
BAB 12
Kevin beberapa kali gagal melakukan pengambilan adegan yang sangat penting untuk filmnya. Semua yang hadir merasa gemas dan kesal sendiri, tidak biasanya aktor muda berbakat ini banyak mengulang kesalahan.
“Ayo Kevin semangat, kenapa ini ada apa?”, seru sutradara yang duduk di kursi mengamati bahwa mimik wajah Kevin tidak menunjukan auranya sebagai bintang.
Managernya pun datang menghampiri dan memberi minum, juga semangat pada Kevin. “Vin ada apa sih? Masalah apa? Mendingan Lo jujur sama gue, siapa tau gue bisa bantu”,
“Santai bro, mungkin ini butuh istirahat”, balas Kevin mengulas senyum kaku.
Ternyata sampai pukul 12 malam kegiatan ini baru selesai dan menunda pada pengambilan beberapa adegan, karena Kevin terus mengulang kesalahan. Menyebut nama ‘Diana’ sebagai tokoh utama wanita yang diperankan artis muda pendatang baru menjadi ‘Dayana’. Bahkan penulis naskah berulang memastikan bahwa ia tidak salah tulis pada naskah Kevin.
Selain itu bukan adegan romantis yang dilakukan melainkan tatapan tajam dan intonasi nada Kevin terdengar memaksa. Crew film pun kesal tapi mau bagaimana lagi, tidak mungkin mengganti Kevin ditengah-tengah syuting. Honor yang dibayar pun sangat mahal untuknya karena sesuai dengan bakat dan kharisma seorang Kevin Nugraha.
“Kevin, nama pacar mu itu kan Selena bukan Dayana, awas jangan sampai selingkuh”, kelakar sutradara yang lebih dulu meninggalkan lokasi.
“Eh iya Vin bener juga, siapa tuh Dayana”, Manager Kevin yang bernama Mario mencondongkan tubuhnya, mengamati Kevin dari dekat, “Awas Lo kalau sampai itu Dayana model atau artis muda yang mau numpang nama doang. Cukup ya Kevin uang Lo banyak keluar untuk Selena”, tegas Manager gemulai ini.
“Iya iya, bukan. Itu salah sebut aja. Ayo pulang, ke apartemen jangan ke rumah”, Kevin berjalan mendahului managernya yang juga sahabat, selalu menemaninya di kala jatuh bangun merintis karir.
Dalam mobil mercy yang dikendarai supir, Kevin berulang kali membuka aplikasi m-banking, tidak ada transaksi satu rupiah pun dari rekening miliknya. Padahal ia memberikan Dayana kartu debet yang paling banyak menyimpan uang, entah mengapa spontan Kevin memberikannya. Padahal Selena saja hanya Kevin transfer uang tanpa memberi kartu apapun.
“Sebenarnya wanita seperti apa dia?”, gumam Kevin, menjepit dagu dengan ibu jari dan telunjuknya. Kevin benar-benar penasaran, padahal ia juga memberi pin atm yang ditulis pada kertas kecil, harusnya jika Dayana perempuan licik pasti menguras rekening Kevin.
“Wanita mana Kevin? Selena? Lo tanya Selena seperti apa? Dia itu lintah darat, Vin. Cari pasangan yang bener Vin”, Mario merasa kesal dan gemas sekaligus, kenapa pria seperti Kevin bisa menyukai wanita seperti itu.
“Jam berapa kita ke Korea?”, tanya Kevin, ia ingin melakukan sesuatu lebih dulu sebelum berangkat. “Besok break shooting kan?”.
“Kita berangkat malam, setelah hasil test kemarin keluar. Hey, jangan membuat ulah aneh ya Kevin”, berang Mario yang selalu pusing menangani aktor kebanggaannya.
“Tenang aja”
__ADS_1
**
Kediaman Bradley
Dayana yang telah sadar dari pingsan mendapat perhatian dari tante dan pamannya, malam ini ia diwajibkan menginap di rumah pamannya. Tidak tega dan khawatir membiarkannya pulang dalam keadaan sakit seperti ini.
“Sayang ini minum dulu, mama buat teh jahe”, Mama Nayla menatap sayang pada Dayana.
“Terima kasih ma”, senyumnya.
“Dewa bilang kamu kelelahan dan terlalu banyak pikiran, memang apa nak yang kamu pikirkan sampai seperti ini? Cerita sama mama”, menggenggam tangan satu tangan Dayana.
Bayangan Kevin dan pernikahannya di Semarang terlintas oleh Dayana, tidak ia tidak bisa mengatakannya , ini terlalu berat dan mendadak. Bibir tipisnya terkunci untuk berkata jujur, “Maaf ma”, batin Dayana.
.
.
Dayana dibekali makan siang dan snack oleh Mama Nayla, tidak mau keponakannya terlambat makan karena sibuk. “Ini untuk kamu, mama tidak mau ya keponakan cantik mama terlambat makan”, tegas Mama Nayla.
“Iya ma terima kasih”.
Tidak menyetir mobil sendirian, melainkan diantar supir pribadi keluarga Bradley, Dayana duduk tenang di kursi belakang, menikmati suara klakson yang saling bersahutan pada jam sibuk ini. Dirinya pun bak putri dilayani dengan sangat baik, pintu dibuka oleh supir dan ya pemandangan ini tak luput dari perhatian seseorang dalam mobil merah berlogo H.
“Pantas saja kartu atm ku tidak digunakannya, rupanya dia simpanan pria kaya”, sinisnya. “Berani sekali terang-terangan seperti itu”, menggelengkan kepala, menyadari bahwa mobil yang digunakan sering ia lihat keluar masuk perusahaan farmasi, jelas sudah Dayana menjadi wanita simpanan salah satu putra keluarga Bradley. “Tidak bisa dibiarkan”, geramnya, turun dari mobil membanting pintu cukup keras.
Dayana yang baru saja mencapai pintu masuk di tarik paksa lengannya oleh pria bertopi hitam dan kacamata hitam, “Eh apa –apaan ini? To.....”, kalimatnya terhenti sesaat mendengar suara Kevin.
“Ikut aku sekarang, cepat”
“Bocah ingusan?”, panggil Dayana.
__ADS_1
“Hey tidak bisa memaksa ku seperti ini, aku harus praktik satu jam lagi. Lepas anak kecil”, seru Dayana.
“30 menit cukup untuk kita bicara, diam dan ikut saja”, tegas Kevin dengan suara dinginnya.
“Benar-benar pria arogan tak punya hati”, keluh Dayana, dengan tangan berada dalam genggaman Kevin.
Keduanya pergi ke apartemen Kevin yang berjarak 10 menit dari rumah sakit, berulang kali Dayana protes karena dibawa ke tempat yang memiliki kenangan buruk baginya. Tapi percuma saja, Kevin tidak mau mendengarnya, sampai menghempas tubuh Dayana pada sofa ruang tamu.
“Aku laporkan kamu pada polisi, ini namanya penculikan tahu tidak?”, sergah Dayana lagi-lagi mendapati hari sial di pagi ini.
“Kau pikir polisi akan percaya? Mana mungkin ada suami yang menculik istrinya sendiri, gunakan otakmu”, sinis Kevin, membuka topi dan kacamatanya. “Katakan dengan jujur, kau menjadi simpanan pria mana hah? Apa uang yang aku berikan tidak cukup? Jangan merendahkanku !!!!”, menatap tajam dan mengintimidasi Dayana yang terpojok di atas sofa.
“Dengar ya, aku tidak pernah menjadi simpanan pria manapun, dan aku bukan perempuan rendahan seperti yang kau pikir, dasar anak kecil memang belum dewasa otaknya”, balas Dayana tak kalah sengit.
“Apa? Kenapa kau selalu menyebutku anak kecil? Bocah ingusan? Hargai aku sebagai suamimu”, teriaknya melepas emosi, Kevin tidak suka ada wanita yang menolak bahkan merendahkannya seperti ini.
Kevin menundukkan wajah, mencengkram cukup kuat dagu Dayana, “Dengar ya TANTE, aku ini suamimu, kau harus patuh padaku, paham !!!!!”, sontak Dayana mendelikk tajam pada Kevin.
Tante? Bagaimana bisa dirinya yang masih muda seperti ini dipanggil tante, benar-benar pria keterlaluan pikir Dayana. Akhirnya sepasang suami istri ini terlibat perdebatan cukup panjang.
...TBC...
...****...
Hayulah semangatin author biar makin semangat menulisnya eh mengetiknya
Kalau suka sama ceritanya boleh kasih like, komen bahkan kembang alias hadiah
🥰🥰🥰🥰
__ADS_1