
Happy Reading.....
Zay dan Berlian menatap ke arah wanita yang saat ini tengah duduk di pangkuan tampan tersebut, sambil mengalungkan tangannya ke leher Zay dengan manja. Sedangkan Berlian menatap dengan heran.
''Luna, ngapain kamu ke sini?'' tanya Zay dengan tajam. Kemudian dia melepaskan pelukan wanita itu yang berada di pangkuannya.
Namun Luna enggan melepaskan tangannya di leher Zay. Dia benar-benar tidak suka melihat pria itu duduk berduaan bersama dengan seorang wanita selain dirinya.
Kebetulan, memang tadi Luna sedang makan bersama dengan teman-temannya, dan dia melihat Zay duduk bersama dengan seorang perempuan berhijab. Itu membuatnya sangat cemburu, hatinya terasa panas, kemudian dia mempunyai rencana yang licik.
''Lepaskan, sebelum aku berbuat kasar kepadamu!'' Ancam Zay dengan sorot mata yang tajam.
Rahang pria itu mengeras dengan tangan terkepal. Namun Luna menggeleng, dia tidak ingin melepaskan pelukannya dan itu membuat Zay semakin marah. Lalu dia beranjak dari duduknya dan melepaskan tangan Luna dengan paksa, hingga wanita itu jatuh ke lantai dengan bokong yang mendarat mulus.
''Aawwh!'' ringis Luna sambil mengusap bokongnya.
''Sudah kubilang, lepaskan! Tapi kau malah bandel!'' geram Zay.
''Sayang, aku 'kan merindukanmu. Kenapa kamu malah kasar kepadaku?'' manja Luna dengan tak tahu malu.
Nadanya dibuat semanja mungkin, kemudian dia bergelayut di tangan Zay, membuat pria itu semakin marah dan murka. Lalu dia menghempaskan tangan Luna dengan kasar. Sementara Berlian hanya menatap mereka dengan bingung.
__ADS_1
*Se*benarnya siapa wanita itu? Kenapa dia terlihat begitu dekat dengan Tuan Zaidan? batin Berlian.
''Cukup! Jangan mempermalukan dirimu sendiri, Luna. Sekarang pergilah, sebelum kesabaranku habis!'' geram Zay.
''Tidak! Aku tidak mau pergi dari sini. Oh, atau jangan-jangan ... kamu meninggalkanku, gara-gara wanita murahan itu, iya!'' bentak Luna sambil menunjuk wajah Berlian.
Kemudian wanita itu berjalan ke arah Berlian dan menjambak jilbabnya. Namun seketika, Berlian segera menendang perut Luna, hingga membuat wanita itu tersungkur ke lantai. Dia tidak ingin ditindas lagi oleh orang lain, walaupun hanya menguasai sedikit bela diri.
''Jaga mulut Anda, ya Nona! Saya bukan wanita murahan. Lagi pula, saya tidak mengenal Anda siapa? Jadi, jangan asal menuduh,'' ucap Berlian dengan lantang.
Zay tersenyum tipis saat melihat keberanian calon istrinya. Sementara Luna tidak terima telah dipermalukan oleh Berlian, apalagi saat ini perutnya terasa sakit akibat tendangan gadis itu.
''Berani sekali kau menendangku, hah! Mana ada seorang wanita pelaacur ngaku, benar-benar tidak ada harga dirinya kamu! Berjilbab, tapi merebut suami orang,'' jelas Luna dengan lantang. Sehingga menarik beberapa pasang mata mengarah pada mereka.
''Jaga ucapanmu ya, Luna! Dia bukanlah pelacur yang kau pikirkan. Dia adalah calon istriku. Dan aku meninggalkanmu, karena kamu selingkuh dengan pria lain. Sekarang kau melempar kesalahanmu sendiri pada orang lain? Benar-benar tidak tahu malu!'' jawab telak Zay.
Berlian menganggukan kepalanya dengan kecil. Dia mulai paham siapa wanita yang saat ini berada di hadapannya, yang sedang menghina dirinya. Itu adalah mantan istri dari Zay.
''Maaf ya Mbak, Anda ini 'kan bersama dengan Tuan Zay sudah bercerai, sebab Anda yang selingkuh? Sekarang malah melempar kesalahan kepada saya? Apa, Anda ingin mempermalukan saya? Itu sangatlah bodoh. Lebih baik, sekarang Anda pergi dari sini! Sebab bukan saya yang malu, tapi Anda yang mempermalukan diri sendiri.'' Berlian berkata dengan nada yang tenang sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Luna ingin sekali merobek mulut Berlian. Namun beberapa orang yang ada di restoran itu menyorakinya, hingga mau tidak mau, wanita itu pun pergi dari sana sambil menghentakkan kaki dengan kesal. Dia berjanji dalam hatinya, akan membalas perbuatan Berlian yang telah mempermalukannya.
__ADS_1
Setelah kepergian Luna dari sana, Zay menatap ke arah Berlian. Dia takut gadis itu akan salah paham, walaupun tadi Berlian sempat mengatakan hal yang membuatnya bangga, tapi tetap saja, pria tampan tersebut takut jika Berlian akan membatalkan pernikahan mereka.
Tak ada pembicaraan selama makan malam itu berlangsung, hingga saat berada di dalam mobil terasa begitu canggung antara keduanya. Berlian juga tidak ingin bertanya soal Luna, dan itu malah disalah artikan oleh Zay. Dia pikir, Berlian tengah marah kepadanya perihal masalah tadi.
''Apa kamu marah, soal tadi?'' tanya Zay saat mobil sudah sampai di kediaman Bachtiar.
''Soal yang mana?'' tanya Berlian pura-pura tidak tahu.
''Soal Luna,'' jawab Zay dengan singkat.
''Oh, soal wanita tadi. Untuk apa aku marah? Lagi pula, dia mantan istri Anda, 'kan? Sudahlah, ini sudah malam. Aku masuk dulu, terima kasih sudah mengantar dan juga menungguku sampai selesai bekerja,'' ucap Berlian. Kemudian dia membuka pintu mobil, tapi tangannya ditahan oleh Zay.
Pria itu menatap ke arah Berlian dengan tatapan yang begitu dalam. Sementara Berlian seperti terhipnotis oleh tatapan tegas nan lembut dari pria yang berada di sampingnya. Jantungnya kembali berdetak dengan kencang, tatkala satu tangan pria itu menyentuh pipi lembutnya.
''Aku berharap, hatimu akan terbuka untukku,'' ucap Zayden dengan lembut.
Berlian terdiam mendengar ucapan pria yang berada di hadapannya saat ini. Dia tidak menyangka jika Zay bisa berkata selembut itu kepada dirinya, dan itu membuat Berlian seperti merasakan sebuah getaran, yang entah dia sendiri pun tidak tahu, apakah itu cinta atau bukan.
Wajah Zay semakin mendekat, hingga beberapa senti berjarak dari Berlian. Dia ingin sekali mengecup bibir manis gadis itu. Namun saat sedikit lagi dia akan merasakannya, tiba-tiba saja pintu kaca mobil diketuk, dan itu membuatnya seketika menjauh dari Berlian dengan wajah yang kaget.
'Waduh, ayahnya serigala datang lagi?' batin Zay saat melihat Dev yang sedang berdiri di samping mobilnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG......