.


Zay yang mendengar itu pun menjadi panik, kemudian dia langsung menggendong tubuh Berlian masuk ke dalam mobil. Saat mereka melewati ruang tamu, tiba-tiba saja Dea baru pulang dari supermarket bersama mama Linda. Dan Dea melihat putrinya sedang meringis dalam pelukan suaminya.


"Loh Zay, Berlian kenapa?" tanya Dea.


"Ini Mah, sepertinya Berlian akan melahirkan. Aku mau membawanya ke rumah sakit," ujar Zay dengan panik.


"Ya sudah, kalau gitu Mama ikut," ucap Dea. Kemudian mereka pun bersama-sama ke rumah sakit, dan di sana juga ada mama Linda yang ikut, sementara itu Dev masih berada di kantor.


Dea langsung mengeluarkan ponselnya dan menelpon Dev tentang keadaan Berlian, meminta pria itu untuk segera menyusul ke rumah sakit.


San setelah sampai di sana, Berlian langsung dilarikan ke ruang bersalin untuk ditangani, sementara semua orang menunggu di luar.

__ADS_1


"Kenapa kamu masih di luar? Istri kamu 'kan ada di dalam, kenapa kamu tidak ikut ke dalam, hah?" ucap mama Linda pada Zay.


"Memangnya boleh, Mah aku ikut ke dalam?" tanya Zay sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Kamu itu harus ada di sana. saat-saat seperti ini. Karena Berlian sedang membutuhkanmu! Masuklah, pegang tangannya dan berikan dia kekuatan!" ujar mama Linda.


Zay yang mendengar itu pun mengangguk, kemudian dia masuk ke dalam ruangan untuk menyemangati istrinya. Hingga setelah menunggu 5 jam di sana mereka dapat mendengar suara tangisan bayi.


"Mah, Mas, Cucu aku ... cucu kita!" seru Dea dengan wajah bahagia. Dev yang mendengar itu pun langsung memeluk tubuh Dea dengan erat.


"Alhamdulillah sayang, akhirnya kita menjadi kakek dan nenek juga. Tidak terasa ternyata kita sudah tua ya?" ujar Dev.


"Alhamdulillah, akhirnya Mama punya cicit juga!" seru mama Linda dengan wajah yang bahagia.


Begitupun dengan Desi dan Max, mereka turut bahagia dengan kelahiran anak pertama Berlian dan juga Zay.


Setelah melakukan beberapa tahap, mereka pun di bawa ke ruangan rawat inap. Bayinya Berlian juga tidak ditaruh di inkubator, karena semuanya sehat dan dia langsung diberikan ASI akan tetapi belum keluar.


"Mah, kenapa asi aku belum keluar ya?" tanya Berlian.


"Sabar sayang, paling lambat juga 3 hari sudah keluar asinya. Tapi tetap walau begitu, anak kamu harus tetap disusui ya, biar dia mendapatkan asupan gizi," jelas Dea


Semua wajah terlihat begitu sangat bahagia saat melihat kehadiran putra pertama Berlian dan juga Zay.


"Akan kalian beri nama siapa bayi tampan ini?" tanya mama Linda sambil menggendong bayi mungil tersebut.


"Aku sudah menyiapkan nama untuknya," jawab Zaidan, "Dan namanya adalah Alexi Leonardo Osmond."


"Nama yang bagus. Papa setuju!" timpal Dev.


Berlian menatap ke arah semua orang yang ada di hadapannya saat ini. Dia tidak pernah menyangka, jika orang yang dulu merebut kesuciannya tanpa sengaja kini telah menjadi bagian dari hidupnya, menjadi imam dalam keluarganya dan menjadi ayah dari anak-anaknya.


Tidak Berlian sangka, jika jalan takdir Tuhan begitu sangat indah. Walaupun awalnya dia harus merasakan pahit terlebih dahulu, tapi bahagia di kemudian hari. Dan itu adalah kesabaran dari Berlian yang tidak pernah menyimpan dendam kepada siapapun, termasuk kepada mantan sahabatnya, yaitu Daffa dan Tanisha.


'Terima kasih Tuhan, engkau telah memberikanku kebahagiaan yang lengkap. Terima kasih telah memberikan aku suami yang begitu sangat menyayangiku. Dan terima kasih telah memberikan aku keluarga yang begitu sayang kepadaku. Beribu-ribu kasih bahkan kuucapkan kepadamu, dan tidak bisa membayar satupun dari yang telah Dngkau berikan kepadaku!' batin Berlian.


TAMAT.


terima kasih kalian sudah membaca novel Berlian dan juga Zayden dari awal🙏🏻 Terima kasih juga untuk kalian yang selalu stay menunggu, walaupun terkadang autor lama updatenya🙏🏻😁


Maafkan autor yang terkadang suka lemot dan juga lama update🙏🏻karena memikirkan alur itu tidak semudah yang dibayangkan😊 mencari ide untuk bab-bab selanjutnya juga tidak mudah🙃 Dan terima kasih sekali untuk kalian yang setia menunggu dan jangan lupa untuk mampir di karya-karya author yang lain, yang pastinya tidak kalah seru dari novel ini🙏🏻😘

__ADS_1


Sampai ketemu di novel-novel author selanjutnya Salam cinta untuk kalian😘😘😘❤❤❤❤❤❤


__ADS_2