
Happy reading
Saat sampai di rumah, benar saja. Mama Linda tengah menunggu Berlian di ruang tamu dengan wajah yang cemas, dan saat gadis itu masuk dengan pakaian yang penuh oleh darah, seketika Mama Linda menjadi panik. Kemudian dia memeluk tubuh Berlian dengan erat, lalu menangis.
''Ya Allah, kamu ke mana aja? Kamu tahu, Omah sangat cemas sama kamu. Terus kamu kenapa ini? Kenapa baju kamu semua penuh darah? Kamu nggak papa 'kan?'' tanya Mama Linda dengan wajah yang panik.
Berlian tidak menjawab, dia memeluk kembali tubuh Omanya dengan erat dan menangis tersedu-sedu. Mama Linda menatap ke arah Zay, dan pria itu hanya menganggukkan kepalanya saja.
''Ada apa, sayang? Kenapa kamu menangis? Ada yang luka?'' tanya Mama Linda dengan wajah yang cemas.
Berlian pun melepaskan pelukannya, kemudian dia menceritakan semua tentang apa yang terjadi. Dari mulai Tanisha yang mengancamnya, sampai di mana Desi menyelamatkan hidupnya, sampai wanita itu kritis di rumah sakit. Bahkan keadaannya kini di ambang antara kematian dan juga hidup.
Mama Linda tentu saja sangat kaget, saat mendengar ucapan dan juga penjelasan dari cucunya. Dia bisa merasakan apa yang Berlian rasakan saat ini. Karena Mama Linda yakin, jika gadis itu merasa bersalah kepada Desi.
''Ya sudah, sebaiknya sekarang kamu mandi terus istirahat ya. Ini juga sudah malam, 'kan?'' ucap Mama Linda sambil mengusap kepala Berlian. Namun gadis itu segera menggeleng dengan tegas.
''Tidak Omah! Aku harus kembali ke rumah sakit, untuk menemani Desi. Aku takut terjadi apa-apa dengannya, Oma. Aku merasa bersalah, karena semua ini terjadi karena aku. Please Omah, aku harus kembali ke sana untuk menjaga Desi. Kalau terjadi apa-apa sama dia, bagaimana Oma?'' Berlian berkata dengan air mata yang sudah kembali menetes.
Mama Linda mengusap lembut bahu cucunya, dia tahu apa yang dirasakan oleh Berlian saat ini. Pasti gadis itu sangatlah cemas kepada sahabatnya, karena walau bagaimanapun Desi seperti itu juga karena dirinya, dan pastinya Berlian sangat merasa bersalah.
''Di sana juga 'kan sudah ada Max, asistennya Zayden yang menunggu sahabat kamu? Oma yakin, jika ada apa-apa, pasti pria itu akan menghubungi Zayden. Sebaiknya kamu istirahat saja dulu di rumah. Besok pagi baru kamu pergi ke rumah sakit. Ingat, Nak! Kamu harus mengumpulkan tenaga juga, jangan sampai kamu satu sakit.''
Mama Linda mencoba memberi pengertian kepada Berlian, dan setelah diberi pencerahan serta masukan. Berlian pun menganggukkan kepalanya dengan pasrah. Dia akan kembali ke rumah sakit esok hari.
__ADS_1
Sementara itu Zay pamit kepada Mama Linda, karena dia harus kembali ke rumah sakit untuk bertemu dengan Max dan membicarakan semuanya.
*************
Setelah mobil terparkir di rumah sakit Zay langsung menuju ke dalam ruang ICU, di mana saat ini Desi sedang terbaring dengan selang infus yang berada di tubuhnya. Di sana juga ada Max yang sedang duduk sambil menatap ke arah Desi dengan tatapan sendu.
''Maafkan aku, jika saja aku mendengarkan ucapan Zayden untuk menyelamatkanmu lebih awal. Mungkin saja kejadiannya tidak seperti ini. Kamu pasti akan selamat! Maafkan aku, Desi. Maafkan aku,'' ucap Max dengan nada yang lirih.
Pria itu terus saja menyalahkan dirinya sendiri, karena dia merasa jika Desi saat ini sedang kritis karenanya. Dia tidak sadar, jika ucapannya didengar oleh Zay yang baru saja masuk ke dalam ruangan ICU dan berdiri di belakangnya. Kemudian pria itu pun menepuk pundak Max.
''Jika kau memang merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Desi, saat ini. Maka tebuslah saat dia sudah sadar nanti,'' usul Zay sambil duduk di sebelah kursi yang ada di samping asisten pribadinya itu.
Max hanya diam sambil menunduk dengan wajah bersalah. Kemudian Zay menghela napasnya, lalu dia menatap ke arah Max dengan tatapan yang serius.
Zay tersenyum miring, kemudian dia melipat kedua tangannya di depan dada dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. ''Berani bermain-main dengan Zayden. Maka nyawa taruhannya!'' ucap Zay dengan nada yang dingin.
Max yang mendengar itu ikut tersenyum miring. Sebab, dia juga merasa geram dengan dua orang yang ditangkap dan disekapnya di dalam gudang. Karena dua pria itu akan memberikan pelajaran yang setimpal kepada kedua korban yang sudah mereka sekap saat ini.
Di sebuah gudang yang kumuh, dua orang tengah terikat di kursi dengan kuat. Mereka terus saja memberontak dan berteriak, karena mereka tidak sudi disekap bahkan diikat di tempat yang sangat kumuh dan bau.
''Lepaskan aku, brengsek! Lepaskan aku ...!'' jerit Tanisha sambil menatap kepada 2 orang pria berbadan kekar yang ada di hadapannya.
''Lepaskan kami! Kami tidak bersalah. Kalian salah orang,'' timpal Daffa sambil menatap dua pria yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Memang saat ini Tanisha dan juga Daffa sedang disekap oleh anak buah Zayden, di sebuah gudang kumuh yang jauh dari kota. Sebab setelah mendengar ancaman Tanisha kepada Berlian, Zay tentu saja tidak tinggal diam. Dia menyuruh anak buahnya untuk menculik pasangan kekasih itu.
Saat Tanisha dan juga Daffa keluar dari kampus, mereka langsung dihadang oleh anak buah Zay di tengah jalan..Kemudian mereka dibawa ke markas dan disekap sesuai dengan perintah bosnya.
''Lepaskan kami! Jika kalian berani macam-macam kepada kami, maka kalian akan tanggung sendiri akibatnya! Nyawa kalian dalam bahaya!'' ucap Tanisha dengan nada mengancam, menakut-nakuti dua orang pria berbadan kekar itu
Alih-alih takut dengan ancaman Tanisha, kedua pria kekar tersebut malah tertawa terbahak-bahak. Mereka seakan menertawakan dan juga meledek ucapan Tanisha, dan wanita itu menjadi sangat geram.
''Kalian pikir, aku bercanda dengan ucapanku, Hah? Kalian pikir, aku main-main!'' bentak Tanisha dengan wajah yang garang dan tatapan melotot, mengarah kepada dua pria botak yang ada di hadapannya.
''DIAM!'' bentak salah satu pria berbadan kekar itu dengan nada yang tinggi, hingga membuat Tanisha sedikit terjikat kaget.
''Kau ini sangat berisik.'' Setelah mengatakan itu pria tersebut melepaskan sepatunya, lalu kaos kakinya. Kemudian dia menggulung kaos kaki itu dan berjalan mendekat ke arah Tanisha dengan senyum seringai di wajahnya.
Tanisha menggelengkan kepalanya. ''Mau apa kamu, Hah? Jangan mendekat! Kalau tidak--''
''Kalau tidak, apa? Apa kau akan membunuh kami? Kau akan memberikan pelajaran? Hahaha ... Nona-Nona, kau ini tidak ubahnya seperti sampah. Bahkan kau salah telah memilih seorang musuh. Bos kami jauh lebih di atasmu!'' ucap pria itu dengan sarkas, kemudian dia mencekal rahang Tanisha, hingga membuat mulut wanita itu terbuka.
Dengan geram pria itu pun menyumpal mulut Tanisha dengan kaos kakinya yang bau. Membuat wanita yang ada di hadapannya itu mendelik tajam sambil menggelengkan kepalanya, tapi tenaga Tanisha tidak ada apa-apanya dibandingkan pria kekar itu.
''Itu pelajaran buatmu, karena sangat berisik. Dan kau, jika tidak ingin ku sumpel juga. Maka diam, jangan banyak bicara!'' ucap pria botak itu sambil menatap ke arah Daffa. Kemudian dia kembali ke tempatnya semula, sambil mengamati dua korban yang ada di hadapannya.
Daffa pun tidak bisa berbuat apa-apa, dia tidak berani untuk mengangkat bicara. Takut jika kaos kaki sebelah pria itu menyumpal mulutnya, karena melihat Tamisha yang disumpal seperti itu, membuat Daffa seketika ingin muntah. Dia bisa membayangkan, bagaimana baunya kaos kaki milik pria itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG......