
Happy Reading
Tak banyak pembicaraan yang terjadi antara Berlian dan Zay di dalam mobil. Apalagi Berlian yang memilih tidur untuk menghindari pembicaraan dengan Zay, sebab Berlian malas debat dengan pria itu. Karena setiap kali mereka mengobrol, pasti Zay selalu membuatnya kesal.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, mereka pun sampai di Bogor, di sebuah Villa yang berada di Puncak.
Zay menatap ke arah samping di mana Berlian sedang tertidur dengan lelah. Apalagi cuaca di luar sedikit mendung, membuat wanita itu benar-benar nyaman. Pria itu tersenyum, kemudian dia menatap ke arah Berlian tanpa berkedip sedikit pun.
'Entah bagaimana aku bisa meyakinkanmu agar mau menikah denganku. Aku harap dengan pendekatan kita selama ini, kamu bisa menerima aku untuk menjadi pendamping hidupmu. Dan kamu juga bisa menerima dan memaafkan kesalahanku,' batin Zay sambil menatap ke arah Berlian.
Mata indah milik Berlian berkedip. Zay yang melihat itu pun segera menegakkan tubuhnya kembali, karena dia tidak mau jika wanita itu sampai melihat dia yang sedang memperhatikannya.
''Kita sudah sampai ya?'' tanya Berlian saat dia membuka matanya dan melihat Villa yang berada di hadapannya.
''Udah sampai dari tadi, makanya kalau tidur itu jangan kayak kebo. Dasar *****! Udah nempel langsung molor,'' ledek Zayden sambil membuka pintu mobil, kemudian pria itu pun keluar.
Berlian yang sedang meregangkan otot-otot tubuhnya seketika menatap ke arah Zay dengan tatapan tajam. Dia tidak menyangka, jika pria itu berani berkata se-ambsrud itu kepadanya.
''Astaga! Aku baru kali ini nemu CEO yang ucapannya se-sembrono itu? Rasanya pengen aku ulek cabe satu karung, terus aku sumpelin ke mulutnya, pedas banget kalau ngomong!'' geram Berlian dengan kesal, kemudian dia membuka sabuk pengamannya dan keluar dari mobil menyusul Zay.
Dengan langkah yang pelan sambil melihat kanan dan kiri, Berlian masuk ke dalam villa dan langsung disambut oleh sahabat dari mamanya.
''Halo sayang, ya ampun ... akhirnya kamu sampai juga. Tante, sampai khawatir tahu! Takut kamu nyasar,'' ucap tante Indri sambil mencium pipi kanan dan kiri milik Berlian.
''Halo Tante, apa kabar?'' tanya Berlian sambil mencium tangan tante Indri.
__ADS_1
''Alhamdulillah, Tante kabarnya baik. Oh iya, ini siapa? Pacar kamu ya?'' tanya tante Indri sambil melirik ke arah Zayden.
Berlian menatap ke arah Zayden sejenak, kemudian dia kembali menetap ke tante Indri. ''Oh, ini anak sahabatnya Oma sama papa, Tante. Kebetulan karena papa dan mama tidak bisa hadir, jadi Berlian diantar sama Pak Zayden,'' ucap Berlian sambil tersenyum manis ke arah tante Indri.
Setelah berbasa-basi dan tante Indri juga sudah berkenalan dengan Zayden, kemudian wanita itu membawa Berlian ke ruang pesta. Karena sebentar lagi acara akan dimulai, dan beberapa tamu juga sudah berdatangan dan kumpul di sana.
Zay saat ini sedang duduk di sebuah kursi yang ada di pojok, sedangkan Berlian sedang mengobrol dengan tante Indri dan juga suaminya. Zay hanya bisa menatap saja tanpa ingin menimbrung, karena dia rasa tidak penting juga.
Saat Berlian tengah mengobrol bersama dengan tante Indri, tiba-tiba seorang pria datang menghampiri Berlian, membuat dahi Zay mengkerut heran. Karena pria itu terlihat akrab dengan Berlian.
''Hei, kamu apa kabar?'' tanya Vano kepada gadis berhijab itu.
''Loh, Vano. Aku pikir kamu masih di Australia, ternyata udah pulang. Kamu pulang kapan?'' tanya Berlian dengan wajah kaget, karena melihat Vano yang berada di sana.
''Baru dua hari yang lalu kok, kamu apa kabar? Kamu makin cantik ya,'' puji Vano sambil tersenyum manis ke arah Berlian.
''Alhamdulillah kabar aku baik, bisa aja kamu. Nggak usah muji entar aku terbang nggak ada yang nangkep loh?'' kekeh Berlian sambil tersenyum ke arah Vano.
Zayden mengepalkan tangannya saat melihat interaksi antara Vano dan juga Berlian yang begitu akrab. Dia merasa sesuatu yang panas tengah menimpa hatinya, karena saat ini Zay sama sekali tidak suka dengan pemandangan yang dia lihat.
Mereka terus saja mengobrol tanpa memperdulikan Zay, karena Berlian juga males mengobrol dengan pria itu. Ealaupun Zayden adalah calon suaminya, akan tetapi Berlian masih bisa membatalkan jika dia mau.
Zay dapat melihat senyum merekah di wajah Berlian, yang tidak pernah dia lihat jika sedang bersama dengan dirinya, tetapi dengan pria lain Berlian bahkan bisa tertawa lepas tanpa beban sedikitpun.
'Siapa pria itu? Berani sekali dia mendekati Berlian! Jika ini bukan acara, sudah kuhabisi pria itu!' batin Zay dengan geram. Kemudian dia meneguk habis minumannya, lalu berjalan ke arah Berlian dan juga Vano. Lalu menarik lengan Berlian dengan kasar, hingga mendekat ke arahnya dan berjarak dengan Vano.
__ADS_1
Gadis itu tentu saja sangat kaget, karena tiba-tiba Zay menarik tangannya saat sedang berbicara dengan Vano. ''Pak, Anda ini kenapa sih main tarik-tarik tangan saya aja? Sakit tahu!'' ketus Berlian sambil mencoba untuk melepaskan tangannya di genggaman Zay. Namun pria itu tidak mau melepaskan tangan Berlian.
''Siapa dia? Berani sekali mendekati kamu? Kita pulang sekarang!'' ucap tegas Zaidan sambil menarik tangan Berlian untuk keluar dari acara itu.
Berlian tentu saja memberontak, tapi tenaga Zay lebih kuat. Dan Vano yang melihat itu tentu saja tidak terima, saat melihat wanita yang dicintainya terluka dan dipaksa seperti itu oleh Zay. Walaupun sebenarnya Vano juga penasaran siapa Zay, kenapa dia berani untuk memaksa Berlian.
''Tunggu! Lepaskan dia!'' pinta Vano saat Zayden sudah sampai di ruang tamu, karena kebetulan acara berada di taman belakang Villa.
Zayden tidak memperdulikan permintaan Vano, dia masih terus menyeret tangan Berlian. Walaupun wanita itu meringis dan jalannya sedikit terseret, menyeimbangi langkah lebar pria itu.
Melihat Zay tidak menggubris ucapannya, Vano merasa geram. Kemudian dia menarik tangan Zay lalu menonjoknya, hingga pegangan di tangan Berlian pun terlepas. Dan wanita itu menjerit saat melihat Vano memukul wajah Zayden.
''Jangan pernah memaksa seorang perempuan, jika dia tidak mau ikut dengan Anda, Tuan!'' tegas Vano sambil menatap Zayden dengan tajam.
Zay mengusap cairan merah di sisi bibirnya, karena dari tonjokan Vano tadi bibir Zay sedikit robek. Kemudian dia menatap Vano dengan tajam dan menunjuk wajah pria itu.
''Seharusnya saya yang mengatakan itu kepada kamu! Jangan pernah mengganggu calon istri orang!'' Zayden membalas pukulan Vano hingga membuat pria itu tersungkur ke lantai.
Vano tidak terima, kemudian dia bangkit dan mulai menyerang Zay kembali. ''Jangan asal bicara kamu! Jangan mengaku-ngaku jika Berlian calon istrimu!'' garam Vano sambil kembali menonjok wajah Zay, tetapi mampu ditangkis oleh pria itu.
Duel pun terjadi antara Vano dan Zay, sedangkan berlian yang melihat itu sedikit takut dan menjerit.
''CUKUP!'' teriak Berlian dengan keras, hingga membuat tante Indri dan juga suaminya yang berada di taman belakang mendengar jeritan Berlian. Kemudian mereka berjalan ke ruang tamu dan melerai perkelahian antara Zaidan dan juga Vano.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1