
Bab 22
“LEPAS”, seru Dayana setelah mendapat kesadaran penuh.
“Jangan terlalu percaya diri, ini aku lakukan karena wujud tanggung jawab, anakku ada di dalam sana”, Kevin menunjuk perut datar istrinya.
Menghalangi jalan Dayana keluar, sengaja membuat wanita hamil ini kesal dan itu menyenangkan bagi Kevin, lihat saja dari sorot mata membunuh istrinya, benar-benar wanita aneh pikir Kevin.
Meninggalkan Dayana sendiri dalam kamar mandi, dan memilih menggunakan pakaian secara terang-terangan tanpa menutupi sesuatu. Lagipula ini apartemennya, ini kamarnya dan wanita yang ada di kamar mandi itu istrinya, untuk apa di tutupi semua.
Dayana melotot melihat Kevin mulai melepas handuk begitu saja, dengan cepat ia menutup rapat pintu kamar mandi. “Ish dasar anak kecil tidak tahu malu”, kesalnya.
“Cepat, keluar. Kita makan, Mario menunggu”
“Mario? Siapa lagi itu?”, gumam Dayana, Kevin suaminya tapi ia tidak tahu apapun tentang siapa suaminya, dimana keluarganya dan orang-orang terdekat.
Dayana hanya tahu satu nama yang selalu bersama Kevin, kekasihnya yang selalu menguntit dan bergelayut manja.
Klek
Tidak basa-basi, Kevin menarik tangan istrinya dan membawa wanita itu menuju ruang makan sederhana di dapur, ya apartemen ini bukan penthouse seperti milik sepupunya, hanya apartemen mewah biasa.
Dayana tidak protes, karena tahu jawaban kemana suami mudanya ini membawa dirinya, tentu untuk makan. Manik jernihnya langsung menatap pada Mario yang tersenyum tipis menyambut kehadiran Dayana.
“Hi, Gue Mario, manager Kevin”, mengulurkan tangan.
“Ah ya, Aku Dayana”, menjabat tangan Mario, tak memedulikan Kevin yang tidak suka melihat kulit mulus istrinya bersentuhan dengan pria lain, sekali pun itu Mario.
“LEPAS”, seru Kevin memisahkan paksa tangan itu, memerintahkan sang istri duduk tepat disisinya.
Dayana mengambil makanan sangat sedikit dari porsi makan kedua pria yang bersamanya, sontak Kevin menoleh pada piring putih di tangan Dayana, “Kau diet? Makan yang banyak, penuhi gizi anak itu dalam sana. Aku tidak mau di sangka bangkrut hanya karena ibu dari anakku tidak becus menjaga nutrisi”, kesal Kevin.
“Apa?”, tatap Dayana sengit dan menyimpan kasar piringnya.
__ADS_1
“Telingamu masih berfungsi baik kan? Aku tidak perlu mengulang kata yang sama, melelahkan”, sarkas Kevin semakin membuat mood ibu hamil rusak dan enggan menyantap makanannya.
Mario yang menyadari suasana hati istri Kevin, menendang pelan kaki pria itu di bawah meja. Seketika Kevin melotot “Apa?”, tanpa suara.
Prak
Dayana pergi dari ruang makan, ia yang hanya tahu kamar tidur langsung menuju ruangan itu. Tidak peduli Kevin akan menyusul atau tidak.
“Dasar pria menyebalkan”, gerutu Dayana memandang gedung pencakar langit dari balik kaca tak tertutup tirai.
Rasa lapar mulai menyerang tubuhnya, Dayana masih terbungkus ego dan belum sepenuhnya menerima anak dalam kandungan, jadi prioritasnya sekarang bukan itu.
Sementara di meja makan, Mario dan Kevin terlibat perdebatan yang tidak biasa. Mario memperingatkan pada aktor asuhannya untuk merubah sikap menjadi lebih lembut dan memintanya membawa makanan ke kamar. Bagaimana pun Dayana istrinya sedang hamil jadi memerlukan nutrisi dan itu tanggung jawab Kevin.
“Ingat Vin, istri Lo cantik tuh, jangan sampai istri Lo dapat perhatian dari pria lain, inget itu Kevin”, tegas Mario dan ya otak Kevin langsung membawa wajah Daniel masuk ke dalam ingatannya.
“Argh, tante yang menyebalkan”, geramnya. Namun tangan Kevin tetap mengambil nasi, aneka lauk serta sayur untuk makan istrinya, juga satu gelas air putih.
Bergerak cepat menuju kamarnya, sebenarnya Kevin juga khawatir tapi hari ini sudah terlalu melelahkan baginya dan semakin banyak masalah.
Membantu memegangi rambut yang berjatuhan di sisi kepala sang istri, memijat pelan tengkuk Dayana, dan kali ini tidak ada penolakan karena memang wanita ini membutuhkannya.
“Apa seperti ini wanita hamil? Kenapa dia harus hadir di sana?”, batin Kevin yang juga belum menerima sepenuhnya keberadaan janin dalam kandungan Dayana.
“Tunggu disini”, bergegas mengambil air minum guna membasuh mulut Dayana, “Ini, kumur-kumur, pasti mulutmu tidak enak, kan?”
“Hem”
Tubuh Dayana yang lemas tak bertulang di papah Kevin masuk kamar, walau canggung Kevin menyandarkan kepala Dayana pada headboard dan menyelimuti tubuh sebatas pinggang.
“Ini, makan, mungkin kamu terlambat makan. Jangan menyiksa diri”, menyerahkan piring ke atas pangkuan istrinya.
“Aku tidak lapar”, balas kecut dan membuang muka Dayana.
__ADS_1
Tak ingin berdebat Kevin mengambil kasar piring dari atas paha istrinya dan mulai menyuapi makanan ke mulut Dayana, “Buka !!!!!”, perintah Kevin sama sekali tak ada kelembutan apalagi kasih sayang.
“BUKA !!!”
“Aku bilang tidak lapar, kamu mengerti kan?”
“Kau tahu aku harus pergi pagi dan pulang malam bahkan sampai pagi untuk membeli makanan ini, hargai usahaku, ini juga terjadi karena dia”, ngilu Dayana mendengar Kevin berkata tajam, melirik perut ratanya, bukan tatapan sayang seorang ayah.
Tentu saja ia seperti ini karena terpaksa, menandatangi perjanjian bahwa akan bertanggung jawab pada anaknya.
“Aku tidak perlu makanan dari mu Kevin, aku masih sanggup membayar semuanya”, sengit Dayana.
“Cepat makan, tante kau itu sangat mengganggu ku. Hidupku menjadi rumit sejak bertemu denganmu”, sergah Kevin, menyimpan kasar piring di atas meja dan pergi meninggalkan Dayana yang hampir menangis karena mendengar kalimat tajam suaminya.
“Dengar ya, aku tidak peduli kau makan atau tidak, terserah”, menyambar kunci mobil dan menghilang, rasanya penat hari ini.
Mario tidak diam saja, mendengar pertengkaran dari sepasang suami istri baru, ia melihat kondisi Dayana dan benar wanita itu tidak baik-baik saja.
Tok....tok
Mengetuk pintu yang masih terbuka.
“Dayana, maaf aku ikut campur”, ucap Mario melangkah masuk. “Kamu yang sabar ya, Kevin memang seperti itu kekanak-kanakan sikapnya. Sekarang kamu makan ya Dayana, ummmm atau mau makan yang lain ? aku bantu pesankan. Jangan sungkan Dayana, kamu ini istri Kevin, dan anggap aku teman”, tutur kata serta nada suara Mario lebih enak di dengar dari pada Kevin.
“Terima kasih Mario, tapi aku memang tidak lapar, perutku mual”
“Ah iya kau mengerti, sedikit saja makannya, terpenting ada makanan yang masuk ke tubuhmu, anak kalian membutuhkan nutrisi, pikirkanbanak itu, dia berhak hidup dan mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya, sekalipun hadir karena kesalahan”, tutur Mario mengingatkan.
Setegar dan angkuhnya Dayana, ia tetap lah wanita yang membutuhkan kasih sayang, perhatian. Bukan dimarahi dan menerima bentakan dari suaminya.
“Kevin kemana?”, tanya Dayana mulai menerima piring dari tangan Mario.
“Ah anak itu, dia biasanya ke gym atau bar, biar saja nanti aku susul, sekarang kamu makan dulu Dayana. Butuh energi banyak bagi ibu hamil”, perhatian Mario sekaligus prihatin pada wanita yang usianya lebih dewasa dari Kevin.
__ADS_1
...TBC...