Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
Menanam Padi Di Ladang


__ADS_3

Happy reading......


Tiga hari telah berlalu, dan tinggal satu hari lagi mereka harus balik ke Jakarta. Akan tetapi, hanya Max, Desi, Berlian, Zaidan dan juga mama Linda yang harus pulang ke Jakarta. Namun Dea dan Dev masih berada di kampung.


Hari ini mereka akan ke ladang milik uwanya Dea, karena di sana akan mengadakan panen padi. Dan di kampungnya Dea, jika padi ditanam di sebuah ladang, maka panennya menggunakan gebukan yang dibuat dari kayu persegi empat. Sedangkan di tempat lain mungkin sudah memakai mesin penggiling padi.


"Kalian juga ikut, ayo!" ajak Berlian kepada Max dan juga Desi.


"Ayolah, hitung-hitung saja my trip my adventure!" timpal Max. Kemudian mereka sudah siap dengan setelan kemeja, celana panjang, ransel, kacamata dan juga topi.


Saat kedua pria tampan itu keluar dari rumahnya Dea, semua yang memandangnya seketika tertawa terbahak-bahak, dan itu membuat Max dan juga Zay saling melirik satu sama lain. Sebab mereka rasa tidak ada yang aneh.


"Kalian ini mau ke mana? Kita mau nanam padi loh, kenapa pakaiannya seperti orang ke pantai?" heran Berlian.


"Loh, my wife, kita 'kan mau my trip my adventure bukan? Sudah pasti harus seperti ini dong. 'Kan biasanya juga gitu kalau aku sama Max liburan? Iya nggak?" jawab Zay sambil menyenggol bahu pria yang ada di sebelahnya.


Max hanya menganggukkan kepala, membenarkan apa yang Zay bilang. Namun itu malah semakin membuat semua orang tertawa.


"Ini ada apa sih? Kok malah ketawa? Emangnya ada yang lucu ya?" heran Zay.


Kemudian Dev mendekat ke arah menantunya, lalu dia berkata sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya ampun, mantan terong karatan,ndengerin ya! Ini tuh mau ke hutan, bukan mau ke pantai? Ngapain kalian bawa ransel? Bawa topi? Bawa kacamata juga? Yang ada kalian kesandung akar mau? Ntar nyungsep ke jurang, gimana?" ledek Dev.


"Ke dalam hutan? Katanya kita mau ke ladang?" bingung Zay.


"Ya memang mau ke ladang, memang ladangnya itu ada di mana? Ya di tengah hutan. Sudahlah, kalian ganti dengan celana pendek, terus tuh jangan pakai kacamata sama ransel, kemeja juga copot! Oh iya, Ibu, ada 'kan bajunya Kak bagus? Biar mereka aja yang pakai. Yang ada kalau mereka berpakaian seperti ini di tengah hutan, dedemit sama monyet juga bakalan naksir sama mereka?" ledek Dev.


Entah kenapa, dia senang sekali meledek menantunya. Karena bagi Dev, melihat Zay merasa kesal itu membuatnya senang.


'Dasar mertua menyebalkan!' batin Zay.


"Jangan mengumpatku!" ucap Dev sambil menatap tajam ke arah Zay.


Zay kaget, sebab Dev mengetahui isi kepalanya.


Akhirnya Ibu Siti menyerahkan baju dan juga celana panjang kepada Max dan juga Zay, meminta mereka berdua untuk mengganti pakaiannya. Setelah beberapa menit, keduanya pun keluar dengan pakaian yang sedikit risih, karena mereka tidak terbiasa memakai pakaian orang lain.


"Nah, ini baru cocok," ucap Berlian sambil mengacungkan kedua jempolnya.


Max dan juga Zay saling menatap satu sama lain sambil mengerucutkan bibirnya. Mereka harus menerima jika di kampungnya Dea memang tidak bisa bermewah-mewahan. Setelah semuanya siap, mereka pun berjalan beriringan sekitar ada 10 orang. Sebab semuanya sudah berada di ladang, hanya mereka saja yang belum.

__ADS_1


Bu Siti juga ikut, untuk memandu jalan. Sedangkan mama Linda, Dea dan Dev tinggal di rumah untuk menjaga ayah Rozak.


Pertama kalinya Zay dan juga Max masuk ke dalam hutan yang benar-benar masih sangat asri sekali. Bahkan suara monyet dan juga burung masih terdengar berkicauan sahut menyahut satu sama lain, yang mereka takutkan adalah ada ular yang tiba-tiba saja mematuk kaki mereka.


"Nenek, apa masih jauh?" tanya Zay.


"Lumayan, kita hanya perlu menyeberang kali saja. Oh iya, kalian ini kalau perjalanan seperti ini itu, jangan dibawa cemberut. Bawa happy, menikmati pemandangan dan alam sekitar. Dijamin deh, pasti rasanya begitu senang," tutur bu Siti.


Max membawa kamera dan dia memotret pemandangan yang ada di hadapannya. Di mana ladang-ladang para petani mereka lewati, walaupun jaraknya terkadang lumayan jauh, ada juga yang sebelahan. Di sana juga masih sangat asri dengan pohon-pohon karet dan kecapi yang menjulang tinggi.


Setelah menempuh perjalanan satu jam setengah, mereka pun sampai di sebuah ladang yang luas. Di mana sudah banyak orang yang sedang membungkuk, seperti menjatuhkan sesuatu ke dalam tanah. Dan itu membuat Max seketika menarik perhatiannya, lalu memotretnya dari jauh.


"Nenek, mereka itu sedang apa?" tanya Berlian.


"Mereka itu sedang menanam padi. Kalian lihat lubang-lubang yang ada di tanah? Nah, lihatlah! Ada padinya bukan? Itu yang mereka taburkan," jelas bu Siti.


Berlian, Desi, Max dan juga Zay mengangguk bersamaan. Mereka pun mengerti, kemudian mendekat ke arah kerumunan orang-orang. Lalu bu Siti mengambil mangkuk yang sudah diisi dengan biji padi, kemudian memberikannya kepada mereka berempat.


"Isilah lubang-lubang yang kosong itu!" titah bu Siti.


Mereka mengangguk, kemudian berjalan mendekat ke arah kerumunan orang-orang, di mana semua sedang menaburkan biji padi ke tanah yang sudah dilubangi.


Akan tetapi, aksinya malah dihentikan oleh seorang ibu-ibu yang berada di sampingnya.


"Ya ampun Aa kasep, nggak gitu caranya! Kalau dimasukin semua sampai penuh begitu, bisa-bisa nanti mekar dong padinya? Jangan banyak-banyak, hanya seperempatnya saja. Tuh, sedikit jangan sampai penuh begitu!" seru ibu-ibu kepada Zay.


"Makanya Bos, jangan sok tahu! Kalau mau masak itu pakai tempe," timpal Max sambil membungkuk mengisi padi di lubang yang kosong.


Sementara Desi, Berlian dan juga bu Siti hanya menggeleng heran saja melihat perdebatan Max dan juga Zay yang tidak pernah akur. Mereka tidak menyangka, jika dibalik sikap dingin kedua pria tampan tersebut, keduanya seperti Tom and Jerry yang tidak pernah akur satu sama lain.


Setelah semua terpenuhi oleh padi, saat ini semua orang tengah beristirahat di bawah pohon. Ada yang duduk di tanah sambil mengipas-ngipas tubuhnya memakai caping yang mereka pakai, sebab cuaca juga mulai sedikit terik.


"Aduh, pinggangku rasanya mau patah. Ternyata begini amat hidup jadi orang susah ya? Kita enak tinggal makan nasinya aja. Kenapa nanamnya begitu susah sih?" ucap Zay sambil mengusap pinggangnya yang terasa pegal, karena sedari tadi terus aja membungkuk.


Dia salut kepada ibu-ibu yang menanam padi. Mereka bahkan tidak merasakan pinggangnya encok. Mungkin karena wanita di sana sudah terbiasa dengan hal itu, jadi bagi mereka membungkuk seperti itu tidaklah masalah, karena mereka juga menanam padi diselingi canda dan tawa.


"Mau ku pijitin nggak sayang?" tanya Berlian.


Zay yang mendengar itu pun langsung mengangguk senang, kemudian dia membelakangi Berlian, dan wanita itu langsung memijit pinggang suaminya.


Max yang melihat itu merasa cemburu, kemudian dia menatap ke arah Desi. Namun wanita itu segera menggeleng. Dia tahu apa yang diinginkan oleh Max, tetapi Desi malu, karena di sana banyak sekali orang.

__ADS_1


"Jangan aneh-aneh, Kak! Di sini banyak orang. Nikah juga belum," ucap Desi sudah menolak permintaan Max lebih dulu.


.


.


Saat ini Zay, Max, Desi dan juga Berlian sedang berada di bawah pepohonan yang rindang. Mereka sedang menikmati makan siangnya beralaskan daun pisang. Walaupun sederhanax hanya dengan sayur nangkax ikan asin, sambal dan tahu tempe, akan tetapi terasa begitu sedap.


Sampai-sampai Zay dan juga Max menambah dua kali. Mereka tidak pernah makan senikmat itu. Entah kenapa, padahal makanannya begitu sederhana, bahkan mereka tidak pernah memakan ikan asin ataupun tempe goreng dan tahu goreng.


"Waah! Sepertinya kalian doyan sekali dengan makanan pedesaan ya?" ucap Berlian.


"Entahlah sayang, aku juga bingung, kenapa makanan ini terasa begitu sedap ya? Padahal hanya makanan biasa saja, bukan yang mewah. Namun rasanya perut kami tidak ada kenyangnya? Atau jangan-jangan, ada jampi-jampinya lagi?" celetuk Zay.


"Itu bukan jampi-jampi. Karena suasana di hutan, apalagi di tengah ladang seperti ini, begitu nikmat. Kami orang desa memang sangat senang makan di tengah hutan seperti ini, apalagi saat berada di ladang. Walaupun makan hanya dengan sambal, tetapi sangat lezat. Nikmatnya bahkan mengalahkan makanan yang mewah," timpal seorang ibu-ibu yang sedang memetik daun singkong tak jauh dari Zay.


"Aa kasep, mau ikut nggak ke kali nangkap ikan? Kita semua ini mau ke kali," ujar salah satu bapak-bapak yang tak jauh dari Zay, saat sudah menghabiskan rokoknya.


"Waah, boleh Pak!" seru Max.


Zay yang mendengar itu menepuk pundak asistennya. "Kamu yang bener aja! Masa kita main di kali? Nanti kalau kalinya kotor gimana?" ujar Zay.


"Tenang aja, kasep. Di sini kalinya itu bening banget malahan, terus tidak dalam kok, hanya sebetis saja. Mungkin dalam-dalamnya sepinggang. Kalian bisa main di kali itu, dijamin pasti bakalan suka. Lagi pula, cuacanya juga terik, enak 'kan buat mandi," jelas ibu-ibu itu kembali.


Tak lama bapak-bapak tersebut pun beranjak dari duduknya, bahkan Ibu Siti juga ikut untuk menangkap ikan di kali. Dia bahkan sudah mengambil sebuah nampah, jika dalam artian kata Sunda adalah ( sair ).


Benar apa yang dikatakan bapak itu, ternyata kali yang ada di sana sangat bening. Bahkan batu-batunya pun terlihat sangat jelas. Padahal yang mereka tahu, jika kali itu kotor dan juga banyak sampah, tapi di sana tidak.


"Waah, airnya segar sekali ya? Aku jadi pengen mandi deh," ujar Desi sambil memainkan air dan mencipratkannya ke arah Berlian.


Mereka pun memainkan air di kali, sedangkan Max sedang memotret orang-orang yang sedang menangkap ikan, dan Zay sedang duduk di sebuah batu sambil menatap ke arah semua orang yang ada di sana.


'Ternyata hidup di pedesaan tidak seburuk yang aku bayangkan? Di sini memang sangat miskin dengan ekonomi, tapi hidup mereka begitu damai. Bahkan mau ikan saja langsung turun ke kali.' batin Zay.


Dia yang terlahir dari keluarga sempurna dan kaya raya, baru kali ini merasakan kehidupan di desa. Awalnya Zay pikir, hidup di sana akan menderita dan juga susah. Namun, ternyata tidak seburuk yang dibayangkan.


Bahkan hidup di sana sangat menyenangkan, karena semuanya serba alami, yang dipetik secara langsung seperti daun singkong dan juga sayuran yang lainnya.


"Bos, gaya Bos! Biar Ane foto!" seru Max yang tak jauh dari Zay, kemudian dia mempotret pria tersebut.


BERSAMBUNG.......

__ADS_1


__ADS_2