Tante, I Love You

Tante, I Love You
Bab 57 - Terjebak Macet


__ADS_3

BAB 57


Mario menyadari ada sesuatu yang aneh pada kekasih sahabatnya ini, dengan sigap membantu Dayana menyandar dan menata bantal dari dalam mobil Kevin ke tempat istirahat para artis. Setidaknya Dayana merasa nyaman , rasa ngilu di tulang ekornya berkurang.


“Dayana kamu kenapa? Aku panggil Kevin ya”, tawar Mario , ketara sekali dari wajah Dayana kalau wanita itu tidak nyaman dan merasakan sesuatu.


“Jangan Mario, jangan ganggu Kevin biarkan saja, ini bukan hal besar. Memang diakhir masa kehamilan pasti ibu hamil kurang nyaman, makasih Mario perhatiannya”, tawa Dayana sedikit melegakan.


Pasalnya Kevin memberi tugas berat pada Mario untuk menjaga ibu hamil ini, jika terjadi sesuatu pada Dayana, habislah Mario.


Manager gemulai itu lebih baik diberi tugas merombak jadwal dan ikut pelatihan militer dari pada menjaga berlian seseorang. Apalagi Kevin mudah terpancing emosi, tidak sungkan memecat dirinya dari posisi manager dan sebagai sahabat.


 Sesekali Dayana meringis sembari memegang pinggang merasakan sesuatu, tapi kemudian hilang dan ia bisa bernapas lega, tapi yang aneh bukan rasa mulas seperti melahirkan melainkan ngilu pada bagian pinggang dan tulang ekor.


Arah mata Dayana tertuju pada calon suaminya yang tengah beradegan bersama seorang aktris cantik, masih muda dan manis di mata Dayana. Kevin memegang kedua tangan gadis itu, lalu memeluknya dari belakang seperti yang selama ini Dayana impikan, tapi sayang hanya mimpi. Karena Kevin tidak ingin menyentuh wanitanya berlebihan bisa berabe masalahnya.


Mungkin jika lawan main tidak merasa canggung dan bergetar dalam dada. Tapi bersama Dayana, jangankan pegangan tangan saling bertatap saja Kevin mengeluarkan keringat dingin.


“Huh aku cemburu”, memberengut, semakin mesra adegan itu. Dayana hanya mampu menahannya tanpa bisa bersuara, ingat semua adalah akting bukan perasaan Kevin sebenarnya tapi sentuhan itu nyata bukan halusinasi semata.


“Dayana kamu cemburu lihat Kevin?”, goda Mario ingin sekali memanasi ibu hamil ini tapi kasihan karena emosi naik turun ibu berpengaruh pada janin.


“Tidak”, tegas Dayana.


“Kamu tidur dulu Dayana, kalau menurut jadwal dua jam lagi selesai tapi biasanya terlambat satu jam”


Kevin menunjuk pada kasur lipat yang Kevin sediakan khusus untuk calon istrinya itu.


“Terima kasih Mario”


Dayana terbaring terus berputar dalam benaknya Kevin memeluk perempuan lain, rasa takut adanya cinta lokasi menghantui Dayana. Benarkan banyak dari mereka yang jatuh cinta pada lawan main, ada yang langsung menikah, ada yang putus nyambung, dan masih banyak lagi kasus selebritas.

__ADS_1


Lambat laun Dayana mulai terpejam melepas lelah dalam diri dan juga beragam pikiran negatifnya.


Tidurnya begitu nyenyak sampai Dayana tidak menyadari jika Kevin tengah memandangi wajah manis ibu dari bayinya.


Bulu mata lentik yang rindu ia mainkan, bibir pink Dayana yang selalu mengoceh bila Kevin salah melakukan sesuatu, dan paling rindukan adalah harum aroma tubuh Dayana, juga kelembutan seluruh kulitnya.


“Heh Kevin, jangan mesum. Belum sah jadi istri”, ingat Mario, dari tatapan Kevin jelas sekali pria itu memandang lapar ibu hamil yang mendengkur halus.


“Iya gue paham, Mario? Lo pulang duluan aja, gue sama Dayana mau cari perlengkapan bayi”


“Oke bos, gue senang kalau kaya gini bisa tidur lebih cepat. Eh Kevin istri Lo maksudnya calon istri cemburu lihat adegan mesra tadi, hati-hati Vin kalau perempuan ngamuk bisa kalah kita”, kelakar Mario berlalu dari ruangan istirahat.


“Dayana bangun, sayang. Kamu bilang mau ke baby shop? Ayo bangun nanti keburu malam, aku engga mau kamu masuk angin”, bisik Kevin sangat manis, padahal pria ini dalam setiap peran mendapat pria yang kejam dan dingin tapi aslinya sangat penyayang dengan catatan hanya pada Dayana bukan yang lain.


Lenguhan pelan terdengar merdu di telinga Kevin, mata kecil dan jernih Dayana mengedip perlahan , menetralkan pandangan yang terkena cahaya lampu.


“Kevin kamu selesai? Dari kapan?”


“Kenapa tidak membangunkan aku, jadi terlambat ke baby shop”, Dayana menunduk sedih.


“Aku mana tega ganggu tidur istri, kamu harus banyak istirahat. Sekarang masih sore, ayo berangkat”


Mengulurkan tangan dan membantu wanita hamil ini berdiri juga menjaga keseimbangan tubuhnya.


“Akh”, pekik Dayana menahan sesuatu.


“Kamu kenapa Dayana? Kamu sakit.” Cemas Kevin, tidak biasanya calon istri ini begitu aneh dan tubuhnya lemah. “Sebaiknya kita ke rumah sakit, jangan ke baby shop, aku khawatir kamu melahirkan.” Pungkas Kevin.


“Aku.....aku baik-baik saja Kevin, ayo antar aku ke baby shop ada yang ingin aku beli untuknya.” Senyum Dayana.


“Sebaiknya turuti dulu, jangan berdebat disni.” Batin Kevin, merangkul bahu Dayana membawanya sampai ke mobil, tanpa mau banyak bicara Kevin merubah arah yang dilalui, rumah sakit lebih penting, ia harus tahu keadaan anaknya dan kenapa calon istrinya ini memejamkan mata, lalu menggigit bibir bawah dan mendadak mencengkram lengan Kevin begitu kuat.

__ADS_1


“Akhhhh Kevin.” Menoleh dan semakin menusuk rasanya tangan Dayana di lengan Kevin.


“Ayo kita ke rumah sakit, jangan protes.”


Civic turbo itu pun melaju cepat menuju GB Hospital dan sialnya jalanan sore ini padat bersamaan dengan jam pulang kantor.


F***


Maki Kevin pada keadaan, kenapa di saat seperti ini dirinya harus terjebak macet, tidak tahukah mereka Kevin sedang dalam kegusaran? Wanita di sampingnya semakin gelisah dan meringis sakit. Kevin tidak bisa berpikir tenang ia terus menekan klakson mobil sampai mendapat protes dari pengguna jalan lain.


“K-Kevin sa-sakit Vin, huh huh”, Dayana menyandar sekaligus menusuk kukunya di lengan Kevin. Menyalurkan rasa sakit yang mendera, tekanan kuat begitu mendorong dari atas ke bawah, tanpa sadar Dayana menarik napas dan mengejan.


“Sayang ya ampun jangan melahirkan di mobil, anak ayah sabar ya sebentar lagi kita sampai rumah sakit.” Berusaha berkomunikasi pada putrinya di dalam sana.


Kevin bingung tidak tahu harus melakukan apa. Akhirnya ia menepikan mobil, memaksa mobil lain menyingkir, tidak peduli mendapat caci maki, sumpah serapah dari pengendara lain.


“Kevin aku mau melahirkan, bayinya........bayinya mau keluar.” Teriak Dayana.


Dengan keterbatasan ilmu pengetahuan, Kevin menyulap jok bagian tengah menjadi ruang bersalin darurat, ia juga melepas pakaian dalam bagian bawah istrinya, dan terkejut sesuatu berwarna hitam menonjol sangat jelas.


Hampir saja Kevin pingsan menyaksikan salah satu kebesaran Sang Pemilik Alam Semesta.


“Ayo sayang terus, dorong terus sayang, ke-ke-kepala bayinya terlihat ayo Dayana semangat kamu bisa.” Tangan Kevin sudah bersiap menyambut bayinya untuk menatap dunia.”


Jujur saja Kevin hanya pernah memerankan sebagai dokter tapi ia tidak tahu apa-apa mengenai medis, dirinya buta akan hal itu. Sungguh Kevin saat ini ingin berteriak ‘TOLONG AKU’.


Dayana tetap mengejan tanpa aba-aba hanya berdasarkan pengetahuan serta instingnya saja, sampai bayi mungil itu keluar dan menangis.


Kevin menyambut haru bayinya, pengguna jalan yang ikut menegang pun bisa bernapas lega.


“Dayana anak kita sangat ca...... Dayana, Dayana bangun, sayang bangunlah.” Teriak Kevin berusaha membuat kedua mata sipit ibu dari anaknya terbuka.

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2