Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
Nyonya Leonardo Osmond


__ADS_3

Happy Reading....


Sesampainya mobil Dev di sebuah restoran, mereka ber-empat pun turun. Dan Berlian seakan ragu, namun Dea segera menggenggam tangan putrinya. Lalu mengangguk-kan kepala sambil tersenyum, mencoba memberi semangat kepada gadis itu.


Dengan langkah perlahan, mereka masuk ke dalam restoran. Dan di sana sudah ada Zayden bersama dengan Om Darwis yang terlebih dulu sampai. Lalu mereka pun berjabat tangan satu sama lain.


''Maaf ya, jika menunggu lama,'' ucap Dev merasa tak enak kepada Om Darwis dan juga Zayden.


''Tidak papa, santai saja. Kami juga baru sampai kok, ayo duduk!'' ucap Om Darwis mempersilahkan Dev dan keluarganya untuk duduk.


Sementara itu, Zayden terus aja menatap kearah Berlian. Sedangkan yang di lihat hanya menunduk dan mengalihkan penglihatan nya ke arah lain. Dia malas jika harus bertatapan dengan pria itu.


Tak lama makanan pun datang, dan mereka mulai menyantap makanan itu diselingi canda tawa dan gurauan yang kecil. Sementara Berlian hanya diam saja, sambil sesekali tersenyum canggung.


''Mah, Pah, Oma, Om. Berlian pamit ke toilet sebentar ya,'' ucap gadis itu karena dia merasa tidak nyaman, sebab Zayden teruss aja memperhatikan dirinya dan mencuri curi pandang ke arahnya.


Setelah sampai di toilet, Berlian menghembuskan nafasnya dengan kasar sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Dia heran, kenapa Zayden terus aja menatap dirinya dan itu membuat Berlian benar-benar tidak nyaman.


''Dasar duda mesuum. Apa sih yang dilihat dari aku? Dari tadi ngeliatin terus, dikiranya aku ini badut apa?'' gerutu Berlian sambil mencuci tangan.


KLEK.


Tiba-tiba saja pintu toilet tertutup, dan saat Berlian melihat ke arah samping ternyata di sana sudah ada Zayden. Memang pria itu tadi izin ke toilet sebentar, karena dia ingin berbicara dengan Berlian.


''Mau apa kamu, ke toilet wanita? Keluar!'' usir Berlian dengan nada yang sedikit takut. Karena melihat Zayden berada di toilet wanita, apalagi dia itu mengunci pintu toilet.

__ADS_1


Zayden tersenyum menyeringai ke arah Berlian, sambil terus berjalan mendekat pada gadis itu. Dan Berlian yang melihat itupun tentu saja mundur, hingga


tubuhnya mentok di dinding samping wastafel.


''Aku terus memperhatikanmu, karena kamu memang sangat cantik. Jika kamu merasa tidak nyaman, aku minta maaf, tapi entah apa yang ada dalam dirimu, sampai sampai wajahmu tidak bisa hilang dari ingatan ku,'' ucap Zayden ambil mengungkung tubuh Berlian di tembok.


''Se-baiknya ka-kamu pergi dari sini, seb-elum aku teriak!'' ancam Berlian dengan suara yang sedikit harbata, karena dia merasa takut jika Zaydenn melakukan hal yang tidak senonoh kepadanya.


Pria itu melepaskan kungkungan-nya, kemudian dia berbalik hendak menuju pintu toilet, tetapi sebelum itu dia memalingkan wajahnya dan menatap Berlian dari sudut ekor matanya.


''Pernikahan itu akan terjadi. Maka kamu harus bersiap untuk menjadi Nyonya Leonardo Osmon!'' tegas Zayden sambil keluar dari toilet.


Berlian tentu saja tercengang mendengar ucapan Zayden, lalu dia pun berkata, ''Jangan mimpi! Kalaupun pernikahan itu terjadi, aku tidak akan pernah mencintaimu!'' Berlian berkata dengan sedikit nada berteriak, agar pria itu mendengar ucapannya.


Setelah selesai, Berlian kembali ke meja makan dan meneruskan makan malamnya. Namun, dia masih menatap Zayden dengan tatapan tidak suka.


''Baiklah, karena makan malam sudah selesai. Bagaimana kalau kita bicara pada intinya saja?'' tanya Om Darwis membuka pembicaraan, saat makan malam telah usai.


''Iya Om, saya setuju,'' timpal Dev sambil mengelap mulutnya.


Sedangkan Berlian hanya mendesaah dengan kecil. Rasanya menolak pun sudah tidak ada guna lagi, jadi dia hanya bisa pasrah, menerima pernikahan itu. Walau pada akhirnya dia tidak tahu, pernikahan seperti apa yang akan dijalani bersama dengan Zayden. Dan rumah tangga mereka akan seperti apa ke depannya.


''Karena kita sudah sama-sama tua, dan aku juga hanya memiliki satu orang putra. Bagaimana kalau kita adakan acara pernikahan itu, dua bulan lagi? Aku rasa itu cukup untuk tahap pengenalan antara Zayden dan juga Berlian. Menurutmu bagaimana, Dev?'' tanya Om Darwis kepada Dev.


Pria itu menatap kearah Dea. Dan istrinya yang di tatap seperti itu pun hanya mengangguk kecil, tanda jika ia setuju dengan ucapan Om Darwis.

__ADS_1


''Baiklah, kalau begitu kita adakan acara pernikahannya dua bulan lagi. Dan mulai dari sekarang, semua akan diurus oleh Dea dan juga Mama Rose,'' jawab Dev sambil menggenggam tangan Dea.


Berlian tentu saja sangat kaget saat mendengar ucapan dari Papanya dan keputusan dari Om Darwis. Dia pun mencoba untuk protes, ''Pah, kok dua bulan lagi? Memangnya cukup jika tahap pengenalan waktunya se-singkat itu?'' tanya Berlian mencoba untuk bernegosiasi dengan Dev dan juga Om Darwis.


Dea langsung menggenggam tangan Berlian.


''Sayang, dua bulan itu waktu yang cukup untuk pengenalan kalian. Lagi pula, setelah menikah kalian akan memahami satu sama lain. Cinta juga akan datang seiring berjalannya waktu. Jadi selama dua bulan itu, Mama serta Oma akan menyiapkan semua kebutuhan untuk pernikahan kalian. Dan setelah kamu wisuda, pernikahan itu akan segera dilangsungkan,'' jelas Dea sambil tersenyum ke arah putrinya.


''Tapi Mah--''


''Yang dikatakan Mamamu benar, Berlian. Cinta itu akan datang seiring berjalannya waktu. Mama dan Papa saja saling mencintai, setelah kami menikah. Karena kami juga dijodohkan. Tidak semua perjodohan itu membuahkan kegagalan,'' timpal Dev mencoba untuk memberi pengertian juga kepada putrinya.


Berlian hanya menunduk pasrah. ''Baiklah, jika itu sudah keputusannya Mama dan Papa. Berlian ikut saja,'' jawab Berlian dengan nada yang lesu.


Sementara Zayden tersenyum puas saat melihat wajah pasrah milik calon istrinya. Bagi pria itu, wajah Berlian begitu imut saat terlihat sedang kesal.


'Dia benar-benar seperti Tinatoon, memiliki pipi yang chubby dan juga wajah yang menggemaskan,' batin Zayden sambil tersenyum tipis.


Setelah menetapkan tanggal dan juga bulan untuk pernikahan Berlian dan Zayden, mereka pun pulang ke rumah. Sementara Berlian hanya diam saja, dia pasrah dengan keputusan orang tuanya. Karena membantah pun Berlian tidak sanggup, sebab surganya masih terletak pada sang ibu.


Tugas seorang anak adalah menuruti perintah orang tuanya, jika itu untuk kebaikan hidupnya, tapi jika untuk keburukan maka seorang anak wajib untuk menolak. Itu kenapa, Berlian hanya diam saja. Karena bagi Berlian, permintaan orang tuanya bukanlah hal yang buruk, walaupun Berlian tidak setuju.


''Sepertinya aku akan susah untuk mencintai dia. Melihat wajahnya saja, membuatku kesal. Dan aku yakin, jika dia akan selalu membuatku kesal?'' gumam Berlian dengan lirih, saat dia sudah sampai di dalam kamar.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2