
Happy reading.....
Setelah memberi pelajaran pada dua musang tersebut, Dev dan juga Al pulang ke kediaman Bachtiar..Kemudian pria itu masuk ke dalam kamar dan di sana Dea sudah menunggunya.
''Kamu habis dari mana, Mas?'' tanya Dea sambil membuka kancing kemeja milik Dev.
''Tadi ada urusan kerjaan sebentar,'' bohong Dev.
Bukannya dia tidak mau untuk mengatakan yang sejujurnya kepada Dea, tetapi Dev takut jika Dea mengetahuinya, maka wanita itu akan kaget dan malah kasihan terhadap Tanisha dan Daffa. Sedangkan kedua penghianat seperti itu harus dikasih pelajaran.
Dev pikir, lebih baik dia menghandelnya sendiri dan tidak usah membicarakannya dengan Dea. Karena walau bagaimanapun dia adalah kepala keluarga, dan mestinya dia memang harus turun tangan untuk masalah seperti itu, demi kenyamanan keluarga tercintanya.
''Oh ya, sayang, gimana dengan pernikahannya Berlian dan juga Zayden?'' tanya Dev saat selesai membersihkan diri.
''Kemungkinan minggu depan kita akan fitting baju pengantinnya Berlian, Mas. Karena 'kan beberapa minggu lagi Berlian akan lulus kuliah, sebentar lagi dia akan menikah,'' jawab Dea dengan wajah yang sedih.
Dev kemudian berjalan ke arah istrinya lalu duduk di samping Dea dan dia membawa wanita itu dalam dekapannya. ''Kenapa kamu bersedih? Harusnya senang dong, kalau anak kita akan menikah? Setidaknya ada yang menjaganya.''
''Mas 'kan tahu, hanya Berlian yang kita punya saat ini. Kalau sampai dia menikah dengan Zayden, berarti di rumah ini akan sepi, dong?'' jelas Dea dengan wajah yang sendu.
Dev menghela nafasnya dengan pelan, kemudian dia memegang kedua tangan istri tercintanya itu.
''Kamu 'kan tahu, sayang. Seorang istri itu setelah menikah pasti akan ikut suaminya, tapi kamu jangan khawatir! Nanti kita bicara dengan Zayden supaya setelah menikah mereka tinggal di sini selama satu minggu, dan untuk beberapa hari sekali, Berlian juga harus pulang ke rumah, bagaimana?''
Mendengar usulan dari suaminya, Dea seketika menggangguk dengan cepat. Dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dev, setidaknya mereka masih bisa bertemu dengan Berlian setelah gadis itu menikah.
__ADS_1
.
.
Selama pelajaran, Berlian terus saja menatap ke arah kursi Daffa dan juga Tanisha. Akan tetapi, wanita itu tidak menemukan di mana keberadaan kedua penghianat yang menjebaknya.
''Safira, kamu tahu nggak Daffa dan juga Tanisha, ke mana? Kok mereka nggak masuk kampus ya?'' tanya Berlian pada salah satu teman kelasnya yang duduk di sebelah kursi Daffa, saat pelajaran selesai.
''Aku nggak tahu! Mereka dua hari ini tidak kelihatan. Mungkin mereka bolos,'' jawab Safira dengan cuek, karena dia juga tidak ingin tahu menahu urusan orang lain.
Berlian mengangguk paham, kemudian dia pergi meninggalkan kelas. Berjalan ke arah kantin untuk membeli minuman, setelah itu dia duduk di taman. Namun saat Berlian tengah membaca buku, tiba-tiba dia mendengar anak-anak kampus membicarakan tentang salah satu dosen yang ada di sana.
''Eh, kalian tahu nggak Pak Handoko, papahnya si Tanisa, dia dipecat loh dari kampus ini,'' ucap salah satu siswa yang tak jauh dari Berlian.
''Entahlah! Lagi pula, pemilik kampus ini 'kan keluarga Bachtiar. Mungkin saja mereka membuat masalah dengan keluarga itu. Ya lagian, kalau nyari musuh itu nggak lihat-lihat. Mana si Tanisha 'kan ngambil pacarnya si Berlian. Kasihan ya cewek sebaik Berlian malah dikhianati sama sampah seperti mereka.''
Berlian terdiam mendengar ucapan dan juga obrolan teman-temannya. Dia tidak menyangka jika papanya Tanisha diberhentikan oleh pihak kampus, dan dia sangat yakin itu ada sangkut paut dengan papanya, sebab kampus itu milik keluarganya.
'Aku harus bicara nanti dengan papa,' batin Berlian. Kemudian dia berjalan keluar dari kampus untuk menuju ke Rumah Sakit kembali sebelum dia pulang ke rumah, karena dia ingin melihat keadaan Desi.
Saat Berlian keluar dari kampus, sudah ada anak buah Zay yang menunggunya, dan wanita itu langsung masuk ke dalam mobil. Dia juga sudah mulai terbiasa dengan penjagaan ketat yang dilakukan oleh Zay di sekitarnya.
Sesampainya di Rumah Sakit, gadis itu langsung masuk ke dalam lalu dia menuju lantai dua, di mana saat ini sahabatnya tengah dirawat. Akan tetapi, saat Berlian akan masuk, dia melihat Max yang sedang duduk di samping Desi sambil menggenggam tangan wanita itu yang sedang terbaring lemah tak berdaya.
''Aku berjanji, setelah kau sadar nanti, aku akan menikahimu!'' Max berkata dengan penuh nada bersalah.
__ADS_1
Memang secara tidak langsung Maxlah yang membuat Desi mengalami hal itu, karena jika saja Max mengikuti arahan dari Zay untuk segera menyelamatkan Desi, mungkin wanita itu tidak akan kritis dan terbaring tak berdaya di atas berankar Rumah Sakit.
Berlian mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Max, kemudian dia masuk dan berjalan ke arah pria itu. ''Apa maksud Tuan, untuk menikahi Desi?'' tanya Berlian dengan heran.
Max tersentak kaget saat mendengar suara Berlian, kemudian pria itu langsung melepaskan genggaman tangannya dan berdiri sambil menghadap ke arah Berlian.
''Pernikahan? Pernikahan apa ya?'' tanya Max dengan suara yang gugup.
''Sudahlah, Tuan Max. Saya sudah mendengar semuanya. Apa maksud Anda untuk menikahi Desi? Kenapa Anda ingin menikahinya?'' Berlian lagi-lagi mendesak Max untuk mengatakan sejujurnya, karena dia benar-benar penasaran dengan pria itu.
Max yang didesak pun akhirnya mengungkapkan kenapa dia ingin menikahi Desi, karena rasa bersalah di dalam hatinya yang terus menggerogoti. Berlian yang mendengar itu hanya manggut-manggut saja, dia paham dengan perasaan pria yang berada di hadapannya.
''Tapi, saya sebagai sahabatnya Desi, tidak setuju jika Anda menikahi Desi dengan perasaan merasa bersalah. Anda itu tidak jauh bedanya dengan tuan Zayden, jika seperti itu,'' ungkap berlian sambil duduk di samping Desi.
''Kami wanita memang selalu saja menjadi sasaran, menjadi korban, tetapi bukan berarti kami tidak mempunyai pilihan untuk masa depan dan kebahagiaan yang cerah. Kenapa pria selalu saja menikahi wanita hanya karena rasa bersalah? Pernikahan itu bukanlah sebuah permainan, bukan juga sebuah ajang. Akan tetapi, kenapa kalian seperti menyepelekan sebuah janji suci di hadapan Tuhan?''
Berlian berkata sambil mengelus lengan Desi. Dia benar-benar meratapi nasibnya yang tragis. Entah kenapa, Berlian tidak habis pikir, kenapa wanita selalu saja disalahkan, selalu menjadi korban keganasan para pria. Bahkan wanita tidak dibiarkan untuk memilih kebahagiaan.
Seperti halnya dia menjadi korban dari sebuah fitnah kedua sahabatnya, hingga dia harus bertemu dengan Zay dan akan menikah dengan pria itu, walaupun tanpa dasar cinta. Akan tetapi, Berlian yakin, jika Zay menikahinya bukan karena cinta. Namun pria itu menikahi dirinya karena rasa bersalah telah merenggut kesuciannya.
Max yang mendengar ucapan Berlian hanya terdiam saja, dia tidak berani mengatakan apapun. Karena apa yang dibilang yang Berlian itu ada benarnya. ''Nona, bukan seperti itu maksud saya, tapi---''
''Sudahlah, Tuan Max! Tidak perlu dibahas!Kita lihat saja nanti saat Desi sadar. Apakah dia mau menikah dengan Tuan atau tidak? Namun jika nanti Desi menolak, tolong jangan memaksanya, Tuan. Berilah kami wanita kebebasan untuk memilih kebahagiaan kami sendiri,'' jelas Berlian. Kemudian dia keluar dari ruangan itu untuk pulang ke rumahnya.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1