
BAB 58
Kevin panik calon istrinya tidak sadarkan diri usai melahirkan, bibir Dayana pucat, dan wajahnya seperti tidak dialiri darah, suhu tubuhnya pun dingin. Sedangkan bayi cantik masih berada dalam dekapan Kevin dengan plasenta yang belum keluar.
Beruntung seseorang menghubungi ambulan, kemacetan pun terurai. Dayana menerima pertolongan pertama di ambulan.
Kevin selalu menggenggam tangan ibu dari anaknya, ia menyaksikan sendiri perjuangan Dayana melahirkan. Sekarang Kevin hanya berharap calon istrinya ini baik-baik saja, tidak mengalami sakit apapun.
“Bangun Dayana, aku dan anak kita membutuhkanmu.” Tangis Kevin, ia tidak siap harus menerima kenyataan pahit. Kevin hanya ingin hidup bahagia bersama Dayana dan putri kecilnya.
“Dayana buka mata, aku mohon.” Memeluk tubuh Dayana yang terbaring lemah, selang infus menggantung memberi cairan pada ibu yang baru melahirkan ini.
Ambulan masuk pelataran rumah sakit dan menuju IGD, perawat dan dokter menyambut mobil ini. Semua terkejut karena Dokter Dayana tidak sadarkan diri sembari memeluk bayi ditangannya, karena plasenta yang belum keluar akhirnya segera dibawa ke ruang bersalin.
“Dokter tolong selamatkan istri saya.” Tangis Kevin begitu pilu, tubuhnya merosot di lantai, ia tidak lagi bisa berpikir jernih. Semua terjadi mendadak, begitu cepat tanpa persiapan. Pakaian aktor tampan ini masih menyisakan noda darah menempel pada kemejanya.
“Dayana.....Dayana, aku mohon bangun.” Lirihnya.
Dokter Dewa yang tidak sengaja lewat langsung membantu saudara iparnya ini, tidak perlu banyak tanya pasti sesuatu terjadi pada kakak sepupu istrinya. Dokter Dewa gegas menghubungi Bunda Nayra dan anggota keluarga lain.
“Kevin tenanglah, Dayana pasti baik-baik saja, dia wanita yang kuat.” Memberi semangat dan menenangkan Kevin. Pria muda ini terlihat rapuh dan syok. “Kamu harus yakin dan kuat kalau Dayana pasti sebentar lagi siuman, percaya itu!!!!.”
“Terima kasih Dokter Dewa.”
Kevin melihat bayinya keluar dari ruang bersalin sudah bersih dan dalam balutan selimut berlogo GB Hospital.
Lantas ia menghampiri bayi mungil itu, bibirnya merah, pipinya pun merah muda, matanya sipit sama seperti ayah dan ibunya. Sedikit bernapas lega karena anaknya tidak kekurangan atau sakit apapun. Sekarang Kevin hanya menunggu calon istrinya siuman.
__ADS_1
Menunggu sampai satu jam lebih, bahkan Bunda Nayra dan Nyonya Marta pun turut menemani Kevin. Semua harap-harap cemas, karena dokter belum keluar sehingga tidak bisa bertanya kondisi Dayana.
“Kenapa bisa seperti ini Kevin? Kenapa Dayana melahirkan di mobil?.” Tangis Bunda Nayra diikuti kecemasan pada Nyonya Martha.
Kevin menjelaskan kronologi kejadiannya tak ada yang ia kurangi atau tambahi, sikap Dayana yang sedikit acuh sampai mengabaikan tanda melahirkan.
“Nayra, aku yakin Dayana baik-baik saja, kita harus tenang.” Timpah Martha Nugraha.
Berselang 10 menit, dokter keluar dari ruang bersalin dengan wajah yang sedikit menegang. Kevin, Bunda Nayra dan Martha Nugraha sigap menghampiri dan memberondong banyak pertanyaan.
“Dokter Dayana kehilangan banyak darah, selain itu beliau juga kelelahan, jadi setelah kami transfusi darah, diharuskan istirahat selama beberapa jam untuk memulihkan tenaganya, tidak ada masalah lain yang serius, hanya saja tolong diperhatikan setelah bangun nanti jangan membebaninya banyak pertanyaan.”
“Baik dokter apa saya bisa masuk.?” Kevin tidak sanggup harus menunggu lama hanya untuk melihat wajah Dayana.
“Silahkan.”
“Aku mencintaimu Aileen Dayana Kei. Kita akan membesarkan putri kita bersama-sama.” Bisik kevin mencium pipi wanitanya.
“Eunnng.” Wanita cantik yang terbaring lemah ini mulai membuka matanya dan bergerak perlahan. Tangan Dayana meraba bagian perut yang kempes, sedikit tersentak mencari keberadaan bayi itu, nyaris saja menangis takut apa yang dipikirkan terjadi.
“Dayana, hey sayang tenang. Anak kita sehat, dia ada di ruang perawatan bayi. Kamu jangan cemas, sekarang aku disini.”
“Terima kasih Kevin.”
.
.
__ADS_1
Setelah beberapa lama akhirnya Dayana dan bayinya bertemu dalam ruang rawat khusus ibu dan anak, menangis haru melihat bayi yang selama 9 bulan ia kandung kini berada dalam pelukannya. Sungguh menakjubkan Kevin dan Dayana melewati waktu penting mereka, apalagi Kevin masih terekam jelas bagaimana bayi itu keluar dari dalam rahim dan menangis untuk pertama kalinya.
“Hi cantik, kamu lahir dibantu ayah, bagaimana ayah hebat kan? Sepertinya ayah harus mengambil spesialisasi kedokteran khususnya obgyn.” Kelakar Kevin dibarengi dengan anggota keluarga lain.
“Terima kasih Kevin”
“Dayana, berapa kali hari ini kamu mengucapakan kata itu, jangan begitu, Dia juga anakku jadi sebagai ayah aku harus melindungi dan menyelamatkannya.” Mengecup kepala Rea.
Ya bayi mungil nan cantik milik Dayana dan Kevin diberi nama oleh kedua orang tuanya, nama yang secara khusus disiapkan ayah serta ibunya, Edrea Aurora Nugraha. Bayi itu akan mewarnai hari-hari Dayana dan Kevin, khususnya kedua keluarga besar.
Ayah dari Edrea ini tidak sabar berdiri di pelaminan bersama Dayana, itu artinya kurang dari dua bulan Kevin dan Dayana akan mengikat cinta mereka yang sempat putus dengan tali kuat dan baru.
Tanggal pernikahan dipilih Kevin setelah bayinya lahir, pasti tidak akan sanggup hidup terpisah dari anak serta wanita yang sangat ia sayangi.
“Kevin, kamu terlalu bersemangat, Dayana saja baru melahirkan, luka akibat melahirkan belum sembuh kamu sudah menggebu mau menikah, sabar Kevin.” Kesal Nyonya Martha yang terus memandangi kebahagiaan putra dan calon menantu.
“Namanya juga cinta mah, apapun dilakukan demi cinta.” Balas Kevin, tanpa malu dan ragu mengecup bibir Dayana di hadapan seluruh keluarga.
“Aduh anak ini, ya sudah kalian lebih baik segera menikah, mama tidak mau memiliki cucu kedua di luar pernikahan karena ulah kamu yang main sosor begini.”
“Siap ma. Dayana mulai sekarang aku lebih sering datang ke rumah bunda, kamu jangan menolak, merasa risih ataupun sungkan, ini semua aku lakukan demi anak kita dan kamu. Apapun yang kamu inginkan bilang semua padaku, jika aku mampu aku akan memenuhi semua keinginanmu.” Kata-kata yang terdengar manis di telinga Dayana tapi bagi kedua ibu tidak ada manis sekalipun dari ungkapan Kevin.
“Kamu terlalu berlebihan Kevin, kalaupun kamu sibuk syuting, tidak harus pulang ke rumah bunda setiap waktu, rasanya peduli pada kami pun sangat berharga, aku senang anakku bisa merasakan kasih sayang ayahnya.” Senyum manis Dayana dan sentuhan telapak tangan d bagian pipi Kevin sangat memabukkan.
Betapa menyenangkannya memiliki seseorang yang kita sayang dan cintai, pernyataan cinta tidak harus memiliki, tidak ada dalam kamus hidup Kevin, jika kamu mencintai seseorang maka harus berubah dan memperjuangkan dia agar terus berdiri di di samping kita dengan bahagia.
...TBC...
__ADS_1