
Happy reading
''Katakanlah, sayang!'' titah Dea saat mereka sudah duduk di atas kursi.
Berlian terdiam sambil menatap kearah Dea dengan tatapan yang begitu dalam. Ada keraguan di kedua sorot matanya, apakah dia harus berbicara yang sejujur-jujurnya kepada sang Mama, ataukah tidak.
Dea yang melihat Berlian masih ragu, kemudian menggenggam tangan gadis itu. ''Mama tidak akan membicarakan ini kepada Papa dan juga Oma, jika itu yang kamu mau. Kta akan cari jalan keluarnya,'' ucap Dea dengan nada yang lembut.
Berlian kembali menangis, air matanya menetes tanpa bisa dicegah lagi. Walau bagaimanapun, dia adalah seorang perempuan yang rapuh hatinya dan mudah sekali untuk menangis. Walau dia sudah berusaha untuk tegar dan juga kuat, tetapi dasarnya seorang wanita memang lemah jika mengenai perasaan.
''Dia ... pria itu ...'' Berlian benar-benar tidak sanggup harus mengatakan jika Zayden orang yang telah menghancurkan masa depannya
''Bicaralah dengan perlahan! Mama akan mendengarkan semuanya.''
Kepala Berlian tertunduk, dia mencoba meredam emosi di dalam jiwanya, mencoba menetralkan degup jantungnya yang sejak tadi terus aja berdebar, karena rasa takut akan amarah sang Mama.
''Mama ingat, waktu satu bulan yang lalu aku pamit untuk bertemu dengan Tanisha, Daffa dan juga Desi? Mama ingat, waktu aku tidak pulang ke rumah, dan aku bilang jika aku menginap di rumah teman?'' tanya Berlian kepada Dea, dan wanita itu langsung mengangguk.
Sejenak Berlian menghentikan ucapannya, kemudian dia menarik nafas yang dalam lalu melanjutkan kembali ceritanya.
''Malam itu ... aku dijebak oleh Tanisha, Daffa dan juga Desi. Waktu itu, Tanisha bilang jika Desi sedang memerlukan obat sesak nafas, karena Desi memang mempunyai asma. Aku tidak curiga saat mereka membawaku ke hotel, karena Desi saat itu sedang kabur dari rumah. Kemudian aku masuk ke dalam salah satu kamar hotel dan mencari Desi, tapi tidak ada siapapun di sana hingga--''
Berlian kembali menghentikan ucapannya, air matanya kembali mengalir. Suaranya seperti tercekat di tenggorokan. Dia tidak bisa berbicara dan melanjutkan ceritanya, tapi semua sudah terlanjur. Dia harus jujur kepada Dea tentang kejadian malam itu.
__ADS_1
Dea beranjak dari duduknya, masuk ke dalam kamar dan kembali dengan segelas air putih di tangannya, lalu memberikan kepada Berlian agar gadis itu merasa lebih baik.
Dengan cepat Berlian meneguk habis air putih di dalam gelas itu, dan ia merasa sudah jauh lebih baik. Kemudian dia menatap kearah sang Mama dan kembali melanjutkan ceritanya.
''Hingga seseorang mengunci ku dari luar. Aku terus berteriak minta tolong, tapi tidak ada yang mendengar suaraku. Saat aku tengah menangis, tiba-tiba pintu terbuka. Aku pikir itu Daffa, Tanisha ataupun Desi, tetapi ternyata aku salah, Ma. Ada seorang pria asing masuk ke dalam kamar itu, dan pria itu habis meminum minuman haram. Dia mendekat Mah, dan malam itu dia--'' Berlian tidak sanggup untuk mengatakan jika pria itu telah merenggut kesucian nya, dia kembali terisak dan menangis dengan pilu.
Bahkan Dea yang mendengar sepenggal cerita dari putrinya tanpa bisa menahan lagi, air matanya lolos dari kedua mata indah milik Dea. Entah kenapa, dia merasa perasaannya tidak tidak enak. Entah kenapa, dia memikirkan hal yang buruk, walaupun Berlian belum mengatakan sepenuhnya.
''Aku sudah meminta dan memohon kepadanya Mah, tapi pria itu seperti tuli dan juga buta. Dia bilang, dia telah membayar ku. Dia bilang, kalau aku ini wanita yang telah dibayar untuk melayaninya malam itu? Aku berteriak, tahu menjerit, tetapi semua sia-sia. Dia telah menghancurkan hidupku, Mah. Dia ... dia sudah ...'' Berlian kembali menangis, dan Dea yang mendengar itu tentu saja sangat syok.
Satu tangan Dea menutup mulut dengan air mata yang sudah bersimbah membasahi kedua pipinya. Kemudian dia segera memeluk tubuh Berlian, dan kedua wanita itu menangis tersedu-sedu. Dea bahkan menggelengkan kepalanya, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
''Apakah pria itu, Zayden? Apakah dia sudah--?'' tanya Dea menggantung ucapannya, dan langsung dibalas anggukkan oleh Berlian.
Dea bener-bener syok, dia tidak menyangka ternyata putrinya sangatlah menderita. Bahkan Berlian selama ini menanggung sebuah luka yang begitu dalam selama satu bulan. Bahkan Dea tidak tahu, jika Berlian tengah terluka.
Ya Allah, dosa dan kesalahan apa yang aku perbuat semasa dulu? batin Dea.
''Mah, aku butuh waktu untuk memikirkan soal perjodohan itu. Aku sangat membencinya, Mah. Setiap kali aku melihat wajahnya, aku selalu terbayang bagaimana senyum seringai dia yang begitu puas saat dia merenggut sesuatu yang berharga di dalam hidupku,'' ucap Berlian dengan suara yang purau dan sedikit tersendat, karena isak tangisnya.
Dea tidak bisa berbicara apapun, dia menarik kembali Berlian ke dalam dekapan nya. Dia tahu apa yang putrinya rasakan saat ini tidak mudah, bagi seorang perempuan saat kehilangan sesuatu yang berharga untuk hidupnya.
''Mama mengerti perasaanmu, Nak. Mama tidak akan bicarakan ini kepada Papa, tapi Mama percaya, dibalik ini semua ada rencana Allah yang lebih indah?'' Dea mencoba menenangkan perasaan Berlian.
__ADS_1
''Rencana apa, Mah? Yang ada, Allah mempermainkan hidupku? Aku selama ini sudah mencoba untuk mendekat kepadanya, menjalankan semua kewajibannya. Aku shalat lima waktu, puasa sunnah dan wajib, berbakti kepada kedua orang tua. Aku selalu menjalankan semua nasihat yang Mama dan Papa berikan, termasuk ajaran Agama. Akan tetapi, mana? Allah malah membuat aku berada dalam jurang yang gelap. Dia membuat aku kehilangan sesuatu yang berharga di dalam hidupku, Mah. Lalu apa yang akan aku kasih kepada suamiku, Mah? Bagaimana reaksi orang lain, saat tahu jika aku sudah ternoda?'' Berlian berucap dengan nada yang frustasi.
Dea menghapus air mata putrinya, lalu dia tersenyum dan mengecup kening Berlian dengan lembut. Dan menggenggam kedua tangan gadis itu.
''Dengarkan Mama Nak. Allah tidak mungkin menguji hamba-nya di luar batas kemampuan hamba itu sendiri? Allah itu Maha baik. Kita nggak boleh berprasangka buruk kepada Allah. Setiap ujian manusia itu berbeda-beda, tidak semuanya sama. Allah mungkin memberikan kamu ujian seperti itu, karena Allah sudah menyiapkan kebahagiaan untuk kamu?'' Dea sejenak menghentikan ucapannya, mencoba membuat Berlian mengerti agar dia tidak so'udzon' kepada Tuhannya.
''Tapi Mah, Allah itu--''
''Dengarkan Mama! Cobalah kamu berfikir, setelah kejadian malam itu, apakah kamu pernah bertemu lagi dengan Zayden? Atau kamu pernah mengenal nya?'' tanya Dea dengan tatapan serius ke arah Berlian, dan gadis itu langsung menggelengkan kepalanya.
''Nak, pernah gak kamu berfikir. Kenapa tiba-tiba dia datang ke hadapan kita, dan ternyata di adalah anaknya Om Darwis. Dan lebih mengejutkannya lagi, ternyata kamu dan juga Zayden sudah dijodohkan sedari bayi. Apakah itu bukan rencana Allah? Semua sudah diatur oleh Allah, Nak. Kita tidak boleh berburuk sangka menjalani takdir Allah. Karena Mama yakin, Dia sudah menyiapkan kebahagiaan untuk kamu. Orang yang baik, pasti akan disatukan dengan orang baik juga.''
Berlian terdiam mendengar ucapan Mamanya, dia tidak tahu apa yang harus dia ucapkan saat ini. Dia hanya ber-istighfar, mengucap beberapa kali. Karena dia sudah so'udzon kepada Allah, Tuhannya. Dia sudah berkata yang seharusnya tidak dia katakan.
''Ambillah wudhu, berdo'alah dan memintalah jalan kepada Allah. Mama yakin, dia pasti akan menunjukkan jalan untuk kamu. Walaupun terkadang, jalan itu sangat sakit dan sulit, tetapi itulah yang terbaik.'' Dea terus memberikan nasihat kepada putrinya, walaupun saat ini hatinya juga sangat hancur dan rapuh.
Akan tetapi, sebagai seorang ibu dia harus menjadi orang yang bijak. Sebab saat ini peran ibu-lah yang dibutuhkan oleh Berlian. Dan dia harus memberikan nasihat dan pengarahan yang baik dan benar, agar Berlian tidak salah mengambil jalan.
''Tapi Mah, apa hubungannya Zayden, Daffa, Desi dan Tanisha? Tidak mungkin itu semuanya kebetulan 'kan, Mah?'' bingung Berlian saat hatinya sudah jauh lebih baik.
Dea yang mendengar ucapan Berlian, nampak berpikir. Namun kemudian wanita itu mengusap kepala Berlian dengan lembut. ''Sekarang mandilah, ambil wudhu dan sholat dhuha, baca ayat suci al-quran untuk menenangkan hati kamu. Mama akan memikirkan itu semua. Kita bicarakan lagi nanti,'' ujar Dea sambil bangkit dari duduknya, lalu menggandeng Berlian masuk ke dalam kamar.
Setelah itu, dia keluar dari kamar Berlian, tetapi gadis itu segera menahan tangannya. ''Mah, tolong jangan beri tahu hal ini kepada Papa! Aku tidak bisa membayangkan amarah Papa, Mah,'' pinta Berlian kepada sang Mama.
__ADS_1
Dea menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. ''Tenanglah sayang, Mama tidak akan membicarakan ini kepada Papa. Ini hanya akan menjadi rahasia kita berdua. Kalau gitu, Mama keluar dulu ya.'' Dea pun keluar dari kamar Berlian dengan luka yang begitu dalam di hatinya.
BERSAMBUNG.....