Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
Panggilan Sayang


__ADS_3

Happy reading......


"Aku juga tidak tahu. Mereka seperti hilang bak ditelan bumi. Ke mana ya? Aku penasaran, apa yang terjadi sama mereka sekarang?" ucap Desi sambil mengetuk-ngetuk dagunya.


"Sudahlah, biarkan saja. Semoga mereka baik-baik saja di manapun berada," ujar Berlian.


"Tapi entah kenapa, hilanganya mereka itu ada sangkut pautnya dengan suamimu atau mungkin ayahmu?" jelas Desi.


Berlian yang sedang memilah baju tiba-tiba saja menghentikan gerakan tangannya, kemudian dia menatap ke arah Desi. Wanita itu merasa heran, tetapi juga apa yang dia ucapkan Desi mungkin saja dan benarnya.


"Entahlah, sudah jangan dipikirkan. Sekarang kamu pilih gamis dan jilbabnya yang kamu mau! Biar kita coba untuk memakainya," jelas Berlian.


.


.


Sementara di tempat lain, lebih tepatnya di kantor Dev, saat ini Zay tengah duduk mengerjakan tugas dari oapa mertuanya. Seketika ponselnya berdering, dan ternyata itu panggilan dari Max.


"Iya, kenapa Max?" tanya Zay saat telepon sudah tersambung.


[ Bos aku baru saja dapat kabar dari anak buah, kalau tawanan kita mencoba untuk melarikan diri Bos. ]


"Apa! Melarikan diri? Rupanya mereka belum kapok. Berikan perintah pada anak buahmu, jika mereka berani melarikan diri, beri mereka pelajaran!" titah Zay.


[ Baik bos. ]


Setelah panggilan telepon terputus, Zay menyandarkan tubuhnya di kursi, kemudian dia memutarnya dan menghadap ke arah kaca yang menampilkan pemandangan di luar kantor dari lantai 15.


Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada sambil menyilangkan satu kaki. Bibirnya tersenyum sinis saat mengingat tawanan yang saat ini sedang dia berikan pelajaran.


"Rupanya mereka mencoba untuk kabur? Sayangnya tidak akan bisa. Berani bermain-main denganku, jangan pernah bermimpi untuk lepas!" gumam Zay dengan seringai di wajahnya.


Tawanan yang saat ini sedang Zay tahan di sebuah rumah yang ada di tengah hutan adalah Daffa dan juga Tanisha. Setelah kecelakaan Desi waktu itu, Zay diperintahkan Dev untuk memberi pelajaran kepada dua orang tersebut. Dan sampai saat ini, pria itu masih mengurung dua orang tersebut di dalam rumah.


Saat ini yang tahu hanyalah Dev, Max dan juga dirinya. Sementara mereka juga tidak memberitahukan kepada mama Linda, Dea ataupun Berlian. Karena mereka yakin, jika ketiga perempuan itu tahu, maka mereka akan meminta Zay untuk melepaskan kedua cecunguk itu.


.


.

__ADS_1


Sore hari setelah Zay pulang dari kantor, dia mampir terlebih dahulu ke toko bunga. Pria tersebut membelikan setangkai bunga mawar merah untuk istrinya, karena dia ingin membuat Berlian merasa bahagia hidup bersamanya.


Saat dia sampai di rumah, pria tersebut tidak melihat istrinya. Kemudian dia langsung masuk ke dalam kamar, karena Zay yakin, jika saat ini Berlian berada di sana.


Benar saja, dia melihat istrinya sedang duduk membaca novel sambil mendengarkan musik di telinganya. Tapi yang membuat pria itu tersenyum adalah, wajah cantik Berlian yang tidak memakai jilbab.


Memang wanita itu tidak pernah memakai jilbab saat berada di dalam kamar, karena bagi Berlian Zay adalah suaminya. Jadi tidak perlu untuk menutup aurat di hadapannya pria tersebut.


Mata Berlian menatap ke arah setangkai mawar merah yang berada di hadapannya, dan saat dia lihat ternyata yang memberikan itu adalah Zay.


"Apa ini untukku?" tanya Berlian.


"Bukan, tapi untuk guling!" kesal Zay sambil menekuk wajahnya.


Berlian terkekeh, kemudian dia mengambil bunga tersebut dari tangan suaminya, lalu Berlian pun mengambil tangan Zay dan menciumnya. "Terima kasih Om suami," ucap Berlian.


"Bisa tidak sih, kamu jangan memanggilku Om suami! Apa setelah kita menikah, tidak ada panggilan sayangmu untukku? Seperti Mas atau my husband," tutur Zay sambil menghempaskan tubuhnya di atas kasur.


Berlian turun dari atas ranjang, kemudian dia mulai membuka sepatu dan juga kaos kaki yang dipakai oleh suaminya, lalu menaruhnya di dekat pintu. Setelah itu Berlian membuka kancing kemeja Zay, sementara pria tersebut hanya memejamkan matanya saja.


Dia sedang menikmati jari lentik istrinya yang sedang menari untuk membuka pakaian yang saat ini tengah dia kenakan. Kemudian Berlian menarik tubuh Zay untuk bangun, tetapi bobot pria itu sangat berat, hingga pada akhirnya Berlianlah yang terjatuh di atas tubuh suaminya.


"Kau ini benar-benar membuatku tidak bisa berpaling. Mantra apa yang kau pakai sampai wajahmu begitu sangat cantik untuk dipandang? Bahkan aku sampai tidak bosan jika harus seumur hidup memandangmu?" gombal Zay sambil memeluk pinggang istrinya.


Berlian yang mendengar itu pun mencubit hidung suaminya. Mereka memang awalnya tidak saling mencintai satu sama lain, akan tetapi seiring berjalannya waktu, Berlian mulai membuka hati untuk Zay. Dan dia juga selalu dinasehati oleh Dea, jika seorang istri itu harus patuh pada suaminya.


Istri harus mencintai suaminya, tunduk terhadap perintah suami jika dalam kebaikan. Dan dosa bagi istri, jika dia membenci suaminya, dan neraka adalah tempat yang cocok untuk seorang istri yang durhaka.


Lama-lama Berlian mengenal Zay, dia mulai paham jika pria itu mempunyai sifat yang baik. "Jangan menggombal! Sebaiknya sekarang Om suami mandi, karena hari juga sudah mulai malam. Kita akan makan malam bersama," ucap Berlian.


Za menganggukkan kepalanya, kemudian dia menggulingkan tubuhnya ke arah samping, dan saat ini Berlian dan yang berada di bawah tubuhnya.


"Apakah sebelum makan malam, kita tidak bisa bermain satu ronde dulu?" goda Zay sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Berlian.


Mendengar itu, Berlian tersenyum. Kemudian dia mengalungkan tangannya ke leher kekar milik Zay. "Boleh saja. Tapi sebaiknya Om suami mandi dulu, bau tahu. 'Kan nabi juga mengajarkan, jika kita ingin melakukan hubungan suami istri harus dalam keadaan bersih," jelas Berlian.


CUP.


Lagi-lagi Zay mengecup bibir istrinya. Setelahnya dia bangkit dari tubuh wanita itu, kemudian berjalan ke arah kamar mandi. Sementara Berlian mulai mengambil baju Zay lalu menaruhnya di atas kasur.

__ADS_1


Wanita itu pun memakai jilbabnya lalu dia keluar dari kamar, membuatkan teh hangat untuk suaminya. Dan sampai di meja makan, ternyata di sana sudah ada mama Linda dan juga Desi yang tengah menata makan malam.


"Selamat malam," sapa Berlianm


"Malam cucu Oma. Oh iya, apakah Zay sudah pulang?" tanya mama Linda.


"Sudah Oma, lagi mandi. Mungkin sebentar lagi akan turun. Wah, kamu benar-benar cantik Desi memakai jilbab. Semoga kamu menjadi wanita yang istiqomah ya," ucap Berlian pada sahabatnya.


"Aamiin," jawab Desi dan juga mama Linda serempak.


Tak lama Zay turun ke lantai bawah, dan dia cukup kaget saat melihat Desi memakai jilbab. Kemudian dia menatap ke arah Berlian, dan wanita itu pun menjelaskan jika Desi ingin berhijrah.


"Oh ya, tadi Max sudah bilang kepadaku, untuk meminta izin. Karena dia akan mengadakan lamaran ke ke kampungmu. Memangnya kapan kalian akan berangkat?" tanya Zay di sela-sela makannya.


"Kalau aku terserah Tuan Max saja, dia bisanya kapan. Nanti aku akan langsung menelpon ayah dan ibu untuk mempersiapkan semuanya. Karena perjalanan dari sini ke kampungku juga lumayan memakan waktu," jawab Desi.


"Aku memberi Max libur selama tiga hari, dari lusa. Jadi sebaiknya nanti kamu telepon ayah ibumu, dan mengabarkan jika Max akan ke rumah," jelas Zay.


Desi menganggukkan kepalanya, setelah itu tidak ada pembicaraan lagi sampai makanan habis. Setelahnya mama Linda bersama dengan Desi pergi ke ruang TV, karena acara favorit mereka akan ditayangkan.


Sementara itu, Berlian sedang menelpon mama dan juga papanya yang berada di kampung. Zedangkan Zay sedang berada di ruang kerja untuk menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai.


Setelah Berlian menelpon kedua orang tuanya, dia ingin keluar dari kamar. Namun ponsel yang berada di atas nakas berbunyi, dan itu milik suaminya. Berlian yang sedikit kepo pun akhirnya melihat pesan apa yang dikirim ke ponsel pria tersebut.


Dia tidak membuka HP Zay, dan hanya melihatnya saja lewat layar saja. Di sana ada nomor yang mengirimkan pesan chat, dan isinya benar-benar membuat Berlian terlihat begitu kesal.


"Siapa wanita itu? Kenapa dia manggil suamiku dengan sayang? Apakah om suami punya selingkuhan? Awas aja, jika itu terjadi habislah terongnya dipotong sama papa!" geram Berlian. Kemudian dia mengambil ponsel Zay, lalu membawanya keluar.


Wanita itu berjalan ke arah ruang kerja milik Papanya, di mana saat ini Zay sedang berada di sana dan dia ingin menanyakan isi pesan tersebut kepada pria itu.


"Sayang, sini temenin aku kerja!" Zay menepuk pahanya, meminta Berlian untuk duduk di sana.


Namun wajah wanita itu ditekuk, kemudian dia menaruh ponsel Zay dengan sedikit kasar di atas meja. Lalu dia melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap suaminya dengan tajam.


"Jelaskan! Siapa dia? Kenapa memanggilmu dengan sayang? Om suami punya selingkuhan?" kesal Berlian dengan tatapan menyipit ke arah suaminya.


"Panggilan sayang? Maksudnya?" bingung Zay.


BERSAMBUNG.......

__ADS_1


__ADS_2