Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
Menaiki Pohon Pertama Kalinya


__ADS_3

Happy reading......


Pagi telah menyapa, saat ini Dea sedang membantu ibunya di dapur untuk membuatkan sarapan. Sedangkan Desi berjalan di sekitaran sawah, menikmati embun pagi yang terlihat masih gelap. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 06.00.


"Suasana di sini benar-benar masih sangat asri, Embunnya saja masih sangat terasa, padahal tidak ada AC, tapi udaranya benar-benar dingin. Jakarta jam segini sudah mulai terasa panas, beda sekali?" gumam Desi sambil merentangkan tangannya, menghirup udara segar yang masuk ke dalam paru-paru.


Max melihat ke sekeliling rumah Dea, namun tidak menemukan kekasihnya. Kemudian tatapannya terarah pada seorang wanita yang tengah berdiri di tengah sawah, dan sedang merentangkan kedua tangannya.


Dia sangat yakin, jika itu adalah Desi. Kemudian dia mulai berjalan mendekat, lalu memeluk tubuhnya dari belakang, membuat Desi tersentak kaget. Dan gara-gara keterkejutannya, membuat Desi terpeleset, namun Max menahannya.


Alih-alih berakhir romantis, keduanya malah tercebur ke tengah sawah, hingga membuat tubuh mereka kotor terbalur lumpur.


Max terkekeh melihat wajah Desi yang terciprat lumpur, begitupun dengan Desi, dia juga tertawa saat melihat Max sudah basah dan kotor. Kdmudian satu tangannya mengambil lumpur, lalu mengoleskan ya ke pipi Max.


Melihat hal itu Max tidak mau tinggal diam, dia juga mengambil lumpur lalu mengoleskannya ke pipi calon istrinya tersebut, hingga mereka pun saling menyerang satu sama lain.


"Astaghfirullahaladzim! Ini masih pagi. Kenapa kalian main lumpur? Ya ampun, kalau mau nanam padi itu lihat dulu sawahnya, masih kosong atau udah ditanam?" celetuk Zay saat melihat Desi dan juga Max tengah bermain lumpur.


Keduanya menatap satu sama lain, kemudian mereka pun tertawa. Lalu Max mulai membantu calon istrinya untuk berdiri.


"Siapa juga yang mau menanam padi? Kami itu tidak sengaja tercebur ke dalam lumpur," jawab Max sambil merapikan pakaiannya yang sangat kotor.


"Melihat kalian, aku teringat dengan pisang goreng tepung yang baru saja dibuat oleh mama Dea. Kalian itu benar-benar sangat mirip, tinggal masuk ke dalam minyak, jadi deh!" celetuk Zay.


Setelah itu Max dan juga Desi pulang untuk membersihkan diri. Mereka tidak menimpali kekonyolan Zay, karena percuma saja, hanya akan berdampak perdebatan.


"Ya ampun! Kalian habis dari mana? Kenapa kotor-kotoran kayak gitu?" tanya bu Siti saat melihat Max dan Desi pulang dengan pakaian yang kotor.


"Mereka pasti habis pacaran Nek, atau lagi bikin adonan di tengah sawah?" ledek Berlian.


Desi langsung masuk ke dalam kamar mandi, tidak menghiraukan ledekan sahabatnya. Apalagi saat ini wajahnya sudah benar-benar merona malu, karena semua orang di sana meledek dirinya.


.

__ADS_1


.


Siang ini Max sedang memandu beberapa orang menuju rumah orang tua Dea, dan ada beberapa barang material juga yang di bawa ke sana. Bu Siti yang melihat itu, merasa bingung.


"Loh, Nak Max, ini kenapa ada bahan-bahan material?" tanya bu Siti.


"Untuk itu, Ibu bisa tanya saja pada Tuan Dev. Karena beliau yang meminta saya untuk melakukan ini semua," jawab Max.


Sedangkan Dev sedang meminum kopinya bersama dengan Dea. Kemudian bu Siti menanyakan perihal material tersebut pada Dev, dan ternyata Dev ingin membangun toko sembako untuk mertuanya.


"Tapi Nak, apa ini tidak berlebihan?" tanya bu Siti.


"Sama sekali tidak Bu. Karena bagi aku, kalian sudah seperti orang tuaku sendiri. Jadi aku tidak mau melihat ayah dan Ibu capek-capek kerja," jawab Dev.


Bu Siti benar-benar bersyukur memiliki menantu seperti Dev. Padahal wanita itu melihat Dea bahagia sajax sudah sangat membuat hatinya tenang. Ayah Rozak juga yang mendengar itu tentu saja berterima kasih banyak kepada Dev, lalu mereka berkumpul di halaman, melihat para tukang sedang mengerjakan tugasnya.


"Om suami, apakah aku boleh meminta sesuatu?" tanya Berlian.


"Apa itu, sayang? Bilang saja!" jawab Zay.


"Kamu ingin buah itu?" tanya Zay, dan Berlian langsung menganggukkan kepalanya.


"Max, tol---"


"Aku tidak mau Tuan Max yang mengambilnya, tapi Om suami yang melakukannya untukku! Tolong Om suami panjat ya, buat ambilin buah kelapa!Seekalian untuk Mama, Papa dan semua orang yang ada di sini. Kira-kira 10 biji!" pinta Berlian.


Max yang mendengar itu membulatkan matanya dengan mulut menganga. Dia menunjuk dirinya sendiri saat Berlian meminta hal itu kepadanya.


"Sayang, are you crazy? Aku yang naik pohon kelapa? Tapi itu tinggi banget loh?" ujar Zay sambil meneguk ludahnya dengan kasar.


"Yaelah, baru naik pohon kelapa, belum Papa suruh kamu naik pohon kecapi? Atau kamu takut, burung selebew kamu itu tersangkut?" ledek Dev kepada menantunya.


"Bukan seperti itu, Pah! Hanya saja, pohonnya itu tinggi. Nanti kalau---"

__ADS_1


"Kalau kamu jatuh, begitu? Cemen banget jadi cowok! Masa nggak mau lakuin hal seperti itu buat istrinya? Gimana kalau Berlian nanti hamil, dan ngidam? Bisa-bisa anak kalian nanti ileran?" ledek Dev kembali memotong ucapan Zay.


"Siapa bilang aku takut? Oke, aku akan ambil kelapanya! Sekalian aja entar sama pohonnya aku cabut!" cetus Zay, kemudian dia beranjak dari duduknya dan mulai berjalan mendekat ke arah pohon kelapa tersebut.


'Bujubuneng! Ini pohon tinggi banget dah? Seumur-umur, gue belum pernah naik pohon kelapa. Jangankan pohon kelapa, pohon rambutan aja aku belum pernah. Aduh, Tuhan, lindungilah diriku! Jangan sampai nanti burungku nyangkut,' batin Zay.


"Ayo naik! Kenapa diam saja?!" teriak Dev.


Zay yang mendengar itu merasa kesal, dia tidak menyangka mendapatkan mertua yang begitu menjengkelkan seperti Dev. Mereka macam Tom and Jerry yang tidak pernah akur, selalu ada saja yang dipermasalahkan, dari hal kecil maupun besar. Apalagi Dev selalu mencari kesalahannya.


Dengan perlahan, Zay mulai menapaki dan memanjat pohon kelapa tersebut dengan sedikit bergetar. Dia mulai naik selangkah demi selangkah, walaupun takut, tapi Zay tidak ingin menunjukkannya.


Hingga saat sudah sampai di atas, dia melihat ke bawah. Seketika kakinya bergetar, tidak bisa membayangkan bagaimana jika sampai jatuh ke bawah sana.


"Ayo Om suami, 10 biji ya! Ambil lalu jatuhin!" teriak Berlian di bawah.


"Astaga! Aku mempunyai istri dan juga keluarganya sengklek semua? Sepertinya aku menjadi korban." Zay sambil mengambil buah kelapa satu per-satu, lalu menjatuhkannya.


Setelah mendapatkan 10 buah, pria itu pun hendak turun. Namun ketinggian pohon kelapa membuatnya sedikit bergetar takut.


"Om suami, ngapain berada di atas terus? Ini buahnya udah 10. Ayo turun! Jangan nangkring mulu di atas!" teriak Berlian.


"Dasar istri solehot. Bukannya nyemangatin suaminya, malah ngeledekin kayak monyet? Sabar, sabar!" rutuk Zay sambil mengusap dadanya sendiri.


Namun saat dia akan turun, kakinya bergetar takut. Zay merutuki kebodohannya sendiri, kenapa dia mau menaiki pohon tinggi tersebut. Sedangkan Max dan juga Dev hanya terkekeh saat melihat pria setengah matang tersebut ketakutan di atas sana.


"Bos, ayo turun! Demen amat nangkring di atas? Jangan bilang, bisa naik nggak bisa turun!" teriak Max di bawah sana.


"Diam saja kau lampu Petromax! Menyebalkan sekali," balas Zay.


Perlahan pria itu mulai turun dengan badan yang sedikit gemetar, karena dia takut jatuh. Hingga saat sampai di bawah, keringat sudah membanjiri tubuhnya, karena ketakutan. Namun ada yang salah dari Zay, semua orang bukan terpaku kepada keringat di tubuhnya, melainkan pada sesuatu yang sudah basah di bawah sana.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2