
Happy reading.......
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, mereka pun sampai di kampungnya Dea. Dan hari juga sudah mulai memasuki waktu maghrib, mereka disambut hangat oleh keluarga Dea.
"Alhamdulillah, akhirnya kalian datang juga. Tadinya Ibu pikir, kamu tidak jadi ke sini, Nak," ucap bu Siti sambil memeluk tubuh Dea.
"Mana mungkin Dea tidak ke sini, Bu? 'Kan Ayah sedang sakit," jawab Dea sambil menitikan air mata, kemudian dia kembali memeluk tubuh ibunya.
Sudah hampir satu tahun, Dea tidak pulang ke kampung. Karena dia juga mulai disibukkan dengan pekerjaan, dan wanita itu begitu merindukan kedua orang tuanya..Dan saat mendengar jika sang ayah sedang sakit, tentu saja dia merasa sedih makannya dia langsung pulang ke sana.
"Jeng Linda, apa kabar?" tanya bu Siti sambil memeluk besannya.
"Alhamdulillah, kabar saya baik. Ibu sendiri dan keluarga, bagaimana kabarnya?" tanya mama Linda.
"Alhamdulillah, kami sekeluarga juga baik. Ayo masuk! Ini sudah mau magrib. Sebentar lagi adzan, tidak baik jika kita berada di luar rumah," ucap bu Siti mengajak semua orang untuk masuk.
Setelah itu, bu Siti dan juga Susi membuatkan makanan dan menghidangkan beberapa cemilan khas di kampungnya Dea, kemudian mereka juga berkenalan dengan Desi dan juga Max.
Sedangkan Dea sedang berada di kamar, melihat sang ayah yang sedang terbaring lemah dengan selimut tebal yang menyelimuti tubuhnya. Wanita itu tidak henti-hentinya menitikan air mata, saat melihat pahlawan dalam hidupnya tengah terbaring lemah sambil menggigil kedinginan.
"Ayah, 'kan Dea sudah bilang, jangan terlalu diforsir tenaganya. Jika sudah sakit begini, bagaimana? Ayah tega membuat Dea sedih?" ucap wanita itu sambil terus menghapus air matanya. Namun tetap saja, cairan bening itu lolos tanpa bisa dihentikan.
"Anak Ayah sudah datang? Tidakkah kamu tahu Nak, Ayah begitu merindukanmu," jawab Ayah Rozak dengan suara sedikit bergetar, karena kedinginan.
Dea benar-benar tidak tega melihat keadaan ayahnya, kemudian dia pun memeluk tubuh pria yang saat ini sudah hampir menginjak kepala tujuh itu.
"Jangan sakit Ayah! Jangan membuat Dea sedih. Apakah Ayah tidak ingin melihat cucu Ayah, mempunyai cicit? Ayah harus sembuh. Saat ini Berlian dan juga suaminya sudah ada di sini. Ayah ingin bertemu dengan mereka, tidak?" tanya Dea dengan suara yang sudah purau.
"Di mana cucu, Ayah Nak? Ayah ingin bertemu dengannya," ucap ayah Rozak.
__ADS_1
"Biar aku panggilkan mereka ya," ujar Dev sambil keluar dari kamar.
Kemudian dia memanggil Berlian dan juga Zay untuk ke kamar, bertemu dengan ayah Rozak. Wanita itu langsung mencium tangan kakeknya, dan memeluk tubuhnya
Sementara satu tangan ayah Rozak mengusap kepala Berlian, begitupun dengan Zay. Pria itu juga mencium tangan ayah Rozak. Dia baru bertemu pertama kali dengan keluarga dari mertuanya
"Maafkan kakek ya, Nak. Kemarin tidak bisa datang ke pernikahanmu. Apakah kamu bahagia menikah dengan suamimu? Kakek harap, rumah tanggamu selalu dilimpahkan kebahagiaan dan keberkahan. Jangan pernah melawan atau berbicara dengan nada tinggi kepada suamimu! Sebab, dia adalah surgamu," kata ayah Rojak kepada Berlian.
"Iya Kek, Insya Allah Berlian akan menjaga martabat sebagai seorang istri, dan menghormati Om suami sebagai surga dan juga Imam Berlian," jawab wanita itu.
"Max, hubungi Dokter suruh ke sini! Bidan ataupun Mantri, siapapun untuk mengobati mertuaku!" titah Dev kepada Max.
"Baik Tuan," jawab Max.
.
.
"Pak Mantri, bagaimana keadaan Ayah saya?" tanya Dea kepada Mantri yang sudah selesai memeriksa keadaan ayah Rozak.
"Asam uratnya kambuh lagi, ditambah beliau juga telat dalam sarapan, dan di umurnya sekarang, seharusnya Pak Rozak tidak melakukan pekerjaan yang berat," jelas Mantri kepada Dea.
Dev yang mendengar itu tentu saja merasa bersalah, karena kedua mertuanya harus bekerja dalam usia yang sudah tidak muda lagi. Kemudian dia mempunyai ide, agar mertuanya tidak harus bekerja dengan capek untuk sesuap nasi.
Setelah makan malam selesai, dan ayah Rojak juga sudah meminum obat. Saat ini semua tengah berkumpul di ruang tv, sementara itu Desi sedang berada di luar, menatap bintang-bintang sambil mendengarkan musik di telinganya.
Dia tidak menyangka, jika suasana di kampungnya Dea begitu sangat menyejukkan ketika di malam hari. Bahkan di sana terasa dingin, walaupun tanpa AC ataupun kipas. Karena masih sangat Asri dikelilingi pohon-pohon.
Saat matanya terpejam, dia merasakan seseorang duduk di sampingnya, dan saat menengok, ternyata itu adalah Max. Pria itu tadi keluar menyusul Desi, karena takut terjadi apa-apa pada wanita itu.
__ADS_1
"Tuan, kenapa Anda keluar? Di sini banyak nyamuk," ujar Desi sambil mengeratkan tangannya.
"Tidak apa-apa, nyamuk aja takut kepadaku. Kalau mereka berani menghisap darahku, maka akan aku sate mereka satu persatu!" tutur Max.
Desi yang mendengar itu terkekeh kecil. Dia tidak menyangka, jika Max pandai bercanda. Hingga tawanya harus terhenti, saat Max memanggil dirinya.
"Desi, kau belum menjawab pertanyaanku," ujar Max.
Desi teringat, jika memang dia belum memberikan jawaban kepada pria tampan tersebut. Kemudian wanita itu menatap lurus ke arah langit, di mana saat ini bintang-bintang tengah bertaburan dengan Indah, apalagi ada bulan purnama yang begitu terang di atas sana.
"Apa yang Tuhan lihat dariku? Aku ini hanyalah orang biasa, tidak memiliki apapun. Bahkan keluargaku hanya seorang petani," ucap Desi tanpa menengok ke arah Max sedikitpun.
"Aku tidak peduli soal itu. Karena di sini hatiku yang memilih. Jadi bagaimana? Apa jawaban yang kau berikan kepadaku?" tanya Max.
Sejenak Desi terdiam, kemudian dia memejamkan matanya, lalu menatap ke arah pria tampan yang saat ini tengah duduk di sampingnya.
"Iya Tuan, Insya Allah saya akan menerima lamaran Tuan Max, jika memang bukan dari harta dan kasta yang dilihat," jawab Desi dengan wajah menunduk malu.
Untung saja keadaan di sana cukup gelap, sehingga wajah Desi tidak terlihat jelas. Mungkin jika ada lampu, sudah sangat terlihat wajah wanita itu merona malu bagaikan kepiting rebus.
"Benarkah? Berarti kamu menerima lamaranku?" tanya Max dengan wajah yang sumringah.
Desi menganggukkan kepalanya, dan itu membuat Max benar-benar bahagia. Dia berjanji, tidak akan pernah menyakiti Desi dan akan setia pada wanita itu. Kemudian Max menggenggam tangan Desi, membuat gadis itu sedikit malu.
"Aku berjanji, akan terus menjagamu, mencintaimu dan menyayangimu. Semoga kita bisa seperti Tuan Dev dan juga Nyonya Dea, tidak terpisahkan," ujar Max.
"Aamiin," jawab Desi.
"Hei! Jangan pacaran di tempat yang gelap. Nanti ada yang ketiga, yaitu setan. Masuk! Kalian ini pacaran kok di tempat yang gelap? Ayo masuk! Nanti ditotol nyamuk baru tahu," ujar Zay saat keluar rumah dan melihat Desi dan Max sedang duduk di halaman.
__ADS_1
"Sirik aja Pak duren. Sono mendingan belah aja semangka istrinya, jangan urusin orang pacaran!" jawab Max dengan kesal, karena momen romantisnya diganggu oleh Zay.
BERSAMBUNG.....