Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
20 Anak


__ADS_3

Happy reading.....


Berlian yang mendengar itu pun tersenyum sinis sambil menatap wanita seksi yang ada di hadapannya. Kemudian dia menyandarkan pundaknya di dada bidang sang suami, lalu melingkarkan salah satu tangannya ke leher Zay.


"Memangnya kenapa, kalau saya biasa saja? Anda rugi? Apakah mata Anda sakit? Saya rasa, tidak ada hubungannya, mau saya biasa kek, mau saya glamour, atau mau saya cantik, mau saya seksi, nggak ada tuh sangkut pautnya sama Anda! Lagi pula, Anda ini siapa? Datang-datang kayak jelangkung, nggak diundang lagi, gangguin orang makan aja. Memangnya Anda ini mau disamain dengan nyamuk? Ganggu orang pacaran, nggak iri?" Berlian berkata dengan nada yang tenang, namun terkesan sangat sinis.


"Sayang, dia siapa sih? Datang-datang kok marah-marah nggak jelas? Jangan-jangan, salah satu mantan kamu ya!" tebak Berlian.


"Bukan. Dia Yolanda, salah satu mantan sekretarisku," jawab Zay dengan datar sambil meminum minumannya.


"Oalah ... mantan sekretaris. Pantes aja genit. Aduuh, Mbak, sebaiknya pergi dia dari sini! Daripada gangguin orang pacaran, yang ada jadi kacang loh, nggak enak!" usir Berlian.


Yolanda terlihat kesal saat mendengar ucapan wanita itu. Dia merasa terhina, tapi tidak mungkin menjambak jilbab Berlian di hadapan Zay.


"Aku doakan, rumah tangga kalian tidak akan langgeng," ujar Yolanda sebelum dia bangkit dari duduknya.


"Terima kasih Mbak doanya, tapi awas kemakan sendiri sama omongan," ledek Berlian.


Setelah itu Yolanda pergi dari sana meninggalkan meja tersebut dengan hati yang kesal. Dia memang sedari dulu suka kepada Zay, dan semasa dia bekerja dengan pria itu, Yolanda selalu saja mencari cara untuk menggoda Zay. Akan tetapi, pria itu tidak goyah sama sekali.


Pernah satu kali Yolanda memasukkan obat perangsaang kepada minuman bosnya, yaitu Zay. Dia pikir, pria tersebut akan terpengaruh dan menyentuhnya. Akan tetapi, Zay malah masuk ke dalam kamar mandi mengguyur tubuhnya hingga dua jam, dan setelah itu Yolanda dipecat.


Berlian terlihat begitu kesal, karena kedatangan Yolanda. Bagaimana tidak? Tadinya mereka hidup adem dan tentram, tapi tiba-tiba saja ada wanita sundal yang datang.


"Aku tuh heran deh sama kamu Om suami. Kenapa sih banyak banget simpenannya? Artis bukan, aktor Bollywood, Hollywood juga bukan? Tapi kenapa ya, banyak banget wanita yang menggilai kamu, Om? Heran aku. Tampan juga masih dibilang standar?" bingung Berlian sambil mengetuk dagunya sendiri.


Zay yang mendengar penuturan sang istri pun menyentil kening Berlian dengan gemas, membuat wanita itu merengut kesal dan menatap Zay, "Om suami, kenapa nyentil kening aku? Nanti kalau benjol gimana?" rajuk Berlian.


"Biarin aja, biar tambah montok jidatnya. Lagian kamu, suami sendiri kok dinamain standar? Gini-gini ketampanan aku itu Paripurna. Kalau aku nggak tampan, buat apa mereka tergila-gila dan mengejar-ngejar aku?" Zay berkata dengan PD.


Berlian yang mendengar itu pun malah tertawa. Dia merasa lucu dengan kepedean sang suami, tidak menyangka jika ternyata Zay memiliki percaya diri yang begitu tinggi.

__ADS_1


"Kenapa ketawa? Emangnya ada yang lucu? Harusnya suami itu kamu puji, bukannya malah dijatuhkan! Lagi pula, mereka itu bukan simpananku, tapi mereka semut-semut yang sedang mengejar sebutir gula," jelas Zay sambil memakan makanannya.


"Ya, semut rangrang. Lagi pula, di mataku Om itu tidak terlalu tampan, masih tampan juga Dady malahan," jelas Berlian.


"Aku kok disamain sama aki-aki!" gerutu Zay dan masih terdengar jelas di telinga Berlian.


Wanita itu pun merasa geram, kemudian dia menjewer telinga Zay, hingga membuat pria itu meringis dan beberapa pasang mata melihat ke arah mereka.


"Tadi bilang apa, aki-aki? Enak aja. Kalau Dady tahu, Abis kamu Om suami! Mau ku laporin sama Dady!" ancam Berlian.


"Jangan dong! Masa kamu dikit-dikit ngadu? Udah ah, makan aja, ntar keburu dingin nggak enak." Zay mencoba mengalah, walaupun sebenarnya dia sangat gondok pada istrinya yang senang sekali mengadu pada Dev.


.


.


Saat mereka sudah pulang ke rumah, ternyata Dev dan Dea sudah sampai. Setelah masuk ke dalam Berlian dan juga Zay langsung menuju kamar untuk membersihkan diri, karena sebentar lagi adzan maghrib juga berkumandang.


"Shadaqallahul adzim." Berlian menutup Al-quran tersebut, kemudian menciumnya beberapa kali, setelah itu menaruh kembali di atas nakas.


Lalu Berlian mencium tangan Zay, setelah itu mereka merapikan tempat shalat. Melihat Berlian sedang membereskan mukena, Zay memeluk tubuh istrinya dari belakang. Apalagi saat ini rambut Berlian tergerai dengan indah, karena dia belum memakai jilbab.


"Sayang, besok lusa kita jadikan berangkat ke Paris?" tanya Zay sambil menaruh dagunya di pundak Berlian.


"Kalau nggak jadi, ntar Om suami ngambek," jawab Berlian sambil menggelengkan kepalanya dengan heran. Kemudian mereka pun turun ke lantai bawah untuk makan malam.


Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam, dan saat ini Berlian sedang duduk menonton TV sambil bersandar di bahu kekar milik suaminya. Sedangkan Zay sedang memangku laptop dan mengecek pekerjaannya.


"Sayang," panggil Zay.


"Hhmm." Berlian hanya menjawab dengan gumaman saja.

__ADS_1


"Saat kita punya anak nanti, kamu mau punya berapa?" tanya Zay tanpa mengalihkan pandangannya ke arah laptop.


Berlian menghentikan gerakannya yang sedang menyemil makanan di toples, kemudian dia mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Zay. Sejenak mata keduanya terpaku satu sama lain, membuat Berlian merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya.


"Kalau aku sih terserah Allah saja, mau memberiku kepercayaan rezeki berapa. Karena semuanya hanya Allah yang tahu, kita hanya perlu berusaha saja," jawab Berlian.


"Kalau begitu, aku akan berusaha dengan keras supaya kita bisa menghasilkan 11 anak!" seru Zay dengan penuh semangat.


Uhuk!


Uhuuk!


Berlian malah tersedak makanannya, kemudian dia menatap ke arah Zay dengan heran tetapi terkesan mendelik.


"11 anak? Yang bener aja Om suami? Dipikir kita ini mau bikin Timnas?" protes Berlian sambil menggelengkan kepalanya.


"Iya 'kan siapa tah. Memang anak-anak kita mau jadi Timnas Indonesia? Nggak ada yang tahu 'kan. Lagi pula, banyak anak itu banyak rezeki, rumah juga sangat ramai. Kalau cuma satu dua biji aja kurang, jadi jangan tanggung-tanggung. Kalau bisa, satu kodi, 20 biji," jelas Zay.


Berlian yang mendengar itu pun merasa kesal, kemudian dia pergi meninggalkan Zay untuk tidur. Wanita itu tidak habis pikir, dikiranya dia mesin pencetakan anak, sampai bisa menghasilkan 20? Emangnya dikira zaman dulu yang bisa menghasilkan banyak anak? Sekarang untuk dapat lima saja sudah susah, apalagi harus 20 biji.


"Sayang, kamu kenapa? Kok ngambek?" tanya Zay yang melihat istrinya sedang kesal, kemudian dia menutup laptop dan menghampirinya di atas ranjang.


"Pikir aja sendiri!" ketus Berlian.


"Lah, 'kan emang bener yang aku bilang, banyak anak itu banyak rezeki? Makin ramai rumahnya kalau anaknya---"


"Emangnya Om suami pikir, aku ini kucing? Aku ini bebek, bisa bertelur dengan banyak? Heran. Aku mau tidur. Kalau mau anak sebanyak itu, cari istrinya itu yang bentuknya kucing! Dipikir aku ini mesin pencetakan anak?" kesal Berlian, kemudian dia kembali membalikan badannya dan memunggungi Zay.


BERSAMBUNG.....


20, gimana kagak marah si Berlian?🤣🤣Paj.Duda ada ada aja🤦🏼🤦🏼

__ADS_1


__ADS_2