
BAB 16
“Vin, heh Kevin... Kenapa Lo? Itu gelas bukan punya kita, awas pecah”, Mario memijat pelipis karena aktor kebanggaannya ini menggenggam erat dan kuat gelas ditangannya, tentu saja yang Mario khawatirkan adalah tangan Kevin terluka, masa bodoh dengan gelas itu.
“Kevin, Lo lihat apa sih? Lo nyesel kesini bukan sama Selena? Ya ampun Kevin, dia disini juga jadi benalu aja”, oceh Mario, padahal mereka sedang serius bicara tapi tiba-tiba Kevin berubah. Mario pun mengikuti arah pandang Kevin dan terkejut karena aktornya ini melihat wanita cantik di tengah sana. “Vin, Lo lihat itu? Jangan aneh-aneh, ada pasangannya, badannya kekar banget lagi”, penuturan Mario menambah panas dada Kevin.
“Lo pikir, gue kurang kekar?”, Kevin tidak terima istrinya bercengkrama dan tersenyum bersama pria lain.
“Kenapa jadi marah sama gue, vin”.
Kevin menatap dalam Dayana yang berdiri ditengah-tengah pria, yang Kevin tahu dia adalah pengacara terkenal yang biasa menangani kasus besar. Bahkan beberapa aktor terkenal memakai jasanya jika terjerat kasus hukum.
Awalnya Kevin terpana memandang betapa anggunnya Dayana dalam balutan gaun merah, punggung mulusnya begitu menggoda untuk disentuh, dan ia tidak cemburu karena istrinya datang bersama Tuan Dariel. Namun beberapa menit berlalu seorang pria blasteran Eropa Asia menghampiri Dayana.
“Sial”, umpat Kevin.
Menyerahkan minuman pada manager, berjalan lurus mendekati Dayana yang masih tidak menyadari kehadiran Kevin. Ya dokter muda itu berpikir jika ini adalah pesta para pengusaha serta karyawan perusahaan farmasi.
“Permisi”, celetuk Kevin, tiba-tiba mengalihkan perhatian Dayana dari Daniel.
“Kevin?”, gumamnya tanpa suara, tersentak kenapa suami dadakannya ada disini, di pesta perusahaan Bradley.
“Tuan Daniel”, sapa Kevin hangat.
“Ya, kau Kevin Nugraha kan? Wah ibu dan nenekku penggemar beratmu”, kelakar Daniel, ia merasa terganggu dengan datangnya pria muda ini, karena mengganggu pendekatannya bersama Dayana.
“Sampaikan salamku pada beliau”, senyum Kevin setipis mungkin. Entah ia harus bersyukur atau bagaimana, tapi tidak, Kevin memerlukan konfirmasi kenapa istrinya datang kesini.
“Kita harus bicara”, bisik Kevin pelan.
Dari pada meladeni omong kosong bocah di sampingnya, lebih baik Dayana menghindar dan menemui adik sepupunya. “Daniel, aku permisi, aku rasa harus masuk ke dalam menemui Dariel”, tersenyum kaku.
__ADS_1
“Oh ya silahkan”, senyum Daniel yang menggoda hati para wanita.
Kevin mengikuti istrinya itu masuk ke dalam, ia bisa melihat jika Dayana kebingungan mencari Dariel yang entah dimana.
“Kita harus bicara, Dayana”, masih tidak menyerah untuk bertanya siapa pria tadi dan mengapa keduanya saling mengenal, ya banyak pertanyaan dalam benak Kevin.
“Tidak ada yang harus kita bicarakan Kevin, sudah jelas kan. Kau sendiri yang bilang hubungan kita tidak ada yang boleh tau, untuk apa kau disini. Sebaiknya pergi sekarang juga”, tegas Dayana sangat terganggu dan tidak nyaman.
“Ikut denganku”, menarik lengan Dayana, mencari tempat sepi yang jarang dilalui orang banyak.
“Hey, apa-apaan kau ini Kevin, lepas. Kau datang bersama kekasihmu kan? Urus saja dia, bukan aku”, berusaha melepaskan diri tapi gagal.
Kevin menghimpit tubuh Dayana pada dinding, memenjarakan wanita itu agar tidak berani kabur sebelum selesai bicara dengannya. Harum parfum segar buah-buahan memancing sisi pria Kevin untuk lebih mendekat pada istrinya, tidak salah kan toh Dayana memang istrinya secara sah.
“Kau cemburu pada Selena? Aku rasa tidak perlu karena kau tidak akan bisa menggantikannya untukku”, seringai Kevin.
“Hey, hey menjauh”, mengalihkan wajah kesamping, dan hidung mancung Kevin menempel pada daun telinga Dayana, hembusan napasnya pun membuat Dayana merinding.
“Siapa pria itu?”, bisik Kevin.
“Apa dia kekasihmu? Jawablah dengan jujur”, penasaran Kevin, walaupun tidak mencintai Dayana, tapi hati Kevin tidak mengizinkan istrinya dekat dengan pria lain. Apa ini cemburu? Mungkin bukan.
Tidak hilang akal, walau tangan dan tubuh bagian atasnya terjebak Dayana masih memiliki kaki yang bisa ia gunakan untuk bebas dari cekalan Kevin. Menggunakan ujung stiletto yang runcing, menginjak Kaki suaminya.
“Hey kau”, Kevin merasa sedikit ngilu di punggung kaki, wanita ini sangat licin dan sulit dijinakkan.
Dayana tergesa berlari, menghindari Kevin kemana saja asal tidak ditemukan pria itu. Dirinya tidak mau menjadi bahan mainan dari anak dibawah umur. Tidak memperhatikan sekitar, ia masuk ke sebuah pintu dengan kolam berenang di dalamnya.
BYUR
Dayana tercebur ke kolam, ya dejavu dirinya pernah mengalami hal ini namun ditolong oleh pria yang dicintai tapi jangan harap itu terjadi lagi untuk kedua kalinya. Gaun panjang dan berekor itu, menyulitkan Dayana berenang. Ia hampir kehabisan napas sampai akhirnya seseorang menarik tangannya keluar kolam berenang.
__ADS_1
“Ada apa denganmu? Kau ceroboh”, Kevin berusaha mengeluarkan air dalam tubuh istrinya.
Uhuk....uhuk
Rambut Dayana berantakan, basah dan bercucuran air, “Terima kasih”, ucap Dayana lemas, ia tidak habis pikir kenapa harus ceroboh seperti ini.
Melihat Dayana yang menggigil kedinginan, sigap Kevin melepas jasnya, memasangnya di bahu terbuka Dayana. “Tidak perlu”, Dayana bergerak pelan.
“Kau bisa diam tidak? Kau itu kedinginan”, seru Kevin memapah istrinya keluar. “Aku akan mengantarmu pulang”, idenya yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Dayana. “Jangan gila, kau mau seperti ini di kendaraan umum?”.
Dayana mengucap syukur ketika adik sepupunya dan Daniel datang menghampiri, artinya ia bisa lepas dari Kevin saat ini juga.
“Aku mencarimu kak, kau dari mana? Kenapa basah seperti ini?”, beruntun Dariel, ia langsung menatap pada Kevin yang juga basah kuyup.
Dariel meminta Daniel mengantar kakak sepupunya pulang dan Kevin hanya bisa diam membeku, seharusnya disini dialah yang paling berwenang atas Dayana. Tapi ternyata suami macam apa, tidak berdaya hanya karena takut publik mengetahui semuanya.
Kevin hanya bisa menahan Kecewa dan amarah dalam diri, ini memang salahnya semua karena kesalahan yang ia buat hingga terkurung pada status pernikahan yang membelenggu. Membuatnya serba salah, keputusan Kevin seakan sulit, apa ia harus mengumumkan pada dunia jika Dokter Dayana adalah istrinya atau seperti permintaan sang istri, berpisah baik-baik.
“Kevin, aku ingin bicara denganmu. Ikut denganku”, ajak Dariel.
Keduanya masuk ruang tamu, Dariel menyerahkan pakaian kering miliknya yang sengaja ia simpan di setiap hotel. “Pakailah, aku tidak mau kau sakit dan menghambat kerja sama kita”.
“Ehem, terima kasih”, menerima pakaian dan menggantinya.
Tidak lama Dariel menunggu, kini keduanya saling menatap tajam satu sama lain. Dengan gaya angkuh masing-masing, bersidekap tangan depan dada.
“Katakan, apa hubunganmu dengan kakak sepupuku?”
“Kau ingin tahu? Aku harap Tuan Dariel Bradley tidak memiliki serangan jantung”, sinis Kevin menggelengkan pelan kepalanya.
“Kaka sepupu anda adalah wanitaku”, jawab Kevin datar, dingin dan sengit
__ADS_1
...TBC...