
BAB 42
Jarak dari kediaman Bradley ke rumah Mario sekitar 50 menit, Kevin melaju dengan kecepatan tinggi sampai ke rumah sahabatnya. Selama mengendarai motor, Kevin hanya memikirkan Dayana dan Dayana, kemana wanita itu menghilang dan bagaimana kabarnya sekarang.
Sampai di rumah sahabatnya, ibu dari Mario menyambut kunjungan Kevin, sangat hangat terasa. “Nak Kevin ayo masuk, Mario ada di dalam”
“Terima kasih bu”, walau bukan pertama kali menginjak kaki di rumah ini, tetapi Kevin masih tetap canggung bila bertemu anggota keluarga inti Mario.
“Hei, bro. Sini Kevin, bantu gue”, Mario melambai tangan dari meja kerja. Kevin dapat melihat beberapa naskah dan kontrak di atas meja itu. Dahulu dia lah yang memberi banyak Mario pekerjaan sampai kewalahan menerima job dari film, drama, iklan bahkan talk show. Tapi sekarang? Tawaran iklan pun hanya datang satu atau dua kali dalam sebulan.
“Lo sibuk nih”
“Iya Vin, tahu kan aktris pendatang baru? Kemarin baru selesai syuting dan anak itu minta untuk membintangi drama prahara rumah tangga lagi. Benar-benar bintang masa depan”, ujar Mario memeriksa beberapa kontrak kerjasama dari klien.
Kevin menemani Mario hingga larut malam, kemudian keduanya terlibat perbincangan panjang dan serius. Tidak lain menyangkut Dayana, Kevin menyesal tidak menuruti saran Mario sejak awal.
Pria ini sekarang hanya menuai buah yang ia tanam, berteman sepi dan sunyi. Kevin semakin merasa bersalah karena tidak sempat meminta maaf pada Dayana, ia benar-benar tidak bisa menghilangkan malam itu dari benaknya, dimana semua hari sial dimulai.
“Maaf bro, untuk satu ini gue engga bisa bantu. Gue yakin Dayana baik-baik aja, dia pasti sembunyi dari Lo, dan tentu Tuan Bradley membantunya. Nah kekuasaan satu itu gue engga sanggup, Vin”
“Ya Mario”
Kevin pun menjelaskan bahwa Martha Nugraha semakin gencar mempersiapkan acara pertunangannya dengan Selena.
Sikap asli wanita itu pun terlihat, setelah meraih ketenaran Selena semakin congkak dan arogan, Nyonya Marta yang menyukai uang beralih menghamba kekasih putranya.
“Gue kasih saran sama Lo, berhenti ! jangan lanjut pertunangan karena Dayana pasti menunggu Lo, Vin. Kesalahpahaman ini perlu penjelasan lebih, lagipula Selena itu ......perempuan berbahaya, gue yakin dia mengincar sesuatu dari Lo”, tutur Mario .
“Lo tahu? Semua barang Dayana di apartemen mama kirim ke rumah mertua gue, dan mama teror istri gue sampai tetangga bilang Dayana sakit, sebab itu dia tinggal di rumah pamannya. Gue cemas Mario”.
“Lo harus bantu gue untuk membuktikan siapa Selena sebenarnya, engga mungkin dalam waktu dekat dapat job sangat banyak”
__ADS_1
“Pasti, vin”, Mario berjanji akan melakukan yang terbaik untuk membantu sahabatnya. Tidak mudah memang tapi setidaknya mereka akan berusaha.
.
.
Pagi yang cerah dan hangat di rumah Mario, pukul 6 pagi rumah minimalis ini telah ramai. Semua adik Mario bersiap berangkat sekolah, dan Kevin tertawa meyaksikan pemandangan di depannya dari balik pintu.
“Heh, Kevin pasti Lo lihat adik bungsu gue ya? Dia memang begitu selalu ceroboh”
“Eh Vin, Lo lihat hasil dari pemutaran iklan promosi film baru. Hasilnya positif dan gue baca komentar dari mereka antusias banget, menuggu Lo balik ke dunia peran. Ini bagus untuk karir Lo”, jelas Mario.
“Ya semoga Mario, gue perlu uang banyak untuk mencari Dayana. Rasanya kalau gue sendirian yang pasti lama”, ujar Kevin yang harus menghemat uang dalam rekeningnya.
Kevin dan Mario bersiap karena ada syuting iklan yang dijalani oleh aktor tampan bermata sipit ini, minuman kesehatan, produk baru yang akan segera meluncur ke pasaran, hingga membutuhkan iklan yang benar-benar ciamik untuk menopang penjualan.
Sampai di lokasi syuting, gedung iklan, Kevin masuk ruangan khusus, wajahnya mendapat sentuhan make up yang akan membuat penampilannya segar.
Tiba-tiba Kevin mendengar suara bayi merengek dari sudut ruangan. Ia pun berdiri dan menghampiri kereta bayi yang tertutup kelambu.
“M-maaf mas kalau berisik, ini anak saya, baru lahir satu bulan yang lalu”
Meski tidak terlihat tapi Kevin tersenyum melihat bayi yang terusik tidurnya, pikirannya pun kembali mengingat foto USG Dayana, seandainya anak dalam kandungan Dayana masih bertahan, pasti saat ini Kevin sedang menanti kelahirannya, ia pun berhitung berapa bulan usia kandungan itu.
“Tidak apa, aku suka anak kecil. Ah ini untuknya”, Kevin mengeluarkan dua lembar uang kertas merah dari dalam dompet dan memberikan pada ibu sang bayi, “Anggap saja sebagai kado”, pelan Kevin meninggalkan ruangan.
“Terima kasih Mas Kevin”
**
__ADS_1
Singapore
Keadaan Dayana semakin membaik tetapi kandungannya tetap lemah dan wanita ini disarankan bedrest dalam waktu yang cukup lama. Mengingat pernah mengalami pendarahan hebat Dayana harus berhati-hati dalam melakukan kegiatan. Ia pun tidak boleh terlalu banyak memikirkan hal negatif, karena akan berpengaruh pada janinnya.
Dayana tidak mendengarkan dengan jelas apa hasil pemeriksaan dokter, kepala dan dua bola matanya hanya tertuju pada layar besar yang menempel erat di badan gedung. Sudah pasti apa yang wanita ini tunggu, iklan mantan suaminya, ya hanya iklan bukan yang lain.
“Kenapa ganti ya?”, tanya Dayana dalam pikirannya.
Dayana begitu ingin bertemu atau melihat Kevin dari jarak jauh, beberapa kali menampik jika ini rindu, tapi kenyataannya memang rindu yang merasuk dalam dada, ditambah lagi mungkin bayi dalam perutnya merindukan sosok sang ayah.
“Dayana? Kamu tidak mendengar apa penjelasan dokter?”, Bunda Nayra menghela napas.
“D-dengar bunda, harus bedrest kan?”, tanyanya.
“Ck, kamu ini, kenapa masih memikirkan anak itu? Daniel lebih baik dari pada Kevin, ingat itu Dayana. Kevin tidak pantas kamu pikirkan. Kenapa juga kamu harus mengandung anaknya, hah”, mendengus sebal.
Sontak Dayana menoleh pada Bunda Nayra, ia tidak menyangka ibu kandungnya sendiri menyalahkan semua padanya.
Bukan juga keinginannya untuk hamil, tapi semua sudah menjadi tanggungan Dayana. Tidak mungkin membunuh anak dalam rahimnya, tidak mungkin menelantarkan anak ini.
“Dayana, maaf bunda tidak bermaksud mengatakannya”, sesal Bunda Nayra.
“Bukan salah bunda, semua ini karena aku terlalu lemah dalam menghadapi pria “, Dayana meneteskan air mata, perutnya pun kembali kram ringan.
Seakan rasa kram ini telah akrab dengannya, hanya dengan membelai lembut perut dan memejamkan mata bisa menghilangkan rasa sakit, apalagi ingatan Dayana membayangkan wajah Kevin. Semakin cepat rasa sakitnya berkurang dan menghilang.
Bunda Nayra menutup tirai di jendela, tidak suka putrinya mengingat masa lalu dan menyebabkan Dayana masuk rumah sakit karena kandungannya lemah.
“Meskipun wajahnya tidak lagi terlihat di layar besar itu tetapi dalam kepalaku sangat jelas wajah, tatapan mata Kevin dan suaranya, ck Dayana kamu goyah dan lemah”, sindirnya pada diri sendiri.
...TBC...
__ADS_1