Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
Zay Beruntung Memilikimu


__ADS_3

Happy reading.......


Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 sore. Mereka pun pulang ke rumah setelah selesai melewati banyak petualangan di ladang, tentang bermain di kali, menanam padi sampai memanen pohon jengkol dan juga mendapatkan ayam hutan.


Tidak Max dan Zay sangka, jika petualangan di dalam hutan begitu sangat menyenangkan, melebihi liburan ke pantai atau ke negara lainnya yang hanya menghabiskan uang dan berjalan-jalan, tetapi di sana tidak.


Mereka menikmati apa yang dilakukan oleh orang desa tersebut. Apalagi saat memanen jagung dan langsung membakarnya, benar-benar terasa lezat. Manisnya masih sangat segar karena baru dipetik.


Saat ini semua sedang berkumpul di halaman sambil menunggu maghrib yang satu jam lagi adzan akan berkumandang.


"Bagaimana? Apa petualangan kalian menyenangkan di ladang?" tanya Dev kepada Zay.


"Sangat menyenangkan, Pah. Aku tidak menyangka, jika kehidupan di desa ternyata tidak seburuk yang kubayangkan? Malahan, lebih seru dibandingkan liburan ke luar negeri," jawab Zay.


"Benar sekali. Rasanya kita benar-benar my trip my adventure. Ada di hutan, tetapi menikmati suasananya. Rasanya kalau setiap hari seperti itu, bisa refresh otakku," kekeh Max.


"Kehidupan di desa itu memang terlihat sederhana, tetapi sangat menyenangkan dan damai. Jika kami tidak mempunyai sayur, kami tinggal mencarinya ke hutan. Mau ikan, kalau tidak mempunyai empang tinggal cari ke kali, dan ditangkap menggunakan pancingan atau pun menggunakan jerat ikan. Sebab di sini masih sangat asri, hanya perlu berasnya saja. Untuk lauk pauk, kami masih bisa mencarinya. Jadi tidak keluar modal banyak juga, selain sehat, namun juga menghemat perekonomian," jelas Dea.


"Wah, sayang sekali ya Mama tidak ikut. Padahal kalau Mama ikut, kayaknya seneng deh, bisa main di kali?" timpal mama Linda yang merasa menyesal karena tidak ikut beserta dengan mereka.


Kemudian Max memperlihatkan foto-foto yang dia ambil kepada mama Linda, hingga tidak terasa bedug tengah ditabuh dan sebentar lagi adzan akan berkumandang.


"Mah, itu suara apa ya? Apakah ada Barongsai atau ada pertunjukan apa? Kok seperti sesuatu yang ditabuh?" tanya Zay saat mendengar bedug di masjid.


PLETAK!


Dev menyentil jidat menantunya. Dia tidak habis pikir, kenapa Zay sangat polos. Padahal di sana bukanlah kota, mana mungkin ada pertunjukan, apalagi barongsai.


"OMG, Daddy! Kenapa malah menyentil keningku?" tanya Zay dengan wajah ditekuk.


"Seharusnya bukan jidatmu yang ku sentil, tapi otakmu. Itu namanya bedug, di masjid orang di desa masih menggunakan bedug sebelum adzan. Apakah kamu tidak pernah melihatnya?" seru Dev sambil menggelengkan kepalanya dengan heran.


Zay terdiam sejenak, mengingat nama bedug, dan seketika dia menganggukkan kepalanya dengan mulut membulat. "Ternyata itu namanya bedug? Aku baru tahu," ujar Zay.


.


.


Pagi hari semua sudah siap untuk pulang ke Jakarta. Dev juga menyerahkan perusahaannya untuk beberapa hari kepada menantunya, karena dia ingin menghabiskan waktu bersama dengan keluarga istrinya.


"Awas, jika nanti perusahaanku bangkrut. Maka perusahaanmu yang akan ku habisi!" ancam Dev sebelum Zay menaiki mobil.

__ADS_1


"Tenang saja! Papa tercinta. Aku akan menghabiskan uang perusahaanmu, biar bangkrut sampai ke akar-akarnya. Hahaha ..." Zay tertawa jahat, membuat semua orang menggeleng saat melihat tingkahnya.


Mereka pulang menggunakan dua mobil, dan mama Linda ikut di mobilnya Zay dan juga Berlian. Sedangkan di mobil satunya Desi dan Max.


"Kamu tahu sayang, aku begitu sangat menikmati liburannya. Aku pikir, liburan di desa itu tidak seindah atau menyenangkan yang ada di pikiranku? Tapi ternyata melebihi ekspektas. Aku sampai-sampai ingin liburan ke desa lagi kalau ada waktu, tapi entah kapan?" jelas Max saat sudah berada di dalam mobil.


"Kamu benar! Aku juga tidak menyangka, dulu di desaku hanya ada persawahan dan menanam padi pun di sawah, tidak ada yang di ladang. Bahkan jagung, kacang, cabe dan juga yang lainnya ditanamnya di sawah. Tapi ini benar-benar pengalaman yang berbeda dari Desaku, kampungnya tante Dea memang sangat unik," timpal Desi.


Perjalanan dinikmati dengan begitu sangat menyenangkan, di mana pohon-pohon masih terlihat menjulang tinggi di pinggir jalan, di mana mereka juga melewati banyak sekali masjid yang sedang dibangun. Dan ada banyak anak-anak pesantren yang meminta sumbangan kepada pengendara jalan untuk pembangunan masjid tersebut.


"Kamu mau apa, sayang?" tanya Max saat melihat Desi tengah mengeluarkan uang di dalam dompetnya.


"Itu, di depan 'kan banyak anak-anak yang sedang meminta uang sumbangan pembangunan masjid. Aku mau memberinya, nanti saat melihatnya, perlambat sedikit ya mobilnya!" pintar Desi.


Max yang mendengar itu menganggukkan kepalanya, kemudian Max mengeluarkan dompetnya. Dia memberikan Desi 10 lembar uang berwarna merah, meminta kekasihnya untuk membagikan ke setiap anak pesantren yang sedang meminta uang sumbangan.


Desi benar-benar kagum pada Max, karena calon suaminya itu mau untuk berbagi kepada sesama, tetapi jauh di dalam hati Max, dia lebih kagum kepada Desi.


"Oh ya, sayang. Jadi kapan kita ke kampung kamu? Aku ingin sekali melamar kamu secara resmi?" tanya Max.


"Kalau aku sih terserah saja, sebisanya kamu kapan," jawab Desi.


"Baiklah, aku akan berbicara sama Zay dulu untuk meminta izin cuti," tutur Max.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama, mereka pun akhirnya sampai di kota Jakarta. Namun, mobil Max belum terlihat, sebab dia dan Desi mampir dulu ke sebuah restoran untuk makan malam.


"Si Max kemana ya? Kok dia belum sampai?" bingung Zay.


"Entahlah! Mungkin mereka mampir ke tempat lain dulu kayaknya," jawab Berlian.


.


.


Saat ini Desi dan mama Linda sedang menyiapkan makanan. Sedangkan Berlian dan Zay belum turun. Mereka berdua masih ada di kamarnya.


"Oh iya sayang, gimana soal hubungan kamu sama Max?" tanya mama Linda.


Desi yang tengah menata makanan di meja makan seketika menatap ke arah mama Linda. "Aku juga blm tau Oma. Kata kak Max, dia mau minta izin dulu sama tuan Zay," jawab Desi.


"Kapanpun itu, nanti kamu kasih tahu Oma ya! Sebab Oma juga ingin sekali menghadiri acara pernikahan kamu dan juga Max," ujar mama Linda sambil mengusap rambut Desi.

__ADS_1


Tak lama Berlian datang bersama dengan Zay. Kemudian mereka pun melakukan sarapan, dan setelah selesai, Zay pamit untuk ke kantor sebelum tiga hari lagi mereka berangkat ke Paris untuk bulan madu.


"Oh ya, Desi, gimana kamu jadi cari kerjaan?" tanya Berlian saat mereka sedang membereskan meja makan dibantu oleh pelayan.


"Jadi, tapi belum ada yang ngasih kabar lagi. Tapi aku udah kirim lamaran kok. Oh ya Berlian, apa aku boleh meminta sesuatu dari kamu?" tanya Desi.


"Tentu saja! Apa itu?" jawab Berlian.


"Aku mau kamu ajarin aku untuk berhijab ya! Aku ingin menjadi wanita yang lebih baik lagi," pinta Desi.


"Wah, benarkah? Aku senang sekali mendengarnya. Tentu saja aku akan mengajari kamu tata cara berhijab," jawab Berlian dengan wajah yang riang, sambil memeluk tubuh Desi.


"Tapi, apa yang membuatmu ingin berhijab?" tanya Berlian dengan heran.


Desi terlihat menatap sendu ke arah depan. Dia mengingat bagaimana kejadian saat anak buahnya Tanisha dan juga Daffa menculiknya dan melecehkan dirinya. Itu membuat Desi sekarang ingin menjadi orang yang lebih baik lagi.


"Sebenarnya aku malu, karena jika nanti aku menikah dengan kak Max, otomatis dia mendapatkan tubuh bekas orang lain? Entah mereka sudah melakukan yang lebih atau tidak pada diri ini. Karena saat itu, aku pun tidak sadar," ucap Desi sambil menundukkan kepalanya dengan sedih.


"Jangan berkata seperti itu! Setiap manusia itu punya kekurangannya, dan jalan takdir itu sudah ada garisnya. Kita tidak bisa untuk mengubah, apa yang Allah sudah tentukan. Sekarang kamu ke kamarku yuk! Aku akan mendandani kamu memakai hijab," jelas Berlian.


Saat mereka sampai di sana, Berlian mengeluarkan berbagai hijab yang dia punya beserta gamisnya. Bahkan tunik-tunik juga Berlian keluarkan dari lemarinya, meminta Desi untuk memilih mana yang wanita itu suka. Karena semuanya masih sangat baru, belum dipakai sama sekali.


"Oh ya Berlian, apakah aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Desi.


"Apa itu?"


"Kenapa wanita Itu diwajibkan untuk berhijab? Dan kenapa, harus menutup dada? Sedangkan di luaran sana, banyak sekali hijab, entah itu segi empat ataupun pashmina, tapi di gaya modern. Dan membiarkan dadanya terlihat. Intinya jilbab itu sendiri hanya menutupi kepala saja, bukan menutup aurat yang seharusnya mereka tidak tampilkan. Terkadang aku merasa heran," jelas Desi dengan raut wajah yang bingung.


Berlian duduk di samping sahabatnya, kemudian dia menggenggam tangan Desi. Lalu menjelaskan, kenapa wanita muslimah harus menutup auratnya.


"Dikatakan dalam surat al-Ahzab ayat 59. Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin. Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." Sejenak Berlian menghentikan ucapannya. Lalu dia mengambil al-Quran, kemudian membacakan surat An-Nur ayat 31.


"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara ***********, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung."


Desi mengangguk paham, dan dia sudah bertekad untuk menutup auratnya.


"Makasih ya Berlian. Tuan Zay benar-benar beruntung memilikimu!" Desi memeluk tubuh Berlian.


"Aku yang beruntung mempunyai suami seperti dia, yang baik dan bertanggungjawab. Tapi ngomong-ngomong, Tani dan Daffa kemana ya? Aku tidak melihat mereka sudah lama sekali?" bingung Berlian.


"Iya, kamu benar. Mereka kemana ya?"

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2