Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
Akan Jujur


__ADS_3

Happy reading


Hari ini Berlian tidak ke kampus, karena perasaannya sedang tidak baik-baik saja. Setelah kejadian tadi malam, dia tidak ingin mood-nya hancur saat datang ke kampus dan bertemu dengan ketiga orang yang sama sekali tidak bisa dimaafkan oleh dirinya.


''Loh, kamu tidak siap-siap ke kampus sayang?'' tanya Dea kepada berlian, saat berada di meja makan.


''Tidak Mah! Lagi pula, tidak ada tugas kampus,'' jawab Berlian sambil makan sarapan ya.


Dev menatap kearah putrinya dengan tatapan intens, dia tahu jika putrinya itu tengah dilema dengan pembicaraan semalam.


''Berlian, Papa tahu, mungkin kami terlalu egois karena menjodohkan kamu dengan seorang duda, tapi Papa sangat yakin jika Zayden adalah pria yang tepat. Dia pria yang baik dan bertanggung jawab. Papa juga sangat yakin, jika Zayden itu pria--''


''Cukup, Pah! Jangan pernah menyebutkan nama dia lagi di hadapan Berlian!'' Gadis itu memotong ucapan Dev, hingga membuat semua orang menatap ke arahnya. Karena selama ini, Berlian tidak pernah selancang itu di hadapan orang tuanya, apalagi sampai memotong ucapan Dev maupun Dea.


Dia cukup terkejut saat melihat keberanian Berlian yang memotong ucapan suaminya. Kemudian Dea beranjak dan duduk disebelah Berlian, lalu mengusap pundaknya. ''Sayang, ada apa? Kenapa dari semalam kamus seakan membenci Zayden? Apa kalian pernah bertemu? Apa kalian punya masalah?'' tanya Dea dengan tatapan menyelidik.


''Tidak ada, Mah. Aku hanya butuh waktu saja. Semua tidak mudah bagi Berlian. Kalau gitu, Berlian permisi dulu Mah,'' ucap Berlian sambil beranjak dari duduknya.


''Tapi, sarapan kamu belum habis Nak? Papa juga belum selesai bicara,'' ujar Dev saat melihat Berlian akan meninggalkan meja makan.


''Berikan Berlian waktu Pah, agar Berlian bisa memutuskan. Karena menikah itu bukanlah hal yang mudah.'' Setelah mengatakan itu, Berlian meninggalkan meja makan dan pergi ke kamarnya.


Dea menggenggam tangan Dev, sambil menggelengkan kepalanya. Mencoba memberi kode kepada suaminya untuk tidak mengangkat bicara kembali. Dan Dev yang melihat itupun menghela nafasnya, kemudian dia melanjutkan sarapannya kembali.

__ADS_1


Entah kenapa, Mama Rose melihat jika Berlian begitu membenci Zayden. Dia bisa melihat dari kedua sorot mata Berlian, saat Dev berbicara tentang pria itu. Karena walau bagaimanapun, Mama Rose pernah muda, dan dia sudah banyak memakan asam garam kehidupan.


''Ya sudah, kalau gitu aku berangkat ke kantor dulu ya.'' Dev mengambil tas kerjanya di kurisi, kemudian dia berjalan keluar rumah di antara oleh Dea.


Sejujurnya ada yang mengganjal dari sikap Berlian, tetapi Dev tidak ingin berburuk sangka. Dia berfikir, mungkin Berlian masih syok dengan perjodohan semalam. Dan Berlian juga baru saja putus dari pacarnya, jadi Dev berfikir, mungkin Berlian masih trauma jika menjalin hubungan dengan pria lain.


Dea masuk ke dalam rumah menuju meja makan untuk menghabiskan sarapannya. Saat dia sampai disana, Mama Rose berkata kepada Dea.


''Entah kenapa, Mama merasa jika ada yang Berlian sembunyikan dari kita?'' ucap Mama Rose sambil meminum air yang ada di atas meja.


''Maksud Mama, bagaimana?'' tanya Dea dengan dahi mengkerut, dan menatap kearah mertuanya dengan bingung.


''Entah kenapa, Mama merasa Berlian sangat membenci Zayden? Mungkin saja mereka pernah bertemu sebelumnya, dan mungkin saja mereka mempunyai masalah.'' Mama Rose sejenak menghentikan ucapannya. Memilah kata yang tepat agar dimengerti oleh Dea, dan wanita itu hanya diam saja menyimak mertuanya.


Dea terdiam, memikirkan ucapan Mama mertuanya. Karena sejujurnya dia juga merasakan hal yang sama. Sedari semalam, dia berbicara dengan Berlian dan gadis itu malah menangis pilu. Tangisan yang membuat dia yakin, jika putrinya tengah terluka.


Akan tetapi, Berlian tidak mau berbicara kepadanya. Dia juga merasa, jika Berlian Menyembunyikan sesuatu, tetapi dia juga tidak ingin memaksa putrinya. Dia yakin, jika Berlian akan berbicara dan mengungkapkan semuanya, tapi dia juga berpikir jika dia harus berbicara lagi bersama dengan Berlian dari hati ke hati.


''Baiklah, kalau gitu Dea ke kamar Berlian dulu ya Mah. Dea akan berbicara kepadanya,'' pamit Dea kepada Mama Rose, dan wanita paruh baya itu langsung mengganggukkan kepalanya.


''Bagaimana Papa bisa berbicara seperti itu tentang dia? Dia bukanlah pria yang baik. Dia pria yang jahat! Aku sangat membencinya! Apakah Papa masih akan mengatakan jika dia pria yang bertanggung jawab, jika Papa tahu kebenarannya?'' ucap Berlian sambil menangis menatap ke arah depan.


''Kebenaran apa yang kamu maksud?'' tanya Dea yang berada di belakang Berlian.

__ADS_1


Gadis itu sangat kaget saat mendengar suara sang Mama, kemudian dia membalik badannya dan seketika matanya membulat saat mendapati Dea sedang menatap menatap dirinya dengan tatapan bingung.


Wanita itu melangkah ke arah Berlian. ''Kebenaran apa yang Papa dan Mama tidak tahu? Apa yang kamu sembunyikan tentang Zayden? Kenapa kamu begitu membencinya? Katakan Berlian! Mama tidak suka ada yang disembunyikan. Jika kamu ada apa-apa, kamu cerita sama Mama. Mungkin saja Mama bisa kasih solusi,'' ucap Dea mendesak Berlian agar bercerita tentang masalahnya.


Saat Dea masuk ke dalam kamar Berlian, dia melihat gadis itu tengah berdiri di balkon kamar sambil menatap lurus ke arah depan. Dan semakin langkahnya mendekat ke arah putrinya, dia mendengar ucapan Berlian. Dahinya mengkerut saat Berlian mengatakan jika dia sangat membenci Zayden. Apalagi saat Berlian mengatakan, jika Zayden bukanlah pria yang baik, dan Dev akan marah saat tahu kebenarannya.


''Katakanlah, sayang! Apa yang kamu sembunyikan dari Mama dan Papa tentang Zayden? Apa kalian saling mengenal satu sama lain?'' Dea terus mendesak Berlian untuk mengatakan kebenarannya.


Gadis itu semakin terisak, menangis pilu, bahkan tersedu-sedu. Dia benar-benar bingung, apakah harus menceritakan kebenarannya kepada sang Mama atau tidak. Tubuh Berlian luruh ke lantai, dia benar-benar tidak mempunyai tenaga sama sekali, karena saat ini hatinya bener-bener hancur.


Dea sakit saat melihat putrinya menangis seperti itu. Dia tidak pernah melihat putrinya semenderita dan seterluka itu. Kemudian dia merengkuh Berlian di dalam pelukannya, dan mengusap punggung serta kepala Berlian dengan lembut.


''Di sini ada Mama. Jika kamu memang tidak ingin bercerita kepada Papa, kamu tidak ingin Papa mengetahui kebenarannya. Maka ada Mama di sini. Bicaralah kepada Mama, Nak!'' Dea mencoba untuk menjadikan dirinya sebagai sahabat bagi Berlian, karena dia tahu saat ini itulah yang Berlian butuhkan.


Berlian terdiam, kemudian dia melepaskan pelukannya dan menatap sang Mama. Kali ini Berlian benar-benar tidak bisa untuk menahan nya lagi.


''Aku ... sebenarnya---'' Berlian terdiam, kemudian dia menghapus air matanya. Dia rasa, memang harus menceritakan tentang kejadian malam itu kepada sama Mama.


Mungkin Dea memang akan terkejut saat mengetahui kebenarannya, tetapi Berlian yakin, jika Mamanya pasti akan mengerti. Karena itu bukan kesalahan Berlian, dia hanyalah seorang korban.


''Aku akan bicara jujur sama Mama, tapi aku mohon, jangan ceritakan ini pada Papa!'' pinta Berlian dengan suara yang purau.


Dea menganggukkan kepalanya. Entah kenapa, dia merasa jika Berlian akan mengatakan hal yg besar. Dia merasakan perasaan yang tak enak.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2