
Happy reading......
Setelah meeting selesai, Max permisi untuk toilet. Dan berbarengan dengan itu, Anggi juga izin untuk pergi ke toilet, karena sebenarnya dia ingin menemui Max dan berbicara dengan pria tersebut.
Anggi sengaja menunggu di depan toilet pria, dan tidak lama Max keluar. Pria itu cukup terkejut saat melihat Anggi berada di sana.
"Maaf Nona, toilet wanita ada di sebelah," ucap Max. Setelah itu dia pergi dari sana, namun tangannya ditahan oleh Anggi.
Sejenak Max menatap ke arah Anggi dengan dahi mengkerut heran. "Maaf Nona, bisa tolong lepaskan tangan saya!" pinta Max.
Anggi yang mendengar itu segera melepaskan tangan Max, kemudian dia menatap sendu ke arah pria yang saat ini tengah berada di hadapannya. Rasa penyesalan yang begitu dalam tentu saja dirasakan oleh Anggi, mengingat bagaimana dia menolak cinta Max dengan tidak memberikan jawaban kepada pria itu.
"Sudah lama kita tidak bertemu, Max, tapi sekarang kamu malah terlihat begitu dingin. Apa kamu tidak merindukanku?" tanya Anggi pada pria tampan tersebut.
Mendengar penuturan Anggi, Max malah menatap wanita cantik itu dengan tatapan yang bingung. Setelah sekian lama dia menghilang dari hidup Max, sekarang muncul lagi dan menanyakan tentang perasaan rindu.
Entah apa yang dipikirkan oleh Anggi tentang dirinya, sehingga wanita itu berani berkata dan menanyakan soal perasaan Max kepadanya.
"Maaf, maksud kamu apa ya? Saya benar-benar tidak paham?" tanya Max.
Anggi segera menggenggam tangan pria tampan tersebut, membuat Max sedikit kaget melihat keberanian Anggi yang tidak pernah dia lihat sejak dulu. Biasanya wanita itu akan malu-malu, tapi kali ini yang dia lihat Anggi sudah jauh berbeda.
"Aku sangat merindukanmu. Maaf jika dulu aku menghilang. Aku mempunyai alasan untuk itu. Bukan mauku, tapi---"
"Tidak perlu ada yang dibahas lagi tentang masa lalu! Kita ini hanya teman, tidak lebih. Lagi pula, aku tidak mengharapkan apapun. Masa lalu itu hanyalah sebuah cerita, dan masa depan, aku sedang menggapainya," potong Max sambil melepaskan pegangan tangannya.
Setelah mengatakan itu, Max pergi dari sana, tapi lagi-lagi Anggi menahannya, membuat pria itu sedikit jengah dan juga terganggu.
"Aku tahu, mungkin kamu marah sama aku, karena aku tidak memberikan jawaban kepadamu dulu. Tapi aku mempunyai alasannya Max, aku melakukan itu karena---"
__ADS_1
"Cukup Anggi! Sudah kubilang, itu hanyalah masa lalu, sebuah cerita yang tidak akan pernah ku ulang kembali. Kali ini aku sedang menata masa depanku, jika kamu datang dalam hidupku kembali, kamu hanyalah bagian dari masa laluku." Lagi-lagi Max memotong ucapan wanita cantik itu.
Kali ini Max pergi tanpa dihadang oleh Anggi. Pria itu benar-benar sudah tidak mempunyai perasaan apapun kepada Anggi. Biasanya setiap berada di sisi wanita itu, dia akan merasakan sebuah getaran yang aneh di dalam tubuhnya, tapi kali ini bahkan tidak merasakan apapun.
Dan Max semakin yakin, jika perasaannya kepada Anggi memang sudah benar-benar hilang, dan digantikan dengan Desi.
Anggi terlihat begitu sedih saat melihat sikap dingin Max. Dulu pria itu sangat hangat kepada dirinya, bahkan bisa dibilang Max selalu mengutamakan Anggi. Apapun yang berhubungan dengannya, tapi sekarang, dia melihat pria itu seperti tidak tersentuh sama sekali.
"Maafkan aku Max, jika dulu aku pernah meninggalkanmu tanpa ada kabar. Tapi sekarang aku sudah kembali, dan aku akan memperjuangkanmu. Aku yakin, jika di hatimu pasti masih ada aku. Masih ada cintamu untukku. Aku sangat yakin itu!" gumam Anggi dengan tekad yang kuat.
Dia sangat yakin, jika Max masih mencintainya. Namun pria itu enggan untuk mengatakan, karena gengsi yang terlalu tinggi. Padahal kenyataannya, Max memang sudah melupakan Anggi.
.
.
Hari ini semua sudah siap untuk berangkat ke kampung Dea, di mana mereka berangkat dengan menggunakan tiga mobil. Satu mobil diisi oleh mama Linda, Dev dan juga Dea. Sedangkan mobil lainnya diisi oleh Berlian dan juga Zay.
"Desi," panggil Max saat keduanya sama-sama terdiam.
"Iya Tuan," jawab Desi tanpa menengok ke arah Max sedikitpun, sebab ia merasa grogi.
"Apakah kau sudah menyiapkan jawaban tentang pertanyaanku kemarin?" tanya Max sambil menatap ke arah Desi sekilas, kemudian dia fokus kembali menyetir
Wanita itu terdiam, saat mendengar ucapan Max. Dia memang sudah menemukan jawaban yang pas dan tepat, setelah ditimbang-timbang dan juga setelah meminta bantuan dari Allah.
"Iya, aku sudah mendapatkan jawabannya," jawab Desi.
"Lalu, jawabannya apa?" tanya Max yang sudah tidak sabar.
__ADS_1
"Itu ... aku ..." Desi terlihat gugup. Dia meremas tangannya saat akan menjawab tentang pertanyaan Max tempo hari.
"Tidak apa, katakan saja! Aku akan menerimanya dengan lapang dada, apapun itu keputusannya," ujar Max dengan suara yang begitu lembut.
"Iya, aku---"
DUGH!
Tiba-tiba saja ucapan Desi terhenti, saat mobil mengerem secara mendadak, dan keningnya terpentok dasbor. Max yang melihat itu pun segera menatap ke arah Desi dengan cemas.
"Kamu nggak papa?" tanya Max dengan tatapan khawatir.
Desi menggelengkan kepalanya, namun keningnya terlihat merah, karena tadi terpentok ke arah dasbor. Max yang melihat itu pun segera menepikan mobilnya, kemudian dia melihat luka yang berada di dahi wanita itu.
"Maaf ya, tadi aku ngerem mendadak. Soalnya tiba-tiba saja ada motor yang menyalip, jadi aku menghindari kecelakaan," tutur Max.
"Iya, tidak apa-apa," jawab Desi sambil mengusap keningnya.
Max yang melihat itu segera memegang kening Desi, lalu meniupnya dengan lembut. Hingga tatapan keduanya sama-sama terhenti, saat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.
'Ternyata dia memang sangat cantik, jika dilihat dari dekat. Hidung mancung, bibir mungil, mata yang indah. Ingin sekali aku ... Astaga! Apa yang kau pikirkan, Max?' batin Max saat melihat wajah cantik Desi. Apalagi bibir mungilnya yang berwarna pink kemerahan.
Desi yang merasa gugup segera menjauhkan tubuhnya dari Max. Dia memalingkan wajahnya ke arah samping, begitupun dengan Max. Pria itu kembali melajukan mobilnya, karena mereka sudah ketinggalan lumayan jauh dari mobil Zay dan juga Dea.
Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka, hingga tidak terasa hujan mulai mengguyur dengan sangat deras. Untung saja ada GPS, jadi walaupun mobil Max dan juga Desi ketinggalan jauh, mereka tidak kehilangan jejak.
"Oh ya, kamu lapar nggak? Kita makan---" Ucapan Max terhenti saat menengok ke arah samping, ternyata Desi sedang tertidur.
Pria itu pun tersenyum, kemudian dia menepikan mobilnya sejenak, lalu membuka jaket dan menutupnya ke arah tubuh Desi. Kemudian satu tangannya menurunkan kursi, agar Desi lebih nyaman dalam tidurnya.
__ADS_1
'Aku berharap, jawabanmu sesuai dengan harapanku,' batin Max sambil menatap ke arah wajah cantik milik gadis itu.
BERSAMBUNG.....