Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
Kami Minta Maaf


__ADS_3

Happy reading......


Sesuai dengan ucapan Dea tempo hari, jika satu minggu lagi mereka akan pergi untuk fitting baju pengantin Berlian dan juga Zay. Dan saat ini Dea, mama Linda serta Berlian sedang berada di jalan untuk menuju sebuah butik.


Sebenarnya Berlian tidak ingin pergi, apalagi harus menikah dengan pria itu, tapi keinginan kedua orang tuanya adalah sebuah perintah dan mau tidak mau Berlian tidak bisa membantah. Apalagi Zay memang orang yang harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada hidupnya.


Sesampainya di butik, mereka disambut oleh sahabat mama Linda, kemudian Berlian pun mulai mencoba baju yang sudah dipesan oleh Dea. Bahkan di desain dengan sedemikian rupa indah dan anggun. Dia ingin yang terbaik untuk putri semata wayangnya.


Sementara itu, Zay memang tidak ikut untuk fitting baju, sebab dia harus keluar kota. Karena ada pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan dan wakilkan kepada Max, jadi terpaksa Zay akan fitting bajunya di apartemen, nanti karyawan dari butik akan datang ke sana.


''Wah, kamu cantik sekali sayang. Benar-benar anak Mama ini bagaikan bidadari yang baru saja turun dari khayangan,'' luji Dea saat melihat putrinya mengenakan baju pengantin.


Gadis itu tersipu malu saat Dea memujinya. ''Mama bisa aja mujinya, jangan seperti itu! Nanti kalau Berlian terbang, ujung-ujungnya nyungsep ke tengah sawah, bagaimana?'' kekeh Berlian.

__ADS_1


Selesai fitting baju pengantin, mereka pun pulang. Akan tetapi, Berlian meminta untuk diantarkan ke kampus. Dia ada pelajaran yang harus dihadiri, ditambah sebentar lagi dia akan lulus.


Sesampainya di kampus, Berlian mencium tangan Dea dan juga mama Linda. Setelah itu dia turun dari mobil dan masuk ke dalam kampusnya. Namun saat melewati taman, dia melihat Tanisha dan juga Daffa yang sedang duduk di sebuah kursi.


Akan tetapi ada yang aneh pada mereka berdua. Namun Berlian mengedipkan bahunya dengan acuh, dia tidak ingin mencampuri urusan mereka lagi. Kemudian gadis itu pun berjalan melangkah ke dalam kelas, karena sebentar lagi pelajaran akan dimulai.


Selama pelajaran berlangsung,.Berlian terus saja menatap ke arah Tanisa dan juga Daffa. Dia mencuri pandang sesekali ke arah mereka, sebab gadis itu merasa aneh dengan penampilan dua orang yang telah menghianatinya.


Sejak kapan Tanisha memakai wik? Dan sejak kapan pula Daffa suka memakai topi? Tapi, kenapa rambut Daffa kek botak gitu, ya? batin Berlian bertanya tanya saat dia melihat penampilan dua orang tersebut.


''Ada apa?'' tanya Berlian tanpa basa-basi, karena dia sudah muak berhadapan dengan orang seperti mereka.


Daffa juga berjalan mendekat ke arah Berlian, dan Tanisha, kemudian dia berdiri tepat di samping kekasihnya. ''Kami mau minta maaf, karena selama ini sudah jahat sama kamu,'' ujar Tanisha sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Berlian cukup kaget saat mendengar permintaan maaf yang terlontar dari mulut wanita yang berada di hadapannya itu. Mengingat bagaimana jahatnya mereka kepada Mentari, tapi gadis itu tidak memiliki dendam apapun.


''Iya Berlian, aku juga minta maaf karena sudah jahat sama kamu,'' timpal Daffa.


''Aku sudah memaafkan kalian kok, jauh sebelum kalian meminta maaf, tapi tentu saja kalian juga tahu! Luka yang telah ditorehkan tidak bisa sembuh, bahkan gara-gara kalian, aku kehilangan sesuatu yang berharga. Mungkin saja aku bisa memaafkan, tapi tidak bisa melupakan kejadian itu,'' jelas Berlian.


Setelah mengatakan itu, dia pergi meninggalkan Daffa dan juga Tanisha yang saling melirik satu sama lain sambil tersenyum miring. Mereka seperti sedang merencanakan sesuatu, tapi hanya merekalah yang tahu.


Tentu saja orang yang sudah dikotori hatinya oleh sifat iri dengki, maka akan sangat susah untuk menerima kenyataan. Bahkan untuk berdamai dengan orang yang dibencinya sangat mustahil. Karena bagi dia kemenangan hanyalah untuknya, dan dialah yang paling tinggi.


''Sebaiknya selesai ngampus aku ke Rumah Sakit deh, untuk menjenguk Desi. Siapa tahu aja dia sudah sadar. Lagi pula, tuan Max ke mana ya? Aku telepon tapi malah nggak aktif.'' Berlian bermonolog dengan nada yang lirih.


Setelah jam pelajaran selesai, dan waktu menunjukkan pukul 16.00 sore. Berlian pergi ke Rumah Sakit untuk menengok sahabatnya, dan sesampainya di sana dia langsung menuju ruangan di mana Desi dirawat.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2