
Happy reading
Setelah beberapa jam mobil pun sampai di kediaman Bachtiar, bahkan kali ini Berlian tidak tidur sama sekali sepanjang perjalanan. Dia terus saja menatap ke arah luar sambil menangis.
Tanpa berkata apapun, wanita itu turun dari mobil Zay, karena saat ini perasaannya sedang kecewa, hancur dan merasa terhina. Mata sebabnya menunjukkan jika saat ini Berlian tengah terluka. Dia masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan Zay yang menatapnya dari mobil dengan perasaan bersalah.
Sesampainya di kamar, Berlian langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Dia langsung menangis tersedu-sedu ditutup oleh bantal, karena Berlian tidak ingin Omanya mendengar isak tangisnya.
Sementara itu, Zay mengusap wajahnya dengan kasar sambil mengacak rambut. Dia benar-benar merutuki kebodohannya yang telah lancang mencium Berlian. Seharusnya Zay sadar, jika Berlian tidak seperti wanita pada umumnya yang gampang untuk dicium dan juga disentuh oleh pria lain. Zdan itu yang menjadi poin plus bagi Berlian di mata pria itu.
''Bodoh! Bodoh kamu Zay! Harusnya kamu bisa menahannya. Kenapa kamu sampai mencium dia? Kenapa sampai aku tidak bisa mengontrol emosi? Ya Tuhan, kalau sampai dia membatalkan perjodohan ini bagaimana? Aku tidak ingin kehilangan dia.'' Zayden merutuki dirinya sendiri sambil memukul kepalanya ke setir mobil beberapa kali.
Setelah itu Zaidan pun pergi meninggalkan kediaman Bachtiar untuk menuju ke apartemennya dengan membawa segenggam rasa bersalah di dalam hati, atas kejadian beberapa jam yang lalu.
*************
Pagi menyongsong, matahari terbit di ufuk timur dengan cahaya yang kuning keemasan. Membuat bumi yang tadinya gelap menjadi terang. Burung-burung berkicau menyambut pagi hari yang begitu indah, beterbangan mengelilingi rumah kediaman Bachtiar.
Berlian sedang duduk di luar balkon sambil membaca skripsi untuk kuliahnya nanti jam 10.00. Dia juga sedang meminum susu jahe buatan Omanya, karena jika Mama Linda sedang berada di rumah Dev, dia akan selalu membuatkan minuman kesukaan cucunya.
Saat Berlian tengah fokus mempelajari skripsinya, tiba-tiba seseorang duduk di samping dirinya, ternyata itu adalah Mama Linda. ''Omah, aku kira siapa?'' ucap Berlian sambil mencopot handset di telinganya.
__ADS_1
''Kamu sedang mengerjakan tugas?'' tanya Mama Linda kepada Berlian, dan Gadis itu langsung mengangguk.
''Gimana dengan acara semalam? Apa berjalan lancar?'' tanya Mama Linda sambil mengusap rambut indah milik Berlian, karena saat ini gadis itu tidak memakai jilbab. Sebab dia masih di kamar.
Mendengar pertanyaan sang Omah, tiba-tiba Berlian teringat dengan kejadian semalam. Di mana Vano dan juga Zay bertengkar, kemudian pikirannya juga tertuju kepada kejadian di mobil saat Zay mencium dirinya dengan rakus.
''Baik kok, Omah. Semuanya berjalan lancar,'' jawab Berlian dengan nada yang lesu.
Mama Linda tersenyum kemudian dia menggenggam tangan Berlian. ''Oma tahu kok, apa yang terjadi semalam? Zaidan dan Vano berantem, 'kan?'' tanya Mama Linda dengan nada yang lembut.
Berlian terdiam, kemudian dia menaruh skripsinya di atas meja lalu mengganggukan kepala sambil beranjak dari duduk, kemudian dia berdiri di pagar balkon menatap lapangan golf yang ada di hadapannya. Semilir angin pagi yang segar menerpa wajah dan menggoyangkan beberapa helai rambut hitam milik gadis itu.
Berlian menghela nafasnya, kemudian dia menatap ke arah sang Omah. ''Tidak Omah! Mana mungkin dia cemburu? Kami saja tidak saling mencintai, bagaimana mungkin rasa itu ada? Bukannya cemburu itu, hanya untuk orang-orang yang saling mencintai saja?''
''Dengarkan Oma! Mungkin saat ini kamu belum bisa mencintai Zayden, tapi siapa yang tahu jika Zayden mencintai kamu? Pria itu sangat dingin. Dia persis seperti papa kamu, dingin, kaku kayak es kutub, tapi aslinya dia sangat mencintai istrinya . Dan Oma rasa, Zay pun seperti itu. Dia tidak pandai mengungkapkan perasaannya kepadamu, dan hanya dari perilakunya saja pria sedingin itu akan menampilkan dan mengutarakan semuanya,'' jelas Mama Linda.
Berlian terdiam mendengar penjelasan Omanya, sementara itu Mama Linda Kembali keluar untuk menyiram tanaman. Dia meninggalkan gadis itu dengan pikirannya saat ini, karena Mama Linda tahu Berlian sedang memikirkan segala ucapannya.
*************
Saat ini Zay tidak menjemput Berlian untuk pergi ke kampus, sebab dia harus meeting bersama dengan klien, jadi dia tidak bisa menjemput gadis itu. Dan akhirnya, Berlian pun pergi bersama sopir untuk ke kampus.
__ADS_1
Sesampainya dia di kampus, Berlian langsung berpapasan dengan Tanisha dan juga Daffa, tapi dia tidak peduli. Gadis itu pun hanya melewati dua penghianat dengan acuh, tapi kemudianTanisa memegang tangan Berlian, hingga membuat langkahnya terhenti.
''Maaf, ada apa ya?'' tanya Berlian sambil melepaskan genggaman tangan Tanisha di lengannya.
Kemudian wanita itu berjalan ke arah Berlian, lalu membisikkan sesuatu. ''Jika kamu ingin Desi selamat, maka kamu harus datang ke Jalan Nirwana. Karena saat ini temanmu sedang dalam bahaya!'' ancam Tanisha sambil tertawa sinis.
Mata Berlian membulat dengan sempurna, kemudian diam tertawa kecil lalu menatap ke arah Daffa dan Tanisha. ''Ckck, kalian pikir, aku ini bisa dibodohin untuk kedua kalinya? Tidak! Aku tidak perduli, mau kalian bicara apa tentang Desi. Karena kebohongan kalian tidak akan mempan kali ini,'' jawab Berlian dengan nada mengejek. Kemudian dia membalikkan badannya untuk meninggalkan Tanisha.
''Tunggu! Mungkin kamu tidak akan percaya, tapi setelah melihat ini kamu mungkin akan percaya.'' Tanisha memberikan ponselnya kepada Berlian, dan memutar sebuah video di mana Desi sedang diikat di kursi, dan di sana ada dua pria yang tidak memakai pakaian atas.
Seketika Berlian menatap tajam ke arah Tanisha dan Daffa. ''Jika kamu memang ingin Desi selamat, maka seharusnya kamu datang ke sana!'' bisik Tanisha sambil tertawa jahat, kemudian dia pergi meninggalkan Berlian sambil menggandeng Daffa.
Gadis itu terdiam, dia benar-benar khawatir dengan keadaan Desi. Apalagi tadi dia melihat salah satu dari pria itu mencium pipi Desi. Walaupun Desi juga sudah bersekongkol dengan Tanisha dan Daffa, tapi saat mendengar penjelasan wanita itu di dalam mobil, dia yakin jika Desi memang korban.
''Mereka benar-benar licik. Aku harus menolong Desi, tapi bagaimana jika ini sebuah jebakan?'' Berlian terlihat bingung, apakah dia harus datang ke sana atau tidak? Di satu sisi, dia ingin sekali menyelamatkan Desi, tapi di sisi lain dia takut jika itu adalah sebuah jebakan untuk kedua kalinya.
Setelah berperang dengan perasaannya, Berlian pun bertekad untuk menyelamatkan Desi. Saat dia melangkahkan kakinya ke dalam kelas, tiba-tiba ponselnya berdenting dan sebuah pesan pun masuk dari Tanisha.
Jika kamu mau Desi selamat, maka datanglah kesana sendiri. Jangan membawa siapapun! Jika kau melanggar, maka aku pastikan kedua anak buahku akan menggilir wanita penyakitan itu!
...BERSAMBUNG...
__ADS_1