Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
Jangan Percaya Begitu Saja


__ADS_3

Happy reading.....


Gadis itu memasuki ruangan di mana Desi dirawat. Dia melihat jika sahabatnya sudah sadar, bahkan saat ini Max tengah mengajak Desi berbicara. Tentu saja Berlian yang melihat itu sangat bahagia, kemudian dia berjalan mendekat ke arah Desi dengan linangan air mata. Max yang melihat itu segera menyingkir, membiarkan gadis itu duduk di sebelah Desi.


''Alhamdulillah, Desi kamu sudah sadar?'' tanya Berlian dengan rona bahagia di wajahnya.


Desi yang masih merasa lemas hanya bisa mengangguk kecil sambil tersenyum ke arah Berlian. Dia begitu senang saat melihat wanita itu baik-baik saja, karena rasa bersalah dalam diri Desi begitu besar, sehingga gadis itu rela mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan Berlian.


''Aku benar-benar bahagia, karena melihatmu sudah sadar. Kau tahu! Betapa aku sangat sedih melihatmu terbujur kaku tak berdaya di atas berankar Rumah Sakit. Kau jangan melakukan hal sebodoh itu lagi, Oke! Aku tidak akan memaafkanmu untuk kedua kalinya,'' ucap Berlian sambil menggenggam tangan Desi.


''Kau sudah memaafkanku?'' tanya Desi dengan suara yang lirih, bahkan kini matanya tengah berembun.


''Dasar bodoh! Tentu saja aku sudah memaafkanmu. Bagaimana mungkin bisa, aku lama-lama marah kepada dirimu? Sedangkan kau saja di sini sebagai korban,'' jawab Berlian sambil mengusap air matanya.

__ADS_1


Max bisa melihat bagaimana persahabatan antara Berlian dan juga Desi. Pria itu semakin yakin untuk menikahi Desi, walaupun sebenarnya tidak ada cinta di hatinya. Akan tetapi,ntanggung jawab dan rasa bersalah begitu besar dirasakan oleh pria itu.


''Terima kasih Berlian, kau sudah mau memaafkanku, tapi Tanisha dan Daffa, mereka ...'' Desi tidak melanjutkan ucapannya, wajahnya mendadak sendu.


Dia tidak bisa membayangkan, bagaimana keluarga Bachtiar akan membalas perbuatan Tanisha dan juga Daffa. Sebab Desi sangat yakin, ayahnya Berlian tidak akan tinggal diam dengan kejadian itu. Dan sangat tidak mungkin, jika orang tuanya tidak mengetahui tentang apa yang terjadi pada putri semata wayang dari keluarga kaya raya tersebut.


''Soal Tanisha dan Daffa, kamu tidak usah khawatir. Aku rasax mereka sudah menyesal. Tadi saat di kampus, mereka meminta maaf kepadaku,'' jelas Berlian.


Desi yang mendengar itu mengerutkan dahinya. Dia tidak menyangka jika Daffa dan juga Tanisha bisa meminta maaf secepat itu, bahkan segampang itu kepada Berlian. Sedangkan dia sangat tahu, selama ini Tanisha begitu dendam kepada gadis yang berada di hadapannya itu.


''Berlian, aku sarankan kau jangan percaya begitu saja kepada mereka. Aku tidak yakin, jika Daffa dan juga Taniha itu sudah menyesali perbuatannya. Aku takut, kalau mereka tengah merencanakan sesuatu lagi,'' ujar Desi dengan suara yang lemah.


''Kau tenang saja! Aku rasa mereka benar-benar menyesal,'' jawab Berlian sambil tersenyum. ''Sekarang lebih baik kau istirahat! Muka kamu masih terlihat sangat pucat,'' sambungnya kembali.

__ADS_1


''Saya rasa, apa yang dikatakan Nona Desi itu ada benarnya, Nona muda. Jangan langsung percaya dengan mereka!'' timpal Max.


Dia setuju dengan ucapan Desi, tidak mungkin dua pengkhianat itu bisa menyesali perbuatan mereka dalam sekejap. Apalagi dengan pelajaran yang dikasih oleh Dev dan juga Zayden, karena Max sangat yakin, orang seperti mereka pasti dendamnya semakin membara.


Untung saja aku sudah menempatkan mata-mata untuk mereka berdua. Sehingga apapun yang merena rencanakan, pasti aku akan mengetahuinya. Lihat saja! Berani menyentuh Nona mudaku, maka akan ku pites kek kutu mereka berdua! batin Max.


Dia memang sudah menyiapkan beberapa anak buah untuk menjadi mata-mata Tanisha dan Daffa. Karena entah kenapa, Max yakin jika mereka berdua pasti akan melakukan sesuatu kembali kepada Berlian, dan itu tidak akan pernah Max biarkan.


Selesai menengok Desi dan mengetahui keadaan sahabatnya, gadis itu pun pulang ke kediaman Bachtiar diantar oleh anak buah Max. Dia akan menyampaikan kabar Bahagia itu kepada Dea dan juga mama Linda.


Saat Max membuka laptopnya, dia melihat ponselnya yang berada di sofa tengah bergetar. Kemudian pria itu pun mengambilnya. Ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Berlian, karena memang pria itu tadi sengaja men-silent benda pipih tersebut, sebab dia fokus pada Desi saat mengetahui jika gadis itu sudah sadar.


Saat layar ponsel itu dibuka, mata Max membulat dengan geram. Tangannya terkepal dengan rahang mengeras saat membaca pesan dari seseorang.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2