Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
Gaya Kodok


__ADS_3

Happy reading.....


Desi terdiam, dia menimbang-nimbang apakah akan menerima lamaran dari Max atau tidak. Karena pernikahan itu bukanlah sebuah mainan, jadi Desi ingin memutuskannya dengan mantap.


''Bagaimana Desi?'' tanya Max kembali yang masih berlutut di hadapan wanita itu.


''Berikan aku waktu tiga hari saja, untuk berpikir. Karena menikah bukanlah permainan. Aku hanya ingin menikah dengan seorang pria satu kali seumur hidup. Jadi harus memutuskannya dengan matang,'' jawab Desi.


Max beranjak lalu duduk kembali di samping Desi tanpa melepaskan tautan tangannya, kemudian pria itu mengangguk.


''Tidak masalah! Aku akan menunggu. Memang pernikahan itu bukanlah hal yang main-main, dan aku akan memberikan waktu untuk berpikir. Aku harap, jawabannya sesuai apa yang kuinginkan,'' jelas Max.


Desi tersenyum, tapi tiba-tiba saja hujan mulai turun tanpa permisi terlebih dahulu. Kemudian dengan cepat mereka berjalan ke arah mobil, bahkan Max sampai membuka jasnya untuk dipayungkan ke kepala dia dan juga Desi.


Melihat itu tentu saja Desi begitu terharu. Dia tidak pernah diperlakukan semanis itu oleh pria. Jantungnya dari tadi bahkan tidak henti berdetak kencang, ketika berada di sisi pria tampan tersebut.


''Perasaan tadi cuaca cerah, kenapa tiba-tiba saja hujan? Kenapa tidak telepon dulu, kalau mau hujan?'' gerutu Max sambil menyalakan mesin mobilnya.


Desi yang mendengar itu malah tertawa kecil. Dia tidak menyangka, jika Max itu begitu humoris. Mana mungkin bisa hujan menelpon manusia? Bahkan langit pun sudah memberitahukan jika mereka akan menurunkan air dari atas, dengan cuaca yang mulai mendung.


''Sebenarnya hujan itu sudah menelpon loh, hanya saja mungkin tadi kamu tidak mengangkatnya,'' ujar Desi sambil terkekeh kecil.


*S*epertinya hujan mewakili perasaanku yang sedikit sedih, karena Desi masih belum memberikan jawaban kepadaku. batin Max.


Setelah mengantarkan Desi ke kediaman Bachtiar, Max melajukan mobilnya menuju kantor. Karena saat ini pekerjaannya benar-benar banyak, sebab Zay belum masuk. Dia masih menikmati masa hangat-hangatnya sebagai pengantin baru.


Itu sebabnya pekerjaan dilimpahkan semuanya kepada Max, karena dia adalah asisten pribadi dari Zay.


''Permisi Tuan Max,'' ucap seorang wanita sambil mengetuk pintu ruangan pria tampan tersebut.


''Iya, kenapa?'' tanya Max pada wanita yang menjadi sekretarisnya.


''Sebentar lagi kita akan ada meeting, saya sudah menyiapkan semuanya. Apakah kita akan berangkat sekarang?'' tanya Lulu.

__ADS_1


''Iya, kita berangkat sekarang,'' jawab Max dengan suara yang dingin.


Kebetulan mereka akan meeting dengan salah satu perusahaan di sebuah Cafe, dan di sana juga sudah menunggu.


''Apa Pak Hendarnya datang?'' tanya Max kepada Lulu.


''Tadi saya dikabarkan, jika yang mewakili Pak Hendar adalah sekretarisnya, Pak. Sebab Pak Hendarnya sedang ada halangan, jadi tidak bisa hadir,'' jelas Lulu.


Max menganggukkan kepalanya, setelah itu tidak ada lagi pembicaraan sampai mobil berhenti di sebuah Cafe. Kemudian mereka pun turun dan berjalan ke arah meja di mana kliennya sudah menunggu.


''Maaf Nona, jika kami datang cukup lama,'' ucap Lulu kepada seorang wanita yang saat ini tengah duduk membelakanginya.


Wanita itu berdiri, kemudian membalik badannya, tapi seketika tatapannya membulat kaget saat melihat Max. Begitupun dengan pria tersebut, dia juga hanya diam dengan tatapan yang terkejut, melihat ke arah wanita cantik itu.


''Max!'' kaget wanita itu.


.


.


Akan tetapi, dia tidak melihat keberadaan Zay. Berlian pikir, mungkin saja suaminya sedang berada di ruang kerja. Karena kebetulan ruang kerja dan juga kamarnya bersebelahan.


Wanita itu pun masuk ke dalam kamar mandi tanpa menguncinya, kemudian melepas baju satu persatu, lalu mulai mengguyur tubuhnya di bawah air shower.


Sementara itu Zay baru saja habis dari dapur, dan dia masuk ke dalam kamar tetapi tidak menemukan Berlian. Namun seketika telinganya mendengar seseorang sedang bernyanyi di dalam kamar mandi.


Senyuman terukir di wajah tampan pria tersebut, lalu dia berjalan ke arah kamar mandi dan membuka pintu itu dengan perlahan, dan ternyata tidak terkunci.


''Istri kecilku ini memang benar-benar ceroboh. Jika pria lain yang masuk, bagaimana?'' gumam Zay dengan heran sambil menggelengkan kepalanya.


Saat dia masuk ke dalam, pria itu meneguk ludahnya dengan kasar, saat melihat tubuh polos istrinya tengah berdiri di bawah guyuran air shower. Apalagi tubuh mulus itu tersiram air shower, membuatnya terlihat begitu seksi.


'Ya ampun, alamat olahraga siang ini mah.' batin Zay.

__ADS_1


Lalu dia membuka bajunya satu persatu, kemudian berjalan mendekat ke arah sang istri dan memeluk tubuh wanita itu dari belakang.


''Astagfirullah!'' kaget Berlian saat merasakan seseorang memeluk tubuhnya, dan ternyata itu adalah Zay.


''Jika ingin mandi, pintu tuh dikunci dulu. Kebiasaan,'' ucap Zay dengan suara yang serak disamping telinga Berlian.


Wanita itu meneguk ludahnya dengan kasar, saat merasakan sesuatu di bawah sana yang tengah menusuk-nusuk bagian belakangnya. Dia tahu, benda apa itu. Kemudian Berlian membalikan badannya dan mengalungkan tangannya di leher pria tampan tersebut.


''Kalaupun tidak dikunci, kenapa Om suami masuk? Emangnya tidak lihat, jika aku sedang mandi?'' jawab Berlian sambil memanyunkan bibirnya.


Melihat itu Zay benar-benar tidak bisa menguasai dirinya lagi. Lalu dia mulai menyatukan bibir mereka, dan mulai memberikan permainan kecil dengan lidahnya.


Sementara Berlian hanya menutup mata sambil mengalungkan tangannya di leher kekar Zay. Dia menikmati setiap sentuhan suaminya, karena menolak pun adalah dosa bagi seorang istri.


Sementara satu tangan pria tampan itu sudah bergerilya ke tempat, di mana seharusnya dia melakukan permainan. Sehingga membuat istrinya menggelinjang geli.


Pemanasan demi pemanasan dilakukan oleh Zay, hingga pada akhirnya mereka pun berakhir dengan olahraga di siang hari, tetapi bedanya, kali ini mereka melakukannya dengan gaya berdiri.


satu jam 30 menit, mereka berada di sana, dan saat ini Berlian baru saja selesai mengganti bajunya. Tetapi tetap saja, wajah wanita itu cemberut karena dia merasa kesal kepada suaminya.


''Kenapa ditekuk seperti itu sih, sayang? Seharusnya 'kan habis belah duren itu kamu tersenyum? Kenapa malah cemberut?'' tanya Zay sambil memeluk tubuh Berlian.


''Gimana aku nggak kesal. Apa enaknya gaya berdiri? 'Kan aku tadi sudah bilang, lebih baik dilanjutkan di ranjang saja. Kenapa masih terus berdiri? Sakit tahu pahanya diangkat terus ke atas! Dipikirnya aku ini lem karet apa? Bisa diangkat ke atas, dimiringin lagix tinggal sekalian aja kita lakuin gaya kodok sambil loncat-loncat?'' kesal Berlian.


Zay yang mendengar itu tidak bisa lagi menahan tawanya. Dia tidak bisa membayangkan, bagaimana mereka melakukan belah duren dengan gaya loncat-loncat. Gaya berdiri saja sangat susah, apalagi harus gaya seperti itu.


''Daripada gaya kodok, mendingan gaya Tarzan? Sambil gelantungan sambil belah nangka, ya nggak?'' goda Zay.


Berlian yang kadung kesal, segera mencubit pinggang pria itu. Lalu meninggalkan Zay keluar dari kamar untuk menuju dapur. Dia akan membuat jus yang begitu dingin, untuk menjernihkan otaknya yang saat ini terasa begitu panas.


''Ya ampun, kelinci kecilku itu benar-benar sangat lucu. Ingin sekali aku membelah durennya seharian, tidak kulepaskan sama sekali.'' Zay berkata sambil tertawa kecil saat melihat istrinya sedang menahan kesal.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


om dudanya udah kelewat karatan iniπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2