Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
Kebahagiaan Kamu Yang Utama


__ADS_3

Happy reading......


Hari telah berganti minggu, dan minggu pun telah berganti bulan. Tidak terasa pernikahan Zay juga Berlian sudah memasuki bulan ke-4, dan pagi ini Berlian sedang memasak sarapan untuk suaminya.


Dia dan juga Zay sudah pisah rumah, tapi sesekali masih menengok keadaan Dev dan juga Dea. Namun, ada yang berbeda yang dirasakan oleh Berlian. Entah kenapa dia merasa perutnya begitu mual sedari pagi.


"Sepertinya aku memang masuk angin?" gumam Berlian saat merasakan dia akan muntah kembali.


Wanita itu pun langsung menuju wastafel dan memuntahkan isi perutnya. Bibi yang melihat itu langsung mengusap belakang punggung milik Berlian, lalu mengambilkan air hangat.


"Ini Nyonya, diminum dulu airnya biar lebih enakan," ucap bi Leha pada Berlian.


"Terima kasih Bi," jawab Berlian sambil menegak air hangat tersebut.


Kepalanya terasa pusing, wajahnya juga sedikit pucat. Setelah siap menyajikan sarapan, Berlian jalan menaiki tangga menuju kamarnya, kemudian saat dia masuk ke dalam kamar melihat jika suaminya sudah terbangun.


Lalu Berlian mengambilkan baju di dalam lemari, namun kepalanya terasa sangat pusing, hingga tanpa sadar tubuhnya oleng dan hampir saja jatuh, jika tidak ditahan oleh Zay yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Zay dengan panik, kemudian dia menggendong tubuh Berlian dan menidurkannya di atas ranjang


"Sayang are you oke? Wajah kamu pucat sekali?" tanya Zay kembali.


"I'm fine, Mas. Aku hanya sedikit pusing aja sama mual, mungkin masuk angin," jawab Berlian sambil memijit kepalanya.


Zay yang melihat itu pun segera menaruh kepala Berlian di pangkuannya, kemudian memijat kepala istri tercintanya tersebut, lalu satu tangannya mengambil ponsel dan memanggil Dokter.


"Kamu bersiap saja Mas ke kantor, sebentar lagi aku lebih baik kok," ujar Berlian sambil memejamkan matanya.


"Tidak! Aku hari ini tidak ke kantor dulu, kesehatanmu jauh lebih penting daripada pekerjaanku. Lagi pula ada Max yang mengerjakan semuanya, jadi tidak usah khawatir," jelas Zay.

__ADS_1


Tak lama pintu kamar terketuk, dan ternyata itu adalah Dokter. Zay pun langsung memintanya untuk memeriksa keadaan Berlian.


Setelah beberapa saat, Dokter pun selesai memeriksa. Zay yang melihat itu pun langsung bertanya, "Dok, bagaimana keadaan istri saya? Dia sakit apa?" tanya Zay dengan tatapan ke arah Berlian.


"Istri tidak Anda sedang sakit. Kemungkinan dari pemeriksaannya, Nyonya Berlian sedang mengandung, dan itu adalah hal yang biasa jika terjadi pada ibu yang sedang hamil muda," jelas Dokter tersebut.


"Apa Dok, hamil!" kaget Berlian dan Zay bersamaan.


Dokter itu menganggukan kepalanya, "Benar! Kalau boleh tahu, terakhir kapan Nyonya Berlian datang bulan?"


Berlian yang ditanya seperti itu pun menjelaskan kapan terakhir kali dia datang bulan, dan setelah dihitung ternyata kandungan Berlian memasuki minggu ke-8.


"Apa Dok! Jadi benar jika saya sedang hamil?" tanya Berlian dengan wajah bahagia.


"Benar Nyonya, selamat sekali lagi kepada kalian, karena sebentar lagi akan mempunyai baby. Kalau begitu ini vitaminnya jangan lupa diminum sesuai resep. Saya permisi dulu," jelas Dokter tersebut kemudian pamit dari kamar Berlian.


Zay yang mendengar kabar bahagia tersebut seketika langsung memeluk tubuh Berlian, dia menciumi seluruh wajah istrinya, tidak menyangka jika benih yang selama ini ditanam telah jadi.


Berlian mengangguk, kemudian Zay meminta bibi untuk membawakan sarapan ke kamar, karena Berlian masih lemas jadi dia tidak sanggup untuk berjalan.


Tepat jam 09.00 pagi, mereka pun menaiki mobil pergi ke kediaman Bachtiar untuk memberitahukan kabar bahagia tersebut. Dan selama dalam perjalanan, bahkan Zay terus saja mengusap perut istrinya. Dia benar-benar merasa bahagia, karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah.


Setelah sampai di kediaman Bachtiar, mereka pun langsung masuk. "Assalamualaikum," ucap Zay dan juga Berlian bersamaan.


"Waalaikumsalam," jawab semua saat berada di ruang tamu. Karena Berlian sudah mengabari kepada papa dan juga mamahnya, jika dia akan datang. Jadi Dev tidak pergi ke kantor dulu.


"Sayang, sebenarnya ada apa? Kok kamu melarang Papa untuk pergi ke kantor dulu?" tanya Dev saat Berlian duduk di sampingnya.


Tanpa aba-aba wanita itu langsung memeluk tubuh Dea dan juga Dev bergantian. Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi, dan Dea yang melihat itu merasa bingung, begitupun dengan Dev.

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa kok tiba-tiba jadi melow begini? Apa si duda karatan itu nyakitin kamu? Kalau iya, awas aja, nanti biar Papa sleding dia!" ucap Dev dengan tatapan tajam ke arah Zay.


"Papa, masa Papa langsung di Sleding? Aku menangis bukan karena Om suami, tapi karena aku sangat bahagia," jawab Berlian.


"Memangnya apa yang membuat putri cantik Mama ini sangat bahagia? Sampai menangis haru?" tanya Dea sambil memegang dahu Berlian.


Tanpa menjawab, Berlian mengambil tangan Dea kemudian membawa tangan itu ke perutnya yang masih rata, membuat Dea seketika mengerutkan keningnya. Namun, setelah beberapa saat dia pun sadar dan membelakakan matanya.


"Sayang, kamu serius? Ini ..." Dea menggantung ucapannya dengan tatapan berbinar.


"Iya Mah, sebentar lagi Mama dan Papa akan menjadi kakek dan nenek," jawab Berlian.


"Tunggu-tunggu! Jadi maksud kamu, anak kesayangan Papa ini lagi hamil?" seru Dev, dan Berlian langsung menganggukkan kepalanya.


Mama Linda yang mendengar itu pun juga sangat bahagia, dia langsung memeluk tubuh Berlian dan keempat orang itu pun berpelukan. Mereka benar-benar sangat bahagia saat mendengar kabar tersebut.


"Mama benar-benar sangat bahagia sayang, terima kasih ya, kamu benar-benar sudah memberikan kami kebahagiaan yang begitu lengkap. Tapi ada yang Mama takutkan," ujar Dea dengan tatapan sendu.


"Apa itu, Mah?" tanya Berlian sambil menatap ke arah mamanya dengan heran, begitupun Dev, mama Linda dan juga Zay.


Kemudian Dea menatap ke arah menantunya, "Zay, bolehkah selama Berlian hamil dia tinggal di sini! Bukan apa, Mama hanya ingin merawatnya, karena orang hamil itu rawan sekali dengan namanya ngidam. Sedangkan di rumah kalian saat kamu pergi pasti Berlian sangat kesepian, jadi bisa 'kan dia di sini? Bisakah kalian tinggal sampai Berlian melahirkan!" pinta Dea dengan tatapan memohon.


Zay terdiam untuk beberapa saat, namun seketika dia menganggukkan kepalanya, karena pria itu pikir apa yang dikatakan Dea ada benarnya. Saat dia bekerja sudah pasti Berlian akan kesepian, jadi tidak ada salahnya jika Berlian tinggal untuk sementara waktu di rumah itu.


"Iya Mah, aku dan Berlian akan tinggal di sini sampai bayi yang ada di dalam kandungannya dilahirkan ke dunia," jawab Zay.


Berlian yang mendengar itu pun tentu saja sangat bahagia. "Terima kasih ya Om suami," ucap Berlian dan Zay langsung menganggukkan kepalanya.


"Kebahagiaan kamu lebih utama sayang," ujar Zay, membuat Dev benar-benar bangga memiliki menantu sepertinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2