
Happy reading...
Berlian duduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong, air matanya mengalir tanpa bisa ditahan lagi. Bagaimana mungkin dia dijodohkan dengan pria yang telah merenggut kesucian nya.
Tak lama pintu kamarnya terbuka, dan ternyata yang masuk adalah sang Mama. Dea yang melihat Berlian menangis, melangkahkan kakinya mendekat kearah ranjang. Kemudian duduk disamping putrinya. Lalu dia membawa Berlian kedalam pelukannya dan mendekapnya dengan erat.
''Mama tahu, pasti kamu kaget. Karena kamu dijodohkan dengan pria yang sudah duda bukan berstatus lajang lagi?'' ucap Dea dengan lembut sambil mengusap kepala nerlian.
Gadis itu tidak menjawab, dia hanya diam saja sambil menangis. Tidak mungkin Berlian mengatakan jika bukan karena hal itulah dia menolak perjodohan nya. Bagi Berlian, status bukanlah hal yang penting, jika pria itu bukan pacar, tunangan ataupun suami orang.
Akan tetapi, yang menjadi masalah adalah pria yang dijodohkan dengan Berlian adalah orang yang telah merenggut kesucian nya, menghancurkan hidupnya, tapi tidak mungkin dia mengatakan itu kepada kedua orang tuanya. Apalagi kepada sang Mama. Berlian tidak sanggup membayangkan, bagaimana reaksi Mamanya saat mengetahui jika Zayden telah menodai dirinya.
''Mama dan Papa yakin, jika Zayden adalah pria yang baik, pri yang bertanggung jawab. Dia juga pasti akan mencintai kamu. Cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu, Sayang. Kamu tahu, dulu Mama sama Papa juga dijodohkan oleh Oma dan juga nenek. Bahkan Mama sama sekali tidak tahu, jika Mama telah dinikahi oleh Papa. Karena waktu itu Papa melakukan ijab qobul Eopa. Dan tidak ada yang memberitahu Mama, termasuk Pakde kamu.''
Dea menghentikan ucapannya sejenak, kemudian dia melanjutkan kembali. ''Setelah menikah, Mama dan Papa tidak langsung saling mencintai, tapi seiring berjalannya waktu rasa itu mulai tumbuh. Mama serta Papa tidak tahu kapan perasaan itu muncul, tapi lama-lama cinta itu menjadi abadi. Kami saling mencintai dan melengkapi satu sama lain,'' jelas Dea sambil mengecup pucuk kepala Berlian.
Gadis itu menarik tubuhnya dari pelukan sang Mama, lalu Dea menghapus air mata Berlian.
''Bukan itu masalahnya Mah, tapi--'' Berlian menggantung ucapannya. Dia ragu untuk menceritakan kepada sang Mama jika bukan karena status dan juga masalah waktu yang menjadi kendala nya,.tetapi karena sesuatu hal yang tidak akan pernah Berlian lupakan seumur hidupnya.
''Tapi kenapa, Sayang?'' tanya Dea dengan dahi mengkerut dan tatapan menyipit ke arah putrinya.
__ADS_1
Berlian menggeleng, kemudian dia beranjak dari duduknya dan melangkah hingga membentang jarak antara dia dan juga sang Mama, sambil memiringkan wajahnya, Berlian kembali berkata, ''Berikan aku waktu Mah. Aku dan Zayden perlu mengenal satu sama lain.''
Dea mengerti dengan situasi dan juga perasaan putrinya saat ini. Kemudian dia mengusap pundak Berlian. ''Mama akan bicarakan ini bersama dengan Papa, Om Darwis dan juga Oma. Sekarang kamu istirahatlah! Jangan terlalu dipikirkan, kita akan bicarakan ini lagi nanti, oke,'' ucap Dea sambil meninggalkan Berlian di dalam kamar dan kembali ke lantai bawah.
Berlian menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia tidak tahu kenapa, Allah permainkan perasaannya. Entah kenapa, dia merasa takdir tengah mempermainkan jalan hidupnya.
'Kenapa dunia begitu sempit? Kenapa aku harus bertemu dengan orang yang aku benci?'' gumam Berlian sambil menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, dengan tatapan mengarah ke langit-langit kamar.
Dea duduk kembali di samping Dev. Dan semua orang saat ini tengah menatap kearah Dea, menunggu jawaban dari wanita itu.
''Bagaimana Sayang? Apa kamu sudah berbicara dengan, Berlian?'' tanya Dev dengan penasaran dan dibalas anggukan oleh Dea.
''Iya Mas, aku sudah berbicara dengan Berlian. Dia butuh waktu, jadi kita harus memberikan waktu kepadanya. Berlian tidak mempermasalahkan perihal status Zayden yang duda, l tetapi seperti ada satu hal yang membuat Berlian tidak bisa menerima perjodohan ini? Entahlah, aku pun tidak tahu. Mungkin Berlian hanya butuh waktu, dan dia sangat kaget dengan berita yang kita sampaikan secara mendadak,'' jelas Dea sambil menatap kearah suaminya.
''Iya, kamu benar. Mungkin Berlian sangat syok mendengar perjodohan ini. Nanti kita bicarakan lagi. Dia butuh waktu untuk berpikir, karena menikah juga bukanlah hal yang mudah. Dan mereka juga butuh saling mengenal satu sama lain,'' timpal Om Darwis mengerti keadaan yang saat ini Berlian rasakan.
''Zayden, kamu bagaimana?'' tanya Mama Rose kepada Zayden yang sejak tadi hanya diam saja.
Pria tampan itu tersengak kaget, lalu dia menatap Mama Rose. Dia memang sejak tadi diam, karena Zayden tidak ingin menyela ucapan mereka.
''Yang dikatakan Papa itu benar, Tante. Mungkin Berlian butuh waktu. Apalagi dengan status saya yang sudah duda, dan mungkin saya juga Berlian butuh waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Kami perlu pendekatan terlebih dahulu, sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius,'' jelas Zayden dengan bijak.
__ADS_1
Dev, Dea serta Mama Rose mengganggukan kepalanya serempak. Mereka setuju dengan jawaban Zayden, jika Berlian harus saling mengenal terlebih dahulu dengan pria itu sebelum mereka menikah.
''Baiklah, kalau begitu aku dan juga Zay, pulang dulu ya. Nanti kita bicarakan lagi, hari juga sudah larut malam,'' ujar Om Darwis sambil menjabat tangan Dev dan juga Mama Rose, setelah itu mereka pamit dari kediaman Aeganendra.
Tepat jam 03.00 pagi, Berlian bangun dan menunaikan shalat tahajud seperti kebiasaannya yang sering dilakukan setiap hari.
Setelah menunaikan shalat tahajud, Berlian membaca ayat suci al-quran. Setelah itu dia berd'oa kepada sang Ilahi tentang jalan hidupnya yang berliku dan terasa begitu pahit.
''Ya Allah, kenapa engkau pertemukan aku kembali dengan dia? Padahal aku sangat membencinya. Aku berharap tidak akan pernah bertemu dengan dia lagi, tapi kenapa Engkau seakan mempermainkan perasaanku, hidupku dan juga jalan takdirku? Apa rencanamu, ya Allah? Apakah dia memang jodohku? Tetapi kenapa harus pertemuan yang begitu membuatku membencinya?'' Berlian menangis sambil mengangkat kedua tangannya menengadah ke atas langit.
Dia mencoba untuk berkomunikasi dengan Tuhan-nya, mencari jalan keluar dan juga jawaban tentang rencana yang Allah berikan kepada dirinya. Setelah itu Berlian melipat mukenanya, lalu keluar dari kamar menuju balkon.
.
Dinginnya malam tidak dirasa oleh Berlian, gelapnya langit seakan menggambarkan hatinya saat ini. Dikhianati sahabat, pacar dan diambil kesucian secara paksa, membuat hidup Berlian hancur. Namun, siapa yang tahu bagaimana perasaan Berlian saat ini.
Gadis itu begitu pandai menyembunyikan perasaannya. Menyembunyikan luka yang menganga yang begitu dalam, dan juga begitu besar. Bahkan orang tuanya sendiri pun tidak tahu tentang kejadian malam itu.
''Entah bagaimana jika Papah tahu, kalau pria itu yang sudah menghancurkan hidupku. Walaupun sebenarnya pria itu juga tidak 100% bersalah, tapi kenapa di ada di kamar itu? Kenapa dia masuk ke sana? Apa hubungannya dengan Desi, Daffa dan juga Tanisha? Tidak mungkin semua secara kebetulan, bukan?'' gumam Berlian dengan suara yang lirih.
Dia yakin, jika semua bukanlah sebuah kebetulan. Di mana kedua sahabatnya dan juga kekasihnya menjebak dirinya, lalu ada pria asing yang masuk ke dalam kamar itu.
__ADS_1
Berlian juga tidak bisa membayangkan, bagaimana marahnya sang Papa saat mengetahui tentang apa yang Zayden lakukan kepada dirinya. Dan Berlian yakin, jika Papanya pasti akan marah besar, bahkan mungkin akan menghabisi Zayden saat mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
BERSAMBUNG