
HAPPY READING...
Di lain tempat, Dev sedang mengepalkan tangannya saat mendengar kabar dari anak buah yang selama ini ditugaskan untuk menjaga Berlian. Dia meremas gelas yang berada di tangannya sampai gelas itu pecah.
''Astagfirullah Mas ... kamu ngapain? Ini gelasnya sampai pecah. Tuh lihat! Tangan kamu terluka,'' panik Dea saat melihat tangan Dev yang terluka, kemudian dia segera mengambil obat P3K.
''Sini duduk!'' titah Dea menyuruh Dev untuk duduk di sofa, kemudian pria itu pun duduk dan Dea mulai mengobati tangan Dev.
Wanita itu menatap ke arah suaminya. Sangat terlihat jelas gurat kemarahan di wajah tampan Dev. Dahi Dea mengkerut dengan heran karena biasanya jika seperti itu, Dev sedang merasakan sebuah kemarahan yang begitu dalam.
''Ada apa, Mas? Kenapa kamu terlihat begitu marah? Apa ada masalah yang besar?'' tanya Dea saat sudah memperban tangan Dev.
Bahkan luka yang berada di tangannya tidak dihiraukan oleh Dev. Sebab kemarahan di dalam hatinya sudah sangat memuncak, bahkan tidak terkontrol. Rahangnya mengeras dengan sorot mata yang begitu tajam dan dingin.
''Ada yang ingin mencelakai anak kita,'' ucap Dev dengan lirih, tapi suaranya begitu geram dan penuh amarah.
Dea terdiam mendengar ucapan Dev. ''Maksud kamu, ada yang ingin mencelakai Berlian?'' tanya Dea dengan panik, dan pria itu pun menganggukkan kepalanya. ''Siapa yang ingin mencelakai anak kita, Mas?'' sambung Dea kembali.
''Daffa dan juga Tanisha. Mereka berniat untuk mencelakai anak kita. Aku benar-benar tidak bisa tinggal diam, kita pulang ke Indonesia sekarang!'' ujar Dev sambil mengepalkan tangannya. Dea pun mengangguk kemudian dia membereskan pakaiannya dan juga Dev.
Wanita itu sangat khawatir dengan keadaan putrinya, karena gara-gara Tanisha dan Daffa, Berlian harus kehilangan sesuatu yang berharga di dalam hidupnya. Dan kali ini dia tidak ingin hal yang buruk terjadi lagi kepada gadis itu.
...******************...
Di rumah sakit, Berlian masih stay berdiri di depan ruang UGD. Dia masih menunggu Dokter yang sudah 2 jam berada di sana memeriksa Desi, sahabatnya. Bahkan air mata Berlian pun terus saja mengalir.
''Sebaiknya kamu makan dulu! Ini sudah malam, kamu belum makan loh sama sekali,'' ucap Zay dengan khawatir. Karena sedari siang tadi Berlian tidak makan sama sekali. Dan pria itu benar-benar cemas dengan keadaan calon istrinya.
__ADS_1
''Tidak, terima kasih. Aku tidak lapar,'' jawab Berlian dengan suara yang lirih.
Jangankan untuk makan, seleranya sudah hilang akibat memikirkan keadaan Desi. Rqsa bersalah di dalam hatinya begitu berkecamuk, hingga membuat Berlian tidak nafsu makan. Dia hanya ingin sahabatnya itu cepat pulih dan tidak terjadi apa-apa.
Zay menghela nafasnya dengan pelan. Dia tahu apa, yang dia rasakan oleh Berlian saat ini tidaklah mudah di mana seseorang telah mengorbankan nyawanya untuk gadis itu. Mungkin saja dia juga akan merasakan hal yang sama jika berada di posisi Berlian saat ini.
Tak lama pintu ruangan UGD terbuka, Berlian yang melihat itu segera menghampiri seorang Dokter pria yang baru saja keluar. ''Bagaimana keadaan teman saya, Dok? Dia baik-baik saja 'kan?'' tanya Berlian dengan panik, bahkan wajahnya terlihat begitu cemas.
Dokter itu terdiam sejenak sambil menghela nafasnya, dan Berlian yang melihat itu pun merasa ketakutan. Dia takut jika terjadi apa-apa dengan Desi. ''Kenapa Anda diam saja? Jawab pertanyaan saya!'' tanya Berlian kembali sambil memegang lengan Dokter itu dan menggoyangkannya.
''Sabar Berlian, biarkan Dokter menjawab!'' ucap Zay menenangkan gadis itu.
''Luka yang dialami teman Nona, di kepalanya cukup keras dan dalam, sehingga kami harus melakukan tindakan operasi. Dan saat ini kondisinya sangat lemah, bahkan kritis,'' ucap Dokter itu sambil menatap sendu ke arah Berlian.
Tubuh gadis itu seketika limbung saat mendengar ucapan sang Dokter. Untung saja Zay sigap menangkap tubuh Berlian, hingga tidak jatuh ke lantai. Rasanya Berlian tidak sanggup lagi mendengar apa yang akan Dokter itu sampaikan.
''Baik Nona, kami akan berusaha semaksimal mungkin. Kami akan segera mengoperasi teman Anda. Kalau begitu, silakan Anda tanda tangani terlebih dahulu atau adakah keluarga yang bisa dihubungi?'' tanya Dokter tersebut.
Zay yang mengetahui tentang Desi jika keluarganya tidak ada di sana, seketika dia pun menjadi jaminan untuk Desi agar wanita itu segera diselamatkan. Zdan setelah menandatangani surat operasi, Dokter pun langsung mengerjakan tugasnya untuk menyelamatkan Desi.
Sudah jam 20.00 malam, akan tetapi ruangan UGD masih saja belum terbuka. Berlian merasa cemas, tangannya terus saja meremas satu sama lain bahkan wajahnya saat ini sudah pucat, karena dia belum makan dari siang sama sekali.
Setelah 3 jam di dalam ruangan UGD, Dokter pun kembali keluar dan masih menggunakan baju operasi. Berlian yang melihat itu segera menghampiri sang Dokter dan menanyakan kembali tentang keadaan Desi.
''Bagaimana Dok? Apakah teman saya baik-baik saja? Bagaimana dengan keadaannya, Dok?'' tanya Berlian dengan wajah yang panik.
''Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan lancar. Akan tetapi, keadaannya saat ini kritis dan Nona Desi belum melewati masa kritis itu,'' ucap sang Dokter membuat Berlian benar-benar merasa down.
__ADS_1
Setelah mendengar penjelasan sang Dokter tentang keadaan Desi, Berlian pun duduk kembali di kursi. Air matanya kembali jatuh. Kesedihan saat ini tengah meliputi dirinya, lalu Zay pun duduk di sebelah gadis itu.
''Sebaiknya kita pulang dulu, nanti baru ke sini lagi! Ini 'kan sudah malam, apa kamu tidak kasihan kepada Oma Linda? Mungkin saja saat ini dia tengah khawatir memikirkan keadaan kamu? Lagi pula, kamu juga harus mandi dan bersih-bersih 'kan? Bahkan kamu belum makan sama sekali,'' ucap Zay kepada Berlian. Namun Gadis itu menggelengkan kepalanya.
''Tidak! Aku tidak mau pergi dari sini. Desi seperti itu karena aku, bagaimana aku bisa meninggalkannya?'' jawab Berlian sambil terisak.
''Aku paham apa yang kamu rasakan saat ini, tapi apakah kamu tidak berpikir? Lihatlah! Bajumu kotor oleh darah, perutmu belum diisi sama sekali. Bahkan kamu belum membersihkan diri. Sebaiknya kita pulang dulu, nanti baru kita ke sini lagi. Desi juga pasti akan sedih melihatmu dalam keadaan seperti ini?'' jelas Zay mencoba memberi pengertian kepada Berlian.
''Lalu, Desi--''
''Max akan menjaganya, tidak usah khawatir!'' potong Zay yang mengerti arah pembicaraan Berlian.
Kemudian gadis itu pun mengangguk lalu mengikuti langkah Zay untuk menuju parkiran. Sementara Max menunggu Desi, karena setelah melewati masa kritisnya Desi akan dipindahkan ke ruang ICU.
Namun di tengah perjalanan Zay menghentikan mobilnya di depan restoran. Akan tetapi Berlian tidak perduli. Dia tidak ada tenaga hanya untuk ngomel-ngomel pada pria itu. Tak lama Zay masuk kembali ke dalam mobil sambil menenteng dua plastik yang ada di tangannya.
''Ini makanlah dulu!'' ucap Zayden sambil menyerahkan satu kantong plastik kepada Berlian, dan gadis itu menatap ke arah Zay sambil menggelengkan kepalanya.
''Jangan pernah keras kepala! Kamu boleh khawatir kepada sahabatmu, tapi kamu juga harus memikirkan kesehatanmu. Jika kamu tidak mau memakannya, aku akan suapi dengan mulutku sendiri! Kamu mau?'' ancam Zay dengan tatapan tajam ke arah Berlian.
Wanita itu pun terpaksa mengambil kantong plastik yang diberikan oleh Zay, lalu membukanya dan ternyata isinya adalah burger. Sejujurnya Berlian tidak selera makan. Akan tetapi, mendengar ancaman Zayden dia pun terpaksa untuk mengisi perutnya. ?arena tentu saja Berlian tidak ingin pria itu menyuapi dengan mulutnya.
''Dasar Tuan duda pemaksa!'' gerutu Berlian sambil menggigit burger yang ada di tangannya.
Zay tidak membalas, dia hanya tersenyum saja saat mendengar gerutuan Berlian kepadanya. Karena Zay merasa senang sebab gadis itu mau untuk mengisi perutnya.
''Ingat Nona, menangis itu juga butuh tenaga bukan? Kalau sampai kamu tidak ada tenaga, bagaimana air matamu akan keluar?'' ledek Zayden sambil kembali menyetir mobil dan keluar dari area restoran, tetapi Berlian tidak perduli dan menghabiskan makanannya. Dia malas untuk berdebat dengan pria itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG