
Happy reading.......
"Oh iya, Mama lupa mengabarkan, semalam itu nenek nelpon, katanya kakek di sana sedang sakit. Jadi besok lusa kita akan pergi ke kampungnya Mama, untuk menengok keadaan kakek. Dan kamu Zay sama Berlian ikut juga ya ke sana! Kamu juga sayang," ucap Dea sambil melirik ke arah Berlian dan juga Desi.
"Tapi Mah, aku sama Berlian 'kan mau bulan madu ke Paris?" ujar Zay.
"Hei! Bulan madu di kampung Mamah itu lebih menyenangkan,. ketimbang bulan madu ke Paris Kalau ke sana mah bisa ditunda dulu. Kemarin 'kan kakek dan nenek tidak datang ke pernikahan kalian, jadi sekarang kalian yang harus ke sana!" jelas Dea.
Zay akan kembali protes, tapi istrinya segera menggenggam tangan pria tersebut, sambil menggelengkan kepalanya.
"Om suami, kita ke sana dulu ya. Nanti baru ke Paris. Lagi pula, kasihan kakek lagi sakit. Emangnya Om suami nggak mau melihat keadaannya kakek? Jahat banget!" Berlian merajuk sambil memanyunkan bibirnya.
Melihat wajah merajuk istrinya, ingin sekali rasanya Zay melahap langsung bibir manis tersebut, tetapi dia ingat, jika di sana banyak orang. Jadi sekuat tenaga mantan duda tersebut menahannya.
"Benar, belah duren juga di sana bisa. Jangan lupa, di kampung mamanya Berlian itu banyak sekali sawah. Jadi kalau mau suasana yang baru, di tengah sawah juga boleh," celetuk Dev.
Dea yang mendengar itu segera mencubit pinggang suaminya, membuat Dev terkekeh kecil. Begitupun dengan mama Linda, om Erwin, Desi dan juga Max. Mereka semua tertawa saat mendengar gurauan dari Dev.
"Papa, Mama, kalau ngomong ada-ada aja. Mana bisa main di tengah sawah? Yang ada tuh mandi lumpur," jawab Berlian dengan kesal.
"Iya, 'kan siapa tahu sambil nanam padi mau sambil goyang ngebor? Iya nggak, Mah?" ledek Dev sambil menaik turunkan alisnya ke arah Dea.
"Sudah, sudah. Ini lagi di meja makan, kok ngomongnya ngelantur? Belah duren, belah nangka, lama-lama jadi belah keong!" timpal mama Linda sambil menggelengkan kepalanya dengan heran.
Setelah acara makan siang selesai, saat ini semua tengah berkumpul di ruang tamu, termasuk juga Desi dan Max. Tapi seketika wanita itu beranjak dari duduknya berjalan ke dapur untuk membuatkan jus.
Max yang melihat itu beralasan akan ke toilet, padahal dia ingin menemui Desi. Pria tersebut ingin berbicara kepada Desi, perihal lamarannya kemarin.
__ADS_1
"Eekhmm!" Max sengaja berdehem saat sudah dekat di belakang Desi.
Gadis itu menengok ke arah samping, dan dia melihat Max. "Tuan Max, apa ada yang dibutuhkan?" tanya Desi sambil mengupas mangga.
"Tidak ada! Aku hanya ingin di sini saja menemanimu," jawab Max sambil menyandarkan tubuhnya di dekat wastafel.
Desi yang diperhatikan seperti itu menjadi gugup, apalagi saat ini dia tengah mengupas mangga. Hingga tidak sadar, akhirnya tangan Desi pun teriris pisau, hingga mengeluarkan darah. Kemudian dengan cepat Max segera mengambil tangan Desi lalu menghisapnya.
"Kenapa tidak hati-hati sekali? Lihat, tanganmu terluka 'kan!" panik Max, kemudian dia menyiram luka Desi hingga membuat wanita itu sedikit meringis menahan perih.
"Tunggu di sini! Aku akan mengambil kotak P3K dulu," ujar Max. Kemudian dia pergi meninggalkan Desi, lalu mengambil kotak P3K yang sudah di beritahu oleh pelayan.
Dengan telaten, Max mengobati luka wanita tersebut. Bahkan pria itu dengan lembut meniupnya saat melihat Desi meringis menahan sakit.
"Sudah siap! Lain kali hati-hati, jangan tanganmu yang diiris. Memangnya kau tidak sayang? Lihat, badanmu saja sudah kerempeng. Kalau sampai tanganmu diiris, apa kau mau tinggal tulang?" celetuk Max.
"Apa yang ada dagingnya? Hanya bagian depan dan belakang saja!" ledek Max. "Kau itu harusnya makan yang banyak, kalau bisa sebakul," sambungnya lagi.
Desi yang mendengar itu tentu saja merasa kesal, kemudian dia mencubit pinggang Max, hingga membuat pria itu sedikit mengaduh kesakitan.
"Berani ya main cubit-cubitan. Sini gantian," ujar Max sambil menggelitik tubuh Desi.
Keduanya pun main perang cubit-cubitan satu sama lain, hingga mereka tidak sadar, jika saat ini Desi sedang membuat jus..Para pelayan pun tidak berani untuk menghentikan aksi mereka, semua yang ada di sana hanya diam sambil tertawa saja saat melihat pria sedingin Max mampu bersikap hangat kepada seorang wanita.
"Eekhm! Bilangnya mau ke toilet, yang satu bilangnya mau bikin jus. Ternyata malah asik pacaran di dapur?" ledek Zay sambil menyandarkan tubuhnya di tembok, dan melihat ke arah Max dan juga Desi yang saat ini tengah menatapnya dengan malu.
Wanita itu pun langsung kembali mengerjakan tugasnya untuk membuat jus. Sementara Max merapikan jasnya yang sedikit berantakan, kemudian dia berjalan ke arah kulkas dan mengambil air dingin.
__ADS_1
Zay yang melihat itu hanya terkekeh kecil. Padahal tadi keduanya sedang bercanda sambil main cubit-cubitan, tapi saat dirinya datang dan meledek mereka, keduanya malah terlihat canggung.
"Kalian ini macam ABG saja! Emang ABG ya, lupa aku." Kemudian dia pergi kembali ke ruang tamu, setelah puas meledek dua orang tersebut.
Pipi Desi sudah merona malu, dia merutuki kebodohannya sendiri, karena tidak mengenal tempat. Apalagi di sana ada beberapa banyak pelayan.
.
.
Sesampainya di kantor, Max dan juga Zay langsung menuju ruangannya masing-masing, karena satu jam lagi mereka akan meeting di luar kantor bersama dengan perusahaan yang dipimpin oleh Pak Hendar.
"Apa kau sudah siap untuk bertemu Anggi lagi? Aku penasaran, wanita itu sekarang seperti apa? Dulu 'kan dia sangat biasa, tapi kau begitu tergila-gila kepadanya?" ledek Zay saat sudah berada di dalam mobil.
Max tidak menjawab ucapan pria itu, sebab dia masih merasa ragu tentang perasaannya kepada Anggi. Dia masih memantapkan hatinya jika nanti bertemu Anggi lagi, apakah perasaan itu masih sama atau tidak.
"Ingat Max! Kau ini adalah seorang laki-laki, dan harus tegas pada diri dan juga hatimu sendiri. Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari, putuskan sebelum Desi memberikan jawaban kepadamu besok!" timpal Zay kembali.
"Yaah, aku sedang memikirkan semuanya," jawab Max dengan nafas yang berat.
Mereka pun sampai di restoran, dan di sana sudah ada Pak Hendar dan juga Anggi yang sedang menunggu mereka berdua. Dan selama meeting di mulai, Anggi terus saja menatap ke arah Max, dia benar-benar mengagumi pria tersebut.
'Kenapa dulu aku menolaknya? Seharusnya saat dia menyatakan perasaan kepadaku, aku menerimanya dengan lapang dada. Sekarang aku menyesal. Apakah dia masih mencintaiku? Sepertinya, dia memang masih menyimpan rasa kepadaku? Aku harus pastikan itu!' batin Anggi sambil melirik ke arah Max.
Max juga menatap ke arah Anggi, sebab dia ingin memastikan tentang perasaannya. Apakah saat melihat ke arah wanita itu, perasaan dia masih sama, jantungnya masih berdetak dengan kencang atau tidak? Tapi nyatanya getaran itu sudah tidak ada lagi dalam hati Max terhadap Anggi.
BERSAMBUNG......
__ADS_1