Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
Bab 37


__ADS_3

Happy reading......


Tanisha merasakan lemas di tubuhnya, setelah benda itu tidak lagi menempel di pinggang. Kemudian wanita itu menggeleng dengan lemah kepada Dev, agar pria itu tidak menyetrumnya kembali.


Kemudian dia berjalan ke arah Daffa, dan anak muda itu merasa ketakutan. Bahkan keringat sebesar biji jagung jatuh dari keningnya beberapa kali. ''Tidak, Om! Tolong jangan lakukan itu, saya minta maaf, jika memang saya sudah--''


''DIAM KAU!'' bentak Dev dengan marah. Bahkan matanya menyorot tajam ke arah Daffa.


Anak muda tersebut sampai terperanjat kaget, karena baru kali ini dia melihat amarah Dev yang begitu menggebu. Tidak pernah terbayangkan oleh Daffa sama sekali jika Dev akan semarah itu. Karena selama ini Daffa mengenal Dev dengan pringai yang baik dan juga ramah.


''Seharusnya bukan hanya keluargamu saja yang ku hancurkan, tapi kalian ku buat jadi gelandangan di kolong jembatan. Sepatutnya kau bersyukur, karena sampai saat ini kau masih bisa untuk menghirup udara segar. Jika saja aku tidak memikirkan anak dan istriku, sudah pasti kau ku habisi!'' geram Dev sambil mencekal rahang Dafa dengan kuat, lalu menghempaskannya dengan kasar.


Belum puas dengan itu semua, Dev langsung mengarahkan benda yang ada di tangannya ke tubuh Daffa, hingga pria itu mengejang. Setelah itu Dev menampaar wajah Daffa beberapa kali, hingga wajah tampan itu babak belur dan mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.


''Tolong ampuni saya, Om. Saya mohon,'' ucap Daffa dengan lirih, karena dia merasakan sakit yang teramat sangat di bagian wajahnya.


Tanisha yang melihat kemarahan Dev, seketika menggigil ketakutan. Dia tidak menyangka, jika Papa dari mantan sahabatnya itu begitu kejam. Dia pikir, bermain-main dengan keluarga Bachtiar tidak akan se-mengerikan itu, tapi ternyata dia salah.


Rasa sesal seketika menyelimuti hati gadis itu, sebab sudah bermain-main dengan Dev dan juga keluarganya. Tanisa bisa melihat bagaimana kemarahan Dev terhadap Daffa, dan mungkin saja jika dia laki-laki, Dev juga sudah memukul dirinya.


''Kau bilang apa, tadi? Ampun? Lalu ke mana saat anaku meminta ampun, hah! Di saat kalian berdua menjebak putriku, sampai dia harus kehilangan mahkota yang selama ini dia jaga! Kalian pikir nggak perasaanku sebagai seorang Ayah, bagaimana!?'' bentak Dev dengan suara yang lantang dan menggelegar, memenuhi ruangan yang tidak terpakai itu.


Tanisha menutup matanya saat mendengar kemarahan Dev, begitupun dengan Daffa. Dia hanya tertunduk dengan rasa sesal dan takut, semua menjadi satu saat ini dalam perasaan kedua orang yang tengah diikat tersebut.

__ADS_1


''Al, berikan benda itu kepadaku!'' titah Dev sambil menengadahkan tangannya kepada Al, lalu pria itu membuang alat setrum yang ada di tangannya ke sembarang arah dan menerima alat pencukur rambut dari Alvin.


''Kalian tahu ini, apa?'' tanya Dev kepada Tanisha dan Daffa, sambil menggoyangkan alat itu di hadapan mereka.


Kedua remaja itu tentu saja merasa heran, kenapa Dev malah mengeluarkan pencukur rambut? Mereka pikir dia akan mengeluarkan pisau atau benda tajam semacamnya, akan tetapi ternyata mereka salah.


''Kalian sudah membuat putriku malu kehilangan sesuatu yang berharga di dalam hidupnya, dan seharusnya aku menghabisi kalian saat ini juga! Tapi sayang, aku sudah berjanji kepada istriku jika tidak akan pernah menumpahkan darah kembali,'' jelas Dev sambil meminta Alvin untuk mencolokkan alat tersebut, lalu menyalakannya.


''Bagaimana rasanya, jika kita buat mahkota kalian menjadi gurun pasir?'' tanya Dev dengan senyum seringai di wajahnya.


Daffa dan Tanisha mengerti ke mana arah tujuan pria setengah abad itu. Kemudian keduanya menggeleng, ''Tidak, Om! Tolong jangan lakukan itu, Om!'' pinta Tanisha dengan ketakutan, akan tetapi Dev malah tertawa dengan lantang.


''Hahaha ... kalian lihatlah wajah kedua penghianat ini, yang sudah berani bermain-main dengan keluarga Bachtiar. Mereka bahkan ingin bermain licik, tapi tidak tahu lawan mereka itu tangguh atau tidak? Sekarang malah memohon untuk dimaafkan? Jangan pernah harap!'' Dev berkata dengan wajah yang datar dan dingin.


''Dengan senang hati Bos,'' ucap Alvin dengan senang. Sementara itu Dev hanya berdiri menatap sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Daffa yang melihat Alvin mendekat ke arahnya sambil membawa alat cukur dan berdiri di belakang tubuhnya seketika dia menggeleng dengan kuat. ''Tidak, Om! Tolong jangan lakukan itu! Saya mohon,'' pinta Daffa memohon kepada Dev, akan tetapi pria itu tidak merespon sama sekali. Dia hanya menatap Daffa dengan tatapan dinginnya.


Kemudian Alvin menyuruh kedua anak buah Zay untuk memegangi kepala pria itux lalu dengan perlahan Alvin mulai menggunduli rambut Daffa hingga pria itu botak.


Tanisha yang melihat itu tentu saja sudah menangis, dia takut jika rambutnya juga digunduli. Dan benar saja, selesai Alvin menggunduli Daffa, pria itu berjalan ke arah Tanisha. Dia melihat wanita remaja itu menggeleng dengan kuat, bahkan air matanya sudah membasahi pipi.


''Om, saya mohon, jangan lakukan itu. Om boleh minta apapun dari saya, tapi tolong jangan gunduli rambut saya, Om, saya mohon,'' ucap Tani dengan memohon kepada Alvin dan juga Dev.

__ADS_1


Akan tetapi kedua pria itu bahkan seperti tuli, tidak mendengar permohonan Tanisha. Lalu dengan perlahan Alvin menarik rambut Tani, sehingga wajah gadis itu mendongkrak ke atas.


''Gadis kecil, seharusnya sebelum kau melakukan sesuatu dan ingin menjadi orang yang licik. Lihat dulu lawanmu, apakah dia sepadan atau tidak?'' ucap Alvin kemudian dia mulai mencukur rambutan wanita itu.


''TIDAK! Jangan, Om! Jangan!'' teriak Tanisha dengan kuat saat rambut panjang dan indahnya mulai berjatuhan di lantai.


Setelah keduanya gundul, Dev dan juga Alvin hanya tertawa renyah. ''Seharusnya kalian itu beruntung, hanya aku gunduli tidak kupotong tangan dan juga kaki kalian, sebab aku masih menghargai keluargaku. Itu belum seberapa dengan hilangnya kehormatan putriku. Apa kalian bisa mengembalikannya, kembali? Bisa tidak!?'' bentak Dev sambil menendang kursi yang ada di sampingnya.


Tanisha tidak berani menjawab, Daffa pun begitu. Keduanya sama-sama terdiam melihat kemarahan Dev. ''Rambut kalian bakal tumbuh kembali, tapi apa kalian pikir, putriku akan kembali kehormatannya? Tetapi kalian tenang saja, aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia, setelah menghancurkan keluargaku.'' Dev berucap dengan nada yang dingin.


''Al, besok kau telepon pihak kampus dan berhentikan orang tuanya dia untuk mengajar di sana! Setelah itu, kau hancurkan keluarga Daffa sampai ke akar-akarnya. Buat mereka jadi gelandangan!'' titah Dev sebelum dia membalikkan badannya.


''Siap, laksanakan Bos!'' jawab Alvin sambil tersenyum senang.


Daffa dan Tanisha menggeleng dengan cepat, ''Tidak, Om. Jangan lakukan itu,nkami mohon,'' ucap Daffa dan juga Tanisha serempak. Akan tetapi, Dev tidak mendengar dia berjalan keluar dari gudang tersebut.


''Kalian jaga dua tuyul itu! Jangan sampai lolosx sebelum Zay kembali dan meminta kalian membebaskannya, paham!'' titah Alvin pada kedua anak buah Zay.


''Paham Tuan,'' jawab mereka. Kemudian Alvin keluar menyusul Dev untuk pergi ke mobilnya dan meninggalkan tempat itu.


Kini di hati Tanisha dan Daffa hanya ada penyesalan, karena mereka sudah berurusan dengan keluarga Bachtiar. Jika waktu bisa diputar, mereka tidak akan pernah mau untuk berurusan dengan keluarga itu. Sebab tidak mereka sangka, jika Dev begitu kejam.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2