
BAB 6
Pagi yang cerah bagi Dayana, ia merias tipis wajahnya menggunakan bedak dan lip balm, semakin mempermanis penampilan sederhananya yang menggunakan rok span dibawah lutut serta kemeja berwarna khaki, tidak lupa flat shoes hitam dengan aksen hiasan silver di bagian depannya.
“Semoga ini awal yang baik Dayana, kamu bisa. Jangan melihat ke belakang teruslah melangkah Dayana”, Dayana tersenyum menatap pantulan dirinya pada cermin.
“Pagi bunda, oma”, Dayana keluar kamar dan bergabung bersama untuk menyantap sarapan pagi ini.
“Kamu cantik sekali sayang”, puji Bunda Nayra mengulas senyum dan mengisi piring Dayana dengan makanan.
Dayan tersenyum kaku, ada rasa kikuk dan juga takut dalam hati serta pikirannya, dengan kembalinya Dayana itu artinya ia siap membuka luka masa lalu yang belum mengering.
Berulang kali Dayana tanamkan dalam diri bahwa disini tak sepatutnya ia sakit hati, karena Dokter Dewa tak pernah menjalin hubungan lebih dengannya.
“Kamu bisa sayang, jangan menoleh ke belakang, teruslah maju walau sesekali kita perlu melihat ke belakang tapi untuk kali ini bunda harap jangan pernah kamu lakukan itu”, tegas Bunda Nayra pada Dayana, putrinya ini masih goyah akan keteguhan hati untuk melupakan Dewa.
“Iya bunda, tidak perlu khawatir”.
.
.
Beberapa rekan dokter dan staf menyambut kedatangan Dayana, semuanya antusias karena dokter muda yang berprestasi ini telah kembali. Manik hitam Dayana melirik satu persatu dokter senior dan rekan seperjuangannya, ia tak melihat Dokter Dewa diantara semuanya. Padahal ini briefing pagi dan dipimpin langsung oleh direktur rumah sakit, yang memperkenalkan dirinya sebagai bagian dari keluarga GB Hospital.
“Untuk apa mencarinya Dayana, sudah jelaskan Dewa cuti karena Dwyne baru saja melahirkan”, batin Dayana mempertegas apa yang kedua matanya lakukan adalah hal sia-sia.
“Dayana kamu akan menggantikan tugas Dokter Dewa, di bagian IGD dan nanti ruang praktik akan di rapikan oleh petugas”, sambung direktur yang juga spesialis bedah.
Hari yang sibuk bagi Dayana karena langsung bertugas di IGD, seperti biasa GB Hospital selalu dipenuhi pasien, selain fasilitas lengkapnya juga posisi di tengah kota memudahkan jangkauan masyarakat.
__ADS_1
Dayana sedang membantu pasien lanjut usia yang mengalami gejala stroke, memberi arahan pada perawat untuk selalu mengawasi saturasi oksigen dan tekanan darah. Namun telinga Dayana merasa terganggu dengan suara yang tidak asing baginya.
Rintihan seorang pria yang sangat manja menurut Dayana, tepat di balik tirai sebelah brankar dimana pasien Dayana. Ia pun bertanya pada perawat yang keluar dari balik tirai, “Sus, sakit apa?”, bola mata Dayana mengarah pada bilik sebelah.
“Itu Dokter, biasa artis. Jatuh sewaktu atraksi longboard, kasihan sekali untung wajah tampannya tidak tergores, luka paha dan kakinya terkilir”, oceh perawat.
“Oh”, Dayana membulatkan bibir, rasa ingin tahunya besar tapi ia urung mengintip, dan lebih baik memeriksa pasien lain.
Sementara dalam balik tirai, Kevin sedang kesakitan mendapat beberapa jahitan pada paha yang sobek akibat terjatuh dari papan seluncur. Ia yang ingin membunuh rasa jenuh dan beban pikiran yang banyak, turut serta bersama rekannya, tapi malah berakhir petaka karena Kevin belum ahli menggunakan papan itu.
“Bisa pelan-pelan tidak?”, suara angkuh Kevin.
“Sabar ya mas, ini saya lakukan perlahan mas, perlu ketelitian”, ucap seorang dokter.
“Sial, kenapa disaat seperti ini aku mengingat wanita kampungan itu”, geram Kevin dalam hati, ia begitu membenci bau obat dan rumah sakit karena tahu istri dadakannya adalah seorang dokter.
“Hah lagipula mana mungkin dia ada di kota ini”, pikir Kevin. “Bagaimana kabarnya?”, gumamnya pelan, kalau tidak bertemu seperti ini bagaimana cara Kevin menceraikan istrinya itu. “Hah hanya menambah beban hidup saja, mungkin beberapa bulan lagi aku ke Semarang dan mencarinya”, rencana Kevin yang ia pikirkan.
Padahal telah diberi efek kebas tapi pria ini berlebihan saat jarum menancap di kulitnya. “Kemana manager sialan itu?”, kesal Kevin sudah 1 jam ia masih sendirian di rumah sakit.
Seorang pria berlari gemulai tanpa melihat sisi kanan dan kiri sampai menabrak seorang wanita yang membawa kotak obat ditangannya. “Aduh mas jangan lari-lari”, ucap perawat yang jatuh terduduk, Dayana sigap membantu karena posisinya berdekatan.
“Sudah ya mba permisi saya buru-buru”, ucap pria lembut itu. Langsung berdiri dan berlari menuju Kevin.
Dayana melirik satu kartu yang jatuh di lantai, “Oh kartu nama”. Bibir Dayana membaca sepintas pada tulisan kecil di bagian bawah “Manager Utama Kevin”, dokter cantik ini segera menggelengkan kepala. ”Banyak nama Kevin di dunia ini Dayana, tidak hanya satu”, ujarnya.
Dayana kembali sibuk menangani pasien dengan riwayat stroke, sebelum perawat datang dan memanggil namanya cukup keras, karena ada beberapa pasien yang datang membutuhkan bantuan.
“Dokter Dayana”
__ADS_1
Suara perawat itu terdengar jelas oleh Kevin yang sedang berbaring sembari mengomel pada managernya, “Eh, nama itu”, gumam Kevin ingat nama istri dadakannya.
“Iya”, sahut Dayana yang semakin memperkuat Kevin untuk membuka tirai dan ia singkap penghalang itu dengan cepat, tapi hatinya mencelos kala yang ia harapkan tak ada. Melainkan dokter lain yang memiliki suara sama persis seperti sang istri, begitulah pikir Kevin.
“Nama Dayana bukan hanya satu Kevin, nama itu kan pasaran. Lagian wanita kampungan seperti itu mana mungkin berani merantau ke kota besar”, celetuk Kevin dalam hati.
“Mas, tidak sopan. Biasa aja mas lihat nenek saya”, sergah seorang pria memarahi Kevin karena membuka tirai penghalang.
“Santai bro”, kesal Kevin apalagi managernya tertawa di sisi ranjang, “Sialan Lo”.
“Kevin, cari siapa? Bosen sama Selena sampai cari nenek-nenek?”, kelakar managernya yang kemayu dan berhati lembut.
“Heh Kevin, sama yang umurnya lebih tua aja Tante Marta belum tentu setuju apalagi ini sama nenek-nenek”, sambung manager Kevin seakan belum puas menggoda partnernya.
“Berisik Lo, lagian sekarang lagi tren juga punya pasangan lebih tua, alias tante-tante”, balas Kevin menjulurkan lidah.
“Jangan macem-macem Lo Kevin, rusak karir Lo. Awas aja”, wajah keduanya berubah serius karena tak menginginkan hal itu terjadi.
Inilah yang Kevin cemaskan, ia takut media dan penggemarnya tahu bahwa Kevin bukanlah pria single namun seorang suami yang tidak tahu keberadaan istrinya dimana.
“Semoga masalah ini cepat selesai, jangan sampai wanita itu datang menghancurkan karirku”, monolog Kevin di hati. Secepat mungkin ia harus bertemu Dayana dan menceraikan wanita itu sebelum semuanya terlambat.
Sekali pun itu menyakitkan mungkin tapi Kevin tak peduli selama karirnya selamat, karena nasib adik dan ibunya berada di punggung Kevin, selain itu Selena yang merengek menginginkan pertunangan mewah, benar-benar membuat kepala Kevin pusing.
“Ayo Kevin kita pulang sekarang, dokter sudah kasih resepnya tinggal di tukar saja di depan, kamu tunggu di mobil”
“Ok”, Kevin duduk di kursi roda dan membuka sedikit tirai.
Mata Kevin menangkap sosok cantik berjas putih tapi sedetik kemudian terhalang oleh beberapa orang.
__ADS_1
"Sial"
...TBC...