Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
Maha Karya Zay


__ADS_3

Happy reading...


Zayden saat ini tengah memacu mobilnya untuk datang ke markas, di mana Tanisha dan juga Daffa disekap oleh anak buahnya. Dia ingin melihat wajah dua penghianat itu.


Setelah mobil terparkir, Zay membuka jasnya, kemudian dia menggulung setengah lengan kemeja yang dikenakannya saat ini. Lalu pria itu pun melangkah mendekat ke arah gudang di tengah hutan.


Pintu yang mulai berkarat itu pun terbuka. Di bawah remangnya tamaram lampu, Dafa menyipitkan mata, saat seseorang masuk ke dalam sana. Begitupun dengan Tanisha, wanita itu terus saja berontak sambil bergumam tidak jelas. Zay tersenyum miring penuh kepuasan saat melihat bagaimana Tanisha yang saat ini tengah di sumpel oleh kaos kaki, sementara itu Daffa hanya diam saja.


''Siapa pria itu?'' batin Daffa saat melihat tubuh tegak seorang pria di bawah tamaramnya lampu, tapi dia tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu.


''Nyalakan lampunya!'' perintah Zay dengan suara yang berat kepada anak buahnya. Kemudian lampu pun dinyalakan, dan seketika Daffa dan Tanisha menutup matanya karena silau. Setelah itu mereka membuka mata kembali dan melihat Zay yang kini tengah menatapnya dengan dingin dan juga tajam.


'Dia!' batin Tanisha dengan kaget, saat melihat wajah Zay.


Wanita itu sangat ingat jika Zay adalah pria yang menolong Berlian saat di kampus waktu itu. Wajah tampannya, tentu saja tidak bisa Tanisha lupakan. Kemudian dia menggerakkan tubuhnya sambil bergumam dan menatap ke arah Zay, dengan tatapan memohon.


Dia pikir, Zay datang ke sana untuk menolongnya, tapi Tanisha tidak tahu, jika sebenarnya Zaylah yang membuat mereka disekap seperti sekarang. Sementara Daffa menatap pria itu dengan tatapan menyipit. Sebab dia tidak mengenal Zayden sama sekali.


''Kenapa, kau menyumpalnya dengan kaos kaki?'' tanya Zay kepada anak buahnya.


''Maafkan kami, Bos. Habisnya dia sangat cerewet, berisik. Jadi terpaksa saya sumpel dengan kaos kaki,'' jawab anak buah Zay, membuat pria itu mengangguk paham.


Kemudian Zay berjalan mengitari Daffa dan juga Tanisha. Setelah itu dia berdiri di hadapan kedua orang yang sedang diikat tubuhnya, lalu tersenyum sinis sambil menepuk tangannya. Kemudian Zay menarik kaos kaki di mulut Tanisha dengan kasar, hingga wanita itu bernapas terengah-engah.


''Tuan, syukurlah Anda di sini. Tolong lepaskan kami, Tuan! Mereka menculik kami,'' pinta Tanisha kepada Zay. Dia berharap pria itu akan menolongnya.

__ADS_1


Sementara itu Daffa yang mendengar permohonan Tanisha,ntentu saja tidak terima. Dia menatap tajam ke arah kekasihnya itu, ''Apa yang kau lakukan, Tanisha? Kau itu sangat bodoh! Justru dia adalah Bos mereka. Apa kau tidak dengar tadi, mereka memanggil dia dengan sebutan Bos!?'' geram Dafa dengan marah.


Tanisha sejenak terdiam, kemudian dia ingat jika kedua anak buah tadi memanggil Zay dengan sebutan Bos. Lalu dia menatap ke arah Zay yang sedang tersenyum menyeringai ke arahnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap ke arahnya dan juga Daffa bergantian.


Akan tetapi, seketika Tanisha menggelengkan kepalanya. ''Tidak Daffa! Aku yakin,.dia bukan bosnya. Anda ke sini untuk menolong kami 'kan, Tuan?'' tanya Tanisha dengan yakin.


Mendengar pertanyaan Tanisha, Zay malah tertawa terbahak-bahak, tapi tawanya terdengar begitu menyeramkan di kedua telinga milik Tanisha dan Daffa. Bulu kuduk mereka seakan merinding saat mendengar tawa pria itu. Entah kenapa, seketika nyali Tanisha menciut dan dia merasa takut.


''Hahaha ... Kau bilang apa tadi? Aku malaikat penolongmu? betul sekali, Nona. Aku memang seorang malaikat,'' ucap Zay sambil berjalan ke arah Tanisha, lalu mencondongkan badannya dan menaruh wajahnya di samping telinga wanita itu. Kemudian dia pun berkata, ''Aku malaikat maut untukmu, dan untuk pria itu!'' sambung Zayden kembali sambil tersenyum menyeringai. Dia berjalan ke arah depan dan berdiri di hadapan mereka berdua kembali.


Tanisha terkejut saat mendengar ucapan Zay, kemudian dia menggelengkan kepalanya. ''Apa maksud Tuan? Anda jangan macam-macam dengan saya, ya! Anda tidak tahu siapa saya, hah!'' Tanisha mencoba menggertak pria itu. Akan tetapi, malah membuat Zay semakin tertawa.


''Kau bersama dengan kekasihmu ini memang sangat bodoh! Kalian ini adalah manusia lakcnat, yang tidak tahu terima kasih. Bahkan kalian tega menyakiti sahabat kalian sendiri? Sungguh manusia yang biadab, dan seperti hewan!'' hina Zay sambil menatap keduanya dengan tatapan dingin.


Zay yang merasa tertantang pun kemudian berjalan ke arah Daffa, lalu mencengkram rahang pria itu dengan kuat, hingga membuat Daffa menatap ke arah Zaidan dengan tajam. Kemudian dengan kasar Zay menghempaskan wajah Daffa, dan menamparnya dengan keras, hingga membuat sudut bibir Daffa sobek dan mengalir kan setetes darah.


''CUIIH ...'' Daffa meludah saat merasakan cairan asin di lidahnya.


''Kau bilang apa? Kau mengancamku? Hei, kau bahkan tidak lebih rendah dari seekor binatang. Kau tega menjebak kekasihmu sendiri, hanya untuk melihat kehancurannya. Kalian benar-benar keterlaluan! Dan apa kalian pikir, perbuatan kalian ini tidak ada konsekuensinya? Tidak ada timbal baliknya? Kalian salah! Justru harusnya kalian takut, sebab orang tuanya Berlian tentu saja tidak akan pernah tinggal diam.'' Zay berkata dengan rahang mengeras dan sorot mata yang begitu tajam ke arah Daffa.


Tanisha meneguk ludahnya dengan kasar, dia benar-benar takut dengan ancaman Zay. Akhirnya wanita itu pun hanya diam saja, akan tetapi, tidak Tanisha pungkiri saat ini bahkan kakinya sudah bergetar karena takut.


Kemudian Zay menengadahkan tangannya, lalu salah satu anak buahnya memberikan sebuah pisau kecil yang sangat tajam. Membuat Daffa dan juga Tanisha berkeringat dingin saat melihat benda mengkilap tersebut.


Lalu Zay tersenyum sinis, sambil mengacungkan pisau itu di hadapan wajah Daffa dan Tanisha. Membuat keduanya benar-benar dilanda ketakutan yang sangat hebat. Mereka tidak bisa membayangkan, jika benda kecil dan tajam itu menembus dan menyayat kulit mereka.

__ADS_1


''Kalian lihat ini, apa? Tentu kalian sangat tahu, benda kecil ini akan mampu menembus bahkan menyayat daging empuk kalian.'' Zayden berkata dengan senyum seringai di wajahnya. Senyuman yang begitu mengerikan di mata Daffa dan juga Tanisha.


''Aku rasa, sedikit memberi tato di kulit kalian, mungkin akan lebih seru.'' Setelah mengatakan itu, Zay mendekat ke arah Tanisha. Wanita itu langsung menggeleng dengan cepat, sambil berkeringat dingin dengan wajah yang takut.


''Tolong Tuan, jangan sakiti saya! Please ... saya mohon, Tuan. Saya minta maaf, jika saya telah menyakiti Berlian.'' Tanisha berkata dengan suara yang bergetar takut, membuat Zay tertawa mengerikan saat melihat ketakutan di wajah gadis itu. Lalu dia beralih ke arah Daffa dan menempelkan benda itu di wajahnya.


Daffa memejamkan matanya sambil menahan napas saat benda dingin dan tajam itu menempel di pipinya. ''Bagaimana rasanya, jika pipi dan kulit yang sok tampan ini, aku sedikit lukis dengan mahakarya yang indah?'' ucap Zayden dengan suara yang dingin.


Daffa tidak bisa berkata apa-apa, tangan serta kakinya bergetar takut. Dan itu sangat terlihat jelas di mata Zay. Dia benar-benar puas melihat ketakutan di wajah keduanya. Saat Zay menekan kecil benda tajam itu hingga menggores pipi Daffa, membuat pria itu meringis kesakitan tiba-tiba saja ponselnya berdering.


Akhirnya Zay menarik kembali pisau itu, walaupun telah melukai sedikit pipi Daffa. Akan tetapi, tetap saja darah mengalir walau tidak banyak.


''Iya, hallo Oma,'' ucap Daffa saat menerima telepon dari mama Linda.


''Apa! Baiklah, saya akan segera ke sana,'' jawab Zayden kembali. Kemudian telepon pun terputus, lalu dia memasukkannya kembali ke dalam saku celana.


''Kalian urus mereka! Jangan biarkan mereka kabur, ingat! Jika mereka lepas, maka nyawa kalian taruhannya. Biarkan mereka di sini sampai Om Dev kembali besok. Kita lihat, apa yang akan dilakukan oleh om Dev kepada dua pengkhianat ini.'' Zay berkata sambil memerintahkan anak buahnya.


''Baik Bos, kami akan menjaga mereka. Kami tidak akan pernah membiarkan mereka lolos dari sini,'' jawab salah satu anak buah Zay.


Pria itu mengangguk, kemudian keluar dari gudang meninggalkan Daffa dan juga Tanisha yang masih ketakutan. Bahkan Daffa masih merasakan sakit dan perih di bagian pipi kanannya yang digores oleh Zaidan.


'Apa Om Dev tahu, jika aku disekap? Apakah Om Dev dalang dibalik penculikan aku dan Tanisha? Apakah dia yang melakukan ini? Apakah pria tadi anak buahnya, Om Dev?' batin Daffa menerka-nerka tentang ucapan Zayden tadi pada anak buahnya.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2