Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
Kita Perlu Bicara


__ADS_3

Happy reading..


Setelah pembicaraan antara Oma dan juga Mamanya, Berlian merasa tenang ada orang-orang yang selalu mensuport dirinya. Walaupun terkadang Berlian merasa takut, jika Papanya mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.


Mama Ros serta Dea juga berencana untuk mendekatkan Zayden dengan Berlian. Karena mereka percaya, tidak ada jalan takdir yang salah. Dan Dea juga yakin, jika Zaidan memang ditakdirkan untuk putrinya. Walaupun pertemuan pertama mereka tidak mengenakkan.


Siang ini Berlian baru saja akan berangkat ke kampusnya, dan seperti biasa dia diantar oleh sopir dan ditemani oleh satu orang Bodyguard.


Saat Berlian akan masuk ke dalam kelas, tiba-tiba Dafa menarik tangannya hingga membuat wanita itu tersentak kaget dan menatap Dafa dengan tatapan heran. ''Kenapa sih, main tarik-tarik aja?'' tanya Berlian dengan suara yang Ketus.


''Kenapa papa kamu hancurin restoran? Aku tahu, itu semua ulah papa kamu. Aku mohon, tolong kamu bicara sama papa kamu, untuk tidak menghancurkan restoran papa aku!'' pinta Daffa kepada Berlian dengan tatapan memohon.


''Tunggu! Apa kamu bilang, papa aku hancurin restoran papanya kamu? Memangnya kamu ada bukti?''


''Tidak ada! Hanya saja, aku yakin jika itu adalah ulah papa kamu. Apa kamu cerita soal semuanya?'' tanya Daffa dengan tatapan mendesak ke arah Berlian.


''Ckckck, Dafa, Dafa ... seharusnya, sebelum kamu bertindak kamu itu pikir dulu. Tanpa aku cerita kepada papah pun, beliau pasti akan mengetahuinya. Dan seharusnyax kamu, Desi dan juga Tanisha berpikir dulu sebelum melakukan hal yang merugikan kalian. Kalau papaku sudah bertindak, maka maaf, aku tidak bisa turun tangan. Itu semua di luar kendaliku, dan mungkin saja bukan hanya restoran, tapi keluargamu juga?'' ujar Berlian sambil meninggalkan Daffa dan masuk ke dalam kelas.


Saat Daffa akan mengejar Berlian, tangannya dicekal oleh Bodyguard yang diperintahkan Dev untuk menjaga putrinya.


Melihat itu Daffa menggeram dengan kesal, dia benar-benar tidak bisa berleluasa untuk mendekati Berlian dan meminta pertolongannya. Walaupun jauh di dalam lubuk hati Daffa, dia masih mencintai Berlian, tapi dia gengsi untuk mengatakannya.


Tepat jam 03.00 sore, Berlian sudah pulang dari kampus. Dan saat ini dia tengah berada di sebuah cafe untuk mengerjakan tugas kuliahnya, karena Berlian memang sangat suka mengerjakan tugas di cafe ketimbang di rumah.

__ADS_1


Saat Berlian tengah serius mengerjakan tugasnya, tiba-tiba ada seorang pria yang duduk di hadapan Berlian. Dan saat wanita itu menengok, ternyata pria itu adalah Zayden.


''Kamu! Ngapain kamu di sini?'' tanya Berlian kepada Zayden dengan tatapan tidak suka.


''Aku kebetulan tadi habis meeting, dan nggak sengaja lihat bidadari di sini. Ya sudah, aku ke sini aja deh samperin,'' jawab Zayden dengan enteng sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.


Berlian memutar bola matanya dengan malas, kemudian dia menutup laptopnya dan juga bukunya, lalu Berlian beranjak dari duduk pergi meninggalkan Zayden, tapi tangannya dihalang oleh pria itu.


''Kenapa buru-buru sekali? Aku ingin berbicara dengan kamu,'' ucap Zayden menghentikan Berlian, namun wanita itu menggeleng dengan alis terangkat satu.


''Apa yang perlu dibicarakan? Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan deh,'' jawab Berlian dengan acuh.


''Ayolah ... kita perlu berbicara empat mata. Aku yakin, ada kesalah-pahaman di malam itu,'' pinta Zayden kepada Berlian dengan memaksa, lalu meminta Berlian untuk duduk kembali.


Gadis itu terdiam, dia menatap ke arah Zayden sekilas, kemudian dia pun duduk kembali di sofa. ''Cepatlah! Aku tidak punya banyak waktu,'' ucap Berlian sambil menatap ke arah lain dan melipat kedua tangannya di depan dada.


Baru kali ini Zayden ditolak oleh seorang wanita. Dan baru kali ini pula, Zaidan melihat wanita mengacuhkan dirinya. Padahal selama ini, banyak sekali wanita yang mengejar-ngejar Zayden, dari gadis sampai janda, tetapi tidak ada yang membuat Zayden terpesona. Tidak ada yang membuat Zayden terus kepikiran dan terbayang wajah wanita itu, selain Berlian.


Dari awal Zayden bertemu dengan Berlian, wajah gadis itu terus saja terngiang di benak Zayden. Bahkan pria itu tidak bisa melupakan tubuh ramping namun berisi milik Berlian. Padahal, selama ini Zayden tidak pernah berhasraat jika melihat seorang wanita, tetapi melihat Berlian sungguh berbeda. Zayden seakan ingin mengulang malam itu kembali.


''Aku rasa, ada kesalah-pahaman antara kita di malam itu,'' ucap Zayden membuka suara.


''Apa! Kesalah-pahaman? Apa yang membuat anda berpikir seperti itu, Tuan Zayden yang terhormat? Anda datang dan masuk ke dalam kamar saya, dan anda memperkosa saya? Lalu, salah pahamnya di mana? Saya rasa, tidak ada yang perlu kita salah pahami. Dan yang saya tahu, anda memang pecinta daun muda, dan juga pencari permen karet bukan?'' bantah Berlian dengan sorot mata yang tajam mengarah kepada Zayden.

__ADS_1


''Malam itu, sebenarnya aku tidak tahu jika kamu bukan wanita yang disediakan oleh asisten pribadiku. Aku pikir kamu adalah----''


''Adalah wanita jalaang, yang anda pesan untuk menemani anda malam itu, untuk menghangatkan selimut anda, begitu?'' Berlian memotong ucapan Zayden dengan lantang. Namun suaranya di perendah, agar semua orang tidak mendengar ucapan mereka.


''Aku minta maaf, mungkin di sini memang aku yang salah. Aku tidak---''


''Tidak melihat, dan mendengarkan rintihan dan permohonan saya, begitu maksud anda?.Asal Tuan tahu ya! Saya sangat membenci, Tuan. Tuan telah menghancurkan hidup saya. Tuan telah menghancurkan masa depan saya. Dan sekarang, seenak jidatnya Tuan meminta maaf, seakan tidak pernah terjadi sesuatu apapun dan? Seakan Tuan tidak merasa bersalah sedikitpun?''ucap Berlian dengan sorot mata yang tajam.


Zayden dapat melihat tatapan kebencian di mata Berlian, dan sebenarnya dia merasa sakit saat gadis itu membencinya. Entah kenapa, Zayden pun tidak tahu, tapi rasanya dia tidak suka saat Berlian menatapnya dengan tatapan yang seperti itu.


''Kenapa kamu selalu memotong ucapan saya? Saya 'kan belum berbicara sepenuhnya, tidak baik memotong ucapan seseorang!'' geram Zayden yang sudah tidak tahan dengan sikap Berlian, yang memotong ucapannya sedari tadi.


''Sudahlah, Tuan. Tidak perlu ada lagi yang kita bahas. Saya mau pulang,'' ucap Berlian hendak beranjak dari duduknya. Namun tangannya lagi-lagi ditahan oleh Zayden.


''Kamu ingatkan, kita sudah dijodohkan sedari bayi? Dan Perjodohan itu tidak bisa dihindari. Kamu tidak bisa menolak! Jika pun kamu menolak, saya akan tetap bersikeras supaya kita menikah!'' tegas Zayden sambil menatap ke arah Berlian.


Gadis itu sejenak terpaku saat mendengar ucapan Zayden, dia tidak menyangka jika pria itu benar-benar ingin menikahinya, tapi kemudian dia menepis segala rasa yang ada di hatinya dan dia menggelengkan kepala.


''Tidak Tuan! Perjodohan itu memang dilakukan sejak kita bayi, tetapi kita perlu tahap pengenalan. Lagi pula, saya masih memikirkan akankah saya menikah dengan pria seperti anda, atau tidak?''


Setelah mengatakan itu, Berlian langsung keluar dari Cafe meninggalkan Zayden yang saat ini tengah menatap dirinya. Bahkan pria itu tidak menahan Berlian kembali untuk ketiga kalinya.


Zayden memang ingin menikahi Berlian bukan hanya karena perjodohan saja, tetapi karena rasa bersalah juga. Sebab dia sudah mengambil sesuatu yang berharga pada gadis itu.

__ADS_1


'Lihat saja! Aku akan membuatmu bertekuk lutut kepadaku. Dan kita pasti akan bersanding di pelaminan,' batin Zaidan sambil tersenyum tipis.


BERSAMBUNG


__ADS_2