Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
Kejujuran Desi 1


__ADS_3

Happy reading....


Sepulang dari kampus, Berlian berniat akan ku gramedia untuk membeli buku novel kesukaannya yang baru saja terbit, tapi baru saja Berlian akan menaiki taksi. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di hadapan gadis itu, lalu seorang pria tampan keluar dari dalam mobil dan menghampiri Berlian.


''Nona Berlian, biar saya antar pulang,'' ucap pria itu sambil membukakan pintu penumpang untuk Berlian, tetapi wanita itu segera menggeleng dengan cepat.


''Maaf, Tuan ini siapa ya? Apakah kita saling mengenal?'' tanya Berlian dengan wajah heran.


''Nama saya Max, Nona. Dan saya diperintahkan oleh Tuan Zayden untuk menjemput Nona. Karena Tuan Zayden saat ini tengah menunggu Nona di sebuah restoran,'' jawab Max sambil menundukkan kepalanya dengan sopan.


Berlian memutar bola matanya dengan malas saat mendengar nama Zayden yang disebutkan oleh pria itu. ''Tidak Tuan, terima kasih! Saya pulang sendiri saja. Lagi pula saya mau ke toko buku kok.'' Berlian menolak ajakan Max, tetapi pria itu memaksa.


Max tidak bisa membiarkan Berlian pergi sendiri, karena sesuai perintah Zayden, jika pria itu harus membawa Berlian ke hadapannya. Dia sangat tahu, jika Zayden tidak suka dibantah dan keinginannya harus dituruti.


''Maafkan saya Nona, tapi ini permintaan Tuan Zayden sendiri. Jika Nona ingin menolak, maka Nona harus menolaknya secara langsung kepada Tuan Zayden. Saya tidak bisa menolaknya Nona.'' Max bersikeras agar Berlian ikut dengannya.


'Pria itu benar-benar pemaksa sekali sih!' gerutu Berlian di dalam hati.


''Baiklah, saya akan ikut dengan anda,'' jawab Berlian pada akhirnya. Karena dia tidak ingin pria itu dalam masalah jika berhubungan dengan Zayden. Walaupun Berlian baru bertemu beberapa kali dengan Zayden, tetapi Berlian sudah bisa mengenali karakter pria itu.


Dia tahu, jika Zayden adalah tipikal orang yang angkuh, sombong dan tidak suka dibantah. Pria itu juga pasti seseorang yang suka memaksa dan mengatur-ngatur orang lain. Hal itu yang paling tidak disukai oleh Berlian. Sebab walau bagaimanapun, Berlian tipikal gadis yang bebas, dan tidak suka di kekang.

__ADS_1


Arti dari bebas juga, bukan berarti Berlian gadis yang tidak tahu diri. Gadis yang tidak terdidik, tetapi Berlian sangat suka dengan kebebasan akan kemauannya, dan dia tidak suka dikekang dan diatur-atur. Apalagi hidupnya, tapi walau begitu Berlian gadis yang penurut, sopan dan juga baik. Karena didikan orang tuanya.


Saat Berlian akan masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja seseorang menghentikan Berlian dan memanggil namanya. ''Berlian ...'' panggil orang itu sambil berteriak.


Berlian menengok arah belakang dan mendapat Desi sedang berlari ke arahnya. Gadis itu mengerutkan kening saat melihat Desi menghampiri dirinya.


''Desi?'' heran Berlian satu wanita itu sudah berdiri di sampingnya dengan nafas ter-engah.


''Berlian, aku ingin berbicara kepadamu!'' pinta Desi dengan tatapan memohon sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada. ''Tapi tidak di sini, please! Kita harus mencari tempat yang aman,'' sambungnya lagi.


Berlian menatap Desi dengan tatapan bingung. Kenapa wanita itu mengajak Berlian untuk berbicara empat mata, tetapi mereka harus mencari tempat yang sepi. Sekelebat bayangan di mana dia di jebak pun terlintas dipikiran Berlian, dan gadis itu segera menggeleng.


''Maafkan aku Des, aku tidak bisa. Aku--''


Dia seperti seseorang yang takut ketahuan oleh orang lain saat berbicara dengan Berlian. Dan itu membuat Max juga Berlian merasa heran, saat melihat Desi seperti orang ketakutan.


''Nona Berlian, sebaiknya kalian masuk ke mobil! Bicara di dalam mobil saja,'' ujar Max kepada Berlian, dan gadis itu langsung mengangguk lalu dia mengajak Desi untuk masuk ke dalam mobil.


Max dapat melihat raut ketakutan di wajah Desi, karena gadis itu terus aja melihat kanan dan kiri, seperti takut ketahuan oleh seseorang dan seperti sedang di buntuti.


Setelah di dalam mobil, Desi bernafas dengan lega. Dia mengusap dadanya yang sedikit sesak, kemudian mengeluarkan obat asma yang ada di dalam tas kuliahnya dan menyemprotkan obat itu ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Kegiatan Desi tidak luput dari tatapan Max juga Berlian. Ke-dua orang itu menatap Desi dengan tatapan yang heran dan juga curiga. Karena melihat raut wajah Desi yang ketakutan. ''Sebenarnya ada apa? Kenapa aku melihat kamu, seperti orang ketakutan?'' tanya Berlian sambil melihap kedua tangannya di depan dada, lalu dia duduk menghadap ke arah Desi.


Mendengar pertanyaan Berlian, Desi menghela nafasnya dengan pelan. Kemudian dia menundukkan kepala sejenak sambil memejamkan mata. Mencoba mengatur nafas, kemudian mengangkat wajahnya kembali dan menatap kearah Berlian.


''Ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu, tapi--'' Desi terlihat ragu saat melihat Max yang sedang menyetir mobil.


''Tidak papa, tidak usah hiraukan dia. Dia hanyalah asisten dari temanku. Sekarang katakan! Apa yang anda kamu sampaikan?'' Berlian berucap dengan alis terangkat satu, dan tatapan menyelidiki arah Desi.


Setelah dikhianati oleh kedua sahabatnya dan juga kekasihnya, Berlian tidak mudah untuk percaya kepada orang lain. Mulai sekarang dia akan lebih berhati-hati, walaupun Berlian sebenarnya tidak yakin jika dia terlalu pintar akan hal itu. Akan tetapi, tidak ada salahnya jika sedia payung sebelum hujan.


''Sebenarnya aku ingin menyampaikan soal sesyatu yang begitu penting. Aku--'' Desi menghentikan ucapannya sejenak. Dia terlihat ragu untuk menyampaikan sesuatu yang penting kepada Berlian.


Berlian dapat melihat raut ketakutan di kedua mata Desi, saat gadis itu ingin berbicara. ''Bicaralah! Tidak akan ada yang mencelakai kamu,'' ujar Berlian sambil menatap Desi dengan tatapan mengintimidasi.


''Sebelumnya aku minta maaf kepadamu. Mungkin aku ini jahat. Mungkin aku ini, bisa dibilang seorang pengkhianat. Aku tidak tahu diri, aku ini siapa? Hanya orang biasa yang kuliah dengan beasiswa. Harusnya aku bersyukur bisa bersahabat dengan kamu, yang dari kalangan atas, dan primadona kampus, tapi apa daya? Aku hanyalah orang miskin, yang biasa di tindas di diancam.''


Sejenak Desi menghentikan ucapannya, membuat Berlian menatap gadis itu dengan bingung. Akan tetapi Berlian hanya diam saja, dia tidak ingin menyela ucapan gadis itux sekaligus mantan sahabatnya. Sedangkan Max hanya diam menyimak, dan memasang kuping. Namun siapa yang tahu, jika Max menyalakan sebuah ear-phone yang tersambung langsung kepada seseorang.


''Apakah ini ada hubungannya dengan malam itu?'' tanya Berlian memastikan, dan Desi langsung mengangguk-kan kepalanya dengan mantap.


Satu tetes air mata jatuh membasahi pipi Berlian, dan wanita itu langsung menghapusnya dengan kasar. Bayang-bayang naas di mana mahkotanya di renggut paksa oleh Zayden pun kembali berputar di pikiran Berlian. Dan dia menarik nafasnya dengan panjang, mencoba untuk meredam rasa sakit dan sesak di dalam dada.

__ADS_1


''Ceritakan kepadaku! Kenapa kalian bisa sejahat itu? Apa salahku pada, kalian? Apakah selama ini aku pernah menyakiti kalian? Apakah selama ini aku pernah membuat hati kalian sakit?'' tanya Berlian dengan suara yang tertahan, karena saat ini dia benar-benar merasakan sesak di dadanya. Bahkan suara Berlian pun hampir tercekat di tenggorokan.


BERSAMBUNG


__ADS_2