Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
Jangan Merusak Suasana!


__ADS_3

Happy reading.....


"Kenapa Om suami diam aja? Jawab, siapa dia! Kenapa manggil Om suami dengan sayang?" kesal Berlian sambil menekuk wajahnya.


Melihat kekesalan sang istri, bukannya marah, tetapi Zay malah tersenyum. Kemudian dia menarik tangan istrinya, sehingga wanita itu pun duduk di pangkuannya. Lalu Zay menyandarkan kepalanya di bahu Berlian, sedangkan wanita itu memalingkan wajahnya dengan bibir yang manyun.


"Rupanya istriku sedang cemburu?" goda Zay sambil meniup leher jenjang sang istri.


"Aku sedang tidak ingin bercanda ya, Om suami. Sekarang jawab! Siapa orang yang sudah memanggilmu dengan kata sayang?" kesal Berlian.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Lagi pula, nomornya tidak tertera bukan? Dan tidak tersimpan juga di ponselku," jawab Zay dengan enteng, karena dia memang tidak tahu siapa pengirim dari nomor tersebut.


Berlian yang mendengar itu pun menjadi kesal, kemudian dia bangkit dari tubuh suaminya, lalu menatap Zay dengan tajam.


"Baiklah, jika Om suami tidak mau mengaku. Jangan pernah berharap jatah masuk lubang lele malam ini! Kuberikan libur satu minggu!" ancam Berlian sambil meninggalkan ruang kerja suaminya.


Mendengar itu, tentu saja Zay kelabakan. Dia langsung memeluk tubuh Berlian dari belakang. "Sayang, jangan begitulah. Masa libur satu minggu? Leleku mana tahan jika tidak menyelam ke dalam guamu?" rajuk pria itu.


"Biarin aja.nBiar lelenya loyo nggak bisa bangun!" ketus Berlian.


"Kalau nggak bisa bangun, nanti nggak bisa bikin anak kecebong dong?" goda Zay sambil menoel hidung istrinya.


Melihat itu, Berlian malah semakin kesal. Kemudian dia melepaskan paksa tangan suaminya yang saat ini tengah memeluk tubuhnya. "Sekarang jelasin deh, siapa wanita itu? Kenapa dia manggil sayang? Mau kulindes apa mulutnya!" geram Berlian.


"Ternyata kamu kalau lagi marah kayak gini, tambah cantik. Tapi beneran sayang, aku tidak tahu siapa wanita itu kamu. Telepon saja dia! Kita buktikan siapa di?" tantang Zay.

__ADS_1


Berlian yang mendengar itu pun segera mengambil ponsel Zay yang ada di atas meja, kemudian dia menelpon nomor yang baru saja mengirim pesan mesra kepada suaminya.


Sementara Zay kembali duduk di kursi kerjanya sambil menatap ke arah Berlian, dan tak lama telepon pun tersambung. Terdengar suara manja seorang wanita yang memanggil Zay dengan sayang.


Halo Sayang Kamu kok nggak bales pesan aku sih


Berlian menatap tajam ke arah Zay, sedangkan pria itu hanya mengangkat kedua bahunya saja. Dia benar-benar tidak tahu, tapi mendengar dari suaranya, Zay seketika membulatkan mata, kemudian dia berbisik ke arah Berlian.


Wanita itu membulatkan mulutnya saat mendengar siapa nama yang saat ini sedang ditelepon, dan Zay menganggukan kepalanya. Melihat itu Berlian benar-benar sangat kesal.


Sayang Kok kamu diam aja sih aku tahu nomor kamu dari sekretaris mu loh Ayolah kita ketemuan besok yuk aku kangen deh sama kamu jangan terlalu galak-galak istrimu tambahkan saja ucap


'Benar-benar tidak tahu malu!' batin Berlian.


"Halo mbak Luna yang terhormat. Anda ini wanita tidak tahu malu sekali ya, menggoda suami orang? Memangnya urat malu Anda itu sudah putus? Sehingga menggoda suami saya? Pantas saja jika Mas Zay dulu itu tidak mau kepada Anda. Ternyata sikap Anda tidak lebih dari seorang penjual kredit keliling, yang mudah ditawar sana-sini," jawab Berlian dengan telak.


heh bocah ingusan jaga ya mulutmu seharusnya kau yang malu mengambil pria orang Zaidan itu masih mencintaiku dia menikahimu itu karena terpaksa paham kau


Berlian yang mendengar itu malah terkekeh. Dia merasa lucu dengan wanita yang sifatnya semacam Luna, tidak tahu malu. Karena sudah terpergok tapi malah membela dirinya sendiri.


"Maaf ya mbak, jika memang suami saya masih mencintai Anda, dia bahkan tidak akan pernah meninggalkan Anda. Jadi jangan pernah menghubungi atau menggoda suami saya lagi! Karena selera dia itu tinggi, bukan rendahan yang gampang terhasut dan tergoda hanya demi ************ yang bisa diobral Rp50.000, paham!" Setelah mengatakan itu, Berlian menutup teleponnya secara sepihak.


Dia benar-benar puas sudah menjawab ucapan Luna dengan skak. Sedangkan Zay menatap istrinya dengan bangga, karena dia tidak menyangka jika Berlian bisa berkata seperti itu di saat dirinya sedang kesal.


Dengan cepat Berlian pun memblok nomor Luna, agar wanita itu tidak terus mengganggu suaminya. Tidak lupa, dia juga menghapus nomor Luna dari kontak, kemudian menaruh HP Zay dengan sedikit kasar di atas meja.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka, ternyata istriku ini kalau sedang marah benar-benar ganas ya? Seperti seekor singa betina yang sedang mengamuk, jika suaminya diganggu oleh singa yang lain?" goda Zay.


"Jangan terus menggodaku, Om suami! Manjat pohon kelapa aja ngompol?" ledek Berlian, kemudian dia keluar dari ruangan Zay.


Pria itu tidak terima, jika dia diledek sudah ngompol. Padahal itu tidak pernah terjadi. "Hei, itu 'kan hanya salah paham. Aku tidak pernah mengompol! Kamu 'kan tahu sayang!" teriak Zay, namun Berlian tidak perduli.


Dia berjalan ke arah ruang tamu, di mana saat ini mama Linda dan juga Desi sedang menonton drama Korea kesukaan mereka. Namun saat sampai di sana, tisu sudah berserakan di lantai, dan dia melihat sang omah dan juga sahabatnya sedang menangis tersedu-sedu.


"Ya ampun, kalian ini kenapa? Kok banyak banget tisu? Terus kenapa menangis? Loh, katanya tadi mau nonton drama Korea? Kok ini jadi film India?" heran Berlian.


"Daripada lo banyak cingcong, udah sini duduk! Tuh lihat, filmnya lagi mellow banget tahu," ucap Desi dengan nada yang tersedu-sedu, sambil melihat film yang berada di hadapannya.


"Kenapa sih mereka tidak pernah merestui hubungan putranya? Seharusnya orang tua itu jangan terlalu mengekang, hanya karena harta dan tahta?" gerutu oma Linda sambil menghapus air matanya menggunakan tisu, kemudian melemparnya sembarang arah.


Berlian melihat ke arah film tersebut yang sedang dimainkan oleh Raja Bollywood beserta rekan-rekannya. Dia pun menganggukkan kepala, karena itu adalah salah satu film favoritnya juga.


"Sudah lama juga aku tidak menonton film India. Tapi sayang, tidak menonton dari awal feel-nya tidak dapat. Masa ujug-ujug aku nangis? Nggak etis banget?" gumam Berlian sambil mengambil cemilan dari tangan Desi, kemudian memakannya.


"Hei pengantin baru, jangan nyemil banyak-banyak. Nanti kalau kau gendut sudah tidak bohay lagi," ucap Desi sambil mengambil toplesnya kembali.


"Justru kalau semakin bohay itu semakin empuk. Apa kau tidak tahu!" celetuk Berlian.


"Astaga, kalian ini dua gobas, diam sih. Tidak tahu Oma sedang meresapi ini film, apa? Jangan berisik!" gerutu mama Linda sambil mengelap ingusnya.


Berlian dan juga Desi saling menatap satu sama lain. Kemudian mereka pun terkekeh saat disebut dua gobas. Padahal tidak pernah ada yang menyebut mereka seperti itu, baru mama Linda saja.

__ADS_1


"Jangan merusak suasana! Oma sedang menangis ini, jangan tiba-tiba Oma tertawa. Tar disangkanya gila?" celetuk mama Linda, dan itu malah semakin membuat Berlian dan juga Desi tertawa. Bahkan air mata sudah tidak ada lagi di kedua mata Desi, padahal acara mellow-nya masih saja berlangsung di televisi. Namun sekarang berganti dengan komedi dari mama Linda.


BERSAMBUNG......


__ADS_2