Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
Pengorbanan Desi


__ADS_3

HAPPY READING...


''DESI!'' jerit Berlian sambil berlari ke arah Desi.


Berlian menangis saat melihat keadaan Desi, di mana wanita itu hanya memakai dalaman saja dengan wajah babak belur. Keadaannya benar-benar miris, apalagi baju desi sudah robek dan berceceran di mana-mana.


Gadis itu langsung memeluk tubuh Desi sambil menangis tersedu-sedu. Kemudian Berlian melepaskan ikatan tangan dan juga kaki Desi dengan tangan yang bergetar. Dia benar-benar tidak sanggup melihat keadaan sahabatnya saat ini.


''Be-rlia-n, ka-mu di si-ni?'' tanya Desi dengan suara yang lirih dan terbata. Bahkan matanya membiru akibat dipukul oleh keempat pria itu.


Berlian mengangguk sambil menangis, kemudian dia memeluk tubuh sahabatnya. Tidak bisa Berlian bayangkan, bagaimana berada di posisi Desi saat ini. Dia merasa bersalah karena telah terlambat menyelamatkan gadis itu.


''Maafkan aku, Desi. Maafkan aku yang telah terlambat menyelamatkanmu. Maafkan aku ...'' Berlian terus meminta maaf sambil memeluk tubuh yang sudah banyak luka itu dengan rasa sesak di dadanya.


Berlian mencari kain untuk menutupi tubuh Desi yang hanya di balut dalaman saja, tetapi tidak ada. Dia bingung harus mencari ke mana. KemudiaB berlian memegang jilbabnya, dan saat dia ingin membuka jilbab itu untuk menutupi tubuh polos Desi, tiba-tiba saja dari arah belakang ada seorang pria yang sedang memegang kayu dan akan dipukulkan ke arah Berlian.


Desi yang melihat itupun kaget, dia menatap kearah Berlian dengan tatapan yang mulai kabur. Kemudian dia mengangkat tangannya dengan gerakan bergetar, karena saat ini Desi benar-benar sudah tidak ada tenaga lagi. ''Ber-lian, di bela-kang ka-mu,'' ucap Desi dengan suara terbata dan lirih.


Saat Berlian menengok, pria itu mengayunkan balok tersebut ke arah gadis itu. Akan tetapi, Desi yang lihat itu pun tidak tinggal diam. Dengan sekuat tenaga, dia bangkit dan mendorong tubuh Berlian hingga balok itu mengenai kepalanya dan terluka.


'' TIDAK!! DESI ...!'' teriak Berlian saat melihat Desi terkulai lemas di lantai dengan kepala terluka parah.


''Dasar gadis tidak tahu di untung! Malah menyelamatkan dia. Sekarang giliran kamu! Kaliwn akan mati di sini!'' ucap pria itu yang saat ini tengah memakai topeng.

__ADS_1


Saat kayu itu di ayunkan, Berlian menutup wajahnya. Dia pikir, dirinya akan berakhir sama dengan Desi. Akan tetapi, sesuatu yang keras terdengar di telinga Berlian, dan sangat dia membuka matanya, ternyata di sana sudah ada Zay yang tengah menghajar pria itu.


''Tuan duda,'' gumam Berlian tidak menyangka jika Zayden berada di sana dan menyelamatkan dirinya.


''Berani kau menyakiti calon istriku, hah! Ku habis kau!'' geram Zay sambil terus memukul pria itu, lalu mengambil balok kayu dan menghantamkan ke arah kepalanya dengan keras, hingga pria itu pun terkapar dengan tubuh mengejang. Bahkan lantai pun sudah bersimbah darah.


Berlian yang melihat itu segera berlari ke arah Desi. Dia memangku kepala sahabatny, air matanya kembali lolos. ''Desi, banguK! kenapa kamu malah menyelamatkanku? Desi, kamu mendengar aku 'kan? Desi ...'' panggil Berlian sambil terus menggoyangkan tubuh Desi, tapi wanita itu sama sekali tidak bergerak.


Berlian merasa bersalah, karena secara tidak langsung Desi terluka karenanya. Kemudian Zay mengecek nadi Desi. ''Lebih baik kita cepat bawa dia ke rumah sakit, sebelum terjadi apa-apa!'' ujar Zay sambil membuka jasnya kemudian menutup tubuh Desi.


Bersamaan dengan itu Max masuk ke dalam ruangan, dan dia melihat Desi sudah terkapar dengan luka di kepalanya. Bahkan beberapa dibagian wajahnya telah babak belur, Max benar-benar merasa miris melihat itu.


''Max, kau gendong dia ke mobil! Kita bawa ke rumah sakit!'' titah Zayden kepada asisten pribadinya dan pria itu pun langsung mengangguk, kemudian menggendong tubuh lemas Desi dan membawanya ke dalam mobil.


Max menyetir mobil dengan cepat, sementara Zay duduk di depan, sedangkan Berlian duduk di belakang sambil mamangku kepala Desi. Gamisnya sudah basah oleh darah, tetapi Berlian tidak perduli. Karena saat ini yang ada di pikirannya hanyalah keadaan Desi.


Air matanya bahkan membasahi wajah sahabatnya yang sedang tidak sadar di atas pangkuan nya. Sedangkan Max dan juga Zay merasa miris melihat keadaan Desi yang begitu mengenaskan. Jauh di dalam lubuk hati mereka juga merasa bersalah, sebab mereka berdua telah gagal menyelamatkan Desi dan telah terlambat untuk mengambil tindakan.


Max dan Zay pikir, Daffa dan juga Tanisha tidak akan menyuruh anak buahnya untuk melukai Desi, karena itu adalah hanya sebuah ancaman untuk Berlian. Akan tetapi, mereka salah.


Sesampainya di rumah sakit, Desi langsung dibawa ke ruang UGD, sementara itu Berlian menunggu di depan sambil terus menangis. Dia benar-benar tidak kuat melihat keadaan sahabatnya, sebab walau bagaimanapun Desi seperti itu karena dia.


''Tenanglah! Dia kan baik-baik saja. Kita berdoa saja, supaya sahabat kamu tidak mengalami luka yang parah,'' ucap Zay kepada Berlian.

__ADS_1


Gadis itu menggelengkan kepalanya sambil menangis terisak, kemudian dia memeluk tubuh Zay. Berlian tidak tahu lagi ke mana saat ini di harus menyandarkan kepalanya, dan hanya ada Zay yang berada dihadapannya. Gadis itu menangis tersedu-sedu dalam dekapan pria itu.


''Semua salahku! Dia seperti itu karena aku. Jika terjadi apa-apa dengannya, aku benar-benar merasa bersalah. Semua karena aku!'' Berlian terus aja menyalahkan dirinya, bahkan tangannya memukul kepala sendiri.


Bagaimana tidak? Desi ditahan oleh Tanisha dan juga Daffa hanya untuk mengancam dirinya. Kedua orang itu ingin melihat kehancuran Berlian, dan Desi adalah korban. Apalagi saat tadi Desi menyelamatkan dirinya, mengorbankan tubuhnya demi Berlian.


''Kita berdoa saja! Aku yakin, sahabatmu itu wanita yang kuat.'' Zay mencoba untuk menguatkan Berlian, karena dia tahu saat ini wanita itu tengah rapuh. Sementara Max baru saja datang setelah dari kantin untuk membeli minuman, karena saat ini dia tahu Berlian mutu air minum.


''Ini, minumlah dulu! Jangan terlalu dipikirkan. Kita berdoa saja ya,'' ucap Zay sambil menyerahkan botol minum yang sudah dibuka. Kemudian Berlian mengangguk dan meminumnya. Setelah itu Zay pun membawa Berlian untuk duduk di kursi.


Max menatap kearah ruangan UGD. Dia membayangkan bagaimana berada di posisi Desi. Ada rasa bersalah di hati Max, karena dia telah gagal menyelamatkan gadis itu. Max pikir, Tanisha dan Daffa tidak akan pernah menyakiti Desi, tetapi ternyata dia salah.


''Maafkan saya, Tuan. Seharusnya saya memang mendengarkan ucapan Anda,'' ucap Max dengan suara yang lirih.


''Tidak apa-apa, semua sudah terjadi. Lain kali, jika aku perintahkan maka kamu harus menurut Max!'' jawab Zay sambil menatap kearah Max dengan tatapan yang dingin.


Berlian mengangkat wajahnya saat mendengar ucapan Max. ''Maksudnya apa ya, Tuan?'' tanya Berlian dengan bingung.


Max menatap kearah Zay. Dia bingung harus menjelaskan apa kepada gadis itu, karena pasti Berlian akan menyalahkan dirinya. Sementara itu, Berlian menatap kearah Max dengan penasaran.


''Tidak apa-apa, Max mungkin hanya merasa bersalah karena telah terlambat menyelamatkan sahabatmu?'' jawab Zay sambil mengusap tangan Berlian.


Max mengangguk sambil menundukkan kepalanya, dia memang bersalah dalam hal ini. Karena Zay dari awal sudah menyuruh Max untuk menyelamatkan Desi dan membawa anak buahnya, tetapi Max pikir, itu hanyalah ancaman biasa saja. Karena seorang Tanisha dan Daffa tidak akan pernah bisa bermain-main dengan keluarga Bachtiar.

__ADS_1


'Maafkan aku gadis kacamata. Semua karena aku. Jika saja aku tidak telat menyelamatkan mu, dan jika saja aku menuruti perkataan Zay untuk menyelamatkanmu lebih awal. Mungkin saja saat ini kamu tidak berada di UGD, dan tidak dalam keadaan mengenaskan seperti itu. Maafkan aku!' batin Max sambil menunduk dalam sebuah penyesalan yang besar.


BERSAMBUNG.......


__ADS_2