
BAB 23
Hingga pukul 1 malam Kevin belum pulang ke apartemen, Mario sibuk menghubungi Kevin. Manager gemulai itu menyambangi gym tapi nihil, tidak ada catatan Kevin masuk ke sana. Lalu di bar tidak ada jejak Kevin sedikit pun, menurut bartender dan DJ sudah beberapa hari Kevin tidak datang.
“Kemana Lo, Vin? Awas aja itu anak sampai bikin ulah”, geram Mario.
Dayana yang memang tidak merasa nyaman di apartemen, masih belum bisa memejamkan mata, ia yang haus terpaksa keluar kamar, melihat Mario gusar memperhatikan jam dinding.
“Mario, kamu kenapa?”
“Emmmm kamu engga tidur Dayana? Bukannya begadang engga baik bagi ibu hamil?”.
“Aku belum biasa di tempat ini Mario. Kamu kenapa? Kevin belum pulang ?”, tanya Dayana menelisik seisi ruangan.
“Ah itu, dia..... dia mungkin sibuk, eh mungkin pulang ke rumahnya. Kamu tenang aja Kevin pasti pulang ke sini, sebaiknya kamu tidur Dayana”.
Tidak banyak bicara lagi Dayana meneguk segelas air dingin dan kembali masuk kamar, ia tidak peduli Kevin pulang ke apartemen atau rumah atau manapun.
Mario terus mengoceh tiada henti, tidak habis pikir kenapa Kevin meninggalkan apartemen padahal ada istrinya disini. Meskipun tanpa cinta setidaknya hargai wanita itu yang sedang mengandung anaknya.
Pria gemulai ini memutuskan mencari Kevin ke apartemen Selena, pasti salah satu aktor asuhannya ada di sana. Tepat Mario membuka pintu, Kevin pulang dalam keadaan mabuk, di papah petugas kemanan apartemen.
“Eh Kevin. Terima kasih Pak”, Mario sigap membantu Kevin masuk dan segera mengetuk pintu kamar, ia tidak bisa sembarangan lagi masuk karena di dalam sana ada istri Kevin.
“Ya, Mario ada apa?”, Dayana tercengang melihat Kevin setengah sadar, bau alkohol menyengat dari tubuhnya.
“Dayana tolong aku, Kevin mabuk”
Keduanya sibuk membantu pria itu berjalan dan membaringkan tubuh tinggi nan atletis Kevin. Mario membuka sepatu dan sabuk Kevin, sementara Dayana hanya diam saja tidak tahu harus membuat apa, enggan menyentuh tubuh Kevin.
"Dayana, buka kemeja Kevin. Ayo"
Dayana melotot mendengar Mario memerintahkan membuka kemeja Kevin , “Apa ? kenapa aku Mario?”.
“Kamu istrinya Dayana, aku keluar”
“Ish, benar-benar bocah ingusan yang menyusahkan”, tangan mulusnya bekerja membuka kancing satu persatu, tak sengaja menyentuh bagian kulit dada Kevin. Seperti tersengat sesuatu, pria itu langsung bangun dan menatap Dayana yang nampak buram di kedua matanya.
“Kau, kau mirip sekali dengan tante itu. Kenapa wajahmu berubah Selena?”, tawa Kevin.
__ADS_1
“Tante, Tante, aku bukan tantemu KEVIN, AKU DAYANA”, seru wanita cantik itu berkacak pinggang, suami macam apa yang masih mabuk dan pergi bersama wanita lain, meninggalkan istrinya. Selain bau alkohol, aroma parfum wanita pun begitu kuat dari kemeja Kevin.
“CK, menjijikan”, Dayana beranjak ingin memasukan kemeja Kevin pada keranjang baju kotor.
GREP
“Eh, apa-apaan ini, Lepas Kevin”, berontak Dayana, tiba-tiba pria itu memeluknya dari belakang, dan menghirup rakus harum Dayana. Sontak darah wanita ini berdesir hebat, terpaan hangat napas Kevin merasuk pada pori-pori kulit.
“Biarkan seperti ini Selena, kenapa memeluk mu menjadi nyaman”, gumam Kevin, memejamkan mata.
Dayana bergeming, ia tidak memberontak seperti tadi. Sentuhan Kevin lembut dan berperasaan, mungkin karena mengira ini adalah Selena. Tertawa miris, bisa-bisanya ia menikah dengan pria yang memiliki kekasih dan tidak mencintainya.
“Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak suka dia dekat dengan pria lain”, racau Kevin di punggung istrinya. “Maafkan aku Selena”, gumamnya.
“Ah, rupanya kamu sangat mencintai kekasihmu ya? Baiklah”, balas Dayana.
Beberapa menit tetap pada posisi yang sama, dengkuran halus mulai terdengar, tidak ada lagi suara racauan Kevin tentang perasaannya pada Selena.
Wanita ini mulai melepaskan rangkulan erat tangan Kevin, merebahkan tubuh kekar sang suami agar nyaman dalam tidur. “Tidurlah, aku tidak akan mengganggu hubunganmu dengan Selena”, lirih Dayana.
Miris sudah kenyataan hidupnya, Dayana berharap setelah anaknya lahir dan berpisah dari Kevin, kisah cintanya menjadi lebih baik dari saat ini. Sekarang ia ingin anak dalam kandungannya mendapat kasih sayang seorang ayah, agar tidak merasakan sepertinya. Sisanya akan Dayana jalani tanpa menggunakan hati dan perasaan.
“Tegar lah Dayana”, memejamkan mata sejenak lalu tidur di sofa panjang, tanpa selimut dan bantal.
.
.
Hoeek......hoeek mengeluarkan semua isi perut
“Argh sial kenapa menyiksa, ck masih terlalu pagi”, melirik jam dinding seolah memaksanya bangun.
Perhatian Kevin tersedot pada sosok wanita yang terbaring di atas sofa, dress yang tersingkap menampakkan paha mulus istrinya, ia menelan saliva yang begitu kelat.
“Kenapa dia tidak pakai selimut atau tidur di kasur? Menyusahkan saja”, memangku tubuh istrinya dan memindahkan ke kasur empuk.
“Ibu hamil sebaiknya tidur dalam keadaan nyaman, bukan seperti ini, kau pikir aku akan merasa iba? Hah, bagaimana kalau mendadak sakit? Bukankah itu akan mempersulit hidupku?”, menyelimuti Dayana sebatas dada.
“Tidurlah yang nyenyak, aku akan berpikir bagaimana caranya mama menerima semua ini”, Kevin keluar kamar, ia mandi di kamar Mario.
__ADS_1
Klek
“Gue ikut mandi bro”, izin Kevin pada Mario yang mendengkur keras.
Kevin menyalakan shower, menghilangkan bau tidak sedap akibat ulahnya semalam, ia merasa bersalah karena pergi dan menghabiskan waktu bersama Selena, kekasihnya.
Di bawah guyuran air hangat itu, kepala Kevin memikirkan sesuatu, seperti ada hal yang diungkapkannya tapi entah apa itu, tidak ingat sama sekali.
“Vin, Kevin, Lo di dalam ya? Cepat Vin, perut gue sakit”
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Kevin Nugraha. Ia tidak langsung membuka pintu melainkan menggunakan pakaiannya lebih dulu.
“Kenapa Lo mandi di sini? Kenapa kamar Lo? Rusak?”, tanya Mario yang selalu saja bawel.
“Sudah. Eh bro, hari ini apa jadwal gue?”, menahan Mario yang tak tahan menahan rasa mulasnya.
“Pagi ini kita ada pemotretan produk kesehatan, Lo siap-siap aja Vin. Perut gue sakit, awas”, mendorong kasar Kevin yang menghalangi pintu.
Kevin ke dapur sembari mengeringkan rambut basahnya, ia membuat sarapan untuknya tapi sejenak mengingat Dayana, “Apa yang biasa dia makan kalau pagi?”. Tidak ada bahan lain di dapur, terpaksa Kevin membuat sandwich dan susu hangat untuk istrinya, membawa sarapan itu ke kamar dan meletakan di atas meja kecil.
“Sarapan, jangan sampai sakit dan membuat hidupku susah”
Sticky note berwarna hijau terang, ia tempel di gelas.
Kevin pergi tanpa membangunkan Dayana, ia masuk kamar hanya mengambil tas keperluan syuting dan sepatu kets dalam lemari. Sebelum keluar kamar, ia ingat Dayana belum memiliki nomor ponselnya.
“Hubungi aku jika memerlukan sesuatu ini nomor ponsel ku 0812345678910”
Kevin tersenyum tipis pada wajah cantik yang masih lelap dalam tidur.
...TBC...
visual
Kevin Nugraha
Aileen Dayana Kei
__ADS_1