
Happy reading
Selesai makan siang bersama dengan Zayden, Berlian pun diantar pulang. Dia yang tadinya ingin ke toko buku pun tidak jadi, sebab harus bertemu dengan Zay dan juga mendengar kejujuran nya Desi.
Di dalam mobil, Berlian hanya diam saja. Da tidak banyak bicara, sebab Berlian masih kepikiran dengan ucapannya Desi. Dia tidak menyangka jika Tanisha begitu tega kepadanya. Padahal mereka sudah menjalin persahabatan cukup lama, selama di kampus.
Benar kata sang Mama, jika kita berbuat baik kepada seseorang, belum tentu kebaikan kita dibalas dengan kebaikan juga. Ada kalanya kebaikan dibalas dengan kejahatan, dan itu 70% dari 100.
Zayden menatap kearah Berlian, dia tahu jika gadis itu tengah memikirkan cerita dan juga pengakuan dari mantan sahabatnya, tetapi Zayden bingung, apa yang harus dilakukan. Karena walau bagaimanapun, di sini Zayden ikut andil, dan dia mempunyai kesalahan yang besar. Sebab mau bagaimanapun juga, dia yang telah merenggut kesucian Berlian.
Zay mengirimkan pesan kepada Max, untuk berhenti di suatu tempat. Dan Max yang sedang menyetir pun tersenyum tipis saat membaca pesan dari Bos-nya.
Mobil melaju membelah jalanan yang ramai dan padat di sore hari, tetapi pikiran Berlian bahkan tidak ada di tempat. Mungkin matanya menatap kearah jalanan, tetapi pikirannya sedang tertuju pada masalah yang dihadapinya sekarang.
''Ayo turun!'' aja ke Zayden memecahkan lamunan Berlian, hingga membuat wanita itu tersentak dan menatapnya dengan bingung.
''Kita sudah sampai rumah, ya?'' tanya Berlian, dan menatap ke samping jendela, tetapi seketika dqhinya mengkerut heran saat melihat jika di sana bukanlah rumah kediaman Bachtiar.
''Tunggu dulu! Ini bukan rumahku?'' tanya Berlian kepada Zayden, dan pria itu hanya tersenyum tipis.
''Makannya, kalau orang bawa mobil itu perhatikan jalan. Jika nanti kamu diculik dan dibawa ke tempat yang sepi, bagaimana? Kamu sendiri pun tidak sadar bukan? Sudahlah, kita turun aja!'' jelas Zayden dengan paksa, namun Berlian menggeleng.
''Tidak! Aku tidak mau. Sebaiknya kamu antarkan aku pulang! Ini sudah jam 05.00,'' jawab Berlian dengan acuh sambil menatap ke arah samping jendela.
__ADS_1
Zayden menghembuskan nafasnya dan kasar, kemudian dia keluar dari mobil dan berjalan mengitari mobil itu lalu membuka pintu yang ada di samping Berlian. ''Turunlah!'' titah Zayden, namun Berlian tetap ngotot tidak ingin turun.
''Turun, atau aku gendong!'' ancam Zay dengan tatapan datar ke arah gadis itu.
''Dasar Tuan pemaksa!'' kesal Berlian sambil turun dari mobil dan menghentak-kan kakinya dengan wajah cemberut.
Zayden tersenyum melihat tingkah Berlian, sebab dia sangat menyukai raut wajah gadis itu saat terlihat kesal. Kemudian Zayden mengajak Berlian untuk berjalan mengikutinya, hingga mereka sampai di suatu tempat yang tinggi. Tepatnya di atas sebuah gedung.
''Tuan, anda ini mau ngapain sih ngajak saya ke gedung? Jangan bilang, kalau anda mau apa-apain saya, iya?'' tuduh Berlian dengan tatapan menyelidik ke arah Zayden. Karena saat ini mereka sedang berada di atap sebuah hotel yang mempunyai 30 lantai.
PLETAK.
Zayden menyentil kening Berlian, membuat wanita itu mengaduh dan menatap pria yang ada di hadapannya dengan tatapan marah.
''Apa anda ini tidak bisa lembut kepada wanita?'' ketus Berlian sambil mengusap keningnya.
Seketika tatapan Berlian terpaku, senyumnya terukir begitu manis di bibir wajah cantik gadis itu, saat melihat pemandangan di depan, di mana gedung-gedung dengan rumah-rumah yang padat dan langit yang berwarna jingga, serta matahari yang akan terbenam. Membuat keindahan begitu nyata.
''Puji syukur atas segala ciptaan-mu, Ya Allah,'' gumam Berlian dengan nada yang lirih. Karena dia mengagumi keindahan ciptaan Allah yang ada di bumi ini. Sejenak bahkan Berlian melupakan masalahnya bersama dengan Zayden. Dia menikmati semilir angin yang menerpa tubuhnya, memejamkan mata dan menghirup udara sedalam-dalamnya.
Semua yang dilakukan oleh Berlian tidak luput dari penglihatan Zayden. Pria itu tersenyum dan bersyukur, karena dia bisa melihat wajah cantik itu sedang mengukir sebuah senyuman yang manis.
'Aku berjanji, akan selalu membuatmu tersenyum. Walaupun jika kamu harus membenciku, dan jika kamu harus marah kepadaku. Asalkan kamu bisa tersenyum dan perasaanmu baik-baik saja,' batin Zay berjanji dia akan selalu membuat Berlian tersenyum.
__ADS_1
Di tempat lain sepasang kekasih baru saja selesai melakukan kegiatan panas di atas ranjang. Mereka adalah Daffa dan juga Tanisha, dan saat ini wanita itu sedang bersandar di dada bidang Daffa.
''Sayang, terus gimana dong sama restoran papa kamu? Masa bangkrut?'' tanya Tanisha sambil membuat lukisan abstrak di dada kekasihnya itu. Lebih tepatnya, kekasih yang direbut dari sahabatnya.
''Aku tidak tahu! Aku sudah bicara kepada Berlian, tetapi sepertinya gadis itu sangat keras kepala. Aku harus bagaimana ya, agar Tuan Dev mau untuk mengembalikan restoran papa-ku kembali?'' jawab Daffa dengan tatapan kosong ke depan.
Tanisha terdiam, mencoba memikirkan sesuatu. Dan setelah beberapa menit, dia menjentikan jarinya, lalu menegakkan tubuh sambil menatap kearah Daffa.
'Aku punya ide sayang!'' seru Tanisha dengan wajah gembira.
''Ide apa itu?'' tanya Daffa dengan penasaran.
Tanisha tersenyum menyeringai, kemudian dia membersihkan sesuatu ke Daffa. Awalnya pria itu terlihat kaget, saat mendengar ide gila dari Tanisha.
''Apa kamu sudah gila?! Kalau kita lakukan itu, pasti Tuan Dev akan semakin marah?'' jawab Daffa dengan nada kaget.
''Sayang, kamu jangan panik gitu dong. Makanya dengerin dulu penjelasan aku, baru kamu boleh untuk berfikir.'' Setelah berkata seperti itu, Tanisha pun menjelaskan idenya kepada Daffa, dan pria itu hanya diam menyimak.
Setelah Tanisha mengungkapkan dan menjelaskan tentang ide gilanya kepada Daffa, pria itu pun tersenyum menyeringai. Kemudian dia mengangguk-kan kepalanya. ''Kamu benar sayang. Sepertinya itu jalan yang bagus. Kamu memang sangat pintar,'' puji Daffa sambil menoel hidung Tanisha, kemudian gadis itu naik ke pangkuan Daffa. Lalu mereka pun melakukan pergumulan panas itu sekali lagi.
Entah apa yang Tanisha bicarakan dengan Daffa. Akan tetapi, itu pasti akan membuat kemarahan Dev semakin memuncak. Sedangkan Tanisha di dalam hatinya bersorak gembira akan kehancuran Berlian.
''Apa kamu yakin sayang, rencana kita akan berhasil?'' tanya Daffa di sela-sela hentakan nya.
__ADS_1
'Sangat yakin, sayang. Ooh ... lebih kuat sayang! Aku ingin sekali melihatnya hancur. Kita akan mendapatkan apa yang kita mau,'' jawab Tanisha dengan suara yang terengah sambil memejamkan mata, menikmati setiap permainan yang diberikan Daffa di tubuhnya.
BERSAMBUNG