Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
Panen Timun


__ADS_3

Happy reading.....


Pagi hari Berlian bangun jam 06.00, badannya terasa sangat lelah, karena mereka baru saja selesai jam 04.00 subuh melakukan olahraga di malam hari.


Setelah memakai pakaiannya, Berlian berjalan keluar kamar, dan di sana sudah ada Desi, mamanya dan juga neneknya yang sedang memasak untuk sarapan. Sedangkan mama Linda dan juga Susi sedang ke pasar untuk membeli sayuran.


"Pagi Ma, Nenek, Desi," ucap Berlian dengan wajah yang ngantuk.


"Selamat pagi. Wah ... pengantin baru sudah bangun?" ledek Dea.


"Mama doyan banget godain putrinya? Udah ah, aku mau mandi, belum shalat subuh nih!" rajuk Berlian. Kemudian dia mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.


Wanita itu pun keluar dengan rambut yang basah. Dea, Desi dan juga bu Siti yang melihat itu sangat paham, jika semalam pasti Berlian habis berperang dengan suaminya.


Namun saat masuk ke dalam kamar, Berlian melihat jika Zay masih terlelap dalam tidurnya. Wanita itu pun membangunkan Zay menggunakan bantal, sebab dia sudah wudhu.


"Om suami, bangun! Ini udah siang. Sebentar lagi waktu subuh habis. Om suami." Berlian terus membangunkan Zay, namun pria itu masih lelap dalam tidurnya.


Seketika ide jahil pun datang. Dia mengambil air di gelas, lalu menyipratkannya ke wajah Zay, membuat pria itu tersentak kaget.


"Banjir! Banjir! Sayang ayo kita pergi! Ada banjir," teriak Zay sambil menarik tangan Berlian.


"Ya ampun, Om suami. Aku sudah wudhu tahu! Kok malah dipegang sih? 'Kan jadi batal?" kesel Berlian dengan wajah yang sudah cemberut.


Zay yang sudah sadar pun seketika merengut kesal. "Lagian kamu, ngapain sih nyipratin air ke wajah aku? Ya bukan salahku dong, kalau kamu bantal? Lagi pula, suami istri itu kalau udah nikah nggak ada batal-batalan?" celetuk Zay.


"Kalau kata Imam Syafi'i, itu batal. Udah ah, aku mau wudhu lagi," ujar Berlian, kemudian meninggalkan Zay di dalam kamar.


"Loh sayang, kamu kok wudhu lagi? 'Kan tadi udah?" tanya Dea yang merasa heran saat melihat putrinya kembali berwudhu.


"Iya, gimana nggak wudhu lagi? Dibatalin sama om suami, nyebelin banget!" gerutu Berlian. Kemudian dia masuk ke dalam kamar dan langsung menunaikan shalat tanpa menunggu Zay terlebih dahulu, karena pasti pria itu akan lama sebab harus mandi dulu.


.


.


Siang ini Dev menyuruh Zay dan juga Berlian untuk memanen timun yang ada di sawah milik ayah Rozak. Berlian yang mendengar itu, tentu saja sangat senang. Tidak lupa, Berlian juga mengajak Desi dan Max untuk ikut serta memanen buah timun.


"Kalian panen dulu buah timunnya! Nah, Mama, Oma dan juga Nenek akan memasak nasi liwet di sini. Sedangkan untuk Mas Dev, Ayah dan juga Kak Bagus, silakan memanen cabe yang ada di sebelah sana!" jelas Dea.


Mereka semua pun melaksanakan tugasnya, memanen timun dan cabe. Max membawa ember, sedangkan Desi memetik timunnya. Begitupun dengan Zay, dia yang membawa ember sedangkan Berlian yang memetik timunnya.


"Sayang, kira-kira buah timun ini lebih kecil sepertinya dari punyaku? Tidak akan kenyang jika--""


DUGH!

__ADS_1


Ucapan Zay terhenti saat Berlian memukul jidat pria itu dengan timun yang ada di tangannya, membuat pria tampan tersebut mengaduh kesakitan.


"Sayang, kamu ngapain sih mukulin jidat aku pakai timun? Sakit tahu!" gerutu Zay sambil mengusap keningnya yang terasa sedikit sakit.


"Biar otak Om suami itu lurus, nggak geser, nggak miring. Lagian ada-ada aja! Masa mantan terong karatan disamain sama timun yang baru aja panen? Jelas-jelas timun ini lebih segar?" celetuk Berlian sambil terus masukkan timun yang dia panen ke dalam ember.


"Ya memang terlihat segar, tapi kan tetap saja besaran punya aku? Lebih puas dan--- Aawh!" ringis Zay saat Berlian mencubit pinggangnya.


"Bener-bener ya! Dari tadi ngomongnya timun mulu. Mau aku samain sama timun? Sini buka celananya! Aku potong, ganti sama timunx biar nggak tidur-tidur tuh terong!" geram Berlian.


Zay yang mendengar itu pun langsung menutup tangannya di kedua pangkal paha, menutupi barang yang begitu berharga yang selama ini dijaganya dengan begitu ketat.


"Jangan dong, sayang! Ini tidur aja banyak yang mau, apalagi kalau bangun?" celetuk Zay.


Berlian yang mendengar itu pun hanya menggelengkan kepalanya saja, dia enggan untuk menjawab ucapan suaminya, karena pada akhirnya mereka hanya akan berdebat.


'Mimpi apa aku mempunyai suami yang somplak seperti ini? Masa punya dia disamain sama timun? Ada-ada aja. Semoga Tuaan Max tidak seperti ini. Bisa-bisa Desi kejang-kejang?' batin Berlian.


Sementara itu, Max tidak jauh bedanya dengan bosnya. Dia melihat Desi memotong timun tersebut, lalu memasukkannya ke dalam ember. Seketika pikiran Max pun terarah pada sesuatu yang berada di dalam celana.


Kemudian pria itu mengambil satu buah timun yang lumayan besar, lalu menaruh nya di depan celana, membandingkan dengan miliknya saat terbangun. Sementara Desi yang melihat itu semua menatap heran ke arah Max.


'Apa yang dilakukan Tuan Max? Kenapa dia mengambil timun dan melihatnya seperti itu? Aneh sekali?' batin Desi.


"Sayang, kamu ngapain megang timun kayak gitu, terus ditaruh di depan celana lagi? Hayo, mau ngapain?" tebak Desi sambil menatap ke arah Max dengan heran.


"Tidak! Aku hanya berpikir, mungkin jika timunnya sebesar ini, pasti timbangannya akan sangat berat?" alibi Max.


Desi hanya ber-oh Ria saja, kemudian dia melanjutkan memanen timunnya lagi, hingga setelah ember penuh, Max membawanya ke saung yang ada di tengah sawah dan mengumpulkannya di atas terpal. Kemudian dia berjalan kembali ke arah Desi, begitupun dengan Zay.


Setelah semua sudah dipanen, mereka pun kembali ke saung, dan di sana Susi sebagai istri Nagus sudah menyiapkan es teh manis untuk mereka semua, karena pasti keempat orang itu sangat haus.


"Aagh ... menyegarkan sekali. Rasanya meminum es teh yang melewati tenggorokan, langsung ke paru-paru dan turun ke lambung," ujar Zay sambil mengelap tenggorokannya.


Bagi Zay dan juga Max, itu adalah pengalaman yang berharga. Karena mereka tidak pernah sekalipun turun ke sawah untuk memanen sayuran, yang mereka tahu hanyalah makan saja, tetapi untuk memanennya atau menanamnya, mereka tidak tahu sama sekali.


"Apakah timun itu akan berbunga dan berbuah lagi?" tanya Max kepada ayah Rozak.


"Iya, akan berbuah dan berbunga lagi sampai habis," jawab ayah Rozak.


"Lalu, ini semua akan dibawa ke mana Kek?" timpal Zay.


"Ini semua nanti akan dibawa ke pasar yang ada di kota, untuk dijual."


"Nah, karena nasi liwetnya sudah matang, kita semua makan ya! Tapi sebelum itu, kalian cuci tangan dulu. Karena pasti tangan kalian itu kotor dan berlumpur?" seru Dea sambil menghidangkan nasi liwet di atas daun pisang.

__ADS_1


Sebab khas yang ada di kampungnya Dea adalah, liwetan yang dihidangkan di atas daun pisang, dengan sambal dan lalapan, ikan asin, pete, jengkol dan berbagai macam sayur begitu menggugah selera.


Max dan juga Zay saling melirik satu sama lain, saat melihat nasi yang sudah dihidangkan di atas daun pisang. Mereka tidak biasa makan seperti itu, tetapi melihat Dev begitu lahap memakannya, mereka pun jadi penasaran seberapa sedapkah makanan tersebut.


"Kenapa diam saja, Om suami, Tuan Max? Ayo dimakan;" ujar Berlian.


Kedua pria itu pun mengangguk, kemudian mereka mulai memakan nasi liwet tersebut. Satu suapan terasa enak, dua dan tiga suapan membuat mereka semakin ketagihan, hingga keduanya pun tidak berhenti mengunyah. Dan dengan jahil, Berlian menyuapi suaminya, tetapi di dalam nasi tersebut sudah tersedia petai.


"Sayang, ini di dalam nasi ada apanya?" tanya Zay sambil terus mengunyah.


"Oh, itu timun," jawab Berlian sambil menahan tawanya.


Dia tahu jika suaminya tidak menyukai jengkol ataupun petai, tapi sekarang Zay malah ketagihan saat Berlian lagi-lagi menyuapinya, tanpa dia ketahui jika di dalam nasi itu ada petai.


"Sayang, kok rasanya mulutku terasa bau ya?" tanya Zay saat merasakan bau yang tak sedap dari mulutnya.


"Aah, masa sih Om suami?" jawab Berlian sambil terus memakan nasi liwetnya dengan lalap timun dan juga rebusan daun singkong dengan sambal.


"Jelas aja bau, yang kau makan itu adalah pete," timpal Dev sambil memakan jengkol muda yang baru saja dipetik Bagus di tepi sawah.


Seketika pria tampan itu tersedak makanannya sendiri. Dia menatap ke arah Berlian, dan istrinya hanya mengangguk saja, membenarkan ucapan papahnya, jika apa yang dimakan oleh Zay itu adalah petai.


Pria tersebut tidak bisa lagi menahan kagetnya, sebab seumur hidup Zay baru itu merasakan yang namanya petai. Kemudian kepalanya terasa pusing, akhirnya dia pun pingsan.


"Astaghfirullahaladzim! Om suami, kenapa?" kaget Berlian saat melihat Zay pingsan di pangkuannya.


Semua orang yang melihat itu tentu saja sangat panik . Namun tidak dengan Dev, ayah Rozak dan juga Max. Mereka hanya menggelengkan kepalanya saja, saat melihat Zay pingsan karena makan petai.


"Ya ampun, badan kekar, wajah garang, duda pula. Masa cuma makan petai aja pingsan? Cemen sekali," ujar Dev sambil menggelengkan kepalanya.


"Jangan kayak gitu! Ingat nggak, dulu kamu pertama makan jengkol aja ngompol? Sok-sokan ngeledekin cucunya, Ayah?" timpal ayah Rozak.


Seketika wajah Dev menjadi merah padam, saat ayah Rozak mengatakan jika pria itu pernah mengompol gegara makan jengkol. Sementara bu Siti dan juga mama Linda hanya terkekeh saja.


"Ya ampun, Om. Om pernah mengompol gara-gara makan jengkol? Astaga! Ternyata menantu sama mertua sama saja, 11-12, nggak ada bedanya?" ledek Max Sambil tertawa.


"Diam kamu! Itu 'kan dulu, sekarang saya doyan tuh sama jengkol," jawab Dev dengan gaya berwibawanya, padahal saat ini dia tengah menahan malu.


Tak lama Zay tersadar dari pingsannya. Dia memegangi kepalanya, namun seketika pria itu langsung mencari permen dan memuntahkan isi perutnya, tapi tidak ada yang keluar.


"Kenapa kamu memberikanku petai? Aku tidak suka petai," ucap Zay kepada Berlian.


"Tidak suka, bukan berarti alergi?" timpal Dev sambil menyandarkan tubuhnya di kursi yang ada di sana.


"Ya ampun, seumur-umur baru ini aku makan petai. Dan itu gara-gara istriku. Jika bukan istriku, sudah ku gempur kamu di tengah sawah!" geram Zay sambil pasrah dan meminta Max untuk membelikan permen di warung.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2