
BAB 31
Cukup lama rasa mual Dayana reda, bahkan agar orang tidak curiga ia harus menahan suara dari mualnya, menyakitkan memang. Dayana pun sampai meminta izin tidak melanjutkan praktik karena kondisi yang tak memungkinkan.
Dirinya keluar toilet dengan lemah dan tertatih, bukan tanpa alasan, selain rasa mual menyerang hebat, dia juga melewatkan waktu makan siang.
Sekarang pukul 3 sore, sebagian dokter dan perawat telah pulang. Kecuali bagi mereka yang bertugas di IGD memang pulang lebih sore, seperti dirinya.
Dayana menuju loker mengambil semua barang dan memutuskan untuk pulang, diperiksanya ponsel tidak ada satupun pesan dari Kevin.
“Mungkin dia sibuk”, gumam Dayana, segera memesan taksi online.
Gerimis mulai turun membasahi, alhasil Dayana hanya menunggu di lobby sampai taksi pesanannya sampai. Tatapannya lurus dan sendu ke depan, ia tidak menyangka bahwa semua akan berubah secepat ini.
“Aku dengar dia hamil”
“Oya? Tidak mungkin?”
“Sikapnya seperti orang hamil”
“Tapi siapa suaminya?”
“Tidak menyangka, wajah polos dan latar keluarga baik-baik hamil di luar nikah”
“Kita harus protes untuk mengeluarkan dokter seperti itu”
“Tidak beradab”
“Memang”
Telinga Dayana tertusuk nyeri, dan hatinya tersayat mendengar semua kalimat yang menggunjingnya, tidak bisakah mereka cukup diam melihat keadaan yang ada?. Mereka juga tidak tahu betapa berat Dayana menjalani ini semua.
“Ini juga bukan keinginanku, hamil bukan dari pria yang ku cintai”.
Tes
Kristal bening kembali menetes di pipi mulus Dayana, apa harus dia bicara pada Kevin untuk mengumumkan pernikahan mereka? Tapi Kevin sendiri jelas mengatakan bahwa harus disembunyikan. “Bocah ingusan itu memang tidak layak disebut sebagai suami”, menyusut air mata menggunakan punggung tangan.
“Eh?”, Dayana menoleh ke samping, melihat saputangan diberikan padanya, ia menyisir tangan berlengan kemeja panjang itu sampai bagian kerah dan wajah.
__ADS_1
“DANIEL?”, pekik Dayana. “Kamu ada disini? Sedang apa?”.
“Hapus air matamu Dayana”, Daniel bergerak lincah menghapus sisa air mata di pipi wanita yang ia sukai.
“Jadi semua itu benar? Kamu telah menikah dan sekarang sedang hamil?”, tanya Daniel lagi.
“Kamu?”
“Ya Dayana, Tuan Rayden menceritakan semuanya. Aku kecewa dan terkejut, kedua orangtuaku juga, apalagi nenek”, harusnya minggu depan adalah acara lamaran yang diselenggarakan untuk Dayana dan Daniel. Tapi semua sirna sudah, karena Dayana telah menikah dengan pria lain.
“Tuan Rayden bilang, kalian menikah di atas perjanjian? Dayana benarkah?”, Daniel membalik tubuh, memegang bahu wanita cantik yang tengah bersedih ini, ditatap lekat-lekat wajah Dayana.
“Ketika kamu berpisah dengannya, izinkan aku menjadi ayah sambung bagi anakmu. Aku......aku akan mencoba menyayanginya Dayana. Aku mencintai ibunya, artinya aku juga harus mencintai anaknya bukan?”, tutur Daniel berusaha tegar walau dadanya bergetar hebat.
“Daniel?”, lirih Dayana. Jujur merasa tersentuh dengan apa yang diucapkan Daniel, tapi Dayana tidak bisa larut begitu saja. Ia hanya bisa berterima kasih pada Daniel karena akan menyayangi anaknya.
Drt.....drt
“Maaf Daniel, aku harus pulang. Taksi online ku sudah datang”, berdiri dan merapikan cardigan.
“Daniel, sebaiknya kamu melupakanku, banyak perempuan cantik dan baik-baik di luar sana. Kamu pasti akan bahagia, jangan bertanggung jawab atas apa yang tidak kamu lakukan”, Dayana pun meninggalkan Daniel yang bergeming.
“Berapa ongkosnya?”
“100 ribu, Tuan”, jawab driver di balik kemudi.
“Ambil ini, wanita ini adalah istri saya.”, Daniel memberi 3 lembar uang kertas berwarna merah, dan sopir taksi hanya mengangguk lemah menuruti perintah pria tampan di samping mobilnya.
“Daniel, kamu? Kamu kenapa mengatakan hal itu?”, kesal Dayana, bagaimana bisa Daniel mengaku sebagai suaminya.
“Aku tahu pernikahan kalian ditutupi dan dia tidak mau statusnya diketahui orang apalagi fans, pasti karirnya akan menukik turun”, datar dan dingin Daniel.
“Aku akan berpura-pura menjadi suamimu di luar rumah, aku akan menjagamu Dayana”, lembut Daniel, merangkul Dayana menuju mobil yang terparkir di ujung.
Beberapa pasang mata yang melihat, menatap iri pada dokter cantik ini.
“Jadi suaminya itu Daniel Matthew?”
“Wah aku iri padanya. Pria itu tidak tersentuh dan Dayana berhasil mendapatkan hati seorang Daniel”
__ADS_1
Sementara Daniel hanya tersenyum kecut mendengar pujian sekaligus cibiran baginya, Daniel memperlakukan Dayana dengan sangat baik. Bahkan menawari wanita ini untuk makan lebih dulu sebelum pulang.
“Ayo, makan Dayana. Kamu mau makan apa?”.
“Entahlah Daniel, rasa mual ini mengganggu. Aku bingung mau makan apa”.
“Bagaimana kalau kita makan di restoran milik Tuan Rayden, ku dengar makanan di sana sangat enak, mau kan?”.
“Hah? I-iya boleh, tapi aku tidak bisa lama Daniel”
“Tentu saja Dayana, aku ini bukan penculik”, tawa renyah diiringi telapak tangan yang mengacak rambut Dayana.
Dayana mematung mendapat sikap Daniel yang begitu manis dan perhatian, tapi dirinya tidak boleh goyah. Walaupun tidak mencintai Kevin, setidaknya ia seorang istri yang juga tidak boleh mencintai pria lain.
“Kamu tenang saja Dayana, aku akan melindungimu di luar, aku akan menjagamu dan anak itu. Oh iya apa dia sehat di dalam sana?”, tanya Daniel berusaha hangat meskipun hatinya sakit berkata ‘anak’.
“Oh ya dia baik-baik saja. Daniel terima kasih, tapi kamu tidak perlu melakukan ini, aku istri orang dan kamu pengacara terkenal, aku takut kalau.....”
“Tidak perlu cemas Dayana, itu semua menjadi tanggung jawabku, yang terpenting aku tidak mau kamu meneteskan air mata lagi”
Dayana dan Daniel tiba di restoran mewah dengan konsep tropis, keduanya berjalan beriringan. Karena restoran telah mengenal Dayana dan Daniel, mereka pun di rujuk pada tempat prioritas dengan pemandangan yang menyegarkan mata dan menentramkan telinga. Gemericik air kolam serta ikan beraneka warna berenang kesana kemari.
“Kamu mau pesan apa Dayana?”
“Apapun tapi aku ingin yang berkuah dan pedas”, jawab Dayana tapi manik jernihnya melihat sekumpulan ikan berenang.
Usai makanan di pesan kedua pelayan restoran segera beranjak dari tempatnya dan mempersiapkan makanan untuk dua orang penting.
“Wah Tuan Daniel sangat beruntung”
“Benar, Dokter Dayana juga, pasangan yang serasi, aku akan berdoa agar keduanya hidup bahagia”
Kalimat yang keluar dari bibir kedua orang itu tertangkap jelas oleh Kevin Nugraha yang tengah menikmati santap siang terlewatkan, bersama Nyonya Nugraha, Mario, dan tentu saja Selena.
“Dayana? Daniel? Tidak ada di dunia ini nama yang kebetulan sama pada dua orang dalam satu waktu”, gumam Kevin dalam hati.
Aktor tampan ini mengedarkan pandangan ke penjuru restoran di lantai 1 tidak menemukan apapun dan netra sipitnya beralih ke lantai 2 tepat di depan matanya, Dayana bersama seorang pria tampan dan gagah.
“Sialan”
__ADS_1
...TBC...