Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
Kau Harus Memutuskannya


__ADS_3

Happy reading......


Hari ini Berlian akan pergi ke kediaman Bachtiar untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Sebab wanita itu juga sangat merindukan mama dan papanya. Walaupun dua hari mereka baru berpisah, tapi rasanya sudah seperti satu tahun saja.


Sedangkan Zay tidak ikut, sebab dia harus ke kantor. Kemarin sudah libur dua hari dan kerjaan juga menanti dirinya.


Setelah sampai di kediaman Bachtiar, Berlian langsung masuk. Dan kebetulan Dea sedang menyiapkan makan siang untuk menyambut Berlian, di sana juga ada Desi yang membantunya.


"Assalamualaikum," ucap Berlian saat sampai di dalam rumah.


"Waalaikumsalam," jawab Dea dan Desi serempak.


"Waaah ... kalian lagi masak apa nih?" tanya Berlian sambil mencium tangan mamanya.


"Mama lagi masak kesukaan kamu sayang. Oh iya, menantu Mama ke mana? Kok tidak ikut?" tanya Dea sambil melihat ke belakang Berlian, dan tidak menemukan Zay.


"Oh, Om suami tidak ikut Mah. Nanti dia menyusul. Tadi katanya ada meeting yang nggak bisa dia tinggalin," jawab Berlian.


Dea menganggukkan kepalanya, kemudian wanita itu membantu mamanya dan juga Desi memasak untuk makan siang, tetapi di sana tidak ada mama Linda, sebab wanita itu sedang ada arisan di luar bersama teman-teman sosialitanya.


Setelah semuanya matang, Desi, Berlian dan juga Dea saat ini tengah berada di samping kolam, untuk menikmati teh hangat dengan cemilan yang baru saja mereka buat.


"Oh iya, Mah, Berlian. Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian. Lebih tepatnya, mungkin aku ingin meminta pendapat dari mama dan juga Berlian," ucap Desi sambil menatap dua wanita yang saat ini tengah berada di hadapannya.


"Kenapa Des?" tanya Berlian.


Desi pun menceritakan tentang lamaran Max dua hari yang lalu saat berada di taman. Sebenarnya saat ini dia merasa bingung, jawaban apa yang harus dia berikan kepada Max.

__ADS_1


Mama Dea dan juga Berlian yang mendengar itu, tentu saja sangat bahagia. Karena walau bagaimanapun, mereka cukup mengenal Max seperti apa. Ditambah Berlian juga tahu perjuangannya Max saat Desi sedang koma.


"Kalau menurutku sih, sebaiknya kamu terima aja Tuan Max menjadi suamimu. Karena dia pria yang baik dan bertanggung jawab. Buktinya, selama kamu koma, dia selalu ada tanpa meninggalkan kamu. Mungkin hanya urusan mendesak saja dia harus pergi, tapi selebihnya bisa dibilang 24 jam dia di sana." Berlian memberikan pendapatnya kepada Desi.


"Mama setuju dengan Berlian! Ya, walaupun Mama tidak mengenal secara langsung Max itu seperti apa, tapi melihat dari karakter dan juga pribadinya, dia pria yang baik. Dan mama pastikan, dia bertanggung jawab sama kamu." Kali ini Dea yang memberikan pendapatnya kepada Desi.


Akan tetapi, wanita itu masih merasa bingung. Akhirnya Dea pun menyuruh Desi untuk melakukan salat istikharah terlebih dulu. Karena meminta pendapat pada Allah, itu jalan yang terbaik bagi umatnya.


.


.


Sementara di kantor, Max sedang berada di ruangan Zay, menunggu pria itu menandatangani berkas yang dia bawa. Namun pikiran Max tidak berada di sana. Dia masih memikirkan pertemuannya kemarin dengan seorang wanita yang sudah lama sekali tidak pernah dia temui.


Zay merasa heran, sebab melihat Max yang sedari tadi tidak fokus dalam bekerja. Apalagi saat berada di ruang meeting, pria itu bahkan beberapa kali memergoki Max yang sedang melamun.


"Hei! Kamu kenapa sih? Dari tadi melamun terus, tidak fokus dalam bekerja? Apa ada yang sedang mengganggu pikiranmu?" tanya Zay kepada Max.


Namun, bukan Zay namanya jika dia langsung percaya begitu saja. Pria itu sudah mengenal asisten pribadinya sejak lama, jadi Zay sangat tahu betul saat Max sedang ada masalah ataupun tidak.


"Aku ini mengenalmu bukan satu atau dua hari saja, Max. Lebih baik kau ceritakan kepadaku, apa yang saat ini mengganjal di pikiranmu," ujar Zay.


Mendengar itu, Max menghembuskan napasnya. Dia terlihat bingung, apakah harus menceritakan kepada Zay atau tidak, tapi walau bagaimanapun, Zay juga mengenal wanita tersebut.


"Kemarin aku bertemu dengan Anggi, dan dia perwakilan dari perusahaannya pak Hendar," jawab Max dengan tatapan yang lesu.


"Tunggu dulu! Anggi? Anggi siapa?" tanya Zay dengan bingung. Sebab nama wanita yang disebutkan oleh Max tidak asing, tapi dia tidak bisa mengingatnya.

__ADS_1


"Wanita yang pernah mengisi hatiku. Kau ingat bukan, enam tahun yang lalu, aku menyatakan perasaan kepadanya, tapi dia menggantungnya. Bahkan tidak memberikan jawaban sampai sekarang. Dan setelah aku bisa melupakannya, berpaling ke pada wanita lain, Tuhan malah mengirimnya kembali kepadaku?" jawab Max dengan nada yang frustasi.


Mendengar itu, Zay baru paham, Anggi mana yang dimaksud oleh asisten pribadinya tersebut. Kemudian dia menutup map, lalu berjalan ke arah Max.


"Bukankah kau ingin menikahi Desi? Aku tahu, dia adalah cinta pertamamu, tapi dia tidak pernah bukan membalas cintamu? Menggantungkan perasaanmu, lalu sekarang dia hadir kembali? Apakah kau menjadi bimbang untuk menikahi Desi? Sebaiknya kau pikirkan dulu dengan matang, jangan sampai menyakiti hati wanita lain! Apalagi Desi adalah gadis yang baik," jelas Zay sambil menepuk pundak pria itu.


Max terdiam mendengar ucapan bosnya, apa yang dikatakan Zay memang ada benarnya. Dia harus memikirkan secara matang tentang perasaannya. Apalagi dia juga sudah melamar Desi, dan besok pria itu akan mendapatkan jawaban dari Desi.


"Apa kau tidak jadi melamar Desi?" tanya Zay dengan alis bertaut dan tatapan menyipit ke arah Max.


"Jadi, kemarin aku sudah lamarnya. Dan dia meminta waktu tiga hari, besok adalah penentuan, apakah dia akan menerima lamaranku atau tidak," jawab Max.


"Lalu, jika dia menerima lamaranmu, sedangkan sekarang Anggi sudah kembali, apa yang akan kau lakukan? Keputusan ada di tanganmu, Max! Jangan sampai kau salah dalam mengambilnya. Di sini ada hati Desi yang sedang kau pertaruhkan, dan jika kau kembali ke Anggi, tentu saja dia akan sakit hati saat jawabannya akan menerima lamaranmu," jelas Zay.


Max memijit keningnya yang terasa pusing, kemudian Zay mengajaknya untuk ke kediaman Bachtiar, karena mereka akan mengadakan makan siang bersama.


Pria itu pun mengangguk, kemudian mereka pergi keluar dari kantor untuk menuju rumah mertua Zay. Di mana Di sana juga sudah ada Desi, karena sekarang wanita itu tinggal di kediaman Bachtiar menemani Dea.


Sesampainya di sana, semua orang sudah berkumpul, termasuk juga Dev dan mama Linda. Max menatap dengan lekat ke arah Desi yang tengah menyiapkan makanan.


Mereka pun mulai menyantap makan siang, masakan dari Desi dan juga Dea. "Gimana makanannya, enak gak?" tanya Dea di sela-sela makan siang mereka.


"Enak sayang, ini siapa yang masak capcay sama gurame bakarnya?" tanya Dev.


"Ini yang masak capcay sama gurame bakar itu adalah Desi. Mama nggak nyangka, ternyata dia jago sekali dalam memasak. Mungkin nanti setelah menikah, suaminya pasti akan sangat beruntung, karena memiliki istri seperti Desi yang jago sekali mengenyangkan perut suami," puji Dea sambil menatap ke arah Desi.


Sementara yang ditatap hanya menundukkan wajahnya dengan malu, dan Max yang mendengar itu ikut tersenyum. Memang benar apa yang dikatakan oleh Dea, masakan Desi sangat lezat.

__ADS_1


'Zay benar, aku harus memutuskan, keputusan apa yang harus ku ambil agar tidak ada hati yang tersakiti,' batin Max.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2