
Happy reading....
Desi dan juga Max melirik satu sama lain saat mendengar pertanyaan dari mama Linda, lalu Max langsung menjawab, ''Doakan saja Oma, secepatnya aku akan melamar Desi,'' ucap pria itu dengan percaya diri.
Mendengar jawaban dari Max, Desi langsung tersedak minumannya, hingga membuat wajah wanita itu memerah menahan malu dan sakit di tenggorokannya. Kemudian dia menatap Max dengan bingung.
''Ciee ... yang sebentar lagi akan nyusul. Pokoknya Inget ya Tuan Max, jangan pernah menyakiti Desi!'' Kali ini Berlian yang meledek sahabatnya.
Desi masih belum mengerti tentang apa yang dibicarakan oleh Max, karena tiba-tiba saja pria itu berkata ingin menikahinya. Padahal selama ini Desi tidak pernah mengenalnya, bahkan dekat dengan Max.
Saat ini semua orang sudah pulang dari hotel untuk menuju ke rumah, begitupun dengan Berlian dan juga Zay. Mereka sedang berada di jalan untuk pulang ke rumah yang baru.
Sejujurnya Berlian tidak tahu mas kawin apa yang disiapkan oleh suaminya, makanya saat kemarin Zay mengucapkan ijab qobul dengan mas kawin yang begitu mewah, membuat Berlian sedikit kaget.
''Om suami, apakah aku boleh bertanya sesuatu?'' tanya Berlian sambil menatap ke arah Zay.
Bahkan sekarang Zay tidak masalah dengan sebutan Om Suami. Sebab bagi Zay, itu adalah panggilan sayang istrinya.
''Apa itu, sayang?'' jawab Zay.
''Kenapa Om suami memberikan aku mas kawin yang begitu banyak? Perusahaan itu 'kan punya kamu?'' tanya Berlian yang masih penasaran.
Mobil berhenti saat lampu merah sedang menyala, kemudian Zay meraih tangan Berlian, lalu mengecupnya dengan singkat. Sedangkan kedua matanya menatap ke arah istrinya dengan tatapan penuh cinta.
''Bagiku harta bukanlah segalanya. Karena kamu begitu sangat spesial. Bahkan, bukan hanya satu perusahaanku saja, semuanya jika kamu minta, aku akan memberikannya,'' jawab Zay dengan tatapan dalam ke arah Berlian.
Wanita itu sempat terpaku mendengar penuturan dari suaminya. Dia tidak menyangka, jika Zay begitu mencintai dirinya, bahkan perasaan itu sangat dalam.
''Apa yang membuat Om suami mencintai saya? Padahal umur kita berbeda jauh, bukan?''
Zay mencubit pipi Berlian dengan gemas, kemudian dia kembali melajukan mobilnya saat lampu hijau sudah menyala.
__ADS_1
''Cinta itu, tidak memandang usia, harta dan juga keduduka. Cinta juga tidak memandang rupa dan kepada siapa dia akan berlabuh. Cinta itu murni dan suci. Aku tidak pernah tahu, kapan aku mencintaimu, tapi perasaan itu memang sudah ada, dan dalam. Mungkin saat pertama kali kita bertemu? Jika memang cinta pada pandangan pertama itu ada di dalam sebuah novel saja, nyatanya di dunia nyata memang ada bukan? Dan aku yang merasakan itu semua,'' jawab Zay panjang lebar.
Berlian terdiam saat mendengar jawaban suaminya. Dia benar-benar terharu dengan rasa cinta yang dirasakan oleh pria itu terhadapnya.
''Tapi Om suami, aku---''
''Aku tahu kok, kamu belum mencintaiku. Mungkin saja sudah, tapi kamu belum menyadarinya.'' Zay memotong ucapan Berlian.
Dia tahu, apa yang akan diucapkan oleh istrinya, tetapi bagi Zay itu tidak masalah. Karena cinta pasti akan tumbuh seiring berjalannya waktu, dan seiring kebersamaan mereka. Hanya saja, Berlian perlu membuka hati untuknya. Agar nama pria itu bisa masuk ke dalamnya dan mengisi ruang yang kosong.
''Aku akan berusaha mencintai Om suami,'' tutur Berlian sambil menyandarkan kepalanya di bahu kekar milik suami tampannya.
.
.
Sedangkan saat ini Desi sedang berada di dalam mobil bersama dengan Max, karena Dea meminta Max untuk mengantarkan Desi ke kediaman Bachtiar. Dea ingin Desi dan juga pria itu semakin dekat.
''Tuan Max!'' panggil Desi.
''Iya, kenapa?'' jawab Max sambil melirik ke arah Desi sekilas, kemudian dia menatap lurus ke arah depan.
''Aku ingin menanyakan sesuatu?'' ujar Desi.
''Baiklah, sebentar,'' jawab Max sambil menepikan mobilnya di sebuah taman.
Dahi Desi mengkerut heran, saat melihat taman yang berada di sampingnya. Padahal mereka akan pulang ke kediaman Bachtiar, tetapi kenapa Max malah membawanya ke taman?
''Tuan, kenapa kita---''
''Kau bilang ingin berbicara bukan? Ayo kita berbicara di taman!'' jawab Max sambil membuka sabuk pengamannya, kemudian keluar dari mobil.
__ADS_1
Desi mengangguk, lalu dia pun mengikuti langkah Max masuk ke dalam taman dan duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Kebetulan suasana di taman itu sedikit sepi, tidak seramai biasanya. Karena hari juga masih lumayan pagi, jadi orang-orang masih bekerja.
''Apa yang ingin kamu bicarakan?'' tanya Max saat mereka sudah duduk di kursi sambil menatap lurus ke arah depan, di mana danau kecil dengan bunga-bunga indah di pinggirannya.
''Saya ingin menanyakan, tentang ucapan Tuan tadi di meja makan, saat berada di hotel. Maksudnya bagaimana ya Tuan?'' tanya Desi.
Max sudah memperkirakan, jika wanita itu pasti akan menanyakan soal ucapannya tadi pagi di meja makan. Dan Max juga sudah menyiapkan jawabannya, kemudian pria itu berlutut di hadapan Desi, membuat wanita itu seketika menutup mulutnya.
''Tuan, apa yang Anda lakukan? Bangunlah! Jangan seperti ini! Malu dilihat orang,'' ucap Desi sambil menengok ke kanan dan ke kiri, di mana beberapa orang berlalu lalang lewat dan menatap ke arahnya.
''Kamu tahu, saat melihatmu terluka, entah kenapa aku juga merasakan sakit? Aku merasa bersalah, karena terlambat menyelamatkanmu waktu itu. Rasa bersalah itu kian besar di hatiku, saat melihatmu koma dan tidak bangun selama beberapa bulan, tetapi lama-kelamaan, rasa itu berubah menjadi cinta. Entah kapan, aku pun tidak tahu? Tapi yang kurasakan sekarang bukanlah rasa bersalah, melainkan rasa ingin memilikimu dan menjagamu sepenuh jiwaku!'' jawab Max sambil menatap kedua netra indah milik Desi.
Wanita itu cukup terkejut saat mendengar jawaban Max. Dia tidak pernah menyangka, jika pria itu selama ini memendam rasa kepadanya, tetapi memang Desi tidak pernah menyalahkan Max karena kejadian yang menimpa dirinya.
Bahkan trauma masih saja sering terjadi kepada Desi. Wanita itu masih saja ketakutan, jika ada seseorang yang melihat dirinya dengan pakaian serba hitam.
Desi juga sudah mendengar dari Berlian secara langsung, jika selama dia koma, Max tidak pernah meninggalkannya. Pria itu setiap hari selalu stay di rumah sakit untuk menjaganya, bahkan sampai membawa pekerjaannya ke sana.
''Tapi Tuan, aku sudah kotor. Aku rasa, tubuh ini tidak pantas untuk dimiliki oleh siapapun,'' jawab Desi dengan tatapan yang sendu.
Air matanya sudah mengalir, mengingat kejadian yang begitu menyakitkan bagi dirinya. Dan Max yang melihat itu segera menghapus air mata Desi dengan kedua tangannya.
''Aku tidak pernah melihatmu seperti itu. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Aku tidak peduli, mau kamu kotor ataupun suci. Karena bagiku, kesucian itu datangnya dari hati,'' jelas Max.
Desi begitu terharu mendengar jawaban pria tersebut.
''Jadi bagaimana? Apa kamu menerima aku? Jika iya, aku akan segera datang ke keluargamu untuk melamar.'' Max bertanya sambil menggenggam kedua tangan milik Desi.
BERSAMBUNG.......
Si Om Suami mulai Bucin😂😂
__ADS_1