
Happy Reading....
Hari ini sesuai dengan perintah dari Dea, jika Berlian akan pergi ke Bogor untuk menuju acara di mana sahabat orang tuanya melangsungkan party, dan Berlian akan berangkat bersama dengan Zayden sehabis Dzuhur.
Gadis itu saat ini tengah menyelesaikan tugas kuliahnya, agar nanti saat berangkat ke Bogor dia tidak ke keteteran untuk skripsi besok.
Saat Berlian tengah duduk di taman sambil memangku laptopnya, tiba-tiba Mama Linda menghampiri gadis itu sambil membawa susu jahe buatannya.
"Ini sayang, diminum dulu! Oma udah bikinin kamu susu jahe," ucap Mama Linda sambil menyerahkan gelas yang ada di tangannya.
"Terima kasih Oma," ucap Berlian sambil menerima gelas itu.
Mama Linda memang sengaja menghampiri Berlian, karena ada yang ingin dibicarakan olehnya. Dia tahu jika Berlian tidak suka berangkat bersama Zayden ke Bogor, dan Mama Linda mengerti tentang perasaan gadis itu.
Sebagai seorang wanita, tentu saja tidak akan mudah untuk menerima seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya. Walaupun orang itu juga tidak sengaja dan dia dijebak. Akan tetapi tetap saja, kehormatan Berlian tidak bisa untuk dikembalikan.
"Oh iya sayang, sebenarnya ada yang ingin Oma bicarakan sama kamu." Mama Linda mencoba membuka suara dan berbicara kepada Berlian.
Mendengar itu Berlian langsung menengk ke arah sang Nenek, kemudian dia menutup laptopnya.
"Ada apa, Oma?" tanya Berlian dengan penasaran.
Mama Linda pun menaruh gelas yang ada di tangannya kemeja yang berada dihadapannya, kemudian dia memegang tangan gadis itu, lalu menatap Berlian dengan tatapan yang dalam.
"Oma tahu, sebagai seorang perempuan Oma mengerti perasaan kamu. Tidak akan mudah untuk menerima seorang pria yang telah merenggut mahkota kita. Karena kesucian itu yang akan kita berikan kepada suami kita nanti. Akan tetapi, kamu harus mencoba untuk membuka hati pada Zayden. Oma bisa melihat kok, dia pria yang baik dan bertanggung jawab."
Mama Linda mencoba memberi pengertian kepada Berlian, agar gadis itu mencoba untuk membuka hatinya demi Zayden. Karena dari sudut pandang Mama Linda, Zay adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Dia yakin, jika pria itu akan membahagiakan cucu kesayangannya.
__ADS_1
"Oma, tidak mudah bagi Berlian untuk membuka hati. Kalau memang dia pria baik-baik, kenapa dia sampai memesan seorang wanita malam untuk menemani tidurnya?" tanya Berlian dengan bingung.
Jujur, dia masih bingung. Kenapa Zayden memesan seorang wanita malam, jika memang pria itu baik-baik. Karena pria yang baik itu tidak akan pernah memesan dan juga jajan permen karet di luar. Pria baik pasti akan mempertahankan kewibawaan nya.
Mama Linda tersenyum mendengar pertanyaan Berlian, kemudian dia mengusap kepala gadis itu yang terbalut oleh hijab. Karena walau bagaimanapun, Mama Linda harus memberi pengertian kepada cucunya.
"Begini sayang, Zayden itu 'kan duda, dan hal yang seperti itu tentu saja sudah umum. Itu adalah kebutuhan setiap manusia, bukan begitu? Jadi wajar saja jika Zay memesan permen karet di luar. Lagi pula, Zayden sudah meminta maaf bukan kepadamu? Ya, walaupun tindakannya tidak benar. Akan tetapi, kita tidak bisa menghakimi-nya sayang. Semua manusia itu punya sisi gelap, punya kesalahan dan juga masa lalu."
Berlian terdiam mendengar penjelasan Mama Linda, dia membenarkan apa yang diucapkan oleh neneknya. Karena walau bagaimanapun, Berlian juga manusia biasa yang punya banyak salah dan dosa. Dia juga mempunyai masa lalu dan juga sisi gelap, walaupun mungkin terlihat sempurna di luar, akan tetapi di dalam kita tidak tahu.
**************
Jam 12.30 siang, Zayden sudah sampai di kediaman Bachtiar untuk menjemput Berlian, karena mereka akan berangkat ke Bogor. Gadis itu juga sudah siap dengan gamis berwarna dongker dan pashmina berwarna hitam di balut dengan sabuk mutiara di pinggang, benar-benar membuatnya terlihat sangat anggun dan cantik.
Langkah demi langkah Berlian menuruni tangga, hingga sampai di ruang tamu. Dia melihat Zay tengah duduk sambil memainkan ponsel-nya, kemudian gadis itu pun berdehem untuk menarik perhatian Zay.
Akan tetapi, Zay sudah pernah melihat dan merasakan tubuh Berlian. Bahkan sampai sekarang tubuh polos Berlian masih terbayang di benak Zayden. Dan terkadang pula, membuat pria itu menahan sesuatu yang hampir meledak di dalam tubuhnya.
Pria itu beranjak dari duduknya menghampiri Berlian, kemudian dia menyunggingkan senyum di wajah tampan nya. "Cantik dan perfect," puji Zayden sambil mengitari tubuh Berlian.
"Sudahlah, tidak usah memuji. Sebaiknya kita berangkat sekarang!" ujar Berlian dengan nada ketus, dan pipi merona malu. Kemudian dia berjalan keluar rumah, dan di sana Mama Linda sedang menyiram tanaman kesayangannya.
"Oma, Berlian pamit dulu ya. Mungkin nanti pulangnya agak maleman,'' ucap Berlian sambil mencium tangan Mama Linda.
"Iya sayang, kamu hati-hati dijalan. Zayden, Oma titip Berlian ya! Jagain dia, jangan sampai terjadi apa-apa! Kamu juga bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut." Mama Linda berpesan kepada Zayden dan juga Berlian, dan langsung dibalas anggukkan oleh pria tampan itu.
Setelah berpamitan, mereka pun pergi dari kediaman Bachtiar untuk menuju Bogor. Karena acara akan dimulai jam 16.00 sore, dan jika siang perjalanan lumayan macet.
__ADS_1
Di dalam mobil tidak ada pembicaraan, hanya ada keheningan saja. Keduanya sama-sama terdiam, tidak berani untuk berkata apapun. Berlian juga sungkan untuk berbicara kepada Zay, dan begitu pula dengan Zay. Dia juga merasa sungkan dan canggung, sekaligus bingung harus berkata apa.
EEKHM!
Zayden sengaja berdehem untuk menarik perhatian Berlian, tetapi wanita itu malah asyik menatap jalanan yang dilewatinya tanpa menghiraukan deheman pria yang berada di sampingnya.
"Oh iya, bagaimana dengan temanmu?" tanya Zay kepada Berlian.
Merasa ada yang berbicara, Berlian pun menoleh ke.arah samping. "Kamu bertanya sama aku?" tanya Berlian sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Tidak! Aku tidak bertanya kepada kamu. Akan tetapi, aku bertanya kepada mobil ini, apakah dia baik-baik saja atau tidak?!" kesal Zayden yang merasa dicuekin oleh Berlian.
Melihat kekesalan pria yang ada di sampingnya, dan mendengar ucapan Zay, Berlian terkekeh. Dia tidak habis pikir,njika pria itu berbicara kepada mobil .
"Haduh Tuan-Tuan, Anda ini kehabisan obat, apa? Memang Anda ini belum makan? Masa.mobil diajak bicara? Emangnya Tayo?" kekeh Berlian sambil menggelengkan kepalanya dengan heran.
Mendengar itu Zayden malah menekuk wajahnya. "Ya, lagian kamu. Orang saya bertanya sama kamu, kok masih saya nanya sama mobil, yang jelas-jelas tidak bisa ngomong!" ketus Zay dengan kesal.
"Oke, maaf. Lagian Anda tidak menyebutkan nama saya, jadi saya mana tahu kalau Anda sedang berbicara dengan saya, Tuan? Lagipula, teman siapa yang Anda maksud?" tanya Berlian dengan nada yang formal.
Dia tidak biasa berbicara dengan bahasa aku dan kamu, kepada Zayden. Karena sudah pasti pria itu juga terbiasa dengan bahasa yang formal, jadi Berlian pikir tidak ada salahnya.
"Teman yang menjelaskan tentang kejadian penjebakan itu? Teman wanitamu," ucap Zay sambil menyetir dan menatap lurus ke depan.
"Apa maksud Anda, Desi?" tanya Berlian, dan langsung dibalas anggukkan oleh Zay.
...BERSAMBUNG......
__ADS_1