
Happy reading......
Semua kolega dari perusahaannya Dev dari Zay serta dari dua keluarga, pada datang. Apalagi malam ini acara resepsi dilaksanakan benar-benar sangat mewah dan megah, membuat Berlian sedikit kewalahan menerima para tamu.
Tangan gadis itu terulur ke arah kakinya, sebab dia merasakan pegal, seharian terus berdiri menerima para tamu undangan yang membludak tanpa ada hentinya.
Zay menatap ke arah samping, di mana saat ini istrinya tengah memijat kaki. Dia merasa kasihan, apalagi Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Zay pun memanggil mama Linda yang sedang mengobrol dengan mama mertuanya.
''Kenapa Zay?'' tanya mama Linda.
''Omah, sepertinya Berlian sudah kelelahan. Lihat! Kasihan dia kakinya sudah pegal. Lagi pula, ini sudah malam,'' ujar Zay sambil melihat ke arah Berlian.
''Zay benar Mah, sepertinya Berlian memang kelelahan. Kalian masuk saja ke kamar! Biar para tamu disambut oleh Mama dan juga papa,'' ucap Dea kepada menantunya sambil menepuk pundak pria itu.
Zay mengerti, kemudian dia berjalan ke arah Berlian dan membisikkan sesuatu di telinga wanita itu. Berlian yang mengerti pun segera berjalan menggandeng tangan Zay untuk naik ke lantai atas, di mana kamar mereka berada.
''Lepaskan sepatumu!'' titah Zay saat berada di dalam lift.
''Buat apa?'' tanya Berlian dengan bingung.
''Lepaskan saja!'' Zay lagi-lagi mengulang ucapannya, dan Berlian yang mendengar itu pun hanya menurut.
Pintu lift terbuka, kemudian dengan sigap Zay langsung menggendong tubuh Berlian, membuat wanita itu sedikit menjerit karena kaget. Lalu dia mengalungkan tangannya di leher pria yang saat ini sudah menyandang gelar sebagai suaminya.
''Om, saya bisa jalan sendiri. Tidak usah digendong,'' ucap Berlian. Namun Zay tidak mengindahkan ucapannya.
Setelah sampai di kamar, Zay menurunkan Berlian di tepi ranjang. Kemudian dia berjalan ke arah sofa dan membuka jasnya.
''Sudah tahu kakimu pegal, masih saja ngeye. Dan jangan panggil aku om! Aku ini suamimux bukan Om-mu, kau paham!'' tekannya sambil menatap ke arah Berlian.
Wanita itu mengangguk, tetapi Berlian rasa, panggilan om itu lebih cocok untuk Zay. Namun apa yang dikatakan oleh pria itu memang benar, jika saat ini Zay sudah menjadi suaminya.
__ADS_1
''Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau aku memanggil Om, dengan sebutan Om suami?'' usul Berlian.
Zay yang sedang membuka kancing kemeja, seketika menghentikan gerakan tangannya, kemudian dia berjalan ke arah Berlian lalu mengungkung tubuh wanita itu. Sehingga Berlian terjatuh ke ranjang dengan posisi terlentang.
Jantungnya berdetak dengan kencang, saat melihat Zay semakin mendekat ke arahnya. Bahkan mencondongkan tubuh kekarnya, hingga menindih tubuh mungil Berlian.
''Aku tidak suka dipanggil om suami. Jika berani memanggil seperti itu lagi, maka aku akan melahap habis dirimu saat ini juga, paham!'' bisik Zay di telinga istrinya.
Bulu-bulu halus di tubuh wanita itu meremang saat Zay dengan jahil meniup daun telinga Berlian, membuat wanita itu memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawah.
Pria itu pun langsung mengangkat tubuhnya dari Berlian. Kemudian dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi sambil mengusap wajahnya dengan kasar, saat melihat bibir Berlian yang begitu seksi.
Rasanya ingin sekali Zay melahap Berlian saat itu juga, tapi dia kasihan, sebab wanita itu belum membersihkan diri. Dia juga sangat kelelahan.
''Astaga! Apa malam ini harus terjadi? Tapi aku merasa deg-degan,'' gumam Berlian sambil memegangi dadanya yang berdebar dengan keras.
Bayang-bayang di mana dulu Zay pernah mengambil kesuciannya, dan permainan pria itu di atas ranjang, membuat Berlian menggigit bibir bawahnya sambil meremas sprei.
Bedanya, dulu dia diperkosa. Sedangkan sekarang, mau tidak mau Berlian harus menyerahkan tubuhnya. Karena menolak ajakan suami akan dilaknat oleh Malaikat sampai besok pagi, itu udah ada dalam penjelasan agama Islam.
''Mandilah! Pasti badanmu sangat lelah, bukan?'' titah Zay saat selesai membersihkan diri.
Berlian mengangguk, kemudian dia berjalan sambil menenteng gaunnya, karena terlalu besar dan panjang. Namun saat berada di dalam kamar mandi, Berlian sedikit kesulitan membuka resleting yang berada di belakang punggung.
''Astaga! Gimana ini? Resletingnya susah lagi untuk dibuka,'' gumam Berlian dengan bingung.
Mau tidak mau, dia pun membuka pintu kamar mandi dengan dirinya yang sudah tidak memakai hijab. Karena Berlian pikir, tidak masalah seorang suami melihat aurat istrinya. Lagi pula, Zay juga sudah melihat seluruh tubuh Berlian, walaupun wanita itu masih sedikit malu.
''Om suami!'' panggil Berlian sambil mengeluarkan kepalanya.
Zay yang sedang memainkan ponsel sambil duduk di atas ranjang, seketika menoleh ke arah pintu kamar mandi. Dia sedikit kaget saat melihat wajah cantik Berlian tanpa menggunakan hijab
__ADS_1
''Om, aku boleh minta tolong nggak?'' tanya Berlian.
''Apa?'' jawab Zay dengan tatapan lurus ke arah Berlian.
''Aku kesusahan membuka resleting. Apa aku boleh meminta tolong?'' Berlian berkata dengan wajah yang sudah bersemu merah.
Sedangkan Zay yang mendengar itu tersenyum sumringah, kemudian ide jahil terlintas di benaknya. Lalu dia bangkit dari duduknya, kemudian berjalan ke arah kamar mandi.
Sejujurnya Berlian sangat gugup dan juga malu, tapi tidak ada pilihan lain, selain dia meminta tolong kepada suaminya.
''Berbaliklah!'' titah Zay.
Berlian membalikkan tubuhnya, sehingga memunggungi Zay. Kemudian dengan perlahan pria itu mulai membuka resleting yang ada di punggung istrinya namun, gerakannya begitu slow motion.
Dia ingin menikmati keindahan punggung mulus dan putih milik sang istri. Stelah seleting itu mencapai pinggang, Zay meneguk ludahnya dengan kasar saat melihat keindahan yang terpampang jelas di depan matanya.
Tangannya terulur mengelus punggung mulus tersebut, membuat Berlian tersentak kaget dan menahan nafas. Apalagi rasa geli mulai menjalar di seluruh tubuhnya, saat Zay dengan jahil memainkan tangannya dan menelusuri punggung tersebut.
''Om suami, apa yang Anda lakukan? Hentikan! Itu sangat menggelikan!'' pinta Berlian dengan suara tertahan sambil memejamkan matanya dan menggigit bibir bawah.
Namun Zay tidak perduli, karena saat ini gadis itu sudah menjadi istrinya. Dan dia sudah memilikinya seutuhnya. Lalu Zay mengecup pundak Berlian yang sudah terekspos.
Sehingga lagi-lagi membuat wanita itu menahan napasnya, jantungnya sudah berdebar dengan kencang. Bahkan satu tangannya meremas gaun dengan dada yang sudah naik turun, saat Zay menelusupkan tangannya di balik gaun, hingga memeluk perut polos milik istrinya.
Namun seketika Berlian tersadar, lalu dia segera menjauhkan tubuhnya dari Zay. ''Ma-af Om, sa-ya mau ma-ndi dulu,'' ucap Berlian dengan gugup .
Zay menghela napasnya dengan kasar. Padahal sesuatu di bawah sana sudah menegang dengan keras. Tanpa mengucapkan apapun, dia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang kecewa.
Ya Allah, apa aku berdosa karena sudah menolak suamiku? Tapi rasanya tubuhku sangat lengket. Sebaiknya aku mandi dulu deh, tapi sentuhannya tadi ya ampun, bikin aku nahan nafas? batin Berlian.
Sementara itu di kamar, Zay membanting tubuhnya ke atas sofa. Dia mengacak rambutnya, karena rasa yang ingin tersalurkan sudah naik ke ubun-ubun.
__ADS_1
''Sabar Zay, sabar. Sebentar lagi dia akan selesai mandi, dan kau pasti akan belah duren. Sabar Zay! Durenmu tidak akan hilang dibawa oleh papa Dev,'' gumam Zayden pada diri sendiri.
BERSAMBUNG.......