Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
Di Antar Ke Kampus


__ADS_3

Happy reading


Pagi ini Berlian akan pergi ke kampus, karena ada tugas yang harus dikerjakan tapi saat Berlian menuruni anak tangga hendak ke ruang makan, tiba-tiba saja dia melihat seorang pria tengah duduk dan sarapan.


Langkah Berlian terhenti sejenak dia menatap heran ke arah pria yang tak jauh darinya. 'Ya ampun, apa ini beneran nyata? Apa dia benar-benar ada di sini, atau hanya halusinasi ku saja?' batin Berlian.


Namun saat langkah Berlian sudah dekat dengan meja makan, dia sadar jika itu bukanlah sebuah halusinasi ataupun mimpi. Pria itu benar-benar nyata ada dihadapannya, dan tengah tersenyum kepadanya.


''Pagi Ma, Pa, Oma,'' ucap Berlian kepada keluarganya.


''Pagi sayang,'' jawab Mama Rose dan juga Dea serempak.


Berlian duduk di hadapan pria itu, kemudian dia bertanya kepada Mamanya, ''Mah, ini kenapa dia ada di sini ya? ini 'kan masih pagi?''


''Yang bilang siang pun, tak ada lah sayang,'' timpal Mama Rose sambil terkekeh.


Dea tersenyum sambil mengambilkan nasi goreng yang untuk Dev. ''Ya, Zayden sengaja ke sini untuk menjemput kamu, dan mengantarkan kamu ke kampus, sekalian dia kan ke kantor.''


Sejujurnya Dea juga marah kepada Zayden. Dia ingin sekali menampar wajah pria itu, karena dia sudah merenggut kesucian putrinya. Akan tetapi, sebagai seorang ibu dan sebagai wanita dewasa, Dea harus bisa menyikapi semua masalah dengan bijaksana. Dia tahu jika Zayden juga tidak bersalah dalam hal ini, dan mereka berdua sama-sama korban.


Tentu saja seorang ibu pasti akan marah saat mengetahui jika kesucian putrinya telah direnggut paksa oleh seorang pria. Apalagi pria itu akan menjadi calon suaminya, akan menjadi imam di keluarga putrinya. Bohong jika di dalam hati dia saat ini tidak ada kemarahan kepada Zayden, tapi sebagai seorang ibu, dia harus bisa menyikapi dan juga mengontrol emosinya.


Selesai sarapan, Zayden dan juga Berlian pamit kepada keluarga Bachtiar, kemudian mereka berjalan keluar dari rumah menuju mobil.

__ADS_1


Sejujurnya Berlian sudah menolak, akan tetapi Dev terus aja mendesak agar Berlian mau diantar oleh Zayden. Mau tidak mau, Berlian pun manut saja, ikut perintah sang Papa, walaupun sebenarnya dia tidak ingin.


Di dalam mobil, Berlian terus saja terdiam. Dia benar-benar tidak suka harus berangkat ke kampus bersama dengan Zayden. Sejujurnya Berlian merasa heran kenapa Zayden sampai mau mengantarkannya ke kampus.


Sementara itu Zayden yang melihat kekesalan Berlian hanya tersenyum tipis. Dia tahu jika Gadis itu tidak suka akan kedatangannya ke rumah Bachtiar. Akan tetapi, wajah Berlian yang cemberut dan kesal bagi Zayden terlihat begitu cantik dan menggemaskan.


'Ini adalah tahapku untuk mendekati mu,' batin Zayden.


''Untuk apa sih Om jemput saya? Saya 'kan bisa pergi sendiri ke kampus. Lagian, di rumah ada sopir kok!''


kesal Berlian dengan nada tak suka, tanpa menengok ke arah Zayden sama sekali.


CKIIITT...


Berlian kaget saat Zaidan mengerem mobilnya secara mendadak, hingga hampir saja kepala dia terpentok oleh dasbor mobil.


''Apa kamu bilang? Om. Kamu nyebut saya, Om?'' Zayden bertanya dengan nada tidak suka, saat mendengar Berlian menyebutnya dengan kata 'Om.


Berlian tidak menjawab, dia masih memegangi dadanya yang terasa begitu kaget. Kemudian dia menatap ke arah Zayden dengan tatapan yang kesal. ''Om, anda sengaja ya mau bikin kita celaka? Kalau nyetir Itu yang bener sih!'' kesal Berlian dengan wajah cemberut dan tatapan tajam mengarah kepada Zayden.


''Heh, kelinci kecil! Harusnya saya yang bertanya sama kamu. Kenapa kamu menyebut saya, Om? Emangnya kamu pikir, saya ini Om kamu?'' Zayden tidak kalah kesal saat berbicara dengan Berlian.


Wanita itu membuang wajahnya ke arah lain, dia benar-benar kesal dengan pria yang ada di sampingnya itu. Pagi-pagi mood Berlian sudah hancur gara-gara Zayden.

__ADS_1


''Loh, 'kan emang Om itu sudah Om, Om. Memangnya saya harus panggil Om itu dengan apa? Sayang, Mas atau Baby? Rasanya tidak cocok. Dan cocoknya itu kata Om. Sudahlah, saya malas berdebat. Kalau memang Om tidak ingin mengantarkan saya ke kampus, saya naik taksi aja!' Berlian membuka sabuk pengamannya, tetapi segera dihentikan oleh Zayden.


Pria itu langsung melajukan mobilnya menuju kampus Berlian tanpa menjawab ucapan wanita itu. Padahal di dalam hati Zayden, saat ini dia benar-benar kesal dengan ucapan Berlian, karena selama ini tidak ada yang menyebut Zayden dengan kata 'Om, dan baru Berlian saja.


Bagi Zayden, kata Om itu sangatlah tua. Sedangkan dia merasa umurnya belum terlalu tua, walaupun sudah 35 tahun. Dan baru kali ini ada gadis yang berani menyela ucapannya, bahkan menantang Zayden.


Padahal selama ini tidak ada yang pernah berani kepada Zayden, apalagi menyela ucapan pria itu dan menjawabnya, tapi Berlian benar-benar berani menyela ucapan Zayden, bahkan menjawab ucapan pria itu. Walaupun selama ini yang mendekati Zayden bukanlah seorang gadis biasa saja. Akan tetapi, Berlian benar-benar berbeda dari yang lain, dan itu yang membuat daya tarik bagi Zayden.


'Aku harus benar-benar harus sabar menghadapi gadis ini. Jika saja bukan karena aku yang mengambil kesuciannya, ogah aku untuk bisa dekat dengan gadis sebar-bar dia,' batin Zayden menggerutu.


Setelah mobil sampai di depan kampus, Berlian langsung keluar tanpa mengucapkan satu kata patah pun kepada Zayden. Dia benar-benar masih kesal kepada pria itu.


''Dasar gadis bar-bar. Dianterin, bukannya bilang makasih, main pergi gitu aja. Gak tau sopan santun!'' gerutu Zayden saat menatap Berlian yang keluar dari mobilnya tanpa mengucapkan apapun.


Saat Berlian memasuki pelataran kampus, jalannya dihadang oleh Tanisha. Wanita itu langsung mencekal tangan Berlian, hingga membuat gadis berhijab itu sedikit meringis kesakitan.


''Heh, maksud lo apa? Nyuruh bokap lo untuk ngancurin restoran orang tua Daffa? Lo dendam sama kita?'' tanya Tanisha dengan nada marah kepada Berlian.


Mendengar itu, Berlian langsung menghempaskan tangan Tanisha dengan kasar. Kemudian dia menatap wanita yang pernah menjadi sahabatnya itu, tapi kini wanita yang berada di hadapan Berlian itu bukan lagi sahabatnya, melainkan seorang penghianat.


''Aku dendam sama kalian? Hahaha ... sorry ya, nggak level! Bagiku dendam sama kalian, untuk apa? Lagi pula, jika memang restoran Papanya Daffa itu hancur, bukan salahku. Karena yang seperti kalian tahu, tanpa aku bicara sama papa, sudah pasti beliau akan mengetahui kebenarannya. Dan seharusnya kalian itu berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu. Jangan bertindak, tapi pada akhirnya kalian nggak tahu resiko apa yang sedang kalian hadapi,'' jawab Berlian dengan suara yang lantang.


Tanissa benar-benar tidak terima, kemudian dia mengangkat tangannya hendak menampar wajah Berlian, tetapi sayang, seseorang mencekal tangan Tanisha. Sehingga wanita itu tidak bisa menyakiti Berlian.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2