
Happy reading.....
Zay turun dari mobil, kemudian dia menghampiri dua wanita yang sedang berdiri di bawah hujan. ''Dia siapa?'' tanya Zay kepada Berlian.
''Tuan, bolehkah dia ikut bersama dengan kita?'' pinta Berlian dengan tatapan memohon ke arah Zay.
Zay terdiam sejenak, kemudian dia pun mengangguk. Karena hujan juga semakin deras, lalu mereka bertiga masuk ke dalam mobil. Setelah itu mobil pun pergi meninggalkan tempat tersebut.
Pri itu hanya diam saja, memperhatikan bagaimana perhatian Berlian kepada wanita yang ada di sampingnya tersebut. Karena saat ini mereka tengah duduk di jok belakang. Dan saat Berlian melihat penjual kopi di pinggir jalan, gadis itu pun meminta Zay untuk berhenti, lalu dia membeli minuman hangat untuk wanita yang berada di sampingnya tersebut.
''Berlian, siapa dia?'' tanya Zay sambil menatap gadis tersebut dari pantulan cermin yang ada di hadapannya.
''Dia ini adalah April, temanku di salah satu Panti Asuhan,'' jawab Berlian.
Zay menganggukkan kepalanya, mengerti dengan ucapan Berlian. Tak lama mobil pun sampai di kediaman Bachtiar, lalu mereka turun dan Berlian mengajak April untuk masuk ke dalam. Sebab dia kasihan dengan temannya yang kedinginan.
Dea dan juga mama Linda mengerutkan dahinya saat melihat Berlian datang dengan membawa seorang wanita masuk ke dalam rumah, lalu wanita itu pun berjalan mendekat ke arah putrinya.
''Sayang, dia siapa?'' tanya Dea kepada Berlian.
''Dia April, Mah, temennya Berlian saat di Panti Asuhan,'' jawab Berlian sambil memperkenalkan April kepada mamanya serta Omanya.
Gadis yang berusia 20 tahun itu pun mencium tangan Dea dan juga mama Linda bergantian. Sementara Zayden pamit untuk pulang, karena hari juga sudah mulai petang. Namun sebelum itu dia menengok ke arah Berlian, karena Zay ingat jika calon istrinya itu akan ke toko.
__ADS_1
''Berlian, bukankah kamu akan ke butik?'' tanyanya.
Gadis itu menepuk jidatnya, dia lupa jika harus ke sana. Akhirnya mau tidak mau, Berlian pamit kembali kepada mama Linda dan juga Dea untuk pergi menuju tokonya, sebab ada yang harus dia cek di sana. Sementara itu, April akan tinggal sementara di kediaman Bachtiar.
Selama di dalam mobil, Zay terus saja melirik ke arah calon istrinya. Ingin sekali pria itu menggenggam tangan Berlian. Namun dia tidak berani, hingga tidak terasa mobil telah sampai di toko milik Berlian, lalu dia pun turun dari mobil calon suaminya.
Namun saat gadis itu akan masuk ke dalam toko, tiba-tiba saja dia menengok ke arah samping. Karena saat ini Zay tengah mengikutinya. ''Tuan, mau ke mana? Kenapa mengikuti saya?'' tanya Berlian dengan bingung.
''Aku akan ikut denganmu ke dalam. Memangnya kenapa? Salah ya?'' jawab Zay sambil melipat kedua tangannya di depan dada, dengan satu alis terangkat.
''Ini sudah mau maghrib, sebaiknya Anda pulang saja! Lagi pula, saya akan pulang larut malam. Sebab ada kerjaan yang harus saya kerjakan,'' jawab Berlian.
Dia tidak ingin Zay berada di sana menemaninya, karena pasti akan terasa begitu canggung dengan kehadiran pria itu. Namun bukan Zayden namanya, jika dia tidak keras kepala. Setelah melewati banyak perdebatan, akhirnya pria itu pun menemani Berlian dan ikut masuk ke dalam ruangannya.
''Kenapa Tuan, berdiri di situ?'' tanya Berlian.
''Aku juga mau mengambil wudhu untuk shalat magri,b kau bersiaplah! Kita akan shalat bersama-sama,'' ujar Zayden, kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Berlian sempat terpaku mendengar ucapan pria itu. Dia tidak menyangka, jika Zay ternyata rajin shalat juga. Padahal tadinya Berlian pikir, seseorang sepertinya itu tidak pernah menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim, tapi ternyata dia salah.
Seperti apa kata pepatah. Terkadang seseorang melihat dari luarnya saja, tanpa memandang dalamnya seperti apa. Bisa saja jika dari luar terlihat begitu jelek, tapi siapa yang menyangka jika dalamnya sangat bagus. Begitupun kebalikannya, dari luar terlihat indah, tapi dalamnya ternyata sangat jelek.
Setelah memakai mukena, tak lama Zay keluar dari kamar mandi. Dia langsung berdiri di shaf depan untuk menjadi imam. Sementara itu Berlian yang berdiri di belakang Zay sebagai seorang makmum. Dia merasakan debaran yang begitu kencang di jantungnya.
__ADS_1
Pria itu sangat tampan jika dalam keadaam suci? batin Berlian.
Baru kali ini ada seorang pria yang menjadi imam untuk yang shalat selain Papanya, Dev. Wanita itu sempat terhanyut dalam suara indah milik Zay. Tidak dia sangka, jika pria tampan yang berada di hadapannya itu memiliki suara yang merdu, saat melantunkan ayat-ayat suci Al-aquran.
Setelah beberapa menit, mereka pun selesai menunaikan shalat maghrib. Setelah itu Berlian mengambil Quran, tetapi sebelum membacanya dia berdzikir terlebih dahulu.
Sesudah selesai, Berlian mulai membuka kitab suci tersebut, kemudian dia mulai membacanya. Melantunkan bait per-bait dari mulut indah nan mungil miliknya. Sementara itu Zay menutup mata, meresapi setiap lantunan yang begitu merdu dari calon istrinya.
Benar-benar istri idaman, dan bidadari surgaku. batin Zay.
Selesai mengaji, Berlian mencium kitab suci Al-quran tersebut, lalu menaruhnya kembali di atas meja. Kemudian dia berjalan menuju kursi dan melanjutkan pekerjaannya.
Sementara itu Zay menatap ke arah Berlian.dengan kagum. Dia ingin sekali mengulurkan tangannya untuk dicium oleh gadis itu, tapi dia sadar, jika Berlian belum menjadi istrinya..Akhirnya semua hanya ada dalam angan saja
Sabar Zay, sebentar lagi pasti impianmu akan terwujud. batin Zay.
Jam menunjukkan pukul 08.00 malam, dan pekerjaan pun telah selesai. Akhirnya Berlian beranjak dari duduknya untuk pulang ke rumah. Akan tetapi, sebelum itu, Zay mengajak calon istrinya untuk makan malam bersama. Sebab belum ada makanan apapun yang masuk ke dalam perut mereka.
Setelah sampai di restoran, Zay dan juga Berlian memesan makanan. Namun saat mereka tengah menunggu, tiba-tiba saja ada seseorang yang datang ke meja dan langsung memeluk Zayden tepat dihadapan Berlian.
''Sayang, aku merindukanmu!''
...BERSAMBUNG.........
__ADS_1