
BAB 44
Satu minggu kemudian
Gala premiere yang digelar cukup mewah dan tersebar sampai ke penjuru Singapore. Penggemar Kevin dari segala kota pun rela mendatangi salah satu bioskop yang menjadi tempat pemutaran film.
Semua berebut ingin mendapat tanda tangan dan foto bersama Kevin, karena pria ini setelah karirnya merosot jarang tampil di hadapan publik.
Panitia acara sampai kelelahan dan kewalahan mengatur banyaknya orang yang hadir. Antusias penonton sangat positif setelah menonton film, dan merekomendasikannya pada orang-orang terdekat mereka.
“Sumpah, Vin. Penggemar Lo benar-benar militan sejati”, Mario geleng-geleng kepala karena banyaknya yang hadir, dominasi 90% remaja putri, dan 8% ibu muda, sisanya remaja laki-laki.
Gedung ini pun mendadak penuh lautan manusia yang sesak, mengelilingi tempat dimana Kevin berdiri. Tapi ada hal yang membuat dadanya kecewa, tidak melihat seorang pun wanita yang mirip dengan Dayana diantara lautan manusia di hadapannya.
“Dayana apa mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi untuk selamanya?”, batin Kevin nelangsa, namun senyum tetap tersungging di bibir.
Sedangkan di luar gedung hujan turun cukup lebat, seorang wanita yang baru keluar salah satu toko makanan menepi. Gedung tinggi tempatnya berteduh begitu menggoda untuk disambangi.
Dayana masuk dalam gedung itu, sembari menunggu hujan reda. Pasalnya ia lupa membawa payung, seandainya tadi menurut pada Bunda Nayra, karena perkiraan cuaca hari ini mendung dan akan turun hujan.
“Yah basah”, mengibas sedikit rok yang terkena tetesan air hujan.
“Aku juga tidak bawa jaket, aish Dayana kenapa kamu menjadi pelupa seperti ini “, geramnya pada diri sendiri. Jelas-jelas tadi malam ia bersama Bunda Nayra menonton berita tentang cuaca hari ini.
Jarak pandang ibu hamil ini terhalang oleh banyaknya orang yang berkerumun, kepalanya pun menengadah dan betapa banyaknya orang-orang yang hadir.
“Tidak biasanya banyak orang berkunjung. Apa ada artis mungkin”, acuh Dayana. Ia lebih tertarik mencari minuman hangat untuk mengusir rasa dingin yang menusuk kulitnya.
Ponsel wanita ini berdering, tanda panggilan masuk dari seseorang. Dayana tersenyum simpul membaca nama yang tertera pada layar, “Daniel”, gumamnya.
Pengacara tampan itu janji akan mengunjungi Dayana dalam beberapa hari ke depan, dan menemani ibu hamil ini jalan-jalan di banyak tempat yang Daniel catat dalam note. Setiap hari Dayana dan Daniel saling bertukar kabar entah itu pagi hari, siang atau malam hari.
__ADS_1
Sembari terus berkeliling mencari minuman hangat Dayana pun mengobrol dengan Daniel, pria yang selalu memberi jutaan perhatian pada dirinya serta yang ada dalam kandungan.
Tidak menemukan yang dicari, Dayana naik ke lantai 2, dan bibirnya tersenyum menemukan apa yang diinginkannya. “Hah, tapi banyak orang, bagaimana caranya kesana?”, keluh Dayana hanya meneguk saliva.
Betapa sulitnya menembus lapisan orang yang jumlahnya ribuan mungkin ratusan ribu. “Apa aku harus mengucap permisi pada semua orang itu? Huh, yang benar saja mereka itu ada banyak”, menghela napas.
“Umm, Daniel sudah dulu ya, aku mau membeli sesuatu dan tempatnya sangat penuh, aku perlu fokus untuk sampai kesana. Ok Daniel aku tunggu”
Menutup sambungan telepon dan terus berjalan melewati kerumunan orang, sampai telinganya menangkap seseorang yang memanggil nama pria masa lalu Dayana.
Pria yang merubah dunianya menjadi abu-abu, serta pria yang tidak memiliki sikap tanggung jawan apa yang seharusnya menjadi tugasnya.
“Silahkan Kevin, apa yang mau kamu sampaikan untuk para penggemar?”, tanya pembawa acara.
Kevin menjawab dengan suara yang sangat familiar di pendengaran Dayana, “Kevin”, lirihnya lalu menoleh ke arah panggung di ujung, bahkan area itu tertutup rapat penggemar Kevin.
Disaat bersamaan pandangan Kevin lurus ke depan, mikrofon dalam genggaman tangannya pun terjatuh ke dasar panggung dan berdenging nyaring. “Dayana”, gumam Kevin.
Meskipun kecil dan tidak jelas, Kevin yakin penglihatannya tidak salah. Itu Dayana, mantan istri yang dia cari selama ini, wanita yang selalu membuatnya frustasi. Selama beberapa detik kedua pasang mata sipit itu saling tatap dan menyiratkan luka di hati masing-masing.
Tubuh Dayana bergetar, namanya dipanggil oleh pria yang sudah membuatnya terluka dan mencampakkan begitu saja.
Menghindari Kevin adalah satu hal yang bisa ia lakukan saat ini, memanfaatkan situasi sesaknya orang-orang di tengah keramaian.
Melihat wanitanya mulai bergerak menjauh, Kevin turun dari panggung, memohon maaf pada penggemar yang hadir, ”Mario, Please..... gue lihat Dayana, gue harus kejar dia”.
“Iya Vin, iya. Hati-hati”, ujar Mario, dia juga berharap semoga wanita ini benar Dayana, karena Kevin pernah salah melihat seseorang yang sangat mirip dengan Dayana dari samping dan belakang.
Akhirnya di panggung hanya tersisa Mario, pemeran utama wanita dan beberapa pemeran lainnya.
“Dayana jangan pergi lagi”, hati Kevin memohon dengan sangat, matanya terfokus pada jalan yang ia lalui, membelah kumpulan orang-orang.
__ADS_1
“Kamu dimana Dayana?”, kepala Kevin menolah ke kiri dan kanan tidak menemukan perempuan cantik yang menjadi pemilik hati untuk selamanya.
Sampai pada tatapan Kevin tertuju dua wanita yang beradu pendapat, jika dilihat dari situasi rupanya Dayana menabrak seseorang, hingga minumannya tumpah dan basah mengenai baju orang itu.
“Tunggu Dayana”, panggil Kevin sembari terus melangkah lebar dan berlari.
Mengejar sampai ke pintu utama , dan Dayana seketika terhenti karena hujan cukup deras tapi disaat yang sama dirinya harus menghilang dari Kevin.
“Maafkan ibu”, mengelus perut dan berjalan perlahan ditengah hujan.
Kevin yang melihatnya pun tidak tinggal diam, ia bahkan merogoh saku dan membayar payung milik salah seorang pengunjung, tentu dengan memberi beberapa alasan agar orang itu bersedia memberikan payungnya.
Tiba di persimpangan jalan, Dayana yang ingin menyebrang terpaksa berpikir keras, karena rambu lalu lintas beberapa detik lagi menunjukan tanda berhenti pada pejalan kaki.
Keinginan untuk pergi dari Kevin sangat besar, kakinya mulai melangkah menyebrangi jalan, dan semoga mobil tidak melaju lebih dulu sebelum dirinya sampai.
“Akh”, pekik Dayana.
Sekujur tubuhnya gemetar, ya gemetar karena kedinginan dan gemetar karena dalam pelukan seorang pria yang begitu ia benci tapi bayangnya selalu menghantui.
“Ternyata kamu masih ceroboh”, bisik Kevin.
“Akhirnya kita bisa bertemu, terima kasih, terima kasih” ucap Kevin serak menangis memeluk mantan istrinya.
Ditengah hujan yang mengguyur, dibawah naungan payung biru muda, Kevin memeluk wanita yang ia rindukan, melepas segala rasa gundahnya.
“Aku mencarimu Dayana” lirih Kevin mengurai pelukan, membelai wajah mulus, berisi Dayana.
Menarik dagu wanita ini dengan satu ibu jari, Kevin melabuhkan ciuman tepat di bibir tipis mantan istrinya, bukan tapi calon istri. Kevin pastikan akan kembali mengikat Dayana untuk hidup bersamanya.
Dua insan ini saling bertukar saliva dibawah payung yang melindungi dari derasnya hujan.
__ADS_1
...TBC...